
Nayla baru saja lelesai merubah tatanan rambutya. Dengan menggunakan saran Camile, ia tidak perlu menganti pakaiannya. Hanya saja, Camile menambahkan penutup di bahu Nayla yang terbuka dengan warna sedikit lebih terang, memberikan kesan gradasi warna.
Sedangkan rambutnya di sanggul dengan disisakan sedikit rambut di tulang pipinya. Warna lipstik juga diganti dengan warna coral, dan mempertajam dibagian mata.
"Kamu luar biasa, Camile. sepertinya kamu memiliki tangan ajaib," puji Nayla tulus.
"Anda berlebihan, nona. Saya masih perlu banyak belajar," sambut Camile tersipu.
"Orang yang meyangkal bakat yang dimiliki cenderung mampu menghasilkan karya luar biasa," balas Nayla.
"Ah,,,, semoga saja apa yang anda katakan benar," jawab Camile tersenyum hangat.
"Tapi, bolehkah saya mengajukan pertanyaan, nona?" tanya Camile.
"Ya, tentu," jawab Nayla. "Dengan syarat kamu tidak berikap formal padaku," imbuhnya.
"Ehh,, saya tidak berani melakukan itu nona," sanggah Camile.
"Kenapa? Kita bahkan sempat mengobrol. Dan cara kamu meriasku, benar-benar nyaman. Kamu sangat memperhatikan apa yang aku suka dan tidak suka," balas Nayla.
"Karena memang disanalah posisi saya, nona," jawab Camile.
"Kau tau?, posisi seseorang bukanlah hal yang membuat seseorang terlihat baik atau buruk. Melainkan bagaimana dia bisa memposisikan dirinya dengan keadaan sekitarnya," tutur Nayla.
"Itu bijaksana, nona. Sejujurnya saya sangat ingin mengakrabkan diri dengan anda, mengingat bagaimana anda berbicara kepada kami yang hanya sebagai pesuruh disini. Namun, saya ingin tetap menghargai anda dan posisi anda," ungkap Camile.
"Baiklah, kamu bisa lakukan apapun sesuai dengan apa yang hatimu inginkan. Jadi, apa yang ingin kamu tanyakan?" tanya Nayla.
"Apa alasan anda merubah penampilan anda? Apakah anda tidak menyukai penampilan anda sebelumnya?" tanya Camile.
"Aku sangat menyukainya, sungguh. Tapi, ada keadaan dimana aku harus merubahnya," jelas Nayla.
"Katakan padaku! Apa yang terlihat berbeda dari penampilaku yang sebelumnya?" tanya Nayla.
"Sebelumnya, anda terlihat manis dan hangat, juga memukau. Entah itu pria ataupun wanita akan terpesona dengan penampilan anda," papar Camile.
"Kalau yang sekarang, anda terlihat elegan, anggun dan lebih berkarisma. Anda menonjolkan sisi mandiri yang ada didalam diri anda. Mereka akan tetap terpesona, hanya saja mereka juga akan merasa segan disaat yang bersamaan," lanjutnya.
"Sungguh, nona. Apapun yang anda kenakan sangat cocok, anda memilki tipe wajah supermodel, dimana itu akan menyatu dengan riasan apapun, dan pakaian apapun," puji Camile tulus.
"Kamu pandai berkata manis, Camile, terima kasih. Itulah yang aku inginkan," sambut Nayla.
"Karena momen kali ini, aku ingin keluar dari zona nyamanku," ungkap Nayla.
"Maksud anda?" Camile mengerutkan keningnya.
"Kamu akan tau nanti," jawab Nayla tersenyum .
"Baiklah, aku akan keluar," ucap Nayla.
Nayla menarik nnafas dalam sebelum membuka pintu untuk keluar. Kembali bergabung bersama Martin dan Adrian, menunggu namanya dipanggil.
Lagi... Martin tercengang dengan penampilan Nayla yang telah dirubah. Meski hanya rambut dan merubah sedikit riasan, serta memberikan tambahan di gaunnya, itu terlihat jauh berbeda dengan yang sebelumnya.
Adrian secara terang-terangan membuka mulutnya. Selama ia bersama Nayla, tak pernah sekalipun melihat Nayla dengan perubahan total seperti yang ia lihat sekarang.
"Cantik," puji Adrian dan Martin bersamaan.
Mereka saing pandang untuk sesaat, lalu tertawa.
"Hooo,,, sepertinya kalian sudah bisa mengakrabkan diri," sindir Nayla.
"Apa yang bisa kukatakan? Dia sangat nyaman untuk diajak bicara, terlebih dia memiliki keluhan yang sama denganku," jawab Adrian.
