LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
39.Berdiri Sendiri


__ADS_3

Chris tiba di rumah dan meminta Louise untuk istirahat di kamarnya.Memastikan Louise telah tertidur,Chris bergegas ke ruang tamu dimana orang tuanya duduk menunggu ingin membicarakan tentang kepindahan mereka.


"Pa,Ma tidak bisakah aku tetap di sini?Siapa yang akan menjaganya jika aku pergi?" pinta Chris memelas.


"Itu tidak mungkin Chris.Jika itu hanya untuk beberapa bulan,mungkin tidak masalah.Tapi,ini akan memakan waktu lama.Kita bisa membawanya jika ingin merawatnya kan?" tanya mama Chris.


"Itu tidak mungkin ma,Louise baru saja mengalami hal itu.Jika kita mendesaknya untuk ikut kita,apa yang akan terjadi nanti?" tanya Chris murung.


"Papa tau itu sangat mengejutkan,dan ini memang sangat mendadak.Papa hanya bisa membawa Louise hanya jika dia mau,kita tak mungkin memaksanya.Tentu saja kami juga akan membujuknya agar ikut." ucapnya lembut.


"Dan jika dia menolak?" tanya Chris murung.


"Dia lebih dekat denganmu,kamu bisa membujuknya Chris.Setidaknya jika dia ikut bersama kita,dia bisa sedikit melepaskan kesedihannya," kata papa Chris.


"Mama sangat berharap Louise tidak menolak untuk ikut," kata mama Chris lalu mendesah pelan.


"Kita tidak memiliki pilihan lain karena ini berkaitan dengan pekerjaan,papa harap kamu mengerti," ucapnya pelan.


Chris menunduk lesu dan pergi menuju kamarnya dengan gontai.Betapa terkejutnya Chris ketika mencapai pintu ruang tamu untuk menuju ke kamarnya,Louise telah berdiri di sana.


"Lo-Lo-Louise,,,"Chris terbelalak. "K-Kenapa k-kamu di sini?Bukan-kah kamu tadi tidur?" Chris terbata bata,tak tau bagaimana harus bereaksi.


Louise tersenyum tipis dan melangkah maju mendekati Chris.Dengan lembut menarik tangan Chris meminta untuk mengikutinya.


"Aku tidak bisa tidur." jawab Louise.


"Apakah kamu mendengar semu__"


"Kak Chris menemani aku tidur lagi kan?" potong Louise.


"Tentu saja," jawab Chris.


Louise tersenyum singkat dan berjalan menuju kamar bersama Chris yang hanya bisa menurut saat tangannya di tarik.


'Apa yang dia pikirkan sekarang?Aku tidak bisa lagi membaca arti senyuman itu,apakah dia mendengar semuanya?' pikirnya.


Mereka menuju kamar dalam keheningan panjang membuat rasa bersalah membengkak di hati Chris.Mereka pun berbaring begitu tiba di kamar.Louise memeluk guling dan memejamkan mata menghadap Chris yang berbaring di sampingnya.


"Louise,,," panggil Chris pelan.


"Ehmm,,," Louise membuka mata tanpa menoleh.


"Kalau kamu bersikap seperti ini,itu hanya menunjukkan bahwa kamu mendengar semuanya,benar kan?" tanya Chris hati hati.


"Iya,kak Chris benar," jawabnya pelan lalu mendongak.


"Kalau aku minta maaf,apa kakak akan memaafkan aku?" tanya Louise.


Chris mengerutkan kening dan mengusap kepalanya.


"Kenapa minta maaf?bukankah seharusnya aku yang minta maaf?" tanya Chris.


"Kak Chris tidak salah kok," jawab Louise.


"Apakah berbohong itu bukan hal salah?" tanya Chris lesu.


"Karena kakak juga tidak tau,itu namanya bukan berbohong," jawab Louise. "Kak Chris kan juga tidak tau kan kalau Om dan Tante berencana pindah?" tanya Louise.


"Jadi_,,," Chris menghembuskan nafas pelan. "Kamu mau ikut kan?" tanya Chris penuh harap.


"Itu sebabnya aku tadi bilang minta maaf kan?" Louis balik bertanya.


