
###Pagi hari....
Di halaman rumah sakit, orang-orang terlihat mulai berdatangan, membuat tempat it itu dipenuhi oleh puluhan bahkan ratusan orang memenuhi halaman rumah sakit yang biasanya lenggang.
Mulai dari reporter berbagai chanel televisi yang berbeda dan beberapa orang dari percetaka surat kabar, semua telah bergerombol menantikan seseorang.
Sebagian besar dari mereka adalah bias dari grup FM yang mendapatkan informasi bahwa hari ini Nayla, kekasih dari salah satu personil idola mereka akan keluar dari rumah sakit setelah beberapa hari dirawat.
Antusiasme mereka terlihat jelas dari wajah mereka, menunggu dengan sabar dihalaman rumah sakit.
###Sementara itu, diruang rawat Nayla.
Nayla masih duduk bersandar di ranjangnya, sementara Rory duduk di kursi yang berada disamping ranjang Nayla.
Ruang rawat Nayla seolah berubah menjadi ruang rapat dimana semua anggota FM duduk disofa yang ada disana. Membahas apa yang harus mereka lakukan dan apa yang harus dihindari.
Nathan dan Ethan yang tidak memiliki ruang untuk duduk disofa, memilih duduk di lengan sofa sembari melipat tangan mereka.
Nayla mengedarkan pandangannya dan berakhir pada Rory yang kini berada didepannya. Nayla melirik ponsel yang ia gunakan selama dirumah sakit.
"Uhm,,, Roy,,!" panggil Nayla.
"Ya? Kenapa? Apakah kamu merasa ada yang tidak nyaman?" tanya Rory cemas dan segera bangun dari duduknya.
"Bukan,,," Nayla mengibaskan kedua tangannya. "Duduklah!" pinta Nayla.
"Aku hanya ingin tau. Ponsel siapa yang kau berikan padaku?" tanya Nayla.
"Milikmu," jawab Rory kembali duduk.
"Aku memang terlambat menyadarinya, dan aku baru mengingatnya. Aku ingat mereka menghancurkan ponselku. Jadi jelas ini bukan milikku," balas Nayla. "Tapi, semua kontak yang ada di ponselku semuanya sama. Yang berbeda hanyalah semua pesan hilang," imbuhnya
"Kamu hanya perlu menggunakannya saja. Semua hal penting yang ada diponsel lamamu, sudah aku pindahkan ke ponsel yang sekarang. Jadi, kamu tidak perlu memikirkan hal lain. Cukup gunakan saja yang kamu miliki sekarang," pinta Rory.
"Tapi_,,,"
"Aku tidak ingin berdebat hanya karena sebuah ponsel, Ma Chéri. Aku membeli ponsel itu untukmu, oke?" potong Rory.
"Aku tau kamu bisa membelinya sendiri, mengingat betapa kamu selalu bekerja keras, itu membuatmu tidak ingin bergantung pada siapapun. Tapi, tidak bisakah kamu menerima saja apa yang kuberikan padamu?" lanjutnya
Dengan hal itu, Nayla terdiam dan hanya bisa mengangguk pelan.
Rory mengenggam lembut tangan Nayla, dan merasakan kekhawatiran yang besar merayap kedalam hatinya. Entah dari mana perasaan itu berasal, namun ia merasa sangat gelisah tentang apa yang akan terjadi hari ini.
Rory mengingat kembali pembicaraan tentang rencana yang telah disusun Nayla untuk menjebak pelaku sebenarnya keluar dari tempat persembunyiannya. Hal yang sangat ia tolak untuk dilakukan Nayla.
### Flashback on##
"APAAA,,,,?!!!" serentak mereka mengeluarkan suara terkejut.
"Jika kalian berteriak sekali lagi, aku benar-benar akan memanggil keamanan untuk menyeret kalian keluar dari sini,!" ancam Chris.
"Leluconmu sangat tidak lucu, Nay!" sambut Rory tak suka.
