LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
79. Paris... kedua kalinya


__ADS_3

"Oh,,, baiklah,," jawab Nayla.


Namun detik berikutnya Nayla menatap Rory seolah baru saja tersadar akan apa yang ucapkan.


"....."


"...."


"Ehhh,,, tunggu, tunggu,, kamu bilang apa??" seru Nayla kaget.


"Kamu ikut ke Paris bersama kami. Dan kita akan disana selama tiga hari, atau mungkin lebih jika kamu ingin sekaligus berlibur," ulang Rory terkekeh pelan.


"Kamu terlihat sangat menikmati ketika berhasil membuatku terkejut," sungut Nayla.


"Jujur, aku memang sangat menikmatinya," sambut Rory kembali terkekeh.


"Tapi kenapa Paris? Bagaimana kalau mereka tidak setuju_,,,"


"Akulah yang memintanya untuk mengajakmu, Nay," sela Kevin.


Nayla berbalik dan melihat Kevin bersama yang lain telah berdiri diambang pintu, tersenyum sembari menganggukan kepala mereka.


"Dan alasan kenapa kami memilih Paris adalah, karena kami memiliki acara disana," sambung Kevin.


"Jika ini untuk tour musik kalian, aku lebih baik tidak_,,,"


"Ini bukan tentang pekerjaan. Kami istirahat total selama satu bulan setelah insiden yang terjadi. Dan agensi kami bisa mengerti," terang Kevin memotong ucapan Nayla.


"Lagi pula, mereka sudah menerima rekaman lagu baru dari kami, jadi mereka tidak memiliki keluhan," sambung Martin.


"Tapi, kenapa kalian mengajakku?" tanya Nayla


"Dan ini terlalu tiba-tiba," keluh Nayla.


"Jika kamu mempermasalahkan tentang berkemas, maka jangan khawatir. Kami sudah mempersiapkan semuanya untukmu," sambut Rory tersenyum lebar.


"Ehh,,, maksudmu?" tanya Nayla bingung.


"Semua yang kamu perlukan, sudah kami siapkan. Kami juga sudah membicarakan ini bersama Chris, dan dia setuju," terang Rory.


"Mustahil. Dia bukan orang yang akan setuju dengan cepat dalam hal apapun," sanggah Nayla.


"Tentu saja dia menanyakan alasan kami membawamu ke Paris, dan dia setuju saat kami mengatakan alasannya," jelas Rory.


"Dan apa itu?" Nayla menaikkan alisnya.


"Acara ulang tahun pernikahan orang tua kami, aku dan Kevin. Tentu saja Thomas, Martin, Ethan dan Nathan akan ikut, karena mereka juga diundang. Termasuk kamu," ungkap Rory.


"Tapi_,,,"


"Mereka sangat menantikan untuk segera bertemu denganmu, Nay. Tidakkah kamu ingin mengenal orang tuaku?" potong Rory.


"Bukan begitu, tentu saja aku sangat ingin, hanya saja ini terlalu tiba-tiba," ucap Nayla beralasan.


"Jadi, kamu menolak untuk ikut?" tanya Rory sedikit kecewa.


"Aku,,,"


'Ugh,,, bagaimana ini? Aku memang masih memiliki waktu jika hanya pergi tiga hari. Tapi, apakah aku siap untuk menemui orang tuanya dalam keadaan seperti ini?' keluh hati Nayla.


"Orang tuaku, bukan orang yang akan mengkritik tentang penampilan seseorang, jika itu yang kamu pikirkan," sela Kevin.


"Mereka sudah tau semuanya, aku mengatakan semua yang terjadi. Itulah sebabnya mereka sangat ingin bertemu denganmu," imbuhnya.


"Sebenarnya mereka sangat ingin datang kesini untuk bertemu denganmu. Tapi, urusan bisnis mereka belum selesai," sambung Rory.


Nayla menatap Rory, lalu beralih pada Kevin dan teman-temannya yang menatap Nayla dengan tatapan penuh harap.


"Tolong katakan Ya,!" desak Rory penuh harap.


Menghela nafas panjang, akhirnya Nayla mengangguk setuju.


"Baiklah," jawab Nayla.


Sekali lagi mereka berseru senang, membuat Nayla mengelengkan kepalanya.


#####


[ La Bourdonnais hotel ].....


"Jadi, dia akan datang bersama kalian?" sambut Gloria senang.


Gloria tengah duduk disofa ditemani suaminya, Vincen yang sedang sibuk dengan laptopnya.


Sementara dirinya tengah berbicara dengan Kevin melalui ponselnya. Raut wajah gembira tidak bisa disembunyikan dari wajahnya ketika Kevin mengatakan akan menemui mereka berdua.


Hal yang membuatnya semakin senang adalah kedua anaknya akan menemui mereka bersama Nayla.


"Iya Ma, dia setuju untuk ikut," jawab Kevin.

__ADS_1


"Itu kabar menyenangkan untuk didengar. Tapi, apakah dia akan baik-baik saja selama penerbangan?" tanya Gloria cemas.


"Aku akan memastikan dia aman," jawab Kevin.


