LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
87. Merencanakan hal berbeda


__ADS_3

##Ruang latihan.


Rory meminta teman-temannya untuk tidak kembali ke kamar setelah mereka selesai latihan. Dengan badan yang masih penuh keringat, mereka duduk dilantai menunggu Rory bebicara.


"Aku,,,,, berencana melamar Nayla," ungkap Rory setelah lama terdiam.


Hening. . . . .


Keheningan menyelimuti mereka ketika mendengar pernyataan Rory. Selama beberapa saat mereka hanya saling pandang seolah ingin menyatukan pikiran mereka apakah mereka salah mendegar atau tidak.


"EEEHHHHHHH,,,,,??????" serentak mereka mengeluarkan suara terkejut.


"Kamu serius?" tanya Thomas.


"Ya,, aku sudah memikirkan ini sejak lama, hanya saja aku belum bisa mengatakannya kepada kalian semua," terang Rory.


"Aku tidak memiliki keluhan tentang hal ini, aku justru akan mendukung penuh," sambut Ethan.


"Dua suara," celetuk Nathan mengangkat tangannya sembari tersenyum setuju.


"Tiga," sambung Thomas.


"Bagaimana mungkin aku menolak orang sepertinya masuk ke keluarga kita? Tentu saja aku setuju," tutur Kevin.


"Dengan ini, itu artinya semua setuju," sambung Martin.


"Jadi, kamu juga setuju? Tidak memiliki keluhan tentangnya?" tanya Rory.


"Sama sekali tidak," jawab Martin. "Kapan kamu akan melamarnya?" tanyanya.


"Apakah memungkinkan jika aku melakukannya ketika kita datang ke acara itu?" harap Rory.


"Hei,,, kurasa itu adalah saat sempurna," sambut Ethan.


"Itu artinya, kamu harus memastikan dia datang," sambung Nathan.


"Aku akan pastikan dia datang, bahkan jika itu harus menjemputnya," timpal Martin.


Mendapat dukungan penuh dari teman-temannya, menghadirkan seutas senyum dibibir Rory. Ia menatap mereka secara bergantian, berbagai hal yang telah berlalu seolah terputar kembali didepan matanya.


Saat dimana Martin dan Kevin menentang hubungan mereka, saat dimana dirinya hampir goyah dan meragukan Nayla, serta semua perjuangan Nayla juga pengorbanan yang telah dilakukan olehnya.


Kini, mereka mendukung penuh tanpa keluhan sedikitpun. Tak jarang mereka justru memperebutkan Nayla hanya untuk ikut bersama mereka sekedar makan bersama ataupun melakukan sesuatu untuk menghabiskan waktu. Terutama jika itu tentang buku.


Rory terseyum penuh rasa terima kasih menatap teman-temannya.


##### Di kantor redaksi.


Dihari berikutnya, Nayla datang kekantor karena suatu alasan. Ketika ia mendapatkan aa yang diperlukan dan berencana langsung pulang, ia segera mengurungkan niatnya saat melihat Adrian memiliki banyak hal yang harus dikerjakan. Tak tega dengan hal itu, Nayla berbalik membantu alih-alih pulang namun pikirannya hanya tertuju pada Rory.


"Kamu mendapat undangan untuk menjadi bintang tamu di sebuah acara siaran langsung. Apakah kau mau menerima undangannya atau seperti biasa aku tolak saja?" tanya Adrian tetap sibuk dengan pekerjaannya.


"Apakah mereka terburu-buru untuk mendapatkan jawabannya?" tanya Nayla.


"Ti-dak,, tunggu,, tunggu,,, " Adrian menoleh cepat menatap Nayla tak percaya.


"Apakah telingaku bermasalah hari ini? Apakah kamu mengatakan sesuatu, Nay?" ulang Adrian.


"Kau jelas mendengarku, kenapa aku harus mengulanginya?" sambut Nayla tertawa ringan.


"Jadi, kamu akan memikirkannya? Bukan menolak tanpa alasan seperti biasanya? Sungguh? Kamu Nayla kan?" berondong Adrian.


