LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
60. Memburuk


__ADS_3

Ethan muncul dengan beberapa kantong makanan ditangannya dan segera meletakkan dimeja kecil yang berada didepan sofa.


Beberapa burger terlihat mengiurkan, namun sedikitpun tidak membangkitkan selera makan mereka. Tak satupun dari mereka menyentuh makanan yang telah di beli Ethan.


Ethan meletakkan makanan diatas meja begitu saja dan mengabaikannya. Sementara dirinya duduk bersandar dan menutup wajah dengan punggung tangannya.


Thomas menatap Ethan heran. Dalam pikirannya, ia melihat Ethan tidak bersikap seperti biasanya. Ethan yang ia kenal tidak pernah menolak makanan. Tapi kali ini,Ethan bahkan bisa menahan lapar jauh lebih lama dari biasanya.


"Kau tidak makan, Ethan?" tanya Thomas.


"Aku tidak berselera," jawab Ethan tanpa mengangkat tangan dari wajahnya. Matanya terpejam.


"Hhahhh,,,," desah Ethan. " Aku bahkan membeli dua burger tanpa mayo seperti yang sangat disukai Nayla," keluhnya.


"Entah kapan terakhir kali kita tertawa bersama sebelum masalah itu terjadi," sambungnya.


"Kita hanya bisa berdoa dan berharap Nayla segera sadar," sambut Nathan.


Thomas mengangguk setuju dan kembali mengalihkan pandangannya kepada Nayla.


'Dokter yang mengaku sebagai kakak Nayla memperkenalkan diri kepada kami sebagai Chris, lalu siapa Nick yang di sebut Nayla?' batin Thomas.


Thomas menyimpan semuanya yang didengarnya sendiri, ingin mencari tau kebenarannya sebelum mengatakan semuanya kepada teman-temannya.


Waktu terus berlalu. . . .


Tanpa terasa senja telah menyapa, makanan yang di beli Ethan berubah dingin tanpa ada yang menyentuhnya. Rory, Kevin dan Martin masih belum kembali. Entah apa saja yang mereka lakukan diluar sana.


Secara bergiliran Thomas, Ethan dan Nathan duduk dikursi yang berada disamping ranjang.


Hingga sesuatu terjadi. . . . .


Nayla perlahan membuka matanya. Mengedarkan pandangannya kesekelilingnya dengan tatapan kosong.


"Nayla,,," desis Thomas terkejut bercampur senang.


"Kamu sadar?" ucapnya lega.


Ethan dan Nathan yang mendengar suara Thomas segera menghampiri Thomas, dan tersenyum lega.


Senyuman lega dibibir Thomas lenyap tepat ketika Nayla mengarahkan pandangannya pada Thomas dengan tatapan kosong. Begitu pula dengan Nathan dan Ethan. Mereka tertegun dan membeku ditempat mereka berdiri.


Bibir mereka kelu, tidak bisa mengatakan sepatah katapun.


Nayla bangun dari berbaringnya. Satu tangannya yang bebas mencabut paksa jarum infus yang terpasang dipergelangan tangannya.


"Nay,,, apa yang kamu lakukan?" pekik Thomas meraih tangan Nayla dengan harapan bisa menghentikan aksi Nayla.


Namun Nayla menepis tangan Thomas dengan kasar.


"Jauhkan tanganmu dariku,!" sentak Nayla.


Air matanya kembali merembes keluar dari matanya. Nayla mendorong Thomas menjauh dan turun dari ranjangnya.


BRUUKK,,,,


Nayla terjatuh saat kakinya gagal menahan berat tubuhnya sendiri. Darah mulai keluar dari pergelangan tangannya yang terluka karena infus yang dicabut paksa hingga mengotori pakaian yang ia kenakan.


"NAY,,,!!!"


Mereka betiga serentak berseru panik saat Nayla jatuh terduduk.

__ADS_1


Ketika mereka mendekati Nayla, ia kembali histeris.


"Manjauh dariku,!" sentaknya.


Nayla berusaha bangkit. Darah terus menetes dari pergelangan tangannya. Ia berjalan mundur dengan tertatih.


"Pergi,,!" teriaknya.


Nayla terus berjalan mundur hingga punggungnya menyentuh dinding. Matanya menatap mereka dengan tatapan kosong. Namun, tanganya terus berusaha melindungi tubuhnya sendiri.


"Panggil dokter! Cepat!" Thomas berseru panik lantaran darah yang terus menetes dari tangan Nayla.


Nathan bergerak cepat memanggil dokter. Namun hanya perawat yang bisa ditemui olehnya. Hingga saat dirinya berada di koridor rumah sakit menunggu Irene mengambil kotak obat, Rory, Kevin dan Martin tengah berjalan kearahnya.


"Apa yang kau lakukan disini, Nathan?" tanya Kevin dengan kening berkerut.


"Itu,,,, anu,,,, itu,,,," Nathan tergagap karena panik dengan jari menunjuk ruang rawat Nayla.


"Nayla,,," ucap Nathan masih belum bisa mengatasi gagapnya.


Nathan mengusap wajahnya. Mencoba menenangkan diri. Tepat saat itu juga Irene yang tadi telah ditemui Nathan dan melaporakan keadaan Nayla kembali muncul dengan kotak obat.


"Kita kesana. Dokter Chris sedang melakukan operasi. Jadi saya yang akan mengatasinya," sela Irene.


Nathan mengangguk dan berjalan dibelakang Irene. Sementara Rory telah lebih dulu mendahului mereka.