"Lalu, dimana dia sekarang?" tanya Gloria.


"Terakhir kulihat setelah selesai makan malam, Jo menganti perban dikamarnya," papar Kevin.


"Jo melakukannya?" sambut Gloria tak percaya. "Kamu yakin Jo bisa melakukannya?" imbuhnya.


"Ma,, tentu saja dia telah belajar sebelumnya. Sama seperti Nayla yang melakukan apapun untuk Jo. Jo juga sama," ungkap Kevin.


"Ah,, benar. Dia memang selalu seperti itu," desah Gloria.


"Bagaimana denganmu, Kevin?" tanya Gloria hati-hati.


"Tentang Alisha?" jawab Kevin balas bertanya.


"Ya,,, sajauh yang mama tau, kamu mencintainya," ucap Gloria.


"Entah kenapa, aku baik-baik saja setelah tau kebenarannya. Terlebih lagi, Nayla yang membuatku bisa melihat semuanya dengan jelas, aku justru merasa lebih baik dari sebelumnya," ungkap Kevin.


"Caramu mengatakannya membuat mama semakin ingin bertemu dengannya," sambut Gloria.


"Mama akan segera bertemu dengannya," balas Kevin.


"Baiklah, sekarang istirahatlah. Mama menunggu kedatangan kalian semua," ucap Gloria.


"Malam, ma." pamit Kevin.


"Malam sayang," balas Gloria.


"Kelihatannya tahun ini banyak sekali hal yang mengejutkan terjadi," ucap Vincen tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar laptop.


"Yah,,, Kedua anak kita berubah hanya karena satu wanita hadir diantara mereka," sambut Gloria senang.


"Acara besok akan menjadi acara terbaik," balas Vincen menoleh kearah Gloria lalu tersenyum sembari merangkul bahu Gloria.


#### Keesokan harinya.


Setelah menyelesaikan sarapan, Rory beserta semua temannya, juga Nayla terlihat memasuki Campervan hitam yang telah terparkir didepan gedung dimana Rory tinggal.


Beberapa orang membantu mambawakan koper mereka. Tak lama kemudian Campervan mereka meluncur menuju bandara.


"Apakah kamu merasa ada yang kurang nyaman?" tanya Rory saat mereka berada didalam pesawat.


"Aku baik-baik saja, Roy. Ini sudah kesekian kalinya kamu bertanya padaku," sambut Nayla tersenyum geli.


Mereka tiba di Paris dengan mobil jemputan yang sudah menunggu kedatangan mereka yang akan mengantar mereka menuju Hotel.


"Bienvenue en France," sapanya ramah sembari membungkukkan sedikit badannya..


Seorang pria menyambut mereka dibandara dan segera mengarahkan mereka menuju Hotel yang telah mereka pesan sebelumnya.


"Kamu bahkan sudah memesan hotel?" tanya Nayla.


"Tentu saja," tukas Rory. "Aku harus memastikan kamu tetap merasa nyaman selama berada disini," imbuhnya.


" Wow,,, aku terkesan. Aku bahkan hampir melupakan siapa kalian sebenarnya," sambut Nayla.


Nayla menatap keluar jendela. Mengagumi pesona kota paris yang begitu indah walau dibawah terik sinar matahari. Sementara mereka yang melihat Nayla hanya tersenyum.


Selang beberapa menit, mereka tiba disebuah Hotel dan segera menuju kamar mereka masing-masing.


Kamar mereka berada dilantai yang sama dan saling berdekatan. Kamar Nayla berada diantara kamar Rory dan Kevin. Sedangkan yang lain berada di depan kamar mereka bertiga.


"Istirahatlah,! Kamu pasti lelah setelah perjalanan. Acara akan diadakan nanti malam," saran Rory.


"Bagaimana denganmu? Orang tuamu? Tidakkah akan lebih baik jika aku menyapa mereka?" cecar Nayla.


"Aku akan ada dikamarku. Kalau kamu membutuhkan apapun, kamu bisa memanggilku," terang Rory.


"Kalau orang tuaku, mereka belum kembali. Kamu bisa menemui mereka nanti malam. Mereka juga menyarankan agar kamu istirahat," sambung Rory.


"Jadi mereka juga menginap di hotel ini?"tanya Nayla.


"Benar, hanya saja kamar mereka ada dilantai bawah," jelas Rory.


"Ah,,, begitu," desah Nayla pelan.


"Ada apa dengan raut wajah ini, hmm?" tanya Rory sembari menaikkan dagu Nayla menggunakan telunjuk dan ibu jarinya.


"Tidak, bukan apa-apa. Sepertinya aku hanya terlalu banyak berpikir," kilah Nayla.


"Kalau begitu, katakan padaku apa itu!" sambut Rory.


"Bisakah aku keluar untuk berkeliling?" harap Nayla.


"Apakah kamu tidak lelah?" tanya Rory.

__ADS_1


"Sama sekali tidak," Nayla mengelengkan kepalanya.


"Baiklah, kita akan keluar setelah makan siang, bagaimana?" tanya Rory.


Nayla mengangguk setuju.


"Haruskah kita mengajak mereka juga?" tanya Nayla lagi.


