
Suasana tegang menyelimuti mereka yang tengah menunggu keputusan Rory.
Ketika Nayla tiba bersama Rory beberapa waktu lalu, beberapa orang yang dari agensi mereka baru saja keluar dari gedung tempat tinggal Rory dan teman-temannya.
Mereka berdua segera masuk kedalam ruangan yang selalu digunakan untuk setiap pertemuan penting.
Martin mencengkram kepalanya saat Rory dan Nayla masuk kedalam ruangan. Beberapa kertas tersebar dimeja, Kevin duduk dengan kepala tertunduk dengan Thomas disampingnya. Sementara Ethan dan Nathan duduk disisi lain menatap kertas-kertas itu dengan tatapan kosong.
"Apa yang sedang terjadi?" tanya Nayla hati-hati memecah keheningan, namun tidak satupun dari mereka terlihat akan menjawab pertanyaan yang ia ajukan.
Rory meraih salah satu kertas dan membacanya. Rahangnya mengeras saat matanya menelusuri tiap kata yang tertulis dikertas itu.
"Omong kosong apa ini?" geram Rory.
"Aku bukan plagiat," imbuhnya sembari menghempaskan keras ke meja.
"Plagiat?" ulang Nayla mengerutkan keningnya.
Segera Nayla meraih kertas yang dihempaskan Rory, lalu membacanya. Sebuah tuntutan yang menyebutkan Rory melakukan plagiat dan meminta ganti rugi dengan alasan pencemaran nama baik.
"Ini tidak masuk akal," desis Nayla.
"Mereka memberi waktu dua hari untuk membuktikan Rory bukan plagiat, dan semua lagunya murni ciptaannya sendiri. Tapi, hanya tulisan tangan saja itu tidak cukup," ungkap Martin meletakkan telapak tangan diwajahnya.
"Kamu tau siapa yang mengakui lagu Roy sebagai ciptaannya?" tanya Nayla.
"Aku tidak mengenalnya, tapi mereka memberikan identitas orang itu dan semua bukti tentang lagu yang dia akui sebagai miliknya," jawab Martin.
"Bolehkah aku melihatnya?" pinta Nayla.
"Apa yang akan kamu lakukan dengan itu?" tanya Kevin menyela.
"Dia sudah bermain api, maka jangan salahkan aku jika api yang dia mainkan akan membakar dirinya sendiri," dengus Nayla kesal.
"Aku tidak butuh bantuanmu jika itu berarti kamu kembali membahayakan dirimu sendiri," cegah Kevin sembari menahan Martin memberikan kertas yang berisi informasi.
"Tenanglah, ini tidak serumit sebelumnya, aku janji, oke?" bujuk Nayla.
"Biarkan aku melihatnya, lagi pula kita tidak memiliki banyak waktu," desak Nayla.
"Tapi_,,,"
"Terlalu lama," potong Nayla yang segera menyambar kertas dari Martin.
Nayla segera membacanya, detik berikutnya mengambil gambar semua kertas itu menggunakan ponselnya dan mengirimkannya pada seseorang.
Selesai dengan hal itu, Nayla menghubungi orang yang ia kirimi foto itu sebelumnya.
"Kau terjebak masalah lagi?" sambut suara wanita sembari tertawa ringan.
"Apa kamu bisa membantuku lagi?" tanya Nayla berharap.
"Dengan senang hati, beri aku waktu sepuluh menit," jawabnya santai.
"Hei, apa ada komputer atau leptop didepanmu sekarang?" tanyanya.
"Ehmm,, tunggu sebentar,"
"Martin, apa aku bisa menggunakan komputer itu sebentar?" tanya Nayla beralih pada Martin seraya menunjuk komputer disudut ruangan.
"Tentu," jawab Martin kaku, masih tidak bisa mencerna apa yang direncanakan Nayla.
Nayla segera duduk di depan komputer setelah menyalakannya, dan kembali berbicara melalui ponsel.
"Oke,, komputer siap, apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Nayla.
"Aku perlu satu akun pribadi dari mereka, siapa saja, asal dia memiliki semua informasi tentang mereka yang terlibat," ucapnya.
"Diantara kalian, bisakah aku meminjam akun pribadi kalian sebentar? Siapa saja tidak masalah," ucap Nayla kembali menatap mereka satu persatu.
"Milikku saja," ucap Martin.
Nayla mengangguk dan memberi Martin waktu untuk masuk kedalam akun pribadinya. Nayla kembali dengan ponselnya, hanya saja kini ia menyalakan pengeras suara hingga semua yang berada di sana mendengar suara wanita yang dihubungi Nayla.
"Sudah," ucap Nayla ketika Martin selesai.
__ADS_1
Nayla kembali duduk dengan mereka disekelilingnya, sementara ponsel ia letakkan dimeja.
"Aku akan masuk, tapi apakah pemilik akun ini mengijinkanku atau tidak?" tanyanya.
