LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
94. Bertemu kepingan masa lalu


__ADS_3

Sementara itu, disisi lain, tepatnya di kantor.


Adrian masih berkutat dengan komputer ketika suara ketukan pintu membuatnya mengalihkan perhatiannya.


"Apakah Nayla hari ini akan datang?" tanya seorang wanita yang tidak lain adalah Lucie.


"Tidak," jawab Adrian kembali mengarahkan pandangan ke komputer didepannya.


"Kalau besok?" tanya Lucie lagi.


"Entahlah," jawab Adrian sembari menaikkan bahunya.


"Apakah kau tidak tau jadwalnya atau kau tidak ingin memberitahuku?" dengus Lucie mulai kesal.


"Yang ke dua," jawab Adrian acuh.


"Kau menjadi menyebalkan seperti halnya Rose. Perbedaannya hanyalah kau dalam versi pria," ucap Lucie sembari membanting pintu.


"Haahh,,,," desah Adrian pelan.


"Andai saja aku bisa melakukan sesuatu supaya kau tidak perlu datang besok, Nay," gumam Adrian pelan.


Adrian merenggangkan badannya, lalu melirik sisi ruangan dimana benyak tumpukan hadiah disana.


Termenung sejenak, Adrian memutuskan untuk mengantarkan hadiah-hadiah itu segera setelah pekerjaannya selesai.


Ketukan pintu kembali terdengar, sekali lagi Lucie muncul dan kali ini menghampiri Adrian, menyodorkan kotak berwarna hijau dengan pita berwarna emas serta sebuah surat terselip disana.


"Untuk Nayla, dan itu diantarkan langsung oleh orang yang ingin memberikannya pada Nayla," jelas Lucie.


Adrian menerimanya dan membaca sebuah nama yang terdengar tidak asing tertulis di sudut kotak.


"Val,?" kening Adrian berkerut seolah ingin mengingat sesuatu.


"Kau mengenalnya?" tanya Lucie.


"Tidak, hanya saja aku merasa tidak asing dengan nama ini," jawab adrian.


"Ah, terima kasih sudah mengantarkan ini," ucap Adrian.


"Bukan masalah," jawab Lucie tersenyum. "Oh, aku titip ini untuk Nayla," imbuhnya seraya menyodorkan paper bag kecil.


"Adakah yang harus ku katakan padanya?" tanya Adrian.


"Tidak, berikan saja itu padanya tanpa menyebut namaku," pesan Lucie.


"Baiklah," jawab Adrian.


Seolah tidak terjadi apapun pada mereka berdua, Lucie bersikap normal dan segera pergi meninggalkan Adrian.


Adrian kembali menatap kotak itu dan measukannya kedalam paper bag besar yang akan ia bawa ke apartemen Nayla sepulang bekerja.


*********


Disaat yang sama namun di tempat berbeda, Rory beserta teman-temannya berjalan beriringan menuju lobi dimana Nayla tengah menunggu.


"Apakah kau sudah merencanakan kapan kamu akan melamar Nayla?" tanya Kevin.


"Aku belum menemukan ide," jawab Rory lesu.


"Aku terpikirkan satu tempat, hanya saja itu memang sedikit melelahkan untuk menuju ketempat itu. Tapi, aku sangat yakin dia akan menyukai pemandangannya," ucap Nathan.


"Entah kenapa aku juga terpikirkan tempat itu. Tempat itu bahkan terlihat indah ketika malam hari," timpal Martin.


"Aku justru terpikirkan ide lain," celetuk Ethan.


"Aku bisa menebak tentang tempat yang kalian pikirkan, dan yah,,, memang benar tempat itu indah, tapi ide ku berbeda," sambungnya.


"Apa itu?" tanya Rory penasaran.


"Kita semua tau Nayla sangat baik dalam menyanyi, hanya saja dia belum mengatakanya kepada kita dan kita berpura-pura tidak tau,"


Mereka memperlambat langkah mereka untuk mendengarkan Ethan, sesekali mengangguk tanda mengerti.


"Lalu?" tanya Rory.