"Tidak perlu, cukup kita berdua saja.," jawab Rory.


Nayla mengangguk.


Waktu berjalan dengan cepat. Rory dan Nayla keluar untuk berkeliling seperti yang disepakati sebelumnya. Namun, pada akhirnya mereka tidak bisa pergi kebanyak tempat karena waktu terbatas yang mereka miliki.


Diam-diam, Nayla memasuki toko aksesoris ketika Rory meninggalkannya sebentar, dan segera menyimpan barang yang dibeli kedalam tasnya.


Tanpa terasa, acara yang disebutkan Rory hampir tiba. Dengan bantuan seorang penata rias, Nayla dibantu untuk mempersiapkan diri.


Rory menunggu diluar kamar bersama teman-temannya.


"CEKLEKK,,,,!!!"


Suara pintu dibuka membuat Rory segera menoleh. Penata rias keluar dan mengangguk sopan pada Rory dengan senyum diwajahnya.


Tak lama kemudian, Nayla keluar dengan setelan casual menempel ditubuhnya. Cardi tipis berwarna biru terang dengan dalaman drees selutut berwarna putih sangat pas dengan kulit putihnya.


Rambutnya ditata setengah tergerai dengan mengumpulkan dibahu kanannya.


"Désolé monsieur, (*maaf tuan)," ucap penata rias membungkukkan badannya.


"Hanya ini yang bisa saya lakukan. Mademoiselle Nayla, tidak bisa mengenakan gaun karena luka diperutnya," terangnya.


"Tu as bien fait, Merci beaucoup,(* Anda melakukannya dengan baik. Terima kasih banyak)," balas Rory tersenyum ramah.


" Je vous en prie, passe une bonne journée, (* Terima kasih kembali, semoga harimu menyenangkan)," jawabnya tersenyum hangat.


Penata rias kembali membungkuk dan barlalu pergi.


"Roy,, apakah tidak masalah jika aku seperti ini?" tanya Nayla ragu menatap dirinya sendiri.


"Kenapa? Kamu terlihat cantik," sambut Rory.


"Kamu tau persis apa yang kumaksud, Roy," sungut Nayla.


"Lalu apa? Apakah kamu tidak nyaman dengan pakaian ini?" tanya Rory.


"Bukan begitu," sanggah Nayla. " Ini nyaman, tapi kamu bilang ini acara ulang tahun pernikahan kedua orang tuamu, apakah pakaian ini tidak terlalu santai?" ucap Nayla cemas.


"Sama sekali tidak. Kedua orang tuaku sudah cukup senang dengan kedatanganmu," sambut Rory.


"Dan jika ada yang mengusikmu, aku yang akan membereskannya," timpal Kevin.


"Mereka yang mengkritikmu hanya akan mendapat masalah karena mereka juga akan meghadapi kami," sambung Thomas.


Nayla tersenyum, merasa lebih tenang dari sebelumnya.


'Betapa aku sangat beruntung memiliki mereka yang ada di sekitarku,' batin Nayla.


"Kita berangkat?" ajak Rory menguluran tangannya.


"Acara diadakan di ballroom hotel ini, jadi kita tidak perlu pergi menggunakan mobil," jelas Rory.


"Entah kenapa aku yakin ini juga bagian dari rencanamu," sambut Nayla menerima uluran tangan Rory.


"Tepat sekali," jawab Rory tersenyum lebar.


Mereka mmulai melagkah menuju Ballroom yang terletak dilantai bawah.


Begitu mereka memasuki ballroom, Nayla terpana dengan interior yang menghiasi ruangan itu.


Ruangan yang cukup luas, meja dan kursi yang telah ditata rapi dengan alas meja berwarna merah.


Makanan dan minuman tersusun rapi disetiap meja, siap menjamu seluruh tamu. Beberapa pelayan berjalan mengitari setiap tamu dengan nampan berisi minuman ditangan mereka.


Rory melipat tangannya sembari menuntun tangan Nayla disikunya. Nayla mengedarkan pandangannya, dan melihat seluruh tamu wanita mengenakan gaun mewah mereka.


Pandangan seluruh tamu tertuju pada Nayla dan Rory yang baru saja memasuki ruangan, menimbulkan kegaduhan kecil.


"Sepertinya mama sedikit terlambat," ucap Rory.


"Aku akan menyapa mereka sebentar," sela Martin menunjuk seseorang yang dikenalnya.


Begitu Martin pergi, secara berurutan mereka pergi satu per satu ingin menyapa kenalan mereka, hingga menyisakan Nayla dan Rory.


Namun hal itu tidak bertahan lama ketika tiba-tiba seseorang menarik Rory menjauh dari Nayla untuk membicarakan sesuatu.


Nayla tersenyum kecil sembari menaikan bahunya. Memaklumi apa yang terjadi.


"Apakah ini pertama kalinya anda menghadiri pesta, nona?"

__ADS_1


Sebuah pertanyaan ditujukan pada Nayla, membuatnya berbalik hanya untuk mendapati wanita paruh baya namun terlihat sangat anggun tersenyum lembut padanya.


...****************...


__ADS_2