"Ucapanmu terdengar aku telah mengatakan hal aneh, kau tau?" sambut Nayla.


"Jangan salahkan aku," bela Adrian. "Kaulah yang membuat kesan seperti itu," lanjutnya.


"Apa yang biasa aku katakan padamu sebagai jawabannya?" tanya Nayla penasaran.


"Ehem,, begini," Adrian berdeham, lalu menegakkan tubuhnya. "Buatlah alasan apa saja yang terdengar masuk akal untuk menolak tawaran mereka tanpa menyinggung mereka,"


Adrian menghembuskan nafas setelah berhasil menirukan cara Nayla berbicara dengan melipat tangannya dan memasang wajah datar.


"Itu yang selalu kau katakan padaku. Mendengarmu mengatakan hal berbeda membuatku ragu apakah yang ada di depanku sekarang adalah Nayla atau bukan," sambung Adrian.


Sikap spontan Adrian membuat Nayla gagal menahan tawanya. Hal itu membuatnya menyadari satu hal, bahwa dirinya selama ini telah menutup rapat dirinya sendiri dari dunia luar.


Perubahan sikap yang terjadi pada Nayla terlihat ketika Rory masuk kedalam kehidupannya. Dan ia sadar akan hal itu.

__ADS_1


Adrian bukan satu-satunya yang menyadari perubahan itu. Tapi, Chris, teman-teman satu kantornya bahkan beberapa pengemarnya merasakan perubahan yang terjadi dengan mengatakan karya barunya terasa lebih hidup.


Setelah pernyataan Nayla yang setuju untuk hadir manjadi bintang tamu, Adrian mengurus semua hal yang diperlukan.


...****************...


### Beberapa hari sebelum acara.


Nayla memarkir mobilnya didepan gedung dimana Rory tinggal dan segera masuk. Dalam perjalanan menuju ruang latihan, ia kembali memeriksa ponselnya untuk memastikan sekali lagi Rory meminta untuk menemuinya disana.


Ketika Nayla membuka pintu, segera ia menangkap suasana berbeda. Thomas, Ethan dan Nathan terlihat kesal namun berusaha menyembunyikan perasaan mereka saat melihat Nayla datang.


"Akhirnya,,,, kamu datang,,,"


Entah sejak kapan, Rory telah memeluknya dari belakang. Mengistirahatkan kepalanya dibahu Nayla.


"Apa yang membuatmu begitu lama?" keluhnya.


"Hei,,, tidak bisakah kamu melihat keadaan?" desis Nayla melirik mereka yang berada didalam ruang latihan.


"Abaikan saja! Lagi pula kami baru saja bisa beristirahat setelah latihan panjang," jawab Rory tanpa mengangkat kepalanya.


"Haruskah kami keluar? Kau benar-benar menganggap kami tidak berada disini, Rory," sindir Ethan.


"Atau, setidaknya pergilah keluar dan belikan kami sesuatu dengan sisa tenagamu," timpal Nathan.


"Itu akan sangat membantu dari pada sekedar menghabiskan sisa tenagamu dengan berdiri seperti itu," sambung Thomas.


Nayla segera mengarahkan pandangannya pada mereka bertiga. Sedikit takjub dengan suara sarkas yang keluar dari mulut Thomas yang ia kenal sebagai sosok paling bijak dibandingkan yang lain. Disampinya, Kevin hanya mengelengkan kepala sembari meletakkan tangan didahinya, merasa frustasi.


"Ada apa sebenarnya dengan kalian bertiga? Kalian terlihat kesal ketika aku masuk," tanya Nayla.


"Jangan ditanya," sambut Rory mulai mengangkat kepalanya.


"Mereka bertiga sukses membuat kepala Martin terbakar karena sikap mereka," jelas Rory.


"Latihan yang seharusnya hanya empat jam menjadi delapan jam, bayangkan saja," sambung Kevin.


"Hei,,, hentikan!" seru Ethan.


