LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
41.Di Atas Sungai Seine


__ADS_3

Mobil yang di naiki Nayla berjalan menuju Debilly Footbridge,sesuai yang di katakan Rory padanya


"Bolehkah saya mengatakan sesuatu,nona?" tanya sopir memecah keheningan dalam perjalanan.


"Tentu,apa itu?" tanya Nayla.


"Saya tidak tau ternyata anda mengerti bahasa prancis.Saya benar benar terkesan," ungkap sopir itu tulus.


"Saya hanya mengerti kata kata yang mudah,tidak sepenuhnya mengerti bahasanya," jawab Nayla merendah.


"Saya tidak yakin yang anda katakan benar,saya justru merasa anda mahir dalam mengunakan bahasa prancis,anda bahkan sangat fasih ketika mengucapkannya," kata sopir.


"Ah,,, Tidak sampai seperti itu,anda berlebihan jika berfikir begitu," kata Nayla mengelak.


"Saya merasakannya, nona.Dari cara anda menjawab perkataan penjaga toko tadi," kata sopir itu lagi.


"Kita sudah sampai di tujuan anda," kata sopir sebelum Nayla sempat menjawab ucapan sopir itu.


"Apakah anda ingin saya menunggu?" sambungnya.


"Sepertinya tidak perlu,anda bisa kembali," ucap Nayla.


"Baik,,,Anda bisa menghubungi saya jika menginginkan penjemputan.Dan,untuk buku-buku anda,biarkan saya yang membawanya kembali ke hotel," kata sopir.


"Anda yakin itu tidak masalah jika anda yang membawanya?" tanya Nayla.


"Tentu saja tidak,nona.Saya senang bisa melakukannya.Anda bisa mengambilnya saat tiba di hotel nanti," ucapnya.


"Saya sangat berterima kasih," kata Nayla.


"Dengan senang hati, nona," ucap sopir tersenyum.


Mobil itu berjalan pergi setelah Nayla keluar.Nayla menyusuri jalan dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu mencari seseorang.


Wajahnya berubah cerah saat melihat sosok yang dirindukannya berada di arah yang berlawanan malambaikan tangannya lalu berjalan dengan langkah lebar ke arahnya dengan lengan terbuka,dan Nayla berlari menyambutnya.


Rory memeluk erat saat Nayla masuk ke dalam pelukannya,mengangkat tubuhnya lalu memutarnya sebelum menurunkan kembali tubuh Nayla sambil berbisik,


"Aku merindukanmu," bisik Rory di telinga Nayla tanpa melepas pelukannya.


"Aku pun merindukanmu, Roy," kata Nayla membalas pelukan Rory.


"Hhaahh,,,terkadang pekerjaan memang bisa menjadi menyebalkan,padahal aku sangat ingin menjemputmu di bandara," ungkap Rory belum melepaskan Nayla.


"Apakah aku bisa mengatakan kau tak lagi marah padaku, Roy?" tanya Nayla.


Rory melepaskan pelukannya dan menatap Nayla.Tangannya menyelipkan rambut ke belakang telinga Nayla lalu tersenyum.


"Bagaimana aku bisa marah padamu?" tanya Rory menempelkan dahinya ke dahi Nayla.


"Tunggu,,," Nayla mendorong pelan Rory menjauh dan melebarkan matanya saat menyadari Rory tidak memakai maskernya.


"Kamu,,,_" Nayla hanya mengerakkan tangannya menutupi mulutnya lalu menunjuk Rory.


"Kamu,,,_" ucapan Nayla mengantung lagi tak tau bagaimana harus mengatakannya.


Rory tergelak melihat reaksi Nayla dan mengelengkan kepalanya.


"Apakah aku menjadi lebih aneh tanpa maskerku, Nay?" tanya Rory terkekeh.


"Apakah kamu lupa membawanya?" tanya Nayla khawatir.


"Bukan lupa," Rory tersenyum. "Lebih tepatnya, aku sengaja meninggalkannya," jawab Rory tenang.


"Apakah kamu baik-baik saja jika seperti ini?" tanya Nayla masih tidak tenang.


"Aku tak khawatir karena kita sekarang di sini," ucap Rory tenang.


"Kau yakin?" tanya Nayla memastikan.


"Oh,,,Ayolah,,,Katakan padaku! Apa kau lebih suka aku dengan atau tanpa masker?" tanya Rory menyeringai.


"Heemmmm,,,,," Nayla bergumam dengan dua jari di dagu menatap jahil pada Rory dari atas sampai bawah lalu terkekeh pelan.


"Mencoba mengoda ku lagi?" tanya Rory melipat tangan dan menaikkan alisnya.


"Tidak,,,Tidak,,,Tidak,,," Nayla mengoyangkan kedua telapak tangannya. "Akan aku katakan," ucapnya lalu menghembuskan nafas panjang.

__ADS_1


"Dengan atau tanpa masker,aku tetap menyukainya,itu tak merubah apapun.Kau tetaplah Roy yang aku kenal," ucap Nayla.


"Hanya itu?" tanya Rory dengan alis terangkat.


