LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
61. Mimpi


__ADS_3

Nayla berjalan pelan disebuah gang yang gelap. Matanya melihat sekeliling dan mulai bergidik ngeri.


"Ini dimana? Bagaimana aku bisa berada disini?" gumamnya pelan dengan mata terus melihat sekeliling dengan bingung.


Langkah kaki dibelakngnya membuat ia beringsut seolah merasakan hal buruk akan terjadi. Rasa takut yang entah datang dari mana memenuhi hatinya.


Hatinya menciut tatkala melihat pria bertato dan pria yang sedang menghisap cerutu menyeringai menatapnya.


"Siapa kalian?" tanya Nayla gemetar.


"Apa kau melupakan kami, sayang?' jawabnya dengan seringai lebar.


Nayla tersentak mendengar suara pria itu yang terasa tidak asing baginya. Pandangannya mengabur sesaat ketika kepalanya berdenyut mengingat sesuatu yang hampir ia lupakan.


Seolah adegan film yang diputar ulang, Nayla melihat kembali kejadian sebelumnya dimana mereka menyudutkan dirinya.


Tangannya terkepal berusaha melawan rasa takutnya, dan entah bagaimana, tangannya telah mengenggam sebuah pisau. Ketika mereka mendekat, Nayla mengayunkan pisau pada salah satu dari mereka hingga Nayla mendengar suara erangan kesakitan.


"Arrgghh,,,"


Suara erangan itu berdeda dari suara sebelumya. Nayla melangkah mundur ketika melihat darah menetes dari tangan pria yang tengah meringkuk di tanah.


"Apa yang kau lakukan?" decaknya kesal.


Suara decakan kesal pria itu terdengar berbeda dari suara sebelumnya. Tepat ketika pria itu mendongak, Nayla tercekat saat melihat wajahnya.


"K-K-Kevin,,,?!??!?" ucap Nayla terbata.


Nayla menatap Kevin yang masih berlutut ditanah dengan tangan berlumur darah. Detik berikutnya menatap tangannya sendiri yang juga bernoda darah.


Tubuhnya gemetar hebat. Memandangi tangannya sendiri dan Kevin secara bergantian.


"A-A-Aku,,, M-Maaf,,, A-aku,,," Nayla terbata.


Kevin menatap marah pada Nayla. Pria yang berdiri disampingnya mematung menatap Nayla dengan tatapan sinis.


"Kau menyakiti kakakku, Nay," ujarnya sinis.


Suara yang didengarnya sangat ia kenali. Membuat air mata lolos dari matanya.


"Roy,,," desis Nayla.


"Kenapa menyakitinya, Nay? Apa karena kamu membencinya?" tanya Rory dingin.


"Tidak,!!!" bantah Nayla mengelengkan kepalanya. "Aku tidak membencinya," sambungnya.


"Tapi kamu melukainya," tuduh Rory.


"Kau bukan Roy yang ku kenal. Siapa kau?" sentak Nayla.


Air matanya terus mengalir merasakan rasa sakit dihatinya.


"Lalu, kau pikir aku siapa?" sambut Rory sinis.


"Apa kau lebih senang menghabiskan waktu bersama dengan mereka?" ujar Rory menunjuk seseorang kebelakang dengan ibu jarinya.


Nayla mengarahkan pandangannya kearah yang ditujuk Rory dan melihat pria bertato berdiri disana dengan seringai lebar.


"Tidak,,, Tidak,,,Tidak mungkin,,," Nayla merancau dengan terus mengelengkan kepalanya.


Tangannya mengenggam kuat pada pisau ditangannya. Menatap Rory dengan air mata yang terus mengalir, membuat pandangannya buram.


"Apa maksud yang kamu bicarakan, Roy?" tanya Nayla parau.


"Bukankah itu sudah jelas?" sambut Rory. "Kamu menikmanti waktu bersama mereka, dan kamu membenci mereka yang bersamaku," sambungnya.


