LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
49.Skandal


__ADS_3

~Dukung karyaku dengan komen,like dan vote yaaa..dukungan dari kalian sangatlah berharga~


------------ 


 


"Apa-apaan ini,,,!" geram Martin seraya membanting tumpukan foto dengan selembar surat ancaman di atasnya.


Seluruh anggota FM yang kebetulan saat itu berkumpul mengarahkan pandangan mereka pada tumpukan foto yang di banting Martin dan melebarkan mata mereka.


Kevin merain kertas yang bertuliskan sebuah ancaman dan membacanya.


>>>" Foto-foto ini akan tersebar sepenuhnya jika hubungan mereka masih berlanjut,!!!"<<<


Foto Nayla dan Rory tercetak di sana. Mulai dari yang hanya memperlihatkan sebagian wajah mereka, hingga wajah mereka yang terlihat sangat jelas sepenuhnya.


Tidak sampai di sana, foto Nayla dengan beberapa pria berbeda juga tercetak dengan sangat jalas.


Rory meremas salah satu foto Nayla, dimana dia mengingat pria yang bersama Nayla dalam foto itu.


Wajahnya mengeras menahan amarah,


'Dia orang yang sama dengan orang yang membeli buku saat di festival waktu itu. Ada hubungan apa Nayla dengannya? Nayla tidak mungkin melakukan itu kan?" sangkalnya dalam hati.


Rory menghempaskan foto yang telah di remas dengan kesal, lalu pergi meninggalkan mereka begitu saja.


"Sial,,,!" dengus Kevin. " Jangan bilang kalau dia sengaja melakukan ini untuk memanasi hati Rory," sambungnya.


"Bukankah sudah ku katakan, wanita itu sama saja dengan dia (mantan kekasih Rory)," sambut Martin kesal.


"Tenanglah,,,!" ucap Thomas menenagkan. "Lihat baik-baik foto ini. Bukankah terlihat jelas foto ini di ambil dengan cara mencuri?" lanjutnya.


" Jangan langsung mengambil kesimpulan sebelum kita tau kebenarannya," tegurnya.


"Ku pikir, yang di katakan Thomas masuk akal," sela Nathan.


"Foto-foto ini memang terlihat didapatkan dengan cara mencuri," lanjutnya.


"Kita mungkin bisa menerima alasan itu, tapi bagaimana dengan orang lain?" tukas Martin.


"Foto-foto ini akan tersebar besok," timpal Kevin. " Jika ancamannya bukanlah lelucon, maka dia akan melakukan sesuai apa yang dia katakan, dia akan mengirimkan foto-foto ini agar di muat di surat kabar," lanjutnya.


"Aku berasumsi, dia tidak akan melakukan ini dengan satu jentikan jari saja, dia pasti akan melakukan ini secara perlahan," sambung Thomas.


" Aku khawatir pada Rory sekarang," sela Ethan setelah membuka foto yang di remas Rory.


Thomas mengerutkan kening dan merebut foto yang ada di tangan Ethan.


"Celaka,,,!" desis Thomas mengenali pria yang ada di foto.


"Kita harus menghentikan Rory," imbuh Thomas.


" Apa maksudmu?" tanya Kevin.


"Terjadi perselisihan kecil antara Rory dan orang ini," jelas Thomas menunjukan foto yang telah kusut.


"Kapan itu terjadi? Kenapa aku tidak mengetahuinya?" sergah Kevin.


"Itu terjadi saat malam festival, aku akan jelaskan di jalan sekarang kita cari Rory dulu," ucap Thomas mulai tidak sabar.


"Kau tau kemana dia pergi,?" tanya Martin.


Thomas terdiam dan merenung,


'Tidak mungkin kan dia langsung menemui Nayla? Kuharap tidak, tapi bagaimana jika iya? menemui orang itu jelas tidak mungkin, Rory bahkan tidak mengenali orang itu, lalu kemana dia pergi selain menemui Nayla untuk mendapatkan jawaban,?" keluh hati Thomas.


Thomas mengusap wajahnya dengan telapak tangannya, berpikir keras. Satu-satunya yang terpikirkan olehnya hanyalah Nayla.


Merasa buntu, Thomas mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Rory. Namun, dering ponsel Rory justru terdengar di ruangan itu.


" Eerrgghhh,,,!!!" erang Thomas. " Kenapa dia harus meninggalkan ponselnya," keluhnya.


" Apakah ada kemungkinan Rory menemuinya?" gumam Martin.


"Maksudmu wanita itu?" sambut Kevin.


"Banar," jawab Martin.


"Kalaupun yang kau katakan benar, kita tetap tidak bisa mencarinya, kita bahkan tidak tau dimana dia tinggal," sambut Kevin.


"Itu mudah," jawab Martin. " Kita tanyakan pada pak Darwin. Beliau pasti tau dimana alamat setiap karyawannya," terang Martin.

__ADS_1


"Tunggu,,,tunggu,,,tunggu,,, jangan bilang kau mau menyelidiki seseorang yang bahkan kita belum tau kebenarannya apakan dia bersangkutan atau tidak, bukankah itu ilegal?" tukas Thomas tidak setuju.