Chris melebarkan matanya dan bangun dengan cepat menatap Louis tak percaya.


"Jadi,artinya kamu tidak mau?" tanya Chris kecewa.


"Aku cuma tidak mau lebih jauh lagi dari kak Nick," jawab Louise ikut duduk menghadap Chris.


"Tapi Louise,,,"


"Om dan Tante kan sayang sama kak Chris,kalau kakak tidak ikut mereka akan membuat om dan tante sedih kan?" tanya Louise.


"Dan aku juga sayang padamu,apa Louise tidak peduli tentang itu?" tanya Chris tanpa sadar menaikkan suaranya.


"Emhmm,,," Louise bergumam mengelengkan kepalanya lalu tersenyum.


"Tau kok,makanya kakak mengajakku menginap di sini,kalu kak Chris tidak sayang,mana mungkin mengajakku ke sini,iya kan?" tanya Louise tersenyum lagi.


"Terus kamu gimana Louise?" tanya Chris mengusap wajahnya.


Merasa frustasi dan tidak tau apa yang harus Chris lakukan.Tapi,juga merasa malu karena justru dirinyalah yang di hibur Louise.


"Kak Chris kan bisa kirim surat,"jawab Louise.


"Bukan begitu,,," Chris mengaruk kepalanya.


"Di sini ada bibi,paman Jag juga,sama seperti kak Chris tidak suka aku tetap di sini,om dan tante juga akan begitu kalau kak Chris tidak bareng mereka," jawab Louise.


Chris menutup wajah dengan telapak tangannya terus memikirkan apa yang harus dilakukan hingga jatuh tertidur.Sementara itu,di balik pintu kamar,kedua orang tua Chris mendengar yang di katakan Louise merasa terharu.


"Apakah Louise benar benar berusia 7 tahun?" gumam papa Chris.


"Bukankah Chris saat seusianya juga sama?" tanya mama Chris.


"Ini kan kasusnya berbeda," ucap papa Chris.


"Dia akan menjadi wanita luar bisa ketika dewasa nanti," sambungnya.


"Dan mau papa ambil sebagai menantu?" tanya mama Chris.


"Tentu saja tidak,Chris menyayangi Louise sebagai adik," bantahnya.


"Perasaan bisa saja berubah kan?" tanya mama Chris. "Jujur saja,kalau mama dengan senang hati menerimanya sebagai menantu," sambungnya.


"Sudahlah,,ayo kita tidur!" ajak papa Chris.


Mereka meninggalkan kamar Chris menuju kamar mereka.


Waktu terus berjalan hingga tiba saatnya Chris sekluarga harus pergi.Chris menemui Louise di perpustakaan sebelum pergi dan menjanjikan akan sering mengirim surat untuk mengetahui kabar Louise.




Rose mengakhiri ceritanya dengan hembusan nafas panjang.Tanpa sadar air mata Adrian menetes yang dengan cepat di hapus dengan tangannya.



"Jadi,dokter waktu itu,,,"



"Ya,dia adalah orang yang sama.Dia kembali setelah mendapatkan gelar dokternya," potong Rose.

__ADS_1



"Dan hubungan mereka?" tanya Adrian.



"Chris mengatakan padaku surat yang Nayla kirim berhenti setelah dia mengirimkan foto yang kau lihat," jawab Rose. "Lebih tepatnya Chris hanya menerima lima suratnya setelah foto itu di kirim," sambungnya.



"Bagaimana bisa?Em,m\_maksudku itu terdengar tidak masuk akal," ucap Adrian.



"Setelah mendapatkan foto,beberapa hari setelahnya kondisi dia menurun,hal itu di jelaskan di satu surat yang di kirim oleh penjaga perpustakaan karena Nayla menyembunyikan kesehatannya pada Chris," jawab Rose.



"Setelah itu mereka tidak berhubungan lagi?" tanya Adrian.



"Sebenarnya,Nayla pernah beberapa kali mengirim surat lagi,namun tidak mendapatkan balasan,jadi dia benar benar berhenti menulis surat.Nayla orang yang keras kepala,dia bekerja untuk mencukupi kebutuhannya dan menolak ketika ada yang bersedia menanggung hidupnya.Jadi,dia mulai menulis dongeng,cerpen apa saja hingga di terbitkan di sebuah majalah," ungkap Rose.