"Kau bahkan sudah tau jawabannya dan masih bertanya!" jawab Nayla.


"Karena aku ingin mendengarnya," balas Rory.


"Aku mencintaimu,karena kamu adalah kamu.Bukan karena apa yang kamu miliki, tapi dengan apa yang ada pada dirimu.Apa kau senang sekarang?" tanya Nayla dengan wajah mulai memerah.


Rory menyeringai lebar lalu memeluk Nayla lagi.


"Mereka mengatakan tidak ada yang lebih indah dari hari yang cerah di Paris.Tapi,aku tak setuju dengan itu," ucap Rory setelah melepas pelukannya dan menatap Nayla.


"Apakah makhluk cantik ini keberatan untuk jalan-jalan bersamaku,?" tanya Rory mengulurkan tangan.


Nayla mengeleng gelengkan kepalanya dan tersenyum,lalu menerima uluran tangan Rory.Mereka berjalan beriringan dengan jari-jari tangan mereka yang terjalin.


Mereka memperlambat langkah mereka ketika berada jembatan yang membentang di atas Sungai Seine dan berhenti di tengah jembatan.


Pandangan mereka tertuju pada keindahan menera Eiffel dengan latar belakang matahari terbenam.Beberapa pasangan lain pun melakukan hal yang sama.


Nayla tersenyum ketika pandangannya tertuju pada banyaknya gembok dengan inisal nama setiap pasangan yang berada di jembatan.Tangannya terulur menyentuh gembok-gembok itu.


"Ingin mencobanya?" tanya Rory.


Nayla menoleh menatap Rory yang mengeluarkan sebuah gembok dan kunci dari saku jaketnya.Gembok berwarna perak dengan nama mereka berdua terukir indah di sana membuat mata Nayla berbinar.


"Kamu sengaja menyiapkannya?" tanya Nayla.


"Tentu saja.Karena ini pertama kalinya aku berada di sini bersama seseorang yang istimewa bagiku,jadi aku tak ingin melewatkan hal sekecil apapun itu," jawabnya sambil tersenyum.


Nayla tersentuh dengan apa yang dilakukan Rory padanya dan menganggukkan kepalanya.Dengan hati-hati,Nayla memasang gembok itu di jembatan dan beralih menatap Rory lagi ketika gembok itu telah terpasang dan menarik kuncinya.


"Bukankah seharusnya kita melempar ini bersama?" tanya Nayla menujukkan kunci di telapak tangannya pada Rory.


"Dengan senang hati," sambutnya senang.


Dengan senyuman yang tak pudar dari bibirnya, Rory melingkarkan tanganya dari belakang Nayla.Tangannya berada di atas tangan Nayla yang memegang kunci lalu mengenggamnya.


"Dalam hitungan ke-3!" bisik Rory di telinga Nayla yang mengangguk tanda setuju.


"Dua,,," sambung Nayla.


"Tiga,,," mereka mengucapkannya bersama dan melempar kunci ke sungai yang berada di bawah mereka.


Rory masih bertahan di posisinya dan melingkarkan tangannya memeluk Nayla dari belakang,sedangkan Nayla memegang tangan Rory yang berada di depannya untuk merasakan kehangatan pelukannya.Ingin menyimpan momen kebersamaan satu sama lain.


Nayla berbalik menghadap Rory yang saat itu tepat sedikit membungkuk membuat wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Rory.Pandangan mereka bertemu satu sama lain dalam keheningan.


Dengan hati-hati,Rory mendorong pelan Nayla bersandar pada pagar jembatan,mengunci Nayla diantara kedua tangannya,dan mendekatkan wajahnya.


Satu tangan Rory bergerak perlahan ke atas,dan menangkup wajah Nayla saat akhirnya bibir mereka bertemu.


Satu tangan Rory yang lain menarik Nayla lebih dekat padanya,sedangkan Nayla mencengkram kerah jaket Rory untuk mempertahankan keseimbangan tubuhnya.


Setelah beberapa saat,mereka berhenti dan saling menatap satu sama lain,lalu tersenyum.


"Apakah kamu lapar, Nay?" tanya Rory.


"Kurasa,,,ya,,aku lapar,"jawab Nayla.


"Itu bagus,,," sambut Rory. "Itu berarti persiapanku akan berjalan sempurna," jawab Rory senang.


"Persiapan,,,?" Nayla mengernyit.


"Aku sudah memesan tempat di restoran tak jauh dari sini.Apakah kita akan kesana sekarang,atau kau masih ingin makan nanti?" tanya Rory.


Nayla mengangguk dan memutuskan untuk tidak menunda makan malam.Mereka kembali berjalan menuju restoran yang telah di pesan.Namun,tiba-tiba Rory menghentikan langkahnya.


"Ada apa?" tanya Nayla.


"Sepertinya aku meninggalkan dompetku di mobil," ucapnya seraya meraba-raba badannya mencari dompet.


"Aku akan segera kembali,tunggulah sebentar di sini!" perintahnya.


"Baiklah," jawab Nayla.