"Aku bahkan tidak sedang membuat lelucon," balas Nayla dengan raut wajah serius.
"Nay, tidakkah kau merasa itu justru akan memberi mereka peluang lebih besar jika mereka berencana melakukan sesuatu?" tanya Thomas mengabaikan Chris.
__ADS_1
"Justru itulah yang aku harapkan," sambut Nayla dengan senyuman.
"Maksudmu?" timpal Nathan.
"Kita tau persis bahwa mereka mengincar aku dan Roy, bukan?" ucap Nayla yang segera disambut anggukan kepala mereka.
"Aku memiliki dua presepsi tentang hal ini," ucap Nayla menujukan dua jarinya.
"Pertama,,," sembari menurunkan satu jarinya.
"Jika kita membuat mereka berpikir bahwa kita sudah menangkap pelakunya, mereka akan muncul saat berita ini tersebar. Dan menggunakan keributan untuk kabur setelah mereka berhasil menjalankan rencana mereka," terang Nayla.
"Ketika kita menyebarkan berita tentang aku keluar dari rumah sakit, akan ada banyak orang untuk mencari cara agar bisa menemui kalian dan memberondong kalian dengan pertanyaan. Dan yah,,, tentu saja itu yang diharapkan mereka karena itulah celah terbaik menurut mereka," sambungnya.
"Kedua,,,"
"Kemungkinan mereka sudah tau kalau kita masih mencari pelaku lain yang akan membuat mereka lebih hati-hati dalam menyusun rencana mereka,"
"Yaitu, mereka tau kita akan memancing dan menjebak mereka," lanjut Nayla.
Semua orang yang ada diruangan itu mendengarkan dengan cermat rencana yang dipersiapkan Nayla.
Tak seorang pun dari mereka menyangkal apa yang Nayla katakan. Semua yang Nayla utarakan sangatlah masuk akal dan bisa dilakukan oleh siapapun.
"Jadi, pengawal yang akan kita sewa untuk berada didekat kita hanya sebagai umpan?" Kevin bertanya setelah Nayla menjelaskan rencannya.
"Benar. Saat mereka hanya fokus dengan pengawal yang ada didekat kita, mereka (menunjuk Jeffry dan teman-teman) yang akan menangkap pelaku sebenarnya," jawab Nayla.
"Tapi, bagaimana jika mereka justru mencari peluang lain? Bukankah bertindak dalam keramaian justru akan membuat mereka dilihat banyak orang? Karena hal yang mereka lakukan akan menarik perhatian," sela Ethan. "Dan bagaimana jika dalang dibalik ini semua tidak muncul?" imbuhnya.
Semua orang kembali terdiam, memikirkan kemungkinan yang Ethan sebutkan bisa saja terjadi.
Seolah baru saja menyadari hal itu, mereka sedikit melebarkan matanya lalu mengangguk mengerti.
"Dan tentang dalang dibalik ini tidak muncul?Itu tidak mungkin terjadi. Dia pasti muncul dan akan datang," sambut Nayla.
"Bagaimana kamu bisa seyakin itu?" tanya Martin.
"Seseorang yang sangat menginginkan kehancuran orang yang dia benci, tidak akan melewatkan kesempatan untuk melihat kehancuran orang yang dia incar, dan melihat orang yang dia benci terluka dengan matanya sendiri," ungkap Nayla.
Semua orang kembali terdiam. Namun terlihat dari wajah mereka, ketegangan telah berkurang.
"Bagaimana kamu bisa memikirkan rencana seperti ini, Nay?" tanya Kevin.
"Untuk menangkap seorang penjahat, maka kita juga harus berpikir seperti seorang penjahat, bukankah begitu?" sambut Nayla tersenyum.
"Aku tak habis pikir memiliki adik yang mengerikan," celetuk Kevin.
"Apa-apaan itu?" protes Ethan dan Nathan bersamaan. " siapa yang adikmu?" imbuhnya.