Kekhawatiran Rory muncul saat Nathan tidak menyelesaikan kalimatnya, dan bergebas menuju ruang rawat Nayla.


"Nay,,," desis Rory membelalakkan matanya ketika melihat keadaan Nayla.


Disudut lain Thomas dan Ethan tengah berusaha mendekati Nayla, namun Nayla terus beringsut ketakutan.


Irene memiliki reaksi yang sama ketika tiba disana. Begitu pula dengan Kevin dan Martin. Membeku ditempat mereka.


"Tidak,! Tolong jangan gunakan obat bius," ucap Rory lirih.


"Pendarahan pada pergelangan tangannya akan membahayakan kondisinya jika tidak segera dihentikan," sanggah Irene.


"Tidak bisakah anda melihat matanya? Dia masih dalam keadaan tidak sadar!" sergah Rory.


"Dia hanya akan kembali menyakiti dirinya sendiri jika diberi obat bius," sambungnya.


"Tapi--,," Irene menatap Nayla khawatir.


"Beri saya waktu sebentar untuk menenangkannya," potong Rory tidak melepaskan pandangannya dari Nayla.


Rory mendekat perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca setiap kali Nayla terus histeris memintanya menjauh.


"Nay,,," panggil Rory lembut.


"Kumohon, tenanglah. Kamu aman disini," ucap Rory.


Setiap kata yang dilontarkan Rory, ia melangkah mendekat dengan hati-hati.


"Ini aku, Nay," ucap Rory lagi.


"Aku disini,,," Rory mengulurkan tangannya dan meraih tangan Nayla.


Nayla berangsur-angsur tenang dan berhenti berteriak, bahkan tubuhnya yang semula gemetar terlihat mulai tenang.


"Apakah kamu mendengarku, Nay?" ucap Rory lagi berhasil mengengam tangan Nayla.

__ADS_1


Satu tangan Rory yang bebas memberi isyarat pada Irene agar menutup luka di pergelangan tangan Nayla untuk sementara.


Saat Irene berhasil melakukannya, Chris muncul dari balik pintu. Melihat hal yang dilakukan Rory pada Nayla.


"Kamu bisa istirahat sekarang. Aku tidak akan meninggalkanmu," ucap Rory sembari membelai wajah pucat Nayla.


"Aku janji akan tetap disampingmu ketika kamu bangun, oke," ucapnya lagi.


Selesai mengatakan itu, tubuh Nayla lunglai yang segera disambut Rory. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Rory segera mengendong Nayla dan meletakan tubuhnya kembali di atas tempat tidur.


Rory segera berbalik dan menatap Chris dengan tatapan memohon, yang segera dipahami olehnya.


Chris segera memeriksa keadaan Nayla, sementara Irene kembali memasang jarum infus baru dipergelangan tangannya.


"Dia baik-baik saja untuk saat ini," ucap Chris lirih.


"Saat ini?" sambut Rory mengerutkan keningnya. " Apa maksudnya?" sambungnya.


"Jika dia terus seperti ini, aku tidak tau bagaimana dia akan bertahan," jelasnya.


Chris menatap nenar Nayla yang masih terbaring. Wajahnya yang kian memucat mengiris hatinya.


'Jangan jemput dia, Nick. Aku masih ingin menjaganya,' batin Chris dengan tangan terkepal.


Rory menghampiri Nayla. Mengenggam tangannya yang terasa mulai dingin baginya. Rory menahan air matanya agar tidak kembali terjatuh.


'Kumohon betahanlah,' harap Rory dalam hatinya.


"Bisakah kita melakukan konfersi pers, Martin?" tanya Rory parau.


"Bisa. Aku akan segera mengaturnya," jawab Martin cepat.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Chris.


"Aku tidak bisa membiarkan usahanya sia-sia. Dia melakukan sejauh ini hanya untuk itu. Jika aku tidak melanjutkannya, aku tidak tau bagaimana perasaannya," ungkap Rory berusah tetap kuat.


"Aku akan mengatakan semuanya di depan publik. Mengungkapkan hubungan kami," tegas Rory.


"Bagaimana dengan reputasimu?" tanya Chris.


"Aku tidak peduli dengan itu. Tapi kalian tenang saja, aku hanya akan melibatkan diriku sendiri tanpa membawa nama kalian," terang Rory tanpa menatap teman-temannya.


"Kau pikir hanya kamu yang akan melakukan itu?" hardik Kevin. " Aku juga akan melakukannya," sambungnya.


Rory menoleh dan menaikkan alisnya. Seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar.


Kevin yang semula menentang hubungan mereka, kini medukungnya, bahkan bekorban untuknya.


"Kau tidak sendirian, aku akan melakukan semua yang ku bisa," sela Martin.


Thomas, Ethan dan Nathan mengangguk setuju.


'Tidakkah kau melihatnya, Nick? Betapa mereka menyayangi, Louise?' batin Chris.


Sikap dan perhatian mereka menyentuh hati Chris. Tangannya terulur dan meletakkannya dibahu Rory, lalu tersenyum tulus saat Rory menatapnya.


"Aku juga akan membantu apapun yang diperlukan. Jadi, jangan sungkan padaku," tutur Chris.


Rory tersenyum berterima kasih kepada Chris dan teman-temannya.


Setelah berunding, mereka mulai menyusun rencana dan mengatur jadwal konfersi pres.

__ADS_1


Sesuai dugaan mereka, berita itu pun meledak dan memenuhi semua media sosial dan surat kabar. Menanti tibanya konfersi pres itu diadakan.


...****************...


__ADS_2