LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
107. chapter bonus. Setelah pernikahan bab 3


__ADS_3

Ungkapan pria yang mereka kenal sebagai orang yang selalu membatu mereka disetiap konser mengejutkan mereka.


Kevin menatap pria itu seolah salah mendengar dengan apa yang baru saja pria itu katakan.


"Berapa lama waktu yang diperlukan?" tanya Martin berusaha bersikap tenang.


"Bisa memakan waktu satu jam setelah jadwal tampil kalian," ungkapnya.


"Bagaimana bisa hal ini terjadi?" tanya Thomas.


"Aku tidak tau, tapi mereka mengatakan ada virus aneh menyerang komputer, tak lama setelah itu semua sound sistem menjadi aneh," terangnya.


Suasana berubah tegang, mengharapkan pengertian penonton bukan jawaban terbaik untuk saat ini. Tapi, jika ingin tampil tanpa musik, hanya Rory yang paling bisa diandalkan untuk saat itu. Karena hanya dia yang bisa memainkan alat musik.


"Sepertinya ada yang ingin menantangmu, Vani," celetuk Nayla tersenyum tipis.


Vania tersenyum, segera menangkap apa yang dimaksudkan Nayla.


"Kalau begitu, apa lagi yang harus kita tunggu?" sambut Vania.


Nayla dan Vania beranjak dari duduk mereka, menghampiri pria itu dan memintanya untuk mengantar mereka ke ruang komputer yang disebutkan sebelumnya.


"Tunggu!" cegah Kevin.


"Aku tidak akan melakukan hal berbahaya, Kevin. Dan jika kamu masih tidak percaya, ikut saja," ucap Nayla seolah mengerti apa yang dipikirkan Kevin.


Nayla melanjutkan langkahnya, mengikuti pria itu bersama Vania. Mau tak mau mereka bertujuh (Kevin, Martin, Thomas, Ethan, Nathan, Adrian dan Sean) hanya bisa mengikuti Nayla dan Vania dari belakang.


"Apakah kamu sadar telah bersikap aneh hari ini, Nayrela?" bisik Vania memecah keheningan selama perjalanan.


"Entahlah," sambut Nayla menaikkan kedua bahunya.


"Sepertinya aku tanpa sadar meluapkan rasa kesalku pada Sean karena Kevin dan Roy terlewat protektif padaku," imbuhnya.


"Dan aku harus meminta maaf pada Sean nanti," imbuhnya.


"Kehidupanmu terlihat semakin berat saja," komentar Vania terkikik pelan.


"Jika harus jujur, itu memang membuatku kesal, tapi juga senang diwaktu yang sama," ungkap Nayla.


"Yah,, itu terlihat dengan sangat jelas," sambut Vania.


"Tapi tetap saja, kau masih luar biasa seperti biasanya, bisa menyikapi apa yang ada didepanmu dengan tenang disaat hatimu bercabang" imbuhnya.


"Dan aku tetap tidak sehebat dirimu dalam hal peretasan," timpal Nayla.


"Itu bakat alamiku," ucapnya bangga. "Dan gairahku berada disana, jadi jangan main-main dengan itu," cetus Vania.

__ADS_1


"Aku tidak akan berani," jawab Nayla memasang wajah ngeri.


Vania tertawa, dan segera merangkul bahu Nayla. Merasa suasana hati Nayla terlihat lebih baik dibandingkan sebelumnya.


"Kelihatannya mood Nayla sudah membaik," bisik Ethan yang melihat Nayla dari belakang.


"Aku tidak bisa berkomentar apapun kalau dia sedang marah," timpal Nathan.


"Bahkan aku pun tidak," sambung Martin.


"Dia selalu menemukan kata yang pas untuk jawaban dan bisa membungkam lawan bicara dengan tepat," celetuk Kevin.


"Dan korban kali ini adalah Sean," timpal Thomas terkekeh pelan.


"S-saya benar-benar tidak melakukannya, tuan. Saya juga sudah berpesan pada barista tentang takaran kopinya, tapi saya bersalah karena tidak memastikannya lebih dulu," sesal Sean.


"Tenanglah,! Tak ada yang menyalahkanmu disini," sambut Kevin.


"Aku hanya berharap, kau tidak tersinggung atas sikapnya," imbuhnya.


"Tidak akan tuan, saya sedikitpun tidak tersinggung," jawab Sean.


Mereka yang berada diruang komputer dikejutkan dengan kedatangan Vania dan Nayla. Lebih terkejut lagi karena Kevin dan tim nya ikut datang.


Setelah menjelaskan dangan singkat maksud kedatangan mereka, para kru yang berada di ruangan memperbolehkan Vania menggunakan satu komputer.


"Sesuai dugaanmu, Nayrela. Ada tikus penganggu yang masuk. Kalaupun nanti diperbaiki, ia akan kembali menyerang dengan merusaknya lagi," papar Vania.


Vania berbicara tanpa menurunkan kecepatan jarinya. Banyak tulisan di komputer yang tidak bisa dimengerti Nayla dan yang lainnnya.


