
"Dari mana kau Jo?" suara Kevin menghentikan langkah Rory ketika dia tengah berjalan menuju kamarnya.
"Kapan kau kembali?" tanya Rory ketika melihat Kevin mendekatinya.
"Beberapa menit yang lalu." jawab Kevin.
"Kenapa kau tak menghubungiku jika kau kembali?" tanya Rory seraya membuka pintu kamarnya dan masuk kedalam diikuti Kevin.
"Tak perlu.Toh aku bisa menggunakan taksi. Kau belum menjawab pertanyaanku Jo." ucap Kevin setelah menutup pintu.
"Aku hanya jalan jalan." jawab Rory.
"Aku tak yakin hanya itu yang kau lakukan." sambut Kevin. "Jalan-jalan dengan memakai tuxedo?apa kau bercanda denganku?" Kevin menatap lekat Rory.
"Apa kau menemuinya lagi?"tanya Kevin.
"Entah kenapa aku tak terkejut dengan pertanyanmu.Sesuai dugaan kau sudah tau tanpa aku memberitahumu."kata Rory tersenyum,menjatuhkan tubuhnya disofa yang berada didekat tempat tidurnya.
"Apa kau menjalin hubungan dengannya?"tanya Kevin ikut duduk disamping Rory.
"Bagaimana menurutmu?"tanya Rory bersemangat.
"Entahlah.."Kevin mangangkat kedua bahunya.
"Selama dia tidak sepertiNYA yang hanya memanfaatkanmu."lanjutnya.
"Dia tidak akan sepertiNya.Sangat jelas mereka dua orang yang berbeda."'jawab Rory yakin.
"Kau sepercaya itu padanya?Orang yang baru kau kenal dalam hitungan bulan?"tanya Kevin menyipitkan mata."Sedangkan Dia yang kau kenal beberapa tahun dengan mudah menyakitimu."tambahnya.
"Bukankah kau sendiri yang menyarankan agar aku menghubunginya waktu itu."tanya Rory mulai tak menyukai reaksi Kevin.
"Memang benar,aku memintamu untuk menghubunginya HANYA untuk membuatmu berhenti memikirkan hal yag tak perlu,tapi aku tak memintamu untuk menjalin hubungan dengannya." ujar Kevin.
"Bukan kau yang memutuskan kepada siapa aku akan jatuh cinta Kevin." sambut Rory menekan suaranya.
"Aku tau,tapi aku berharap kau lebih bisa menjaga hatimu sendiri.Bukan hanya aku,tapi papa,mama dan mereka tak ingin hal sama terulang Jordan."kata Kevin melembut.
"Aku tau, dan aku juga mengerti akan hal itu.Akan kupastikan hal itu tak kan terulang.Jadi..bisakah kau berhenti membicarakan masa laluku?Aku bahkan hampir melupakannya,dan kau membawanya kembali ke permukaan."kata Rory.
"Baiklah,,, baik,,, aku berhenti membicaraknnya...istirahatlah.Oh..aku hampir lupa,mama menitipkan sesuatu untukmu,dan aku meletakkannya dilemari pakaianmu..Sempatkanlah untuk menghubungi mama,kau tak melihat betapa kecewanya mama tak melihatmu pulang." kata Kevin.
"Aku mengerti..akan kuhubungi besok"jawab Rory.
Kevin bangun dari duduknya dan melangkah mendekati pintu berniat keluar.namun kevin menghentikan langkahnya ketika tangannya berada di knop pintu.
"Kuharap aku bisa bertemu dengannya.orang yang telah merubahmu." ucap Kevin tanpa membalikkan badannya.
"Dengan sikap seperti ini yang akan kau tunjukan,aku lebih ingin ke arah kau tak perlu bertemu dengannya sama sekali." sambut Rory.
"Tentu saja aku akan bersikap didepannya. Karena aku juga ingin tau wanita seperti apa dia" balas Kevin dengan tawa sumbang."malam Jo"ucapnya lalu keluar dan menutup pintu setelahnya.
"Protektif yang dimilikinya tak pernah berubah."gerutu Rory.
Mendesah panjang,Rory bangun dari duduknya menuju kamar mandi dengan gerakan cepat.Dalam sekejap Rory merebahkan tubuhnya dan membuka ponselnya.
Foto dirinya bersama Nayla memenuhi layar ponsel miliknya.Senyum lebar terbentuk melengkapi raut wajahnya yang memperlihatkan kebahagiaan pada diri Rory.
"Hemmm ku ubah apa ya namanya?"gumam Rory ketika membuka nomor ponsel Nayla yang tertulis Naya disana.
Masih tersenyum,Rory menganti nama Nayla diponselnya.Tangannya terlipat dibelakang kepalanya dengan mata menerawang.
...****************...
"Aku Mencintaimu Naya"...ungkap Rory.
Angin berhebus menyibakkan rambut Nayla.cahaya lampu menyinari wajah terkejutnya yang terlihat jelas.