"Kita atur saja dipertujukan kita selanjutnya, buat seolah kita memiliki kendala untuk segera tampil dan minta bantuan Nayla untuk mengulur waktu dengan menyanyi, setelah dia mencapai di akhir lagu, Rory bisa melakukannya saat itu. Dan,,," Ethan menjentikkan jarinya.


"Kita keluar untuk pertunjukan kita, sekaligus bentuk dukungan kita pada Rory dan Nayla," jelas Ethan.


"Apakah Kau baru saja salah makan obat atau sesuatu?" sambut Thomas.


"Atau kepalamu terbentur?" timpal Nathan.


"Woi,,, kasar sakali. Apa yang salah dengan ideku?" sungut Ethan.


"Idenya sempurna, hanya saja aku tak menyangka akan keluar dari mulutmu yang selalu berpikir tentang makanan," jawab Kevin.

__ADS_1


"Cih,,, kalian hanya tidak bisa memikirkan hal bagus, kenapa menyudutkanku?" cibir Ethan.


"Tapi ada satu masalah jika aku menggunakan idemu," sambut Rory.


"Aku tidak yakin Nayla mau melakukannya, dan ini menyanyi didepan banyak orang. Dia bahkan menyembunyikan identitasnya selama ini," sambung Thomas.


"Maksudmu, dia akan berdalih untuk menolak?" tanya Ethan.


"Salah satunya," jawab Thomas.


"Mudah," balas Ethan tersenyum lebar.


"Kita minta dia untuk memainkan gitar sekaligus menyanyi saat kita disana. Dia memiliki gitar, dan itu bisa kita gunakan sebagai alasan," ucap Ethan.


"Hanya saja, jangan memaksanya," jawab Rory.


"Aku sependapat dengan Rory. Terlepas dari semua yang telah terjadi, memintanya untuk melaukan hal yang membuat dia terus melawan rasa tidak nyaman di hatinya, sangatlah tidak menyenangkan," timpal Martin.


"Aku juga tau akan hal itu, kita hanya menawarkan saja, jika dia menolak, ya sudah, itu saja," sambut Ethan mengangkat kedua tangannya.


Mereka mengangguk setuju, dan segera menghampiri Nayla yang menunggu di lobi. Namun, mereka justru mendapati Nayla melangkah keluar dengan terburu-buru, membuat mereka reflek berlari keluar untuk mengejar.


Nayla menghampiri seorang pria paruh baya berkulit gelap dan berwajah garang yang terlihat baru saja memungut botol bekas. Mereka yang melihat hal itu berusaha mengejar Nayla, khawatir jika hal buruk terjadi.


"Kenapa dia suka sekali mendekati bahaya sih," gerutu Ethan.


Nayla meraih lengan pria itu hingga membuat pria paruh baya itu menoleh dengan kening berkerut.


"Paman Jag? Benar kan?" tanya Nayla.


Kerutan dahi pria itu semakin terlihat saat Nayla menyebut namanya dengan benar, berusaha mengingat siapa orang yang mengetahui namanya.


"Maaf, nona. Anda siapa? Apakah anda mengenal saya?" tanyanya dengan suara beratnya.


"Ini benar paman Jag kan?" tanya Nayla memastikan.


"Iya, benar," jawabnya.


Sentuhan di bahu Nayla membuatnya menoleh hanya untuk menyadari Rory dan yang lain telah berada di belakangnya. Memberikan tatapan waspada pada pria paruh baya yang ada didepan mereka.


"Maaf, nona. Sepertinya anda salah mengenali saya," ucapnya merasa tidak nyaman dengan tatapan menintimidasi yang ia terima.


"Tidak, aku tidak salah," jawab Nayla engan melepaskan lengan Jag.


"Paman sendiri yang bilang kalau aku benar," imbuhnya.


"Tapi saya yang tidak mengenal anda, nona," jawabnya sopan.


Rory dan yang lain mengarahkan pandangannya pada Nayla, lalu kembali kepada Jag, menurunkan kewaspadaan mereka.


Jag berusaha mengingat, namun kembali mengeleng pelan.