__ADS_1
"Aku berniat memperkerjakan satu orang untuk membantumu, tapi sepertinya aku harus mempertimbangkan lagi hal ini," sambut Nayla menyipitkan matanya..
"Ahh,,, tidak, tidak,, tolong jangan berpikir ulang dan carikan satu orang untuk membantuku, itu akan sangat meringankan bebanku," jawab Adrian antusias.
"Dan kalian bisa membahas ini nanti," sela Martin.
"Nay, kau berhutang penjelasan padaku. Juga, pada mereka," ucap Martin.
"Aku tau, dan aku akan menjelaskannya," jawab Nayla.
Tak lama setelah mengatakan itu, Nayla mendengar namany dipanggil, diiringi dengan suara gemuruh tepuk tangan yang meriah.
"Tak ku sangka, ternyata sebagian besar yang berada di gedung ini juga pengemarnya," gumam Martin.
"Tapi, setelah ini kamu tidak akan setenang sebelumnya," sela Adrian yang mendengar gumamamnya.
"Maksudmu?" tanya Martin mengerutan keningnya.
"Kamu akan mengerti setelah malam ini berlalu," jawab Adrian tersenyum misterius.
Nayla mengatur nafasnya, lalu mulai melangkahkan kakinya. Suara sepatunya membuat suasana gedung tiba-tiba hening, membuat suara ketukan sepatunya semakin jelas.
Rory dan teman-temannya yang semula duduk, seketika berdiri dan menatap Nayla dengan tatapan tak percaya.
Nayla tersenyum tipis pada mereka, tatapannya terhenti pada Rory. Tangannya menyentuh telinga dan mengatakan 'Maaf' tanpa suara dengan gerakan bibirnya.
Seisi gedung pun sama-sama terdiam. Sang pembawa acara mempersilahkan Nayla duduk di sofa berlengan yang telah disediakan, dimana itu terletak berseberangan dengan sofa panjang yang diduduki Rory beserta teman-temannya.
"Wah wah wah,,, sepertinya anda memberikan kejutan yang luar biasa ya, Ace? Siapa yang akan menyangka, bahwa Nyloes tidak lain adalah kekasih anda sendiri," sambut pembawa acara tersenyum pada Rory.
"Selamat malam dan selamat datang, nona Nayrela," sapa pembawa acara mengulurkan tangannya.
Nayla menymbut uluran tangannya dengan mempertahankan senyum diwajahnya.
"Setiap orang akan melakukan sebuah kesalahan, yang membuatnya berbeda adalah_,,," kalimat Nayla terpotong oleh salah satu penonton yang berteriak melanjutkan kalimat Nayla.
"Bagaimana cara kita menyikapinya," teriaknya.
"Itu ada di buku anda yang terbit lima bulan lalu. Kak Nyloes aku adalah pengemar beratmu," teriaknya bersemangat.
Seolah terpancing dengan suara itu, penonton lain turut berteriak mengungkapkan rasa senang mereka akhirnya bisa melihat langsung sosok idola mereka yang selama ini menyembunyikan identitasnya.
"Woah... Nayrela, anda benar-benar seperti memberikan bom ya?" goda nya. "Sekali lagi saya sangat berterima kasih karena anda bersedia hadir di acara kami," lanjutnya.
"Baiklah, tolong tetap tenang dan mari kita mulai," tegasnya membuat suasana kembali hening.
"Tapi, sebelum itu, saya sangat penasaran dengan pembelaan anda Ace, apa yang membuat anda menyembunyikan fakta ini?" tanya pembawa acara.
"Apa yang bisa aku sembunyikan? Aku bahkan juga baru tau tentang ini," jawab Rory menatap lekat mata Nayla.
"....."
"....."
"...."
Banyak dari mereka yang mendengar pengakuan Rory saling berbisik menyatakan rasa tak percaya mereka.
Merasakan ketegangan meningkat, Nayla mengangkat tangannya, meminta semua orang untuk tenang. Dengan senyum hangat, Nayla mulai berbicara.
"Mereka memang tidak tau apapun, karena saya memang menutup diri dari mereka," ungkap Nayla.
"Bahkan dari kekasih anda?" tanya pembawa acara dengan mata melebar.
__ADS_1
"Sebenarnya, saya memiliki alasan sederhana. Karena pada awalnya saya tidak berpikir bahwa itu adalah hal yang harus diketahui. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, apa yang saya pikirkan berubah. Hingga, saya berpikir untuk mengatakan hal yang sebenarnya ketika waktunya tepat. Tapi, beberapa hal justru terjadi dan membuat saya mengurungkan kembali niat saya," ungkap Nayla.
"Ah,,, berbicara tentang hal yang terjadi, apakah itu tentang insiden yang terjadi waktu itu?" tanyanya hati-hati.
"Salah satunya," jawab Nayla.
