
Adrian tanpa ragu menatap tajam pada Kevin. Berlanjut menatap Rory dan teman-temannya sebelum kembali berkata.
"Apakah semua yang telah Nayla lakukan masih belum cukup? Kau ingin dia melakukan apa lagi? Kau pikir desakan dan tuduhan akan berguna untuk memuaskan keingintahuan yang belum kau dapatkan?" cecar Adrian.
"Adrian, tolong, cukup sampai di sini saja! Kumohon jangan lanjutkan lagi!" pinta Nayla memohon.
Adrian mulai menurunkan luapan emosinya, dengan mengatur nafas, ia menatap mereka yang kini terdiam tanpa bisa mengeluarkan suara.
"Ketika Nayla menyelesaikan naskahnya dan mengimkannya padaku, dia sering kehilangan kesadarannya. Dan aku datang untuk membawanya kerumah sakit," ungkap Adrian.
"Katakan padaku! Dimana letak kesalahanku?" imbuhnya.
"ADRIAN,,!!! CUKUP,,,!!!" sentak Nayla seraya berdiri.
"Kau sudah terlalu banyak bicara, aku sudah memintamu untuk berhenti, kenapa kau tak mau dengar?" hardik Nayla.
Tak satupun dari mereka bisa menyembunyikan keterkejutan mereka mendengar pernyataan Adrian. Keterkejutan mereka bertambah ketika mereka melihat Nayla justru membentak Adrian didepan mereka.
"Kamu ingin aku tetap diam ketika mereka, terutama dia, (menunjuk Kevin dengan telunjuknya) berkata seperti itu padamu?" balas Adrian. "Tidak akan. Aku lebih baik menerima kemarahanmu dari pada diam ketika mendengar mereka menyudutkanmu," imbuhnya.
"Ini hanya salah paham. Jika mereka salah paham dengan ku, itu hal wajar karena aku tidak mengatakan apa pun pada mereka. Kalau kau mau menyalahkan seseorang, akulah yang harus disalahkan disini," jawab Nayla.
"Hal ini sama seperti ketika kau juga sempat salah paham padaku," imbuhnya.
"Itu berbeda, Nay. aku tidak menyudutkanmu," sanggah Adrian.
"Perbedaannya adalah, Kevin mengeluarkan apa yang ada di pikirannya, sedangkan kamu memilih untuk menyimpannya," tandas Nayla.
Adrian terdiam. Kepalanya kini tertunduk dan menatap lantai, tidak lagi berani menatap Nayla yang masih menatapnya dengan tatapan hangat seperti biasa meskipun ia tengah marah sekalipun.
"Maaf," sesal Adrian lirih.
"Aku akan pulang,apakah kamu akan pulang bersamaku, atau akan berasama mereka?" tanya Adrian tanpa menatap Nayla.
"Aku_,,,"
"Lebih baik bersama mereka. Yah,,, aku tau itu yang akan kamu katakan. Kamu datang bersama mereka, maka tentu saja akan pulang bersama mereka. Aku minta maaf sudah menjadi pengacau disini," ucap Adrian memotong ucapan Nayla.
"Adrian, tunggu!" cegah Nayla.
Adrian menghentikan gerakan tangannya yang hendak membuka pintu. Tanpa menoleh, ia hanya melihat Nayla dari balik bahunya.
"Kamu bisa menghubungiku kapanpun membutuhkanku, bahkan disaat tidak membutuhkanku sekalipun, kamu bisa menghubungiku," ucap Adrian.
Tanpa menunggu jawaban, Adrian membuka pintu dan pergi setelah menutup pintu. Meninggalkan ketegangan yang masih terasa didalam ruangan itu.
Nayla terduduk lemas, lalu menangkup wajahnya sendiri.
"Haahh,,," desah Nayla.
Nayla mengangkat wajahnya ketika merasakan sentuhan lembut dikedua bahunya. Rory dan Kevin meletakan satu tangan mereka di kedua bahu Nayla.
"Maaf, ini salahku," sesal Kevin.
"Aku juga bersalah karena tidak angkat bicara untuk membelamu," sesal Rory.
"Tidak," Nayla mengeleng. "Dia terkadang memang begitu, dan aku minta maaf atas namanya karena telah membentak kalian," jawab Nayla.
"Bukan kamu yang seharusnya meminta maaf disini," sambut Kevin.
__ADS_1
"Terlepas dari semua itu, kami juga telah melakukan kesalahan padamu, kami minta maaf, Nay," ucap Thomas mulai angkat bicara.
"Permasalahan ini muncul karena aku tidak jujur pada kalian sejak awal," jawab Nayla.
Nayla menghela nafas panjang, lalu kembali tersenyum tipis sebelum kembali bicara.
"Pekerjaan utama Adrian adalah editor. Tapi, aku memilihnya untuk sekaligus menjadi asistenku. Dialah yang selama ini mengantikan posisiku ketika aku harus menghadiri semua pertemuan dengan beberapa orang yang ingin bertemu denganku," ada jeda sesaat sebelum Nayla kembali meneruskan ceritanya.
