
Chris melangkahkan kakinya dengan cepat yang diikuti Martin di belakangnya menuju ruang rawat Nayla.
Chris mematung sesaat ketika membuka pintu dan mendapati Nayla telah membuka matanya dan tersenyum lemah padanya.
"Syukurlah,,," gumam Chris tersenyum lega.
Chris menghampiri Nayla.
Seolah ingin memberi Chris ruang, Rory menyingkir dari tempatnya berdiri dan membiarkan Chris mendekati Nayla yang segera memeluk Nayla.
"Syukurlah,,," ucap Chris lagi ditelinga Nayla.
Nayla merasakan bahunya basah, dan memilih membiarkan Chris menangis dibahunya.
setelah beberapa saat, Chris menarik tubuhnya, dan mengusap lembut kepala Nayla.
"Kamu benar-benar menakutiku, Nay," ucap Chris.
"Apakah kamu merasa ada yang tidak nyaman?" tanya Chris.
"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Nayla dengan suara lemah sembari mengelengkan kepalanya pelan.
"Tunggulah sebentar, Irene akan datang sebentar lagi," ucap Chris.
Chris segera memeriksa kondisi Nayla tepat ketika Irene datang.
Irene menangis haru, dan tersenyum lega ketika melihat Nayla telah membuka matanya.
" Sayangnya, kamu masih belum diperbolehkan makan hingga besok pagi," sesal Chris.
"Kenapa?" sela Ethan.
"Karena perunya masih belum bisa menerima apapun untuk masuk, itu hanya akan membuat dia mengeluarkan kembali apa yang dia makan," jelas Chris.
Nayla tersenyum mengerti, sementara Ethan mamajukan bibirnya tidak setuju. Namun hanya disambut dengan gelak tawa dari yang lain.
"Kenapa kalian tertawa?" tanya Nayla bingung.
"Ah,,, kurasa ini akan menjadi kisah unik," sambut Nathan.
"Apa maksudmu,?" tanya Nayla penasaran.
"Apa kau tau? Selama kamu belum sadar, Ethan selalu membeli makanan untuk-,,, Hemph,," kalimat Nathan terhenti lantaran Ethan menutup mulut Nathan.
"Akan lebih baik kau diam dan membiarkan Nayla istirahat. Bukankah begitu, dokter?" ucap Ethan menatap Chris meminta dukungan.
"Nayla memang membutuhkan istirahat, tapi tidak masalah jika hanya ingin berbicara sebentar," ucap Chris mengedipkan matanya pada Nathan.
"Chrisss,,," protes Ethan.
Mereka kembali tertawa melihat tingkah Ethan. Bukan hanya mereka, Nayla tersenyum geli dan segera menangkap apa yang mereka maksudkan.
"Jika saja kau menggunakan namaku, aku akan mendukungmu. Tapi kau menyebut dokter padaku. Jadi jangan salahkan aku," cibir Chris.
"Tidak adil," sungut Ethan.
Nayla tertawa lemah sembari meringis saat merasakan sakit disekujur tubuhnya.
"Hei,,, hentikan. Kalian menyiksa Nayla," sela Thomas.
Perkataan Thomas menghentikan adu mulut mereka dan menatap Nayla dengan tatapan minta maaf.
"Aku sangat lega, akhirnya kamu sadar, Nay," ucap Thomas.
'Ugh,,, tubuhku sakit sekali, lidahku juga kelu. Aku jadi tidak bisa banyak bicara dengan mereka,' batin Nayla.
"Baiklah, aku tinggal dulu. Dan ingatlah untuk tidak membuat keributan," ucap Chris. " Aku memberi kalian pengecualian menjaga Nayla dengan bergerombol seperti ini dengan catatan kalian tidak menimbulkan keributan. Jika kalian berisik, aku benar-benar akan mengusir kalin," ancam Chris.
"BAIK,,,!" tanpa sadar mereka menjawab serempak.
Nayla terkikik pelan menyadari atmosfer dalam ruangan berubah saat chris mengancam mereka.
Tangan Chris terulur mengusap kepala Nayla lembut dan berkata sebelum keluar.
__ADS_1
"Istirahatlah, aku akan melihatmu lagi nanti. Oh,, dan katakan saja padaku jika mereka menganggu istirahatmu," ucap Chris lembut.
"Terima kasih, Chris," ucap Nayla tersenyum.