"Lalu, apa hal lain yang terjadi? Apakah itu juga berhubungan dengan Ace?" tanyanya.
"Sebagian besar memang berhubungan dengannya, bukankah begitu?" sambut Nayla dengan kembali bertanya.
"Baiklah,, sekarang dari kalian, FM. Kalian mengakui bahwa kalian juga pengemar Nyloes, apa yang ingin kalian sampaikan padanya?" tanya pembawa acara.
"Sekarang aku justru merasa konyol, aku selalu ingin bertemu dengan orang yang ada didepanku sekarang, disaat aku hampir setiap hari justru adu argumen dengannya," ucap Ethan.
"Wah,,, anda langsung menggunakan bahasa santai anda," sambut pembawa acara.
"Aku juga akan mengatakan hal yang sama, hal ini juga menjelaskan kamu selalu tidak begitu tertarik ketika aku membicarakan buku yang ternyata adalah karyamu sendiri," timpal Thomas.
"Dan menjelaskan alasan kenapa kamu lebih tertarik dengan buku misteri,"sambung Nathan.
"Jangan salahkan aku jika aku ingin mendengar pendapat kalian tentang buku yang aku buat," balas Nayla.
"Wah,, " pembawa acara tertawa renyah melihat keakraban hubungan mereka. " Apakah kalian juga selalu seperti ini? Saling menimpali satu sama lain?" tanyanya.
"Mereka bahkan bisa bertahan lama jika membahas tentang buku. Terutama Thomas, mereka berdua mengunakan bahasa yang hanya dimenggerti oleh mereka berdua saja, tanpa kami yang berada didekatnya mengerti sedikitpun apa yang dibicarakan," sela Kevin.
"Sungguh mengesankan. Lalu, bagaimana dengan anda Ace?" tanyanya.
"Saya bahkan masih mencoba menyangkal apa yang terjadi malam ini," jawab Rory tanpa mengalihkan perhatiannya dari Nayla.
"Baik,, apa pendapat anda, Nayrela?" pembawa acara kembali melempar pertanyaan.
"Saya bahkan tidak menyangka ini akan terjadi malam ini, karena saya memang beniat mengatakannya besok dimana itu adalah jadwal yang seharusnya saya hadiri," ungkap Nayla.
"Ahh,,, secara tidak langsung, kami mengagalkan rencana ada," sesalnya.
"Bahkan tidak sedikitpun," sambut Nayla cepat. "Saya justru berpikir, mungkin saya memang harus melakukannya lebih cepat," imbuhnya.
"Ternyata, kepribadian anda yang ramah bukan sekedar rumor," pujinya.
"Saya mendapatkan banyak informasi tentang anda yang senantiasa membalas surat yang pengemar anda kirimkan, meskipn itu hanyalah ucapan selamat, anda tetap membalasnya," sanjungnya.
"Karena menurut saya, siapa saya hari ini juga berkat mereka," sambut Nayla.
"Baik,, baik,, selanjutnya. Apa yang membuat anda menyembunyikan idetitas anda selama ini? Dan sekarang anda memutuskan untuk membukanya?" tanyanya.
"Karena mereka," jawab Nayla menatap Rory dan teman-temannya secara bergantian.
"Saya senantiasa menghindari apa itu ketenaran, namun ketika saya mengenal mereka, sudut pandang saya berubah. Mereka yang bisa berdiri dengan keinginan mereka sendiri, menghadapi apapun yang menimpa mereka, tapi mereka bisa tetap berdiri meski ada yang ingin menjatuhkan mereka. Lalu saya melihat diri saya sendiri dan menyadari satu hal, bahwa saya selalu khawatir dengan hal yang belum tentu terjadi," papar Nayla.
Tak seorang pun bisa berbicara ketika Nayla mengungkapkan jawabannya. Mereka tercengang.
"Tampaknya mereka memberikan dorongan kuat untuk anda," sambut pembawa acara.
"Sangat," jawab Nayla.
Beberapa pertanyaan saling melempar berlangsung dengan diselingi canda dan tawa, saling menimpali tanpa mejatuhkan satu sama lain. Pembawa acara yang menjadi tuan rumah juga bersikap sangat adil dan sesekali menengahi selama perbincangan berlangsung.
"Dua pertanyaan lagi, tapi ini termasuk pertanyaan gabungan, apa yang menginspirasi anda dalam menulis buku? Apakah Nyleos adalah singkatan dari nama anda?"
"DEG!
Pertanyaan terakhir yang sudah Nayla duga akan muncul, namun tetap membuatnya terkejut. Tangannya mulai gemetar dan berkeringat, ia berusaha mempertahankan senyum dibibirnya dan mengontrol perasaannya.
__ADS_1
...****************...