"Tidak,,, itu tidaklah benar," bantah Nayla.

__ADS_1


"Lalu apa? Lihatlah apa yang kau lakukan pada kakakku," sindir Rory.


Nayla menunduk merasa putus asa. Tangannya menguatkan geanggamanya pada pisau. Barulah kemudian kembali mengangkat wajahnya, menatap Rory frustasi.


"Cih,,," Nayla mencibir lalu tersenyum palsu.


"Aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku," ucap Nayla lirih. "Itu terserah padamu, karena kaulah yang memiliki hak atas itu," sambungnya.


Nayla berpaling dari Rory dan mengarahkan pandangannya pada mereka yang berada dibelakang Rory.


"Kalian hanya menginginkan tubuhku bukan? Baik. Akan kuberikan. Kalian bisa menikmati tubuhku, lebih tepatnya mayatku," ucap Nayla.


Nayla mengarahkan pisau yang ada ditangannya kearah perutnya sendiri. Namun, seseorang telah menahan pisau itu mengenai perutnya.


"Louise,,,"


Panggilan lembut dari seseorang saat memanggil namanya menyadarkan Nayla.


Matanya mengerjap untuk melihat lebih jelas sosok pria di depannya. Sosok pria yang sangat dirindukan olehnya.


Pria itu menahan pisau yang akan ia tusukan keperutnya sendiri, mengakibatkan darah mengalir dari tangannya.


"Kakak,,," panggil Nayla dengan suara bergetar.


"Kakak,," panggilnya lagi seolah tak percaya dengan yang ada didepannya.


Tangannya melepaskan pisau dan meraba wajah pria yang ada di depannya.


"Ini sungguh kak Nick?" ucapnya lagi.


"Iya Louise, aku disini," jawabnya lembut.


"T-T-Tangan kakak terluka karenaku," ucap Nayla terbata sembari membalik tangan Nick untuk melihat telapak tangannya.


Namun, tidak ada luka apapun disana. Nick hanya mengusap lembut tangan Nayla untuk memperlihatkan dirinya baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja," balas Nayla.


Nayla memeluk erat Nick dengan air mata berderai, yang disambut dengan mengusap kepala Nayla dengan penuh kasih.


"Aku ingin ikut kakak," ucap Nayla terisak.


"Dan meninggalkan Chris sendirian?" jawab Nick balas bertanya.


"Chris masih ada Om dan Tante, dia tidak sendirian," sanggah Nayla tanpa melepas pelukannya.


"Chris?" Nick menaikan alisnya sembari melepaskan pelukan Nayla.


"Kamu masih saja nakal," ucap Nick mencubit hidung Nayla.


"Apakah kamu berhenti memanggilnya kakak karena dia meninggalkanmu?" tanya Nick.


"Bukan begitu," jawab Nayla mengusap hidungnya.


"Dia kan harus pergi karena Om dan Tante, jadi aku tidak menyalahkannya," sambungnya.


"Lalu?" tanya Nick dengan alis terangkat.


"Aku hanya--,,"


"Kamu hanya akan membuatnya bersedih jika meninggalkannya, Louise. Karena dia sangat menyayangimu," potong Nick.


Tubuh Nick mulai terlihat samar.


"Bagaimana dengan kakak?" sanggah Nayla.


"Kakak selalu bersamamu, Louise. Kakak tidak pernah meninggalkanmu," ucap Nick membelai wajah Nayla.

__ADS_1


"Pembohong," ucap Nayla dengan mata kembali berkaca-kaca. "Pada kenyataannya, kak Nick tetap pergi," imbuhnya.


"Kakak ada di dalam dirimu. Jika kamu ingin melihat kakak, kamu hanya perlu memintanya," ucap Nick lembut.


"Kamu sudah dewasa, kamu juga tumbuh menjadi wanita yang cantik dan kuat," puji Nick bangga.