"Bukan masalah, aku keluar dulu," ucap Chris lagi.
Nayla mengangguk pelan, matanya terus manatap kepergian Chris hingga punggung nya menghilang dibalik pintu.
'Apakah aku sudah keterlaluan padanya?' batin Nayla.
Nayla merasakan sentuhan lembut lain di kepalanya ketika menyadari Rory menatapnya dengan rasa khawatir yang masih tersisa.
Nayla meraih tangan Rory, saat itulah Nayla baru menyadari sebuah perban ditangan Rory.
"Tanganmu terluka?" tanya Nayla dengan suara lemah menatap tangan Rory, membuatnya teringat akan mimpi yang dialaminya.
"Apakah aku yang melakukannya?" tanya Nayla lagi.
Rory tercekat sesaat dan berusaha menyembunyikan hal yang sebenarnya.
"Mana mungkin," sanggah Rory. " Aku ceroboh saat latihan, dan melukai tanganku sendiri," kilah Rory.
Tangan Nayla beralih ketangan kevin yang saat itu kebetulan berada di sisi yang berseberangan dengan Rory.
"Lalu ini?" ucap Nayla meraih tangan Kevin yang terluka.
"Apakah ini aku juga yang melakukannya?" tanya Nayla lagi.
"Jangan konyol," sanggah Kevin menarik perlahan tangannya.
"Aku hanya membantu Rory dalam latihan, karena kecerobohannya membuaku terkena imbasnya," sambung Kevin.
Nayla tersenyum lesu.
"Jangan memikirkan hal aneh," ucap Kevin menyentil hidung Nayla.
"Lebih baik kau istirahat. Atau kau lebih senang kami di tendang keluar dari sini oleh Chris?" sambung Kevin menyipitkan matanya.
"Kalau begitu, istirahatlah," balas Kevin.
Nayla tersenyum dan mengangguk pelan. Ketika suara dering ponsel mengalihkan perhatian mereka kearah Martin yang segera mengeluarkan ponsel dari saku celananya.
Martin menjauh untuk beberapa saat ketika menerima panggilan telepon. Mengatakan sesuatu yang tidak bisa ia dengar. Sesekali Martin menganggukan kepalanya. Tak lama matanya tertuju pada Rory.
Tangan martin menurunkan ponselnya dan mendekati Rory tanpa mematikan panggilan yang ada diponselnya.
"Rory, kita perlu bicara. Dan yah, kalian semua juga ikut, selain Kevin. Karena Kevin sudah mengetahui semuanya," jelas Martin.
Rory menoleh pada Nayla seolah meminta pertimbangan.
Nayla mengangguk mengerti dan mendorong Rory untuk pergi mengikuti Martin.
"Pergilah!" ucap Nayla tersenyum dengan wajah pucatnya.
"Apa kau akan baik-baik saja?" harap Rory masih ragu meninggalkan Nayla.
"Aku tidak sendirian, Roy. Selain itu, kamu pergi tidak akan lama," sambut Nayla.
"Kamu yakin?" tanya Rory lagi.
"Bukankan Kevin tetap disini? Apa yang kamu khawatirkan?" balas Nayla.
Rory menghembuskan nafas panjang, menghampiri Nayla lalu mengecup lembut keningnya. Tersenyum hangat dan mengusap lembut wajahnya.
"Aku segera kembali," janji Rory yang di sambut anggukan pelan Nayla.
Rory menatap Nayla untuk terakhir kali sebelum menutup pintu, diiringi Thomas, Ethan dan Nathan serta Martin dibelakangnya.
Sementara itu, Kevin duduk di kursi yang ada disamping ranjang Nayla. Menatap Nayla penuh penyesalan.
"Maafkan aku," ucap Kevin lirih.
"Dalam hal ini kamu tidak bersalah," jawab Nayla.
__ADS_1
" Aku bahkan tidak memiliki ruang untuk berada didalam lingkaran tidak bersalah yang kau sebutkan," sambut Kevin.
"Jika begitu, aku berada dalam situasi yang sama," balas Nayla.
"Apa maksudmu?" tanya Kevin tidak mengerti.
"Ugh,,," Nayla mengeryit katika rasa nyeri di kepalanya tiba-tiba menghampirinya.
"Aku akan panggil dokter," ucap Kevin panik sembari bangun dari duduknya bersiap pergi.