"Dia bertanya padamu, Martin," ucap Nayla saat Martin tidak menjawab selama beberapa saat.
"Maksudnya?" tanya Martin bingung.
"Bahasa mudahnya adalah apa aku diperbolehkan untuk meretas akunmu atau tidak?" sebuah pertanyaan terdengar dari ponsel Nayla.
"Apa?" seru Martin kaget.
"Tentu saja aku tidak akan mengambil lebih dari yang aku butuhkan, itupun kalau kamu percaya pada Nayrela," sambutnya dengan suara santai.
"Toh yang terpenting bagiku adalah Nayrela percaya padaku, soal kamu--tidak, maksudku kalian percaya padaku atau tidak, aku tidak peduli," sambungnya.
"Itu terdengar agak kasar, Vani," sela Nayla menengahi.
"Apa yang bisa ku katakan? Aku hanya membenci seseorang yang bersikap skeptis, sementara dia sendiri tidak mengenali lawan bicaranya," jawab wanita itu yang tidak lain adalah Vania. "Dan itu adalah reaksi defensifku ketika seseorang menunjukan sisi dominan mereka," imbuhnya.
"Jika Nayla percaya padamu, maka aku juga percaya padamu, jadi aku memberi ijin," tutur Martin dengan yakin.
"Oke,, sekarang, beri aku waktu sebentar," ujar Vania.
Keheningan menyelimuti ruangan, meningkatkan ketegangan yang sejak awal telah menyelimuti mereka.
Tiba-tiba Vania tertawa ringan mengeluarkan ucapan sarkasnya seperti biasa.
"Dasar bodoh. Dia benar-benar amatir terburuk. Bahkan dengan santainya meninggalkan jejak dimana-mana," ujar Vania disela tawanya.
"Dua hari terlalu lama, aku bisa menyelesaikan ini bahkan tidak sampai dua jam," sambungnya dengan percaya diri.
"Kamu mendapatkannya?" tanya Nayla.
"Tentu saja, ini hanya sepotong kue bagiku, aku bahkan bisa menyelesaikannya dengan mata tertutup," jawabnya.
"Akan ku tunjukan padamu apa yang aku dapatkan," imbuhnya.
Rory dan yang lain saling pandang tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Nayla dan Vania. Hingga saat Nayla membuka apa yang dikirim Vania padanya, mereka segera membelalakan mata mereka.
"Tapi, aku ada saran untuk memperkuat semuanya dan itu akan membalik keadaan dengan sekejap," ujar Vania lagi.
"Apa itu?" tanya Nayla.
"Mengeluarkan lagu baru yang berhubungan dengan lagu ini, dan biarkan para pendengar yang menilai. Meski aku juga tau itu sulit, tapi itu akan menjadi serangan fatal yang mustahil ditolak," terang Vania.
"Kami akan berunding mengenai itu, terima kasih banyak, Vania. Kamu membantuku lagi," ucap Nayla tulus.
"Itu tidaklah gratis, nona muda," sambut Vania tertawa singkat.
"Apa yang kamu ingink_,,, aduh,," Rory mengaduh sebelum menyelesaikan kalimatnya ketika Nayla mencubit pinggangnya.
"Katakan saja apa yang kamu mau sebagai bayarannya," ucap Nayla tenang sembari menatap Rory dengan tatapan mengancam.
"Akan ku abaikan suara menyebalkan tadi," sambut Vania ketus. "Aku minta tiga bukumu termasuk edisi khusus dan lengkap dengan tanda tanganmu," ungkap Vania.
"Kenapa kamu membutuhkan itu?" sambut Nayla heran.
"Pamer, aku mau membuktikan pada mereka bahwa aku memang bisa mendapatkan bukumu yang langsung ditanda tangani olehmu dengan mudah. Olokan mereka membuat telingaku gatal, kau tau?" terangnya.
"Baiklah, aku bahkan tidak keberatan memberimu lebih dari itu," jawab Nayla.
"Kalau begitu, aku akan mengambilnya besok," sambut Vania senang.
Vania mengakhiri panggilannya, meninggalkan seutas senyum di bibir Nayla. Detik berikutnya, Nayla mengalihkan pandaganya pada mereka yang berdiri dibelakangnya.
"Selesai," ucap Nayla menjentikkan jarinya.
"Tapi, masalahnya adalah apakah kamu bisa membuat lagu baru dalam hitungan jam, Roy?" tanya Nayla.
"Dia siapa?" Rory balas bertanya.
"Vania, kalian sempat bertemu dengannya di rumah sakit waktu itu," jelas Nayla.
"Bisakah kamu mengatakan yang lebih spesifik dari itu?" sambung Kevin.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa mendapakan semua bukti dengan mudah?" timpal Martin.
"Karena dia seorang peretas," jawab Nayla singkat.
"Kita kesampingkan hal itu untuk sementara. Sekarang pikirkan tentang lagu baru yang disebutkan Vania tadi," ujar Nayla.