"Apakah paman ingat adik dari kak Nicholas?" Nayla kembali bertanya.


Pertanyaan Nayla seketika membuat mata Jag melebar, ia memandangi Nayla dari atas sampai bawah, lalu kembali ke atas lagi, berhenti di mata Nayla.


"Louise?" tebaknya sedikit ragu.


"Banar, paman. Aku sanang paman masih ingat denganku," sambut Nayla seraya melepaskan tangan Jag.


"Ya tuhan,,, aku sama sekali tidak mengenalimu, kamu jauh berbeda," serunya senang.


"Gadis kecil waktu itu ternyata sudah sebesar ini, terakhir kali ku lihat, itu beberapa tahun yang lalu," imbuhnya.


Sesaat Jag melirik Rory dan teman-temannya, dan menahan diri untuk tidak memberikan pertanyaan yang terlalu sensitif.


"Apakah kamu tinggal disini?" tanyanya.


"Tidak, paman. Tapi, mereka yang tinggal disini," jawab Nayla seraya mengerakkan tangannya menunjuk Rory dan teman-temannya. "Kami berteman," imbuhnya.


"Bagaimana kabar paman selama ini? Dimana sekarang paman tinggal?" tanya Nayla.


"Sangat baik. Aku masih tinggal dirumah yang sama dan ditempat yang sama," jawab Jag tersenyum hangat.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan paman?" tanya Nayla lagi.


"Aku melakukan pekerjaan apa saja. Mereka sudah tidak memerlukan tenaga pria tua sepertiku," selorohnya tertawa renyah.


"Ehmm,, aku tidak bermaksud apa-apa, tapi jika paman mau, kebetulan di aparteman tempatku tinggal sedang membutuhkan penjaga keamanan. Aku bisa rekomndasikan paman disana," tawar Nayla.


"Kamu masih tetap manis, Louise. Tapi, maaf aku harus menolaknya. Aku sangat menghargainya, hanya saja masih ada yang harus kulakukan disini dan itu tidak bisa ditinggalkan," tutur Jag hati-hati.


"Aku mengerti, paman. Paman bisa menemuiku kapan saja melalui mereka," sambut Nayla.


"Baiklah. Ah,, aku harus segera pergi, senang sakali bisa melihatmu lagi, Louise. Dan kamu terlihat baik-baik saja membuatku sangat lega," ucapnya tulus.


"Aku juga senang bisa bertemu paman Jag lagi. Hati-hati paman," balas Nayla.

__ADS_1


Jag mengangguk sopan pada Rory dan yang lain untuk pamit meninggalkan tempat itu. Ketika Jag baru beberapa langkah, ia menoleh dan kembali menatap Nayla.


"Aku baru menyadarinya, kamu sangat mirip dengannya, Louise," ucap Jag tersenyum tulus lalu berlalu pergi.


"Siapa dia?" tanya Rory setelah Jag menghilang dari pandangan mereka.


"Pengawas pekerja kontruksi ketika gedung ini di bangun," jawab Nayla tenang.


"Gedung ini? Maksudmu gedung yang kami tinggali?" seru Nathan terkejut.


"Benar, pertama kali aku mengenalnya saat aku datang kemari untuk mengantarkan bekal kakak yang tertinggal," jelas Nayla.


"Apakah karena hal ini kamu terlihat tidak nyaman saat pertama kali datang kemari?" tanya Rory hati-hati.


"Sejujurnya,,, ya," jawab Nayla.


"Kenapa kamu tidak mengatakannya? Kami bahkan memaksamu untuk menginap disini," sambut Rory merasa bersalah.


"Itu sudah tidak apa-apa, Roy. Aku baik-baik saja sekarang," sanggah Nayla. "Aku justru bersyukur datang ke tempat ini lagi," jawab Nayla sembari menghadap kearah Rory.


"Sejak aku kembali datang kesini, rasa takutku berangsur-angsur menghilang. Bahkan pertanyaanku yang kusimpan selama bertahun-tahun juga terjawab, terlebih lagi aku bersama kalian, apa lagi yang kuinginkan?" lanjut Nayla tersenyum.


