LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
89. Fakta.


__ADS_3

"Nyloes," jawab Martin.


"Oh,,," sambut Kevin datar.


"EEEHHHH,,,,,,!!!"


Thomas, Ethan dan Nathan serentak berseru kaget mendengar jawaban martin.


"Kamu serius?" sambut Ethan antusias.


"Nyloes? Yang itu?" sambung Nathan.


"Jika ini lelucon, ini adalah lelucon terburuk yang pernah kudengar," timpal Thomas.


"Kau pikir aku akan membuat lelucon seperti itu? Hanya saja, jangan terlalu berharap, karena mereka yang mengundangnya mengakui keselahan mereka dalam mengatur jadwal," jelas Martin.


"Jika memang benar, bisakah kamu memintanya agar aku bisa bertemu secara pribadi?" harap Ethan.


"Akan aku usahakan. Yang terpenting sekarang adalah, berikan yang terbaik untuk malam ini," pinta Martin.


"Tentu saja," sambut Ethan bersemangat.


"Semoga beruntung," ucap Martin tersenyum lebar.


Untuk beberapa saat, Rory menoleh kearah Nayla, lalu mengedipkan matanya sebelum melangkah keluar bertepatan dengan nama mereka dipanggil.


Sebulum sesi tanya jawab, mereka manyanyikan album baru mereka. Suara riuh dari penonton terdengar dengan jelas ditelinga Nayla yang berada dibelakang panggung.


"Mereka luar biasa," puji Nayla dengan suara pelan, namun cukup untuk didengar Martin yang berada disampingnya.


"Pernahkan kamu melihat latihan mereka?" tanya Martin.


"Tidak, bahkan video mereka yang selalu digilai teman kerjaku pun, aku tak pernah melihatnya," ungkap Nayla.


"Sesekali, datanglah sebelum mereka latihan, dan lihat bagaimana mereka berlatih. Aku ingin tau seperti apa pendapatmu tentang mereka," harap Martin.


"Akan ku luangkan waktuku lain kali," jawab Nayla meringis.


Mereka menyanyikan dua lagu, dan baru saja mengakhiri lagu kedua mereka. Sorakan penonton menggema memenuhi gedung dimana mereka berada.


Penonton meneriakkan nama idola mereka masing-masing. Hingga pembawa acara memberi isyarat untuk diam, menandakan acara akan dimulai.


"Mereka memiliki pengemarnya masing-masing. Dan itu tidak bisa dibilang sedikit," ucap Nayla lagi.


"Yah,,, mereka memiliki bakatnya masing-masing," ujar Martin.


"Permisi, nona,"


Suara seorang wanita yang tadi merias Nayla menyela pembicaraan mereka.


"Ya?" Nayla menoleh. " Ada apa?" tanya Nayla.


"Maaf menganggu waktu anda, nona. Tapi, ponsel anda berbunyi sejak tadi, saya tidak berani menjawab panggilan yang masuk. Saya khawatir jika itu sesuatu yag penting karena peneleponnya adalah nama yang sama dan sudah menghubungi nona lebih dari sepuluh kali," paparnya.


"Ah,,. Maaf, sepertinya aku lupa untuk mematikan suaranya. Itu sangat menganggu," sambut Nayla.


"Sama sekali tidak, nona. Justru menurut saya penting untuk tetap membiarkan ponsel menyala," ucapnya sopan.


"Terima kasih," ucap Nayla menerima ponsel darinya.


"Ehmm,,, boleh aku tau siapa namamu?" tanya Nayla.


"Camile, nona," jawabnya sopan.


"Ah,,, nama yang indah, aku akan mengingatnya. Sekali lagi terima kasih, Camile," ucap Nayla.


Martin menatap kagum dengan sikap Nayla yang tidak membedakan posisi siapa yang lebih tinggi. Nayla yang selalu bersikap sama kepada mereka yang bahkan hanya bekerja sebagai sopir meskipun ia telah menjadi kekasih resmi Rory.


Ponsel Nayla kembali berdering. Tak memiliki pilihan lain, Nayla segera menjawab panggilan dari Adrian dengan Martin disampingnya.


"Ya?" sambut Nayla.


"Oh,, GOD,,, akhirnya kamu menjawab juga," sambut Adrian lega.


"Tolong jangan marah, aku harus menyampaikan sesuatu padamu," tutur Adrian


"Katakan, apa itu?" tanya Nayla.


"Mereka memberiku kabar bahwa jadwal kamu seharusnya dilakukan malam ini, bukan besok. Mereka menghubungiku sore ini tentang perubahan jadwalnya," terang Adrian.


"Apa maksudnya jadwalnya dirubah menjadi malam ini? Kenapa harus semendadak ini?" sambut Nayla.


"Aku minta maaf, tapi aku juga tidak bisa berbuat banyak. Mereka mengakui ini murni kesalahan mereka. Mereka juga merubah tempat yang sebelumnya kita sepakati," jelas Adrian.

__ADS_1


"Tapi,,, Ugh,,, Aku tidak mungkin pergi sekarang," keluh Nayla.