"Lebih baik kita tunggu saja untuk saat ini," sela Nathan. " Rory tidak mungkin melakukan hal bodoh yang akan membahayakan kita," lanjutnya.


" Dia mungkin tidak, tapi wanita itu siapa yang akan tau apa yang bisa dia lakukan,?" sambut Martin sinis.


" Aku tidak percaya jika dia akan melakukan hal sekotor itu," bela Ethan.


" Mari kita lihat sejauh mana rasa percayamu terhadapnya," sindir Martin.


Ethan terdiam mendengar sindiran dan cemoohan Martin terhadap Nayla. Fakta bahwa dirinya tidak mengenal Nayla dengan baik membuatnya tidak bisa mengatakan hal lebih banyak.


Dirinya juga tau, Thomas dan Nathan hanya merasakan ketulusan Nayla. Tapi tidak bisa menunjukan bukti pada Martin dan Kevin.


Diam-diam, Thomas mengambil pomsel Rory dan pergi meninggalkan ruangan dimana mereka masih sibuk dengan jalan pikiran mereka masing-masing.


Sementara itu, Rory memacu mobilnya menuju apartemen Nayla. Berbagai pertanyaan hinggap dalam benaknya.


Satu sisi dirinya menyangkal semua yang terjadi dalam foto yang baru saja dia lihat. Tapi, sisi lain hatinya mengatakan hal itu mungkin saja ada kaitannya dengan rahasia yang di sembunyikan Nayla darinya.


Nayla yang saat itu tengah sibuk menulis naskah sama sekali tidak tau apapun yang terjadi dan dikejutkan dengan bunyi bel pintu apartemenya di malam hari.


'Aneh, siapa yang berkunjung di malam hari seperti ini?' pikirnya.


Nayla memaksa kakinya berjalan menuju pintu dan kembali di kejutkan dengan sosok yang muncul di balik pintu yang langsung memeluknya.


"R-R-Roy,,,?!?" sambut Nayla tergagap karena terkejut. "Kapan kamu kembali? Kenapa tidak mengabariku kalau kamu kembali?" tanya Nayla senang dan membalas pelukan Rory.


Rory hanya diam dan mengeratkan pelukannya pada Nayla.


'Foto-foto itu tidak mungkin benar, itu hanya omong kosong yang di buat seseorang untuk menjauhkanmu dariku, benar kan Nay?' bisik hatinya.


"Roy,,,!" panggil Nayla.


"Ada apa? Apakah sesuatu yang buruk terjadi?" tanya Nayla hati-hati.


Rory menggeleng tanpa suara, menyingkirkan pikiran buruk yang masuk dalam pikirannya.


Nayla mengusap pelan punggung Rory, berharap tindakaan kecilnya dapat menenangkan Rory. Jarak yang begitu dekat, membuat Nayla bisa dengan jelas melihat kegelisahan dari mata Rory saat dia melepaskan pelukannya.


"Kemarilah," pinta Nayla sembari menuntun Rory menuju sofa dan membantunya duduk.


"Tunggu sebentar," ucap Nayla melepaskan tangan Rory.


Rory menerima gelas dari Nayla dan langsung meneguknya, tatapannya beralih pada Nayla yang menatapnya khawatir.


"Apakah kau sudah merasa lebih baik?" tanya Nayla dengan senyum lembut di bibirnya.


Rory mengangguk dan meletakkan gelas di meja.


"Jadi, apa kamu mau bicara padaku atau kamu hanya akan memberiku anggukan dan gelengan kepala darimu,?" tanya Nayla.


" Jujur saja aku payah dalam membaca gerakan tubuh seseorang," sambungnya.


Senyum tipis mengembang di bibir Rory,


"Roy,,," panggil Nayla lagi.


"Bagaimana kamu bisa setenang ini menghadapi apa yang ada di depan mu, Nay?" tanya Rory lesu.


"Aku juga bisa panik dan gegabah, Roy," sambut Nayla. " Hanya saja, aku memilih lebih menenangkan hatiku terlebih dulu ketika aku menghadapi apa yang ada di depanku," sambungnya.


"Apakah kau juga akan tetap setenang ini ketika aku mengatakan apa yang ingin ku katakan padamu?" tanya Rory lagi.


"Aku akan mencobanya," jawab Nayla.


"Sejujurnya,,, aku hanya sedang ada perbedaan pendapat dengan Kevin dan Martin, jadi aku hanya ingin menenangkan pikiranku," jelas Rory.


"Aku tau kamu berbohong, Roy," sambut Nayla.


"Tapi aku tidak berbohong tentang ingin menenangkan pikiranku," sanggah Rory.


"Baiklah,,, sekarang katakan padaku, kapan kamu kembali? Kenapa kamu tidak memberikan kabar apapun padaku?" tanya Nayla.


"Aku kembali kemarin lusa, aku minta maaf karena tidak mengabarimu sejak awal. Banyak hal yang harus aku urus ketika aku tiba di sini," jelas Rory.