"Apa..???"Nayla melebarkan matanya seolah tak yakin dengan yang didengarnya.
__ADS_1
"Aku yakin kamu mendengarku Nay,dan yang kau dengar adalah benar."kata Rory lembut namun penuh kesungguhan.
"Ba-ba-bagaimana,,, sejak kapan,,, kenapa,,," terbata-bata, Nayla bertanya tanpa bisa menyelesaikan kalimatnya.
Nayla membatu ketika Rory perlahan melangkah mendekat.Tangannya terulur merapikan rambut Nayla yang tertiup angin.
"Jika kamu bertanya bagaimana, aku sendiri tak memiliki jawabannya.Tapi, aku bisa mengatakan satu hal yang pasti, hal itu tak bisa diukur dengan waktu. Itensitaslah yang diperhitungkan." ucap Rory tersenyum.
"Sejak kapan?Aku menyukaimu sejak pertama kali melihatmu,seiring berjalannya waktu,seiring aku mengenalmu lebih jauh,rasa itu menjadi lebih dalam dan kuat,dan aku tak bisa jika harus terus memendamnya." Rory berkata lembut seraya meraih tangan Nayla.
"Dan kenapa? Aku mencintaimu tanpa syarat apapun.Tanpa memintamu harus membalasnya. Aku hanya murni mencintaimu bahkan jika kau tak mencintaiku sekalipun," ungkap Rory.
Nayla menatap Rory dalam, menelusuri kedalaman matanya, mencari kebohongan disana,namun tak menemukan apapun selain kejujuran.Rasa haru perlahan tumbuh dihatinya.
"Maukah kamu menjadi kekasihku?"tanya Rory.
Dari matanya terpancar penuh harapan,namun tidak menuntut.Hari hari yang dilalui bersama Rory seolah terputar lagi didepan mata Nayla.Perasaan yang dirasakannya selama ini terhadap Rory kembali mengusik hatinya.Dengan pernyataan Rory yang didengarnya saat ini,membuat Nayla menyadari satu hal bahwa dirinya bukanlah satu satunya yang merasakan hal itu.
Mengumpulkan keberaniannya,Nayla menganggukkan kepalanya.Mata Rory melebar dan senyum dibibirnya melebar memperjelas kecerahan diwajahnya.
"Aku mau"jawab Nayla mulai menundukkan kepalanya,menyembunyikan rona merah dipipinya.
Dengan lembut Rory mengangkat dagu Nayla agar menatap matanya.
"Sungguh?"tanya Rory memastikan dan Nayla mengangguk lagi.
"Ini bukan karena kamu bertanya dan aku harus menjawab,tapi..."Nayla menarik nafas dalam dalam sebelum melanjutkan,"Tapi karena apa yang kamu rasakan,akupun merasakannya.Entah sejak kapan aku tak menyadarinya.Namun yang aku katakan adalah benar.Aku juga mencintaimu Roy."ungkap Nayla.
Mendengar kalimat terakhir Nayla,dengan gerakan cepat Rory menarik Nayla dalam pelukannya,dan dengan mudah mengangkat tubuhnya serta memutarnya.Nayla terkesiap.
"Heiii...Roy...Turunkan aku.."seru Nayla memukul bahu Rory.
"Aku....sangat..bahagia...apa kau tau itu?"kata Rory setelah menurunkan Nayla,melonggarkan tangannya namun tidak melepaskan pelukannya.Yang dilakukan Rory justru menempelkan dahinya didahi Nayla.
"Aku mencintaimu,,Aku sungguh mencintaimu,,"kata Rory mengeratkan pelukannya lagi.
"Mereka melihat kita Roy."bisik Nayla melirik pelayan dan pemain biola yang berdiri disana.
Akhirnya Nayla pun membalas pelukan Rory dengan senyum dibibirnya.Meletakkan kepalanya di dada Rory.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini,anginnya sudah semakin dingin"bisik Rory,
Nayla menganggukkan kepalanya setuju.Rory meraih tangan Nayla dan menjalinkan jari jarinya disana,meninggalkan atap dimana dia bisa mendapatkan cinta dari wanita yang dicintainya.
Mereka mencapai mobil dan pergi meninggalkan hotel dengan kebahagiaan yang memenuhi hati mereka.
"Boleh aku menanyakan sesuatu Roy?"tanya Nayla ketika mobil mulai berjalan.
"Tanyakanlah."kata Rory menoleh sesaat dan beralih kejalan lagi.
"Saat kamu mengatakan pertama kali melihatku,apakah maksudmu di cafe saat aku mengembalikan dompetmu?"tanya Nayla.
'Pada akhirnya aku memang harus tetap mengatakan hal itu padanya.tapi kurasa itu akan membuatku lebih lega'pikir Rory
"Jauh sebelum itu."jawab Rory.
"Sebelum itu?"Nayla berbalik menghadap Rory."Apakah sebelum itu kita pernah betemu?"tanya Nayla dengan kening berkerut.Berusaha mengingat sesuatu.