Untuk sesaat, Martin melirik Nayla. Memberikan raut wajah bertanya.Nayla berbalik untuk sedikit menjauh agar bisa berbicara lebih leluasa. Namun, Martin mengikutinya.


"Aku akan meminta orang untuk menjemputmu. Karena ini kesalahan mereka, kamu masih memiliki cukup waktu. Dan juga, bintang tamu yang akan menjadi lawan bicaramu nanti bisa membantu mengulur waktu.Mereka adalah penyanyi, aku akan menanyakan siapa penyanyinya. Aku sudah berada di lokasi, kamu katakan saja dimana kamu sekarang dan seseorang akan menjemputmu," ucap Adrian.


"Tapi_,,," Nayla menoleh kearah dimana Rory berada.


'Bagaimana aku bisa pergi sekarang? Itu hanya akan membuat Roy kecewa padaku setelah aku janji padanya untuk disini hingga acaranya selesai,' batin Nayla.


Sementara itu, Martin menatap was-was. Berharap Nayla tidak pergi.


'Semua rencana Rory akan gagal jika dia pergi karena urusan pekerjaan, bagaimana caraku untuk mencegahnya?' pikir Martin


"Aku sebenarnya juga tidak ingin mendesakmu, tapi tolong pikirkan lagi," harap Adrian.


"Mereka meminta maaf karena melakukan kesalahan. oleh karena itu, mereka memberi waktu lebih. Tapi, mereka juga sangat mengerti jika kamu membatalkan acaranya," jelas Adrian.


"Aku akan berbicara sebentar dengan penyelengara acaranya kamu tidak bisa datang_,,,"


Kalimat Adrian terhenti ketika ia justru berpapasan dengan Nayla.


"Lho,,, Nay,, kamu sudah disini? Dan,,, sudah siap?" Adrian menatap Nayla seolah tidak mempercayai penglihatannya.


Adrian mengusap matanya untuk memastikan sekali lagi. Menatap Nayla dari atas sampai bawah dengan tatapan takjub.


"Woww,,," gumam Adrian.


Adrian segera mematikan ponselnya yang masih terhubung dengan Nayla dan memasukkan kedalam saku celananya.


"Kamu luar biasa cantik, sungguh. Tapi, apa kamu yakin akan berpenampilan seperti ini?" tanya Adrian.


Tiba-tiba, Martin berdiri tepat didepan Nayla. Menatap Adrian tajam dan dengan tatapan bertanya.


"Maaf, apa anda memiliki keperluan dengannya?" tanya Martin.


"Anda siapa?" tanya Adrian datar.


Nayla meletakkan telapak tangan didahinya disertai hembusan nafas panjang. Tangannya meraih lengan Martin, dan mengeser tubuhnya.


"Tidak apa-apa, dia temanku," jelas Nayla.


"Apakah maksudmu acaranya disini?" tanya Nayla.


Sesaat, Adrian ragu untuk menjawab melihat Martin ada disamping Nayla. Namun, Nayla mengangguk memberitaunya bahwa itu bukan masalah.


Martin menatap Nayla bingung. Sementara Nayla sendiri tidak bisa mengatakan apapun, bingung dari mana dirnya harus memulai menjelaskan kepada Martin.


Nayla mendesah pelan,merasakan dirinya tidak ada pilihan selain membiarkan Martin mendengarkan percakapan dirinya dan Adrian.


Berpikir bahwa jika ia menjauh dan pergi bersama Adrian, akan membuatnya memikirkan hal yang terlalu jauh.


"Apa maksudnya ini, Nay?" tanya Martin.


"Aku akan menjelaskan ini nanti, terlalu panjang untuk dijelaskan sekarang, aku harap kamu mengerti," jawab Nayla.


"Kalian saling mengenal?" sela Adrian.


"Yah, tentu saja, aku SANGAT mengenalnya," tegas Martin.


Adrian memiringkan kepalanya, tidak mengerti dengan sikap yang ditunjukan Martin padanya. Bahkan disaat dirinya tidak mengenal Martin.


"Jadi, apa keputusannya?" tanya Adrian lagi mengabaikan Martin.


Nayla terdiam, memikirkan beberapa hal dalam pikirannya.


"Rosalie bersamaku, juga pakaianmu sudah disiapkan," jelas Adrian.


"Berapa banyak waktu yang kumiliki?" tanya Nayla.


"Tidak sampai satu jam. Eh- tunggu. Jadi, kamu tetap melakukannya?" tanya Adrian memastikan.


"Ya," jawab Nayla singkat.


"Bisakah kamu menjelaskan apa maksud semua ini. Nay? Apa maksud yang dia bicarakan?" cecar Martin.


"Aku_,,," sebelum Nayla berbicara, Adrian kembali menyela.


"Ah,, aku akan menghubungi manager mereka. Aku sempat berbicara dengannya sebentar, tapi belum memberinya keputusan karena menunggumu," ungkap Adrian.


"Tidak perlu," cegah Nayla.


"Itu tetap diperlukan, Nay," jawab Adrian.

__ADS_1


"Jika kau ingin bicara, bicara langsung padanya," ucap Nayla mengerakkan kepalanya menunjuk Martin.