"Pertama kali aku membantunya membuat karyanya setelah bergabung bersama kami,dia lebih banyak diam tapi dia cepat mengerti ketika di jelaskan.Perusahaan kami melamarnya karena kami tertarik dengan cerita yang dia buat diterbitkan di sebuah majalah dengan beberapa episode dan gaya tulisannya yang menurut kami berbeda.Beberapa perusahaan juga melamarnya,tapi dia menolaknya dengan tegas.Tapi,saat kami mencoba dan pasrah jika dia menolak,dia justru menerimanya tapi dengan satu syarat,menutup rapat identitasnya," ucap Rose lagi.



"Tapi kamu pernah bilang melakukan kesalahan saat acara penghargaan dengan memberikan nama aslinya,bukankah itu melanggar kesepakatan?" tanya Adrian. "Anehnya aku tak bisa mencari informasi tentang itu," sambungnya.



"Yaahh,,,Memang benar,kami benar benar merasa sangat buruk saat itu.Dia tidak marah,tapi hal itu membuat kami menjadi lebih buruk lagi,dia hanya minta selesaikan masalahnya.Jadi,kami menutup semua informasi dan menghapus semua hal yang berkaitan dengannya," ucap Rose menjelaskan.



"Sekarang aku benar benar mengerti,ini menjelaskan semua pertanyaan yang tak terjawab di kepalaku," kata Adrian.



"Tapi,ingatlah Adrian,bersikaplah normal seolah kau belum tau tentang ini.Lucie juga hanya tau setengahnya dari kisah Nayla,dan seluruh kantor hanya tau dia tak memiliki siapapun.Aku mencari tau sendiri semua informasi ini.Bibi,Chris mereka percaya padaku dan menceritakan semuanya padaku," kata Rose memperingatkan.



"Aku mengerti,Rose!" jawab Adrian.



"Tentang Chris,bagaimana mereka bertemu kembali?" tanya Adrian.



"Saat Chris kembali ke kota ini,dia selalu mencari informasi tentang Nayla.Karena dia dokter,kami bertemu di rumah sakit,kau tentu bisa menebak seperti apa kisahnya bukan?" tanya Rose.



"Tapi aku tidak mengerti,dokter itu memanggil Nayla bukan Louise," kata Adrian tak mengerti.



"Karena Nayla yang memintanya,dan alasan Nayla tidak mendapatkan balasan lagi setelah kembali mengirim surat adalah Chris saat itu sedang di tugaskan ke daerah lain untuk mendapatkan gelar dokter dan tidak tau jika Nayla mengirimkan surat.Chris menyadari hal itu saat dia sudah mulai bekerja di rumah sakit sebagai syarat uji coba.Chris pun sadar itu sudah beberapa tahun berlalu,tapi tetap membalas surat itu dan mendapatkan balasan dari bibi yang menjaga perpustakaan,mengatakan Nayla sudah tidak di sana lagi.Sejak itulah dia kembali ke kota ini dan mencari informasi dimana keberadaan Nayla," kata Rose.




"Aku berasumsi begitu," jawab Rose.



"Sepertinya akan ada badai jika sampai nona Nayla mendengar ini," ucap Adrian.



"Aku juga berfikir begi\_\_"



DUUGHH,,,!!



"Aduhh,,,!!!" Adrian mengerang lantaran kakinya membentur meja memotong ucapan Rose.



"Ada apa?" tanya Rose.



"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Nayla menahan tawa.



Nayla yang tiba tiba datang mengejutkan Adrian membuat Adrian langsung berdiri dan berakibat kakinya membentur meja.



Nayla tidak bisa menahan tawanya lagi dan tertawa pelan sebelum berkata,



"Kenapa kau seterkejut itu aku datang Adrian?kau tidak sedang merencanakan pembunuhan bukan?" tanya Nayla menutup mulutnya masih tertawa.



"Anda jahat sekali,kaki saya sakit kan bukan lelucon!" keluh Adrian.