"Entah kenapa aku jadi terpikirkan di ruangan pak Darwin."kata Nayla tanpa sadar.
"Memang benar kita bertemu lagi disana,tapi masih sebelum itu."timpal Rory.
"Ehh,,jadi yang diruangan pak Darwin itu kamu?"tanya Nayla terkejut.
"Ya,,apakah kau tak ingat?"tanya Rory.
"Emmm,,,saat itu entah kenapa banyak hal yang aku lupakan karena suatu hal."kata Nayla beralasan.
'itu adalah hari dimana aku dapat kabar Rose akan pindah kan?'bisik hatinya.
__ADS_1
"Lalu..?"tanya Nayla lagi
"Apakah kamu ingat saat malam hari ditaman.?"tanya Rory menoleh sebentar dan melihat Nayla menaikan alisnya.
"Air mancur..."kata Rory.
"Tunggu tunggu tunggu...apa?kau bilang apa?jangan bilang kalau yang waktu itu.."tanya Nayla membelalakan matanya.
"Ya,,kau tak salah dengar Nay..Air mancur.Pria berjaket hitam,topi dan masker hitam.itulah Aku."potong Rory.
Seolah beban dibahunya diangkat Rory tertawa pelan merasa lega,lalu mendesah sebelum berkata,
"Saat itulah aku melihatmu pertama kali.dan saat itulah aku tertarik padamu."ungkap Rory.
"Dan siapa sangka,dompet itu milikmu,dan aku justru membawanya pulang,bukan langsung memberikannya padamu."kata Nayla lalu tertawa.
"Saat itu kau menerima telepon,dan sudah disana dalam waktu yang lama."kata Rory mendesah pelan lalu melanjutkan,
"Sejujurnya,saat itu aku merasa sangat bersalah padamu,terlebih ketika bertemu denganmu lagi dicafe."kata Rory.
"Kenapa begitu?"tanya Nayla.
"Secara tak langsung aku telah membuatmu duduk menunggu disana berjam jam hanya karena dompetku."terang Rory.
"Tunggu tunggu tunggu.."Nayla menyela lalu menatap Rory yang tengah mengemudi,Rory menoleh sebentar,namun Nayla justru mulai tertawa.
"Apa..?"tanya Rory heran.
"Kurasa itu menjelaskan sesuatu."kata Nayla menahan tawa namun gagal.
"Hei,,,ayolah..katakan padaku,apa yang membuatmu tertawa seperti itu?"tanya Rory heran.
"Sebelum itu,aku akan bertanya satu hal padamu,"kata Nayla.
"Oke..lanjutkan."kata Rory.
"Apakah karena hal itu yang membuatmu tersedak tiba tiba saat itu?"tanya Nayla.
Tawa Nayla pecah lagi saat melihat wajah Rory memerah dan melanjutkan kalimatnya.
"Kau tertangkap Roy.."kata Nayla menutup mulutnya.
Tiba tiba Rory menghentikan mobilnya,lalu dengan gemas mengelitik Nayla.
"Aahh,,,cukup cukup..hentikan.."teriak Nayla karena geli.
"Tidak akan."jawab Rory menyeringai,"Kau sangat menikmati mengodaku bukan?"kata Rory masih terus mengelitik Nayla.
"Kau benar benar akan ditangkap karena berhenti dijalan"kata Nayla berharap Rory berhenti.
"Ohh,,,benarkah??Sayangnya itu tak akan terjadi."kata Rory percaya diri.
"Tidak..tidak..ampun...cukup..Roy.."Nayla berusaha menghindar dan menepis tangan Rory.
Nayla tertawa karena Rory terus mengelitiknya.Dengan mudah Rory menagkap tangan Nayla dan mencengkram pergelangan tangannya.
Tawa Nayla mereda,diganti dengan mata Rory yang menatapnya dalam.Wajah mereka yang sangat dekat membuat mereka tidak bisa memalingkan wajah mereka.
"Teruslah tertawa seperti ini Nay,aku suka melihatmu tertawa.dan jangan hilangkan senyum itu dari bibirmu."ucap Rory
Perlahan Rory mendekatkan wajahnya,dengan lembut mencium kening Nayla.menumpahkan kasih sayang nya,rasa peduli dan ingin melindungi apapun yang terjadi.
Rory kembali menjalankan mobilnya hingga tiba diapartemen Nayla.
"Beri tau aku ketika kau sampai Roy."kata Nayla setelah keluar dari mobil dan berdiri disisi luar mobil.
"Pasti"jawab Roy mengedipkan matanya."Bye Nay"kata Rory.
"Bye.."balas Nayla melambaikan tangan,
__ADS_1
Dengan senyum cerah,Rory meninggalkan apartemen Nayla.Saat itu juga Nayla menatap kepergian Rory dengan senyuman.Nayla berbalik ketika mobil Rory menghilang dari pandangannya.
...****************...