"Aku tidak sekuat itu tanpa kakak," sambut Nayla parau mengelengkan kepalanya.


"Sejauh yang kakak tau, adik kakak satu-satunya ini tidaklah cengeng," jawab Nick menghapus air mata Nayla.


"Lihatlah baik-baik siapa yang ada didepanmu, dia orang yang sangat menyayangimu. Apakah kamu juga akan meninggalkannya?" tanya Nick. " Dia bahkan menangis untukmu," lanjutnya.


"Semua yang kamu lihat sebelumnya hanyalah bentuk ketakutan yang tumbuh dihatimu, dan itu tidak nyata," jelas Nick.


Nayla menatap lekat wajah Nick yang berangsur berubah. Sosok Nick yang semula didepannya memudar dan digantikan dengan wajah Rory yang menatapnya khawatir.


Seolah menyadari sesuatu ditangannya, Nayla menundukkan kepalanya dan melihat tangan Rory menahan pisau yang akan menusuk perutnya. Hingga darah mengalir dari tangannya.


"Ma Chéri , kumohon,, kembalilah padaku," bisik Rory terisak.


Nayla tersentak dan mengerjapkan matanya lagi. Kevin menatapnya khawatir. Begitu juga dengan Ethan dan yang lain termasuk Martin.


"Lihatlah, Louise. Mereka sangat menyayangimu," suara Nick muncul dari balik punggung Rory.


Sosok Nick kian memudar hampir tidak terlihat tengah tersenyum lembut padanya.


"Ingatlah bahwa kakak selalu bersamamu. Kakak bahkan menikmati semua buku yang berhasil kamu ciptakan, termasuk kamar yang kamu siapkan untuk kakak, bukankah itu adalah bukti kakak selalu bersamamu?" ucapnya lagi.


"Kakak juga selalu mendengar semua yang kamu katakan. Jadi jangan bersedih dan tersenyumlah," harap Nick.


"Dan satu hal lagi, kakak suka dengan cara mereka memanggilmu, Nayla. Tapi bagi kakak, kamu tetaplah Louise kecil kebanggan kakak,"


"Kakak selalu menyayangimu," ucap Nick sebelum tubuhnya benar-benar menghilang.


"Kak,,, Nick,,," desis Nayla, air matanya mengalir untuk terakhir kali sebelum ia menutup matanya.


******


#Ruang rawat Nayla.


Rory terus mengenggam tangan Nayla.


Beberapa menit lalu, kondisi Nayla yang tiba-tiba menurun membuatnya khawatir. Rory mengecup lembut jari tangan Nayla sembari menutup matanya, terus berdoa agar Nayla baik-baik saja.


Tiba-tiba, jari tangan Nayla bergerak pelan. Membuat Rory dengan cepat membuka matanya dan segera bangun dari duduknya saat merasakan pergerakan tangan Nayla ditangannya.


"Ma Chéri , Nayla,,," desis Rory penuh harap.


"Apakah kamu mendengarku," tanya Rory.


Kevin dan yang lain segera menghampiri Rory begitu mendengar Rory memaggil Nayla.


Jari tangan Nayla kembali bergerak pelan seolah merespon pertanyaan Rory.


"Aku akan memangil dokter," Martin berkata dan segera meninggalkan ruangan.


Perlahan Nayla membuka matanya.


Hal pertama yang dilihatnya adalah Rory yang tersenyum lembut diselimuti rasa khawatir padanya. Disampingnya Kevin juga menatapnya khawatir dan tersenyum lega diwaktu yang sama.


Ditempat yang berseberangan dengan mereka berdua, Thomas, Ethan dan Nathan juga memiliki ekspresi yang sama.


Nayla menutup matanya sesaat, lalu kembali membuka matanya dan tersenyum lemah.


"Roy,,," ucapnya lemah.


Mereka bersorak senang dan bersyukur Nayla benar-benar telah sadar. Hingga mereka saling berpelukan dan meneteskan air mata mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2