"Tidak,! Jangan!" cegah Nayla berhasil menahan tangan Kevin.
"Jika kamu keluar, itu hanya akan membuat Roy khawatir," ucap Nayla beralasan.
"Bagaimana bisa kamu yang dalam keadaan seperti ini masih mengkhawatirkannya?" sambut Kevin tak percaya.
Nayla hanya tersenyum tipis. Matanya kembali menatap luka yang berada di tangan Kevin.
"Kamu berbohong soal luka ditanganmu kan?" ucap Nayla tanpa melepaskan tangan Kevin.
"Apa yang membuatmu bersikeras mengatakan bahwa ini luka yang kamu timbulkan?" tanya Kevin mengerutkan keningnya.
Nayla terdiam selama beberapa saat sambil mengigit bibirnya. Mimpinya kembali teputar didepan matanya. Saat dirinya mengayunkan pisau pada Kevin didepan Rory.
"Aku bermimpi, bahwa akulah yang mangayunkan sebilah pisau padamu," tutur Nayla lirih.
Kevin tercekat. Gagal menyembunyikan keterkejutannya. Tidak menyangka Nayla masih memiliki sedikit kesadaran saat mengayunkan pisau padanya. Namun ia tau persis kondisi Nayla saat itu diluar kendalinya.
"Sepertinya itu benar, maafkan aku," sesal Nayla.
Kevin menatap lekat mata Nayla, dan melihat penyesalan besar disana.
'Aku tidak mungkin membiarkannya berada dalam rasa bersalah atas hal yang tidak sengaja dia lakukan. Tapi bagaimana cara mengatakannya?' batin Kevin.
Kevin menghembuskan nafas dengan kasar dan menatap Nayla dengan tatapan tidak suka sebanyak yang bisa ia lakukan.
"Dengar! Itu hanya mimpi. Apakah kau pikir, kamu bisa melukaiku semudah itu? Pikirkan itu!" kilah Kevin.
" Luka ini memang kudapat karena aku ceroboh dalam latihan;" papar Kevin.
"Latihan seperti apa yang kamu lakukan hingga menimbulkan luka seperti diserang seseorang?" sanggah Nayla pelan.
Nayla membalas tatapan Kevin yang justru membuat Kevin menjadi lebih sulit untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya.
'Gawat! Perasaannya sangat tajam hingga terasa berbahaya,' keluh Kevin.
"Sekarang, berhentilah membahas yang tidak perlu. Kau harus istirahat," tegas Kevin.
Berusaha mengalihkan perhatian Nayla dari pembahasan luka ditangannya, Kevin hanya bisa mendorong Nayla untuk beristirahat.
Nayla tersenum dan mengangguk pelan tanpa perlawanan lagi. Rasa sakit pada tubuhnya yang tiba-tiba ia rasakan membuatnya kehilangan tenaganya. Hingga tak perlu waklu lama baginya untuk tertidur.
Kevin memandangi wajah Nayla yang telah terlelap dengan hembusan nafas pelan dan teratur, yang melegakan hatinya.
Tangannya mengengam lembut tangan Nayla, ketika Tiba-tiba Nayla mencengkram tangannya, membuat ia segera bangun dari duduknya.
"Ada apa? Kamu memerlukan sesatu?" tanya kevin pelan.
Nayla tidak merespon pertanyaannya, selain hanya menguatkan cengkraman tangannya dengan tubuh yang mulai gemetar seolah takut akan sesuatu.
"Shhh,,, tenanglah! Aku disini" ucap Kevin menepuk pelan tangan Nayla, lalu mengusap lembut kepalanya.
Gemetar tubuhnya berangsur-angsur behenti dan kembali tenang. Tanpa melepaskan genggaman tangannya, Kevin membelai pelan wajah Nayla yang memiliki beberapa luka goresan.
Bahkan telapak tangannya penuh dengan luka goresan. Luka goresan itu terlihat cukup dalam hingga sangat terasa saat tangan Kevin menyentuhnya.
'Apa yang kau mimpikan, Nay? Hingga tubuhmu gemetar seperti ini? Apakah kamu memimpikan kembali kejadian yang kamu alami?' batin Kevin.
Dengan hati-hati, Kevin mencium kening Nayla sembari berbisik.
"Segeralah sembuh," harap Kevin.
...****************...
__ADS_1