"Baiklah,,, aku mengerti," jawab Nayla.


'Dia tidak mungkin melakukannya kan? Tapi bagaimana dengan foto pria itu? Kapan Nayla bertemu dengannya? Kenapa dia tidak mengatakan apapun padaku? Kenapa mereka bisa terlihat dekat?' batin Rory.


"Adakah yang kamu sembunyikan dariku, Nay?" tanya Rory menatap mata Nayla.

__ADS_1


Pertanyaan Rory yang tiba-tiba,membuat Nayla tercekat dan menatap Rory sembari mengigit bibirnya.


"Aku tak akan berbohong padamu, aku memang memiliki hal yang belum aku ceritakan padamu. Tapi, beri aku waktu untuk menceritakan hal itu padamu," harap Nayla.


" Aku mengerti," jawab Rory.


"Apakah kamu datang kesini dalam keadaan marah, Roy?" tanya Nayla tiba-tiba.


"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Rory kaget.


Nayla menunjukkan layar ponselnya yang saat itu sedang berdering dengan nomor Rory tertera di sana.


"Ini menjelaskan bagaimna kamu menghubungiku di saat kamu ada di hadapanku sekarang," ucap Nayla.


Rory tersenyum sembari mengosok belakang lehernya, sementara Nayla menjawab telepon dengan menghidupkan pengeras suara.


"Hallo," sapa Nayla.


"Hai Nay, aku Thomas, maaf menganggumu malam-malam, aku hanya ingin menanyakan sesuatu padamu," sambut Thomas.


"Tentu Thomas, dan jawabannya adalah Roy ada di hadapanku sekarang," terang Nayla.


"Eehhh,,, APAA,,,??! Apakah dia baik-baik saja?" tanya Thomas khawatir.


"Dia baik-baik saja," jawab Nayla.


"Apakah dia masih utuh?" celetuk Ethan.


"Kamu jahat sekali, Ethan," sambut Nayla lalu tertawa ringan.


"Bahkan di telepon kamu masih bisa mengenaliku," puji Ethan.


"Apakah Rory mengatakan sesuatu padamu?" sela Nathan.


"Tidak," jawab Nayla singkat.


" Erhmmm,,, kalau begitu aku matikan dulu,tiba-tiba ada yang hal harus ku urus. Sampaikan pada Rory untuk kembali jika urusannya telah selesai," harap Thomas.


"Tentu, akan aku sampaikan," jawab Nayla.


"Bye Nay," ucap Thomas.


Panggilan berakhir begitu saja bahkan saat Nayla belum membalas ucapan Thomas.


Nayla mengarahkan pandangannya kembali pada Rory lalu tersenyum penuh pengertian.


"Tidak perlu mengatakannya sekarang jika kamu belum siap, Roy. Aku bisa mengerti," terang Nayla.


"Tapi, bagaimana jika hal ini adalah sesuatu yang seharusnya kamu dengar secepat mungkin?" sanggah Nayla.


"Aku yakin kamu memiliki pertimbangan sendiri tentang hal itu," sambut Nayla.


"Bagaimana jika_,,,"


"Aku percaya padamu, Roy. Semua hal yang berkaitan denganmu, dan dengan aku di dalamnya, kamu tidak akan bertindak ceroboh," potong Nayla.


"Dan jika ternyata itu adalah hal ceroboh?" sambut Rory.


"Maka kita hanya perlu memperbaikinya," balas Nayla.


"Tapi itu_,,,"


"Tidak mudah?" potong Nayla lagi. "Aku tau jelas akan hal itu, tapi bukan berarti kita tidak bisa menghadapinya," sambungnya.


"Aku tau kamu mengatakan hal yang benar, tapi kenapa terasa hal ini tidak akan berjalan semudah itu," sanggah Rory.


"Aku juga tau tentang hal itu. Pada dasarnya semua hal tidak harus berjalan sesuai keinginan kita, walau kita telah berusaha. Tapi hal itu bukanlah akhir dari perjalanan bukan?" terang Nayla tenang. " Kembalilah! Mereka membutuhkanmu," pinta Nayla.


"Dan kamu tidak?" sambut Rory.


"Aku memang sangat merindukanmu, tapi melihatmu sekarang, itu cukup untuk mengobati sedikit rasa rinduku padamu. Namun, mereka juga membutuhkanmu, kamu bisa menghubungiku kapan saja," bujuk Nayla.


"Baiklah, aku akan pulang," desah Rory.


"Hubungi aku jika terjadi sesuatu!" harap Nayla.


" Pasti," jawab Rory.


Nayla mengantar Rory menuju pintu. Untuk sesaat, Rory memeluk Nayla dan mencium keningnya sebelum pergi dan menghilang dari pandangan Nayla.


Pada keesokan harinya, Nayla di kejutkan dengan suara panik Adrian ketika tengah duduk di ruangan kerja kantornya dwngan menunjukan sebuah surat kabar dengan foto dirinya bersama Rory berada dihalaman utama.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2