"Awalnya, asistenku adalah Rose. Tapi, dia dipindahkan karena sebuah keadaan yang tidak bisa dihindari, dan Adrian mengantikannya. Sama seperti Rose, Adrian yang selalu bersamaku menjadikannya mengenalku dengan sangat baik, namun tidak pernah melewati dari batas wajar," menghembuskan nafas panjang, Nayla kembali meneruskan
"Alasan dia memiliki kunci apartemenku, memang benar seperti yang dia ucapkan. Saat itu, aku menyelesaikan naskah sebelum jadwal deadline, dan aku mengirim naskanya ke E-mail Adrian. Aku tak ingat apapun setelah itu, hanya saja, saat aku terbangun, aku sudah di rumah sakit. Aku mengerjakan naskah diapartemen, dan selama aku menyelesaiakan naskahnya, aku tidak datang ke kantor,"
Nayla kembali mendesah pelan. Kemudian, menatap satu persatu teman yang ada didepannya yang terlihat sangat terkejut.
"Apakah yang dia katakan juga benar? Kamu tidak tidur karena naskah?" tanya Ethan hati-hati.
"Sepertinya begitu, karena aku terbiasa melakukannya hingga itu terkadang tidak kurasakan lagi apa yang membuatnya berbeda," jawab Nayla, lalu terseyum kecut.
"Karena sudah seperti ini, aku juga akan mengatakan hal lain, alasan kenapa aku menyembunyikan ini dari kalian," ucap Nayla.
"Jangan menceritakan apapun yang justru membebanimu, Nay," ucap Rory.
"Tidak," Nayla mengeleng. "Setidaknya, hal itu akan menghindarkan pertengkaran yang tak perlu kedepannya," jawab Nayla.
"Lebih baik, kita tinggalkan tempat ini dulu, aku khawatir seseorang mungkin mendengar apa yang akan kamu katakan, Nay," saran Martin.
Nayla mengangguk pelan, senyum diwajahnya berubah total. Semua yang Nayla rencanakan berubah tanpa bisa dihindari walaupun ia bisa melakukannya. Namun, jika ia tidak melakukannya dan memilih menunda lagi, ia tak akan tau kapan kesempatan seperti itu akan datang lagi padanya.
Martin memimpin untuk meninggalkan ruangan, ketika hanya tinggal Nayla dan Rory didalam ruangan, Rory mengulurkan tangannya pada Nayla yang disambut dengan cepat.
Martin memilih jalan dimana mereka bisa mengindari media massa yang masih berada diluar gedung. Menyelinap menuju mobil mereka yang telah menunggu mereka, hingga mereka berhasil pergi tanpa hambatan. Mengabaikan orang-orang yang mencari mereka.
"Aku mulai menulis sejak berumur tujuh tahun, dimana aku hanya menulis dongeng pengantar tidur di buku milikku sendiri, dan kunikmati sendiri. Tapi, ketika buku itu dibaca oleh seseorang, dan mengatakan itu dongeng yang bagus, orang itu mengirimkan tulisanku kesebuah percetakan majalah anak-anak," Nayla memulai ceritanya.
Mereka diam, mendengarkan tanpa menyela jika tidak diperlukan.
"Kebetulan orang itu adalah seorang pemilik perpustakaan, dan kami memiliki hubungan yang cukup dekat saat itu,"
"Kedua orang tuaku bercerai saat aku berumur lima tahun, dan meninggalkanku bersama kakakku untuk mengurus diri kami sendiri. Sejak saat itu, kakak berhenti sekolah dan memilih bekerja untuk mencukupi kebutuhan kami," Nayla mengatur nafas dan meneguk minumannya.
"Aku tidak merasakan kehilangan, karena hubungan kami pada dasarnya memang tidaklah baik. Kakak juga tidak membiarkan aku ikut mereka karena mereka kerap memukuli kami hanya karena alasan sederhana,"
"Saat itu, sedikitpun aku tidak merasa kekurangan apapun, hanya dengan bisa bersama kakak saja, itu sudah cukup. Kakak bahkan bisa menyewa sebuah rumah kecil untuk kami tinggali. Dan Chris, sahabat dari kakak seolah menjadi pelengkap hingga aku tidak lagi bisa mengingat kapan terakhir kali bertemu kedua orang tuaku,"
"Semula aku pikir akan baik-baik saja, dan aku berpikir aku bisa membantu kakak jika aku terus menulis dan bisa mendapapatkan uang, hingga_,,," ada jeda sesaat sebelum Nayla kembali melanjutkn ceritanya.
"Di usiaku yang telah melewati tujuh tahun, sebuh kecelakaan merengut nyawa kakak. Itu adalah hari yang sama ketika tulisanku mendapatkan pujian. Sebuah mobil yang entah bagaimana melaju cepat kearah kami yang saat itu dalam perjalanan pulang. Dan entah sajak kapan, kakak telah mendorongku, namun gagal menyelamatkan dirinya sendiri,"
Nayla meneguk kembali minumannya, air matanya tanpa ia sadari telah bergulir begitu saja. Rory melingkarkan tangannya dibahu Nayla yang mulai bergetar.
