
Sebuah mobil berhenti dengan meninggalkan suara decit ban yang memekakan telinga.
Rory melompat keluar diikuti teman-temannya yang lain, dan mengedarkan pandangannya lalu berlari kearah gang yang cukup lebar namun gelap dan lembab.
Rory segera berlari kearah yang ditunjukan gps dari ponselnya. Diikuti teman-temannya dari belakang, mereka masuk lebih jauh kedalam gang yang hanya memberikan cahaya remang-remang.
Rory menghentikan larinya dan mengedarkan pandangannya.
'Gps menunjukan disini. Tapi dimana Nayla? Tunggu,, di sini tempat mereka merebut ponselnya kan?' batin Rory.
Namun di depan Rory, gang itu terpecah menjadi tiga. Tiga arah berbeda dan salah satunya adalah arah yang di ambil Nayla. Tapi mana arah yang benar membuat Rory berpikir keras.
"Rory, apakah hanya sampai di sini petunjuk arahnya?" tanya Ethan.
"Ya," jawab Rory singkat.
Saat itu juga Rory melihat sesuatu tergletak di tanah, dan segera menghampirinya. Rory berjonkok dan menemukan ponsel Nayla yang telah hancur.
Panik,,,
Cemas,,,
Takut,,,
Semua perasaan seolah bercampur menjadi satu. Tangannya terkepal dan segera menoleh kearah Martin. Tangannya mencengkram kerah baju Martin. Menahan diri sekuat tenaga agar tidak menghajarnya.
"Apa kau puas sekarang,? Ini yang kau inginkan bukan?" sentak Rory.
"Hentikan Rory,! Ini bukan salahnya," lerai Kevin.
"Haa,,, benar. Bukan salahnya. Tapi salahku yang mendengarkannya. Tapi ingatanku mengatakan semua berawal darinya, dialah yang mendorong Nayla untuk melakukan semuanya," dengus Rory menatap marah pada Kevin.
"Kita bisa menyelesaikannya, tapi dia tetap mendorng Nayla untuk melakukannya, apakah hal ini masih bisa dikatakan ini bukan salahnya?"
BUGH,,,,!
Pukulan Kevin mendarat telak di wajah Rory, membuatnya melepaskan cengkraman pada kerah baju Martin.
"Apa-apaan kalian,!" hardik Thomas. "Sekarang bukan saatnya bertengkar dan saling tunjuk siapa yang salah," bentak Thomas.
Thomas menghampiri Rory yang tengah mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya.
"Tolong, tenangkan dirimu, Rory. Kita tidak akan menemukannya jika kamu seperti ini," ucap Thomas meletakkan tangan dibahu Rory.
"Kita berpencar, " sela Ethan.
"Tunggu,,," ucap Rory menyipitkan matanya.
Matanya kembali menagkap sesuatu yang menarik perhatiannya. Ia kembali berongkok dan memungut sesuatu yang sangat di kenalinya.
Sebuah ikat rambut berwarna hijau dengan manik-manik kaca berwana serupa berada di tangannya. Wajah Rory memucat saat melihat noda darah mengotori ikat rambut itu.
Batuan kaca lain juga tersebar tak jauh dari tempat ia menemukan ikat rambut.
"Rory,?" panggil Thomas khawatir.
"Aku akan pergi ke kanan, Ethan ke kiri, dan kamu lurus sa_,," sebelum Thomas menyelesaikan kalimatnya, Rory lebih dulu bergerak.
"Dia ada di sana," potong Rory mulai berlari.
"Ikat rambut ini miliknya," lanjutnya.
Tangannya mengengam erat ikat rambut yang pernah ia berikan pada Nayla saat mereka pergi jalan-jalan sebelum insiden itu terjadi.
'Batu-batu warna tadi berasal dari gelang yang dia pakai. Jika itu sampai terputus dan meninggalkan noda darah, apakah itu berarti dia_,,,' Rory menelan ludahnya.
Rory mengelengkan kepalanya dan berusaha tenang Menghentikan semua pikiran buruk yang melintas dalam pikirannya. Sayangnya hal itu tidak berlangsung lama.
Semua terlihat sangat jelas dalam cahaya redup dari matanya. Nayla terbaring dengan enam pria mengelilinginya.
Mereka menahan tangan dan kaki Nayla agar tidak bergerak, namun Nayla terus mengeliat dan berusaha melepaskan diri.
"Lepaskan aku,!" sentaknya dengan suara parau.
Rory mempercepat larinya dan menarik kerah orang yang sedang berusaha melakukan hal tidak senonoh pada Nayla dari belakang.
Tanpa memberi kesempatan untuk menyadari apa yang terjadi, Roryy langsung melayangkan tinjunya pada pria itu, hingga membuat pria itu tersungkur.