Tulisan merah yang terus bergerak, diimbangi dengan tulisan bewarna biru yang juga bergerak. Seolah mendesak warna merah untuk keluar.


"Aku bisa mengatasi ini, hanya saja aku tidak bisa membantu tentang penonton yang telah menunggu. Mereka tentu akan kecewa jika pertunjukan diundur walaupun itu karena kesalahan sistem, karena mereka telah mengeluarkan uang untuk tiket masuk mereka," jelas Vania.


Nayla mengeluarkan ponselnya, berniat untuk menghubungi Rory, namun segera mengurungkan niatnya.


"Apakah ada gitar di sini?" tanya Nayla tiba-tiba.


"Kami memang menyediakan gitar, hanya saja itu gitar akustik," jawab salah satu kru.


"Kita gunakan itu saja, anggaplah untuk pembukaan konser kalian, sekaligus untuk mengulur waktu hingga Roy tiba," terang Nayla.


"Tapi siapa yang akan memainkannya? Kami berempat payah dalam main gitar," sambut Nathan.


"Apakah aku juga masuk dalam kategori payah, Nathan?" jawab Nayla balas bertanya.


Mata Nathan melebar, seolah baru saja menyadari kemana arah yang dibicarakan Nayla.

__ADS_1


"Tunggu dulu!" cegah Kevin.


"Kamu tidak bisa melakukan itu, Nay," sambung Kevin.


"Apakah kamu memiliki saran yang lebih baik?" sambut Nayla.


"Memang tidak lebih baik, hanya saja kamu terlihat tidak baik-baik saja, dan aku khawatir," jelas Kevin.


"Aku baik-baik saja, dan ayo kita selesaikan ini dengan cepat," ajak Nayla.


Vania memindahkan apa yang diperlukan kedalam ponselnya. Merasa semuanya telah selesai dan ia akan mengawasi melaui ponsel, ia mengikuti Nayla dan yang lain kebelakang panggung.


Keadaan berbalik ketika Nayla mengambil alih. Ketika waktu tampil mereka hanya dalam hitungan mundur, pembawa acara dapat mengalihkan perhatian para penonton dengan sangat baik setelah mengetahui siuasinya.


Dengan dalih memberi kejutan, sang pembawa acara mengatakan akan menampilkan permainan solo yang hanya menggunakan gitar sebagai musik pengiringnya.


Menyembunyikan fakta yang sebenarnya, para penonton justru menyambutnya dengan antusias, merasa tidak keberatan untuk menunggu idola mereka menunda penampilannya.


"Nayla hanya sempat menganti pakaiannya dan mengenakan riasan tipis karena waktu yang sangat terbatas, semoga saja tak ada yang berkomentar tentang itu," gumam Martin cemas.


Martin menatap punggung Nayla yang kini bersiap untuk keluar dari balik panggung dengan gitar ditangannya. Merasa punggung itu selalu menjadi penyelamat karir mereka.


"Percaya saja padanya, itu sudah lebih dari cukup baginya," celetuk Vania yang tidak sengaja mendengar gumaman Martin.


Martin menoleh kearah Vania yang terlihat sibuk dengan ponsel ditangannya, lalu tersenyum tipis, seolah ia membenarkan apa yang baru saja dikatakan Vania.


"Apakah aku bisa meminjam tablet milikmu?" tanya Vania menatap Martin.


"Tentu," jawab Martin. 'Tapi untuk apa?" tayanya saat menyodorkan tablet pada Vania.


"Diam, dan lihat saja. Ini adalah pertunjukan," jawab Vania tersenyum misterius dengan mengedipkan sebelah matanya.


Untuk kesekian kalinya, Martin tercengang ketika melihat Vania yang begitu lincah berkutat menggunakan tablet miliknya. Entah apa yang ia sentuh dan geser, tapi banyaknya tulisan disana membuat Martin tidak bisa mengikuti pergerakannya. Hal itu juga terjadi pada Kevin dan yang lainnya, tidak bisa mengimbangi pergerakan jari Vania dengan mata mereka.


Sementara itu, seluruh penonton bersorak dengan meriah saat Nayla muncul di panggung dengan gitar yang ia bawa. Beberapa orang saling melempar pertanyaan apakah Nayla benar-benar akan bernyanyi dengan memainkan gitar.


Nayla memilih duduk dengan sebuah microphone didepannya. Tersenyum hangat untuk menyapa semua orang.


"Mungkin, kemampuan saya tidak sebaik mereka, tapi saya berharap, tidak ada yang masuk rumah sakit setelah ini karena telinga kalian yang tiba-tiba kehilangan fungsinya," seloroh Nayla.


Semua orang tertawa, lalu bersorak untuk memberi semangat.


Nayla memejamkan matanya selama beberapa detik, menarik nafas pelan, lalu membuka matanya dan tersenyum.


Petikan gitar ditangannya seketika membungkam mereka yang semula bersorak bersemangat berubah dengan raut wajah tercengang, takjub, dan seolah terhipnotis tepat ketika Nayla mulai menyenandungkan lagu yang tidak pernah mereka dengar sekalipun.


...****************...

__ADS_1


SEE YOU NEXT YEA,,,, ;) ;)


__ADS_2