"Kenapa aku harus berbicara dengannya? Aku bahkan tidak mengenalnya," sambut Adrian.


"Tidak bisakah kau memahami situasinya, Adrian? Aku bahkan bisa mengerti kemana arahnya hanya dengan mendengarmu banyak bicara," ucap Nayla tidak sabar.


"Adrian?" Martin mengerutkan keningnya menatap Adrian.


"Dia adalah menager mereka, dan kau tau apa artinya bukan?" tanya Nayla.


"Ehh,,, jadi,, Anda pak Martin?" ucap Adrian terkejut.


"Benar, dan anda pak Adrian? Asisten dari Nyloes?" tanya Martin memastikan tidak kalah terkejut.


"Benar," jawab Adrian tersenyum ramah.


Mereka saling menjabat tangan dengan canggung. Namun serentak menatap Nayla dengan raut wajah bertanya.


"Itu artinya yang akan menjadi lawan bicaramu nanti_,,,,?" Adrian mengantung kaliamatnya, namun segera ditangkap Nayla.


"Ya," jawab Nayla.


"Tunggu sebentar," sela Martin. " Nay, tolong jelaskan padaku! Setidaknya intinya saja," pinta Martin.


"Dan kenapa anda menanyakan tentang lawan bicara kepada Nayla?" tanya Martin pada Adrian.


"Karena saya adalah asisten Nayla," jawab Adrian.


"APA,,,???" Martin berseru kaget,


Suara Martin berhasil menarik perhatian beberapa orang yang berada disana, namun detik berikutnya, mereka kembali mengabaikan Martin.


"J-Ja-Jadi,,, Nyloes,, itu,," ucap Martin terbata seraya menunjuk Nayla.


Nayla mengangguk kecil, membuat mata Martin kian melebar. Nayla mengosok belakang telinganya, tersenyum kaku.


"Aku akan ceritakan hal ini nanti. Tapi, bisakah aku minta tolong padamu, Martin?" harap Nayla.


Martin hanya mengangguk kaku, masih terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Bisakah aku minta tolong pada Camile untuk membantuku menganti pakaian dan riasanku?" tanya Nayla.


"Tentu," jawab Martin. "Kamu tidak harus menganti pakaianmu, katakan saja padanya agar mempertegas penampilanmu," saran Martin.


Martin segera meminta seseorang untuk mengarahkan Nayla ke ruang rias dimana Camile berada.


Sementara itu, di panggung, pembawa acara masih mengajukan pertanyaan secara bergilir.


Mereka juga diminta untuk menceritakan sedikit kisah perjuangan mereka. Dimana mereka pada awalnya selalu ditolak oleh agensi musik manapun.


"Lalu, bagaimana dengan pendapat orang tua anda, Ace," tanyanya pada Rory.


"Mereka mendukung penuh dengan apa yang saya lakukan," jawab Rory.


Rory juga mengatakan, identitasnya sebagai anak dari pebisnis ternama terbongkar setelah namanya di dunia musik merangkak naik. Hal itu membuktikan, dirinya berjuang bersama teman-temannya tanpa campur tangan kedua orang tuanya.


"Menakjubkan," puji pembawa acara.


"Ah,, Baiklah, ini adalah kabar terhangat yang baru saja saya terima. Anda membawa serta kekasih anda dalam acara ini, hemm ,, saya jadi penasaran apa yang ingin anda lakukan," godanya tersenyum lebar.


"Tapi, mari kita biarkan penggemar anda sedikit penasaran dan menunggu sedikit lebih lama. Saya baru saja dikabari bahwa bintang tamu yang kami undang telah datang dan bersedia hadir disaat ada perubahan mendadak. Dan,,, dia adalah seorang penulis buku. Memiliki banyak penggemar, dan memiliki banyak penghargaan atas karyanya," paparnya.


"Nyloes," ungkapnya tersenyum.


Seisi gedung tiba-tba berubah riuh. Menyambut dengan antusias, dimana sebagian yang berada di gedung itu adalah pengemar Nyloes. Mendengar hal itu seolah mereka mendapatkan kejutan yang tidak terduga.


"Woah,,, ternyata disini banyak sekali pengemarnya," sambutnya tersenyum.


"Bahkan didepan anda juga ada yang menjadi pengemarnya," sela Kevin.


"Benarkah?" tanyanya berbinar.


Kevin menunjuk Ethan, Nathan dan Thomas dengan mengerakkan kepalanya kearah mereka.


"Sungguh mengejutkan," ucapnya.


"Baiklah. Mari kita sambut, Nyloes," ucap pembawa acara sembari membaca di layar tabletnya.


Suara tepuk tangan menggema, tidak sabar ingin melihat langsung sosok yang menjadi idola mereka.


"Nayrela Louise,"


Sontak Rory dan teman-temannya membelalakan mata mereka. Tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

__ADS_1


Mereka menyangkal bahwa pemilik nama itu adalah orang yang sama. Hingga suara ketukan sepatu membuat mereka mengalihkan pandangan mereka.


...****************...


__ADS_2