__ADS_1
Si gondrong mengeram kesal karena kesenangannya di ganggu dan menerjang Rory. Namun, hal itu di hentikan dengan mudah oleh Ethan yang segera membantu.
Thomas menghajar pria bertato yang telah jatuh tersungkur. Semntara Rory berhadapan dengan pria dengan cerutu di tangannya.
Mereka akhirnya berhadapan satu lawan satu. Sementara itu, Nayla menatap nenar apa yang ada di depannya dan merain pisau yang telah di jatuhkan oleh pria bertato yang tadi semat menindihnya.
Tubuhnya yang bergetar hebat dan beringst mundur. berusah menjauh sejauh mungkin dari tempat itu.
Nayla menyeret tubuhnya dan bergerak menuju celah yang ia lihat. Menyembunyikan tubuhnya di kegelapan. Menahan semua rasa sakit yang ia rasakan.
Sementara itu, Kevin, Martin, Nathan dan Ethan berhasil meringkus lima orang. Sedangkan Rory dan Thomas masih berusaha mengalahkan pria yang mambawa cerutu.
"Mereka berdua bisa megalahkannya," ucap Ethan. "Sekarang kita bantu Nayla dulu sa_,, lho. Nay,?" kalimat Ethan terputus saat berbalik dan mendapati Nayla tidak ada di sana.
"Pergi kemana dia?" desis Kevin khawatir.
kevin mengedarkan pandangannya, dan melihat sebuah pergerakan di sebuah celah yang sedikit lebih gelap dari tempatnya berdiri sekarang.
Kevin mendekati celah itu dan bernafas lega meliha Nayla berada di sana.
"Hei,,, keluarlah! Semua baik-baik saja sekarang," bujuk Kevin
Namun Nayla bergeming. Tangnnya memeluk lutut dengan posisi memunggungi Kevin.
Ethan menghampiri Kevin dan melihat apa yang di lihat Kevin.
"Nay,,, keluarlah. Sekarang sudah aman," bujuk Ethan.
Hening. . . .
Nayla tetap bergeming. Tubuhnya kembali bergetar hebat. Satu tangannya mengenggam erat pisau yang berhasil ia dapatkan.
Kevin melangkah mendekati Nayla dan berniat menenangkannya. Tangannya dengan lembut menyentuh bahu Nayla yang masih bergetar.
"Hei,,, tenanglah. Ini aku," ucap kevin lembut.
Nayla mengibaskan tangannya, dengan mangenggam erat pisau yang ada di tangannya. Menepis tangan Kevin dari bahunya.
"Menjauh dariku," teriak Nayla dengan pisau teracung.
"Apa yang kau lakukan_,,," kalimat Kevin terpusus saat menoleh pada Nayla dan melihat keadaan Nayla.
Tatapan Nayla kosong. Wajahnya lebam dan sudut bibirnya robek dengan darah yang telah berhenti mengalir.
Pakaiannya robek hampir di semua bagian. Tangan dan kakinya juga memiliki banyak luka. Nayla melangkah mundur dengan tertatih. Seoalah satu kakinya tidak lagi berfungsi dengan baik.
Kevin terpaku di tempatnya, mengabaikan darah yang mengalir dari lengannya.
Entah kenapa hatinya justru lebih sakit saat melihat keadaan Nayla yang ada di depannya. Wanita yang selalu tersenyum padanya, tak peduli bagaimana pedasnya ucapan yang keluar dari mulutnya, namun tetap tersenyum.
Kini senyuman itu benar-benar lenyap tanpa bekas.
"Nay,, ini kami," ucap Ethan.
Wajah Ethan juga memiliki reaksi yang sama dengan Kevin. Termasuk Martin dan Nathan.
Kevin kembali mendekati Nyala, namun Nayla mengibas-ngibaskan tangannya yang mengenggam pisau ke arah mereka.
"Jangan mendekat,!" ucapnya parau.
"Pergi,,,! Pergi dari sini,,,!!" teriaknya.
"Tenanglah,,,ini aku," ucap Kevin lembut.
"Menjauh dariku, atau aku akan membunuhmu," bentak Nayla.
"Ethan, panggil Rory, aku tidak mungkin memaksanya dan merebut pisau di tangannya. Salah-salah dia bisa menyakiti dirinya sendiri," pinta Kevin.
Nayla kembali mengacungkan pisau dengan tangan gemetar.
Ethan mengangguk dan berbalik untuk memanggil Rory, tapi Rory justru sedang melangkah ke arah mereka dengan nafas tersengal.
"Nayla baik-baik saja kan?" tanyanya cemas.
Rory segera menghampiri Kevin dan melihat tangannya yang terluka.