"Bukan salahku kau membenturkan kakimu di meja," jawab Nayla.



"Anda selalu memiliki seribu kata untuk menjawab," ucap Adrian mengelus kakinya yang terasa berdenyut.



Seolah baru saja ingat sesuatu,Adrian membalik ponselnya dan panggilannya masih terhubung dengan Rose.


__ADS_1


"Ahh,,,maaf,akan ku hubungi lagi nanti," ucap Adrian mendekatkan ponselnya ke telinga lagi.



"Aku merindukan Nayla,dia terdengar baik baik saja.Setelah aku di sini,dia jarang sekali menghubungiku," keluh Rose.



"Adakah yang harus ku sampaikan padanya?" tanya Adrian melirik Nayla yang tengah memperhatikannya.



"Tidak perlu,dia pasti sedang menatapmu,baiklah itu saja.Hubungi aku lagi kapan kapan,bye!" ucap Rose .



Panggilan pun berakhir.Adrian menurunkan ponselnya dan meletakkan di meja.



'*Bagaimana dia bisa tau kalau nona Nayla sedang menatapku?' pikirnya*.



"Hemmm,,,aku penasaran siapa sebenarnya yang kau hubungi hingga membuatmu rela mengorbankan kakimu?" tanya Nayla.



"Seorang teman,kami hanya sangat lama tidak bertemu," jawab Adrian.



"Begitukah,?" tanya Nayla menaikkan alisnya.



Adrian mencoba agar tidak melakukan kontak mata dengan Nayla,sedangkan Nayla justru menatap lekat Adrian.



"Adakah yang sedang anda perlukan?" tanya Adrian mengalihkan perhatian.



"Ya,,,hanya beberapa hal penting,setelah itu aku pulang," jawab Nayla.



"Anda bisa menghubungi saya untuk membawakannya ke tempat anda,nona,!" ucap Adrian.



"Ini adalah hal yang harus ku lakukan sendiri,tapi terima kasih," ucap Nayla.



Nayla menghampiri mejanya dan membuka laci.Tangannya menarik sebuah amplop coklat besar dari laci seraya menarik kursi untuk duduk dan memeriksa isinya memastikan apa yang dia cari.



"Apa kau tak pulang setelah pekerjaanmu selesai,Adrian?" tanya Nayla tanpa menoleh.



"Saya pulang sebentar lagi setelah pengantar barang datang," jawab Adrian.



"Apakan akan ada barang datang lagi?" tanya Nayla.



"Bukan,tapi mengirimkan yang ada di sini ke apartemen anda," jawab Adrian.



"Ohh,,,Aku lupa tentang itu," jawab Nayla menoleh sekilas lalu menunduk lagi.



Begitu yakin benar itu yang di cari,Nayla bangun dari duduknya dan berkata pada Adrian akan pulang,namun kembali duduk saat ponselnya berdering.



Mengeluarkan ponsel dari saku untuk mengetahui siapa yang menghubunginy.


'***My Lov******er***' tertera di layar ponsel membuat mengerutkan keningnya.



'*Tumben sekali dia menghubungiku di jam ini,apakah terjadi sesuatu*?' pikirnya.



"Apakah terjadi sesuatu?" tanya Nayla khawatir setelah mendekatkan ponsel ke telinganya.



"Tepat sekali," jawabnya. "Namun dalam hal baik,,,err\_\_ mungkin,!"sambungnya.



"Baiklah,,,katakan apa itu!" kata Nayla penasaran.



"Sebelum itu,bisa kau buka e-mail mu sebentar?" pintanya.



"E-mail,,,??" tanya Nayla binggung.



"Yap,,,sebentar saja,dan lihat saja apa yang aku kirimkan,!" perintahnya.



Seolah mengerti tanpa mengatakan apapun,Adrian menyodorkan laptop miliknya yang langsung terhubung ke akun email Nayla dengan memasukkan sandi.



Nayla tersenyum berterima kasih lalu membuka e-mail miliknya.Matanya melebar dengan mulut terbuka melihat apa yang di kirimkan Roy padanya.

__ADS_1



...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...


__ADS_2