__ADS_1


Rory pun berlari dan menghilang di antara orang orang yang tengah berjalan menikmati suasana malam dengan keindahan cahaya terang dari menara yang menghiasi langit.


"Permisi,,,!" sebuah suara di belakang Nayla membuatnya berbalik dan menyadari seorang pria menyapanya.


"Ya,? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nayla ramah.


'Aku merasa familiar dengan pria ini, tapi dimana aku bertemu?' bisik hatinya.


"Kau, Nayrela? Apakah aku benar?" tanyanya.


"Benar, Maaf apakah saya mengenal anda?" tanya Nayla berusaha mengingat sesuatu.


"Mungkin ya, mungkin juga tidak. Tapi aku tau siapa kamu," jawabnya santai.


"Tunggu,,,jika ingatan saya benar,anda saudara Rory,,," Nayla memejamkan mata sesaat untuk mengingat. "Kevin,,?" tanya Nayla dengan alis terangkat.


"Benar," jawabnya tersenyum puas.


"Ah,,, senang bertemu dengan anda," ucap Nayla ramah seraya mengulurkan tangan.


Kevin tersenyum dan menjabat tangan Nayla.


"Apakah anda ingin menemui Rory?" tanya Nayla.


"Tidak, Aku ada perlu denganmu," jawabnya santai.


"Saya,,,?" Nayla menunjuk dirinya sendiri dan mengerutkan kening.


"Ya, Tapi jangan salah paham.Aku tidak bermaksud untuk menganggumu," kata Kevin tersenyum. " Lagi pula, aku sudah bertunangan," jelasnya.


"Saya tidak memikirkan sampai sejauh itu,jadi katakan saja apa yang anda perlukan," kata Nayla tersenyum.


Wajah Kevin tiba-tiba berubah serius dan menatap Nayla tajam.Senyuman ramahnya hilang tanpa bekas.


"Jika kau sudah selesai bermain,hentikan sekarang juga dan pergilah,!" ucap Kevin tegas.


"Apa maksud anda?" tanya Nayla tak mengerti.


"Aku mengingatkanmu dan ingin memastikan kau tak menyakitinya.Akan lebih baik jika kau meninggalkannya sebelum semua terlambat,!" kata Kevin dingin dan menatap tajam Nayla.


Nayla menghela nafas pelan dan tersenyum penuh pengertian.Marasakan Kevin yang menyayangi saudaranya membuatnya tau pasti apa yang di rasakan Kevin.


"Anda khawatir padanya?itu bisa di mengerti.Tapi, saya tidak memiliki niat untuk menyakitinya," ucap Nayla.


"Sekarang mungkin tidak," jawab Kevin sinis.


"Kau mungkin sekarang bisa percaya diri karena dia tergila-gila padamu, tapi akan aku pastikan dia tidak akan hancur lagi," ucap Kevin dengan tatapan tajam dan dingin.


"Lagi,,,?" tanya Nayla mengerutkan kening.


"Bukan keharusan bagiku untuk mengatakannya padamu," jawab Kevin datar.


"Saya tau, tapi tolong katakan pada saya,apakah itu adalah masa lalunya?" tanya Nayla.


"Jika kau tak sebodoh yang ku pikirkan,tentu kau tau apa artinya bukan?" tanya Kevin tersenyum sinis. "Ingatlah bahwa aku akan terus mengawasimu.Senang bertemu denganmu, Nayla," tambahnya dan berlalu pergi.


Nayla terdiam dengan hati bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi pada masa lalu Rory.


'Dia terlihat jelas khawatir,dia tiak membenciku,hanya belum bisa menerima kehadiran orang baru,' bisik hatinya.


Pandangan Nayla mengikuti kemana Kevin pergi,yang berakhir dengan menghampiri seorang wanita yang menurut perkiraan Nayla adalah tunangan yang tadi di sebutkan.


Sebuah tepukan pelan di bahu membuat Nayla menoleh dan mendapati Rory tengah menatapnya dengan pandangan heran.


"Siapa yang baru saja kau lihat?" tanya Rory sembari menggikuti arah pandangan Nayla.


"Hanya orang yang salah mengenaliku saja,dia berfikir aku adalah orang yang di kenalnya," jawab Nayla menghindari kontak mata dengan Rory.


"Apa kau yakin hanya itu?" tanya Rory.


"Tentu saja," jawab Nayla cepat. "Apa kamu menemukan dompetnya?" tanya Nayla mengalihkan pembicaraan.


"Ya,,aku benar-benar meninggalkannya di mobil," jawab Rory. "kamu yakin baik-baik saja, Nay?" tanya Rory.


"Aku hanya lapar, Apakah alasan itu cukup?" tanya Nayla menatap Rory dengan senyum lebarnya.


"Kalau begitu,kita tidak harus membuang lebih banyak waktu, maafkan aku sudah membuatmu menunggu," kata Rory sembari mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Nayla tersenyum menyambut tangan Rory dan menyelipkan jari-jarinya di jari tangan Rory yang segera meremas pelan tangannya,dan mulai melangkahkan kaki mereka ke tempat yang telah di pesan Rory.


...****************...


__ADS_2