"Bagaimana tanganmu bisa terluka?" tanya Rory khawatir.
__ADS_1
"Sekaranng bukan saatnya mengkhawatirkan ini," ucap Kevin sembari mengerakkan kepelanya menunjuk Nayla dengan dagunya.
"Dialah yang harus segera di tolong," sambungnya.
Rory mengikuti arah yang di tunjuk Kevin dan membelalakan matanya.
" Nay,,,?" desis Rory beranjak mendekatinya.
"Jangan mendekat," bentak Nayla.
Tangannya semakin kuat mencengkram pisau saat punggungnya menyentuh dinding. Terus-terusan mengayunkan pisau kepada siapapun yang mencoba mendekat dengan frustasi.
"Hei,,, Hei,, ini aku, Nay" ucap Rory lembut.
"Dengarkan baik-baik suaraku, ini aku, Nay," sambungnya.
Rory kembali mendekat, Namun Nayla terus mengayunkan pisaunya. Rory meringis menatap Nayla. Tidak ada satupun dari mereka yang berani mendekat, mereka terpaku di tempannya berdiri.
"Nay,,," panggil Rory lagi.
"Jangan gegabah mendekatinya, Rory. Jika kita tidak hati-hati dia bisa saja melukai dirinya sendiri,!" ucap Kevin mengingatkan.
"Nayla menganggap kita adalah mereka," celetuk Thomas.
"Maksudmu?" tanya Kevin.
"Yang baru saja menyerangnya ada enam orang. Dan sekarang lihatlah kita,! Kita juga enam orang," papar Thomas buka suara.
Nayla tiba-tiba tersenyum, lalu mendengus kesal. Menarik perhatian mereka semua. Suara paraunya kembali terdengar, mengatakan sesuatu yang sangat jelas.
"Ku akui, aku memang tidak menyangka bahwa kalian membutuhkan banyak orang hanya untuk menagkapku," ucapnya getir.
"Tapi, akhirnya aku juga tau siapa yang berada di baliknya dengan cara ini," lanjutnya.
"Kalian ingin menikmati tubuhku??" ejek Nayla. " Baiklah. Akan ku berikan. Lebih tepatnya, kalian bisa menikmati mayatku," imbuhnya.
Semua yang mendengarkan Nayla membelalakan matanya. Sementara Nayla setelah mengatakan hal itu segera memutar pisaunya dan mengarahkan bagian tajam pisau kepada dirinya sendiri. Mendorong pisau itu agar menusuk perutnya sendiri.
JLEBB. . . .
TESS....
Tetesan darah membasahi tanah lembab meninggalkan ketegangan yang kian meningkat.
Darah terus menetes. Tapi bukan darah Nayla. Entah sejak kapan, Rory telah lebih dulu menangkap pisau dengan tangannya sendiri, mencegah pisau itu mengenai Nayla.
Rory menatap sedih wajah Nayla yang tidak lagi di kenalinya. Tatapan kosong, wajah tanpa ekspresi dan tidak ada senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.
Perlahan Rory mengangkat tangannya, membelai wajah Nayla dengan lembut.
"Ma Chéri,,, bisakah kamu mendengarku?" ucap Rory lembut.
Tangannya yang manahan pisau perlahan menjauhkan pisau itu dari Nayla.
"Kumohon,,, kemblilah padaku, Ma Chéri. Maafkan aku telah membiarkanmu sendiri," ratap Rory.
Genggaman tangan Nayla pada pisau akhirnya terlepas. Hingga Rory akhirya bisa melempar pisau itu menjauh dari mereka.
Mereka yang melihat adegan itu Lucietertegun dan tetap tidak beranjak dari tempatnya berdiri.
Rory dengan hati-hati mengecup kening Nayla, lalu kembali berbisik dengan suara mulai tarisak.
"Kumohon,, kembaliah padaku, jangan tinggalkan aku, aku berjanji tidak akan pernah membiarkanmu sendiri lagi," ucap Rory lagi.
Rory menempelkan dahinya di dahi Nayla. Mencba terus menenangkan Nayla.
"Aku melakukan kesalahan, dan aku mengakuinya. Namun, jangan menghukumku dengan cara seperti ini. Kumohon sadarlah," bisik Rory.
"Roy,,,?"
Rory tersentak dan menarik wajahya. Tersenyum lega untuk sesaat dan menatap kedalam matanya.
Suaranya saat memanggil nama Rory bergetar. Tatapan matanya masih tetap kosong. Tak lama setelah Nayla menye-but nama Rory, tubuhnya terkulai.
"Nay,,,, Nay,,,hei,,, sadarlah,,,!" Rory berseru panik saat Nayla kehilangan kesadarannya. Terkulai di pelukan Rory.?
...****************...
__ADS_1