"Secara tidak langsung, kau sedang menantang Chris, apa kau menyadari itu Kevin?" sambung Thomas.
"Sama sekali tidak," jawab Kevin tenang sembari melirik Chris yang masih bungkam seribu bahasa.
"Aku memikirkan satu lagi kemungkinan yang bisa dilakukan oleh mereka," sela Jeffry mengabaikan perdebatan Kevin.
" Bahwa mereka mungkin menyewa orang lain untuk menjalankan rencana itu?" sambut Nayla bertanya.
__ADS_1
"Tepat," jawab Jeffry.
'Tak ku sangka, dia bisa memikirkan **h**al seperti ini. Dan memikirkan kemungkinan lain yang mungkin terjadi,' batin Jeffry.
"Itulah mengapa aku meminta kalian untuk menjaga jarak dari kami. Jarak pandang kalian akan lebih luas," jelas Nayla.
"kemungkinan terbesarnya adalah mereka akan bertindak sendiri tanpa meminta bantuan orang lain lagi karena mereka tidak memiliki cukup waktu untuk mencarinya," lanjutnya.
"Aku mengerti sekarang, dan aku juga sudah bisa membaca kemana arahnya," sambut Jeffry.
Rory masih menunjukan raut wajah tidak setuju. Chris pun menunjukan raut wajah yang sama, namun tidak mengatakan apapun.
'Haruskah aku mencegahnya, Nick?' batin Chris sembari memejamkan matanya.
"Kumohon jangan lakukan ini, Nay," pinta Rory.
"Kamu tau kalau aku harus, bukan?" sambut Nayla. "Dan kamu tau kenapa?" imbuhnya.
Rory terdiam. Dirinya memang tau alasan Nayla melakukan semuanya. Bukan hanya untuk dirinya, tapi juga untuk diri Nayla sendiri.
Hal itu membuatnya tertunduk tak berdaya. Mengepalkan tangannya dan merutuk dirinya sendiri.
'Apa sebenarnya ketakutan terbesarmu, Nay? Aku sangat ingin menanyakannya, tapi raut wajahmu justru menyayat hatiku,' ratap hatinya.
'Aku tau aku harus sabar menungumu hingga kamu siap untuk menceritakan semuanya padaku, tapi sampai kapan aku harus terus melihatmu terluka?' lanjutnya.
Sentuhan lembut ditangan Rory, membuat ia tersentak dan kembali tersadar dimana dirinya berada. Rory menatap Nayla yang tengah mengenggam tangannya, mencoba meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
###Flashback Off
"Roy,,,?" panggil Nayla.
"Ah,, kenapa? Ada apa?" tanya Rory baru menyadari Nayla tengah menatapnya.
"Hahhh,,," desah Nayla pelan.
"Aku tau apa yang kamu pikirkan," ucap Nayla membalas genggaman tangan Rory.
"Aku tidak akan bisa melakukan semuanya sendirian. Aku masih-emm bukan, tapi aku sangat membutuhkanmu. Tidak bisakah kamu memberikan dukunganmu padaku?" harap Nayla.
"Aku akan memberikan segalanya untukmu, hanya jika itu tidak akan membahayakanmu dan melukaimu," sambut Rory.
"Setelah ini berakhir, hal itu akan sangat mudah untuk kamu lakukan. Tidakkah kamu menginginkan itu?" balas Nayla.
"Aku sangat menantikan hal itu. Tapi, berjanjilah satu hal padaku," pinta Rory.
"Apa itu?" tanya Nayla.
"Jangan menghilang lagi dariku," harapnya.
"Itulah masalahnya," sambut Nayla dengan senyuman.
"Aku tidak akan pernah menghilang darimu, jika kamu berjanji kepadaku hal yang sama," jawab Nayla.
Rory menempelkan dahinya didahi Nayla, lalu tersenyum.
"Aku berjanji," tegas Rory.
__ADS_1
************