"Yuk ah, kita pergi,"


Nayla berkata cepat sembari menarik tangan Rory menuju mobil yang telah menunggu mereka. Tidak membiarkan mereka mengeluarkan argumen mereka.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di apartemen. Nayla mempersilahkan mereka masuk dan duduk di sofa yang tersedia.


"Tempat ini terasa nyaman," ucap Ethan berkomentar.


"Apakah kamu selalu minum kopi?" tanya Martin ketika melihat mesin kopi di meja counter.


"Ya, begitulah. Angaplah itu caraku untuk tetap fokus dengan pekerjaanku," jawab Nayla.


"Aku tidak memiliki banyak untuk bisa kuhidangkan. Tapi, aku bisa membuatkan kalian kopi jika kalian mau," tawar Nayla.


"Aku tak menolak," sambut Ethan cepat.


Mereka tertawa ringan dengan sikap Ethan yang bisa mencairkan kecanggungan. Dengan hal itu, Nayla menyiapkan tujuh kopi termasuk untuk dirinya sendiri.


"Apakah aku boleh melihat-lihat, Nay?" tanya Ethan.


"Tentu," jawab Nayla.


Rory membantu Nayla menyiapkan cangkir kopi untuk semua orang. Sementara yang lain justru sibuk melihat-lihat tiap sudut apartemen.


'Ruangan ini memang terasa nyaman, namun terasa kosong. Tidak ada apapun yang berhubungan dengan kehidupan pribadi Nayla,' batin Martin


Ethan berjalan kearah lorong yang memiliki empat pintu yang saling berhadapan. Ia membuka salah satu pintu itu yang ternyata adalah kamar. Matanya beralih keseberang kamar dan berniat untuk membuka untuk melihat bagian dalamnya, penasaran.


Namun, saat Ethan hendak membuka pintu, sebuah tangan lain dengan cepat menutup pintu itu, dan segera Nayla berdiri di depan pintu.


"Untuk ruangan ini, kamu tidak boleh melihatnya," ucap Nayla.


"Kenapa?" tanya Ethan.


"Pokoknya tidak boleh," jawab Nayla.


"Katakan dulu apa alasannya," jawab Ethan penasaran.


"Ini ruang kerjaku, dan didalam terlalu mengerikan untuk dilihat karena aku belum merapikannya," jelas Nayla.


"Uhm,,, lebih tepatnya Adrian belum datang untuk merapikannya," ralat Nayla.


"Jadi, Adrian bisa dan aku tidak?" tanya Ethan menaikkan alisnya.


"Oh,, ayolah. Di dalam terlalu berantakan. Kenapa kamu tidak duduk denagn manis saja di sofa," bujuk Nayla memelas.


"Dan sekarang aku juga penasaran dengan apa yang kamu sembunyikan didalam," sela Kevin.


"Sekarang kau menjadi menyebalkan, Kevin," sungut Nayla.


"Maka, buka saja dan biarkan kami melihat, dan dia akan segera diam," timpal Martin.


"Roy,,, tidak bisakah kau membantuku intuk kali ini?" ratap Nayla melirik Rory.


Rory hanya mengangkat kedua tangannya tanda menyerah.


"Dua lawan empat tidak akan memiliki peluang untuk menang," jawab Rory tersenyum geli.


"Kau justru meledekku alih-alih membantuku membujuk mereka," sungut Nayla.


"Jika itu memang berantakan, kita hanya perlu merapikannya. Bukankah enam orang akan mempermudah pekerjaan?" sela Thomas mulai terkekeh.


"Terima kasih, kamu sama sekali tidak membantu," cibir Nayla memajukan bibirnya.


"Kalau begitu, buka saja," bujuk Nathan.

__ADS_1


Nayla kini dihadapkan dengan empat orang yang menatapnya dengan raut wajah memohon. Hingga membuatnya tidak memiliki pilihan lain. Menyerah, Nayla mendesah pelan, lalu menyingkir dari depan pintu, membiarkan mereka membuka pintu untuk melihat ruang kerjanya.


...****************...


__ADS_2