"Seolah tak cukup dengan itu, Chris dan keluarganya pindah. sejak saat itulah aku mulai melakukan apapun untuk bertahan hidup selain mengandalkan hasil dari tulisanku yang memang tidak menghasilkan banyak,"
"Nama Nyloes adalah nama yang dipilih kakak saat aku mengatakan tidak ingin menggunakan namaku, dan ingin menggunakan namanya. Dan aku tidak menyangka jika itu adalah percakapan terakhir kami,"
Air mata mengalir semakin deras, namun Nayla tetap berusaha mengontrol emosinya, sembari menyeka air matanya.
Keheningan terjadi setelah Nayla mengakhiri ceritanya, tak satupun membuk suara hanya untuk sekedar menimpali apa yang baru saja Nayla ceritakan.
"Jadi, Chris bukan kakakmu?" tanya Ethan hati-hati.
__ADS_1
"Garis besarnya dia memang bukan kakakku, dia adalah sahabat kakak, dan dia juga yang menjagaku disaat kakak bekerja. Bisa dikatakan, dia adalah sosok kakak tanpa ikatan darah,"
"Apa dia juga tau bahwa kamu adalah Nyloes?" tanya Thomas.
"Dia menyadarinya saat membaca salah satu buku yang sedang dibaca oleh temannya. Dia sangat mengenali tulisanku, jadi dia segera tau itu buku karyaku," jawab Nayla.
"Lalu, kenapa_,,," Kevin hendak bertanya, namun segera mengurungkan niatnya.
"Bukan apa-apa, lupakan saja," ucap Kevin.
"Lebih baik sekarang kamu istirahat, malam ini kamu telah mengalami banyak hal," sambung Kevin.
"Aku ingin pulang," jawab Nayla.
"Lebih baik kamu tetap bersama kami untuk saat ini, Nay," saran Martin.
"Tidak, aku tetap memilih pulang," tegas Nayla.
"Tapi_,,," protes Rory khawatir.
"Malam ini aku hanya ingin sendiri, dan besok akan kembali baik-baik saja," potong Nayla.
Rory menahan diri untuk tidak kembali protes. Apa yang baru saja diceritakan Nayla, tentu sangat membebaninya selama ini. Kini ia juga tau kenapa Nayla selalu mengelak ketika ia menanyakan tentang keluarganya. Karena dia hanya hidup sendiri.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Rory pada akhirnya.
Sama seperti halnya dengan Rory, mereka mengurungkan niat mereka untuk memaksa Nayla tetap tinggal. Dan membiarkan Nayla pergi dengan diantar Rory.
Nayla menahan tangan Rory ketika mereka berdua hampir mencapai pintu keluar. Membuat Rory segera berbalik dengan kecemasan terlukis diwajahnya.
"Ada apa? Apakah kamu merasa tidak nyaman atau_,,,"
Nayla mengeleng pelan, wajahnya terangkat untuk menatap Rory.
"Terima kasih. Maaf, aku baru mengatakannya sekarang," ucap Nayla mula kembali tersenyum.
"Terima kasih untuk apa? Atas kebodohanku?" cibir Rory pura-pura.
"Kamu menenagkanku disaat aku merasakan ketakutan menghantuiku di panggung," sahut Nayla.
"Hal itu bahkan tak bisa dibandingkan dengan keberanianmu mengungkapkan semuanya didepan semua orang," balas Rory.
Rory meletakkan kedua tangannya dibahu Nayla. Menatap sosok kecil didepannya yang ternyata memiliki ketangguhan yang tidak pernah ia bayangkan.
"Aku memang bodoh dalam membaca situasi, terlalu cepat berasumsi tanpa bukti, dan mendorongmu terlalu jauh untuk memuaskan keingintauanku semata. Namun, beri aku kesempatan untuk mempelajari semua hal tentang mu, sekecil apapun itu," harap Rory.
"Beri aku kesempatan untuk menjadi kakimu untuk menopangmu kapanpun ketika kamu tidak sanggup untuk berdiri sendiri. Meski aku tidak sekuat dirimu, aku akan berusaha untuk menyamakan langkahku bersamamu,"
"Aku ingin kamu tau, kamu tidak sendiri, kamu bisa mengandalkanku kapanpun, kamu bisa membuat kekacauan apapun dan aku akan membereskannya. Satu-satunya hal yang membuatku takut hanyalah kamu pergi karena sikapku yang mungkin tidak kamu sukai," ungkap Rory.
Nayla tersenyum tipis, lalu mengikis jarak diantara mereka berdua. Meletakkan satu tangannya di dada Rory, kemudia menempelkan dahinya.
"Dasar bodoh! Bagaimana mungkin aku bisa pergi setelah apa yang sudah kita lalui?" sambut Nayla.
"Terima kasih karena tidak meninggalkanku setelah kamu mengetahui masa laluku," ucap Nayla lirih.
Rory melingkarkan tangannya disekeliling Nayla, lalu mengecup lembut puncak kepalanya, dan tersenyum.
"Tidak akan, dan aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi, aku mencintaimu," ucap Rory.
__ADS_1
...****************...