"Benar, akan lebih berguna lagi jika kita bisa membuat video klipnya sekaligus," timpal Thomas.
"Menyelesaikan semua itu dalam satu hari? Itu sama saja membunuh," sembur Nathan.
"Karena kita memang tidak punya pilihan saat ini," sambut Ethan.
"Tapi, aku ada usul, apakah kalian akan menganggap ini gila atau apa, hanya saja itu memiliki kemungkinan berhasil," ucap Ethan.
"Katakan!" pinta Martin.
"Menggunakan lagu yang Nayla buat, dan jika lagunya di gabungkan dengan lagu Rory dengan video latar belakang pantai, itu cara tercepat yang terlintas dipikiranku. Hanya saja_,,," Ethan mengantung kalimatnya dengan mata tertuju pada Nayla, merasa tidak enak dengan apa yang akan ia katakan.
"Nayla masuk dan menyanyi sebagai tokoh wanita yang di sebutkan di dalam lagu," sambung Thomas seolah menangkap kemana arah pemikiran Ethan.
"Benar," sambut Ethan.
Ethan mengacak-acak rambutnya dengan gelisah dan tersenyum kaku. Enggan menatap mata Nayla yang tengah menatapnya.
"Alasan kenapa aku menunjukmu adalah, hanya kamu yang bisa mendalami dengan cepat karena kedua lagu itu adalah kisah kalian sendiri," ucap Ethan lagi.
"Dan akan terlihat kaku jika menggunaan tokoh wanita lain yang tentunya memerlukan latihan berjam-jam," timpal Thomas.
"Tapi kamu bisa menolaknya jika tidak ingin, aku tidak mau kamu melakukannya dengan tuntutan bahwa kamu harus melakukannya karena itu semua berhubungan dengan kami," sela Kevin.
"Kami mau kamu melakukan apa yang hatimu katakan," sambung Martin.
"Tidak bisa," bantah Rory.
"Apa kamu memiliki cara yang lebih baik dan efisien dari ini, Roy?" tanya Nayla setelah beberapa lama terdiam.
"Jika itu menempatkanmu dalam rasa tidak nyaman, aku tidak ingin kamu melakukannya," ucap Rory tegas.
"Bagaimana jika aku bersedia melakukannya?" tanya Nayla tersenyum.
"Tapi_,,,"
"Aku akan melakukannya, bukan karena tuntutan apapun. Lebih ke arah aku percaya semua akan baik-baik saja selama aku bersammu, Roy. Bersama kalian semua. Sama seperti kalian yang percaya padaku, aku juga percaya kalian semua," ungkap Nayla.
Suasana tegang kembali menyelimuti ruangan menunggu keputusan Rory. Hingga akhirnya Rory mengangguk pelan seolah masih ragu dan sesuatu menganjal dihatinya.
Malam itu mereka menghabiskan sisa waktu malam mereka dengan berdiskusi untuk membuat video klip baru mereka dengan memasukan lagu yang Nayla ciptakan.
Segala hal yang dilakukan dengan gerakan tiba-tiba membuat mereka termasuk Nayla bekerja extra pada pagi harinya. Anehnya, tak satupun dari kru yang membantu mereka mengeluh. Mereka semua justru bekerja sama agar semua berjalan lancar.
Sore itu, Nayla tengah duduk bersandar dibawah pohon palem untuk melepas lelah setelah satu hari penuh dengan aktivitas pembuatan video.
Angin sore pantai yang berhembus menerpa wajahnya dengan mata terpejam seolah tidak ingin menganggunya. Hingga Nayla merasakan pergerakan disampingnya, dengan hati-hati menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajahya karena tiupan angin.
"Kamu sudah selesai?" tanya Nayla masih memejamkan mata.
"Eh,,,? Kamu bangun?" jawab Rory balas bertanya.
"....."
"...."
"Mau ke bibir pantai? Matahari terbenam terlihat indah," ajak Rory.
"Aku pikir kamu tidak akan bertanya," sambut Nayla terkekeh pelan.
Rory segera bangkit dan membantu Nayla berdiri. Dengan menautkan jari-jarinya di jari tangan Nayla, mereka berjalan lebih dekat ke bibir pantai.
Matahari terlihat semakin turun, menyisakan cahaya jingga keemasan. Membuat siapapun yang melihatnya terpesona dengan keindahan langit senja dengan deburan lembut ombak laut.
Ditengah keindahan itu, Nayla merasakan Rory meremas tangannya, membuatnya menoleh.
Namun, Nayla justru mendapati Rory berlutut di depannya dengan satu tangan masih mengenggam tangannya, sementara satu tangan lainnya merogoh saku celananya untuk mengeluarkan kotak beludru biru gelap dan membukanya, memparlihatkan sebuah cincin didalamnya.
"MAUKAH KAMU MENIKAH DENGANKU???"
__ADS_1
...****************...