"Kenapa? Merasa harga dirimu jatuh?" sindir Rory tersenyum skeptis.


"Lucu sekali, kamu bersikap begitu karena merasa Nayla akan berada dipihakmu," cibir Nathan.


"Oh,,, jelas. Karena itu adalah hal pasti dimana kalianlah yang berada disisi salah saat ini," sambut Rory percaya diri.


"Tck,,," decak Ethan.


"Ada apa sebenarnya?" sela Nayla.


"Mereka hanya tidak mendapatkan buku favorit mereka dan melampiaskan kekesalan mereka pada kami yang tidak terlibat apapun," ungkap Rory.


"Itu bukan sekedar HANYA," sambut Nathan cepat.


"Kami sudah menunggu lama dan kehilangan kesempatan mendapatkan buku, bahkan sampai dua buku," timpal Thomas.


"Buku? Kalian bertengkar hanya karena buku?" Nayla menyipitkan matanya.


"Kamu bahkan bersikap sama seperti Martin, Rory dan Kevin," keluh Ethan.


"Aku tidak bermaksud begitu, tapi aku hanya tidak mengerti kenapa harus seperti ini karena buku?" ucap Nayla.


"Bukankah kalian bisa mendapatkan buku dengan mudah ditoko buku mana saja?" tanya Nayla.


"Tidak sesederhana itu," jawab Nathan.


"Buku itu tidak dicetak ulang dan hanya satu kali terbit ketika ada judul baru, dan itu sudah terjual habis," sambung Ethan.


"Kami gagal mendapatkan edisi khususnya bahkan edisi setelahnya," gerutu Thomas.


"Apakah dia Thomas yang aku kenal?" celetuk Nayla mengaruk kepalanya sembari tersenyum miris.


Kevin segera menyemburkan tawa, disambung Rory yang berada disampingnya dengan melingkarkan tangan dibahu Nayla.


"Nayyy,,," protes Thomas.


"Oke,,Oke,, aku mengerti," sambut Nayla mengangkat tangannya.

__ADS_1


"Buku apa sebenarnya yang kalian bicarakan?" tanya Nayla.


"NYLOES,,," mereka bertiga serentak menjawab.


Nayla membelalakan matanya mendengar jawaban serentak dari mereka.


'Entah kenapa aku merasa sangat bersyukur dengan mereka gagal mendapatkan buku itu,' batin Nayla tersenyum kaku.


"Apakah kamu mendapatkan buku itu?" tanya Ethan.


"Kalian tau aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan buku Sir Arthur kan? Bukan buku itu," kilah Nayla.


"Tck,,, sepertinya kamu juga tidak mendapatkannya," decak Nathan.


Nayla menghela nafas panjang, bingung dengan situasi yang ada didepanya. Ia berpikir keras untuk mengingat apakah salah satu dari mereka pernah mengirim surat padanya. Namun, Nayla jelas tidak mengingat apapun tentang surat dari mereka. Mungkin, dirinya bisa memberikan buku untuk mereka melalui surat. Tapi, jika dia menyarankan mereka untuk mengirim surat, mereka justru akan memiliki banyak pertanyaan untuknya.


"Hei,,, Ayolah,,, jangan seperti ini," hibur Nayla.


"Jika kalian tidak mendapatkannya, masih ada kata lain waktu bukan?" lanjutnya.


"Atau,, kalian hanya ingin memperlihatkan pertengkaran seperti ini padaku?" sindir Nayla.


"Mana mungkin!" sanggah Ethan.


"Rory memintamu untuk datang karena kami juga perlu membicarakan sesuatu padamu," imbuhnya.


"Hal penting?" tanya Nayla dengan alis terangkat.


"Ya dan tidak," sela Thomas.


"Jadi, katakan apa itu!" pinta Nayla.


"Tunggu Martin kembali, dia yang akan menjelaskan semuanya," jawab Nathan.


"Kenapa Martin?" Nayla mengerutkan keningnya.


"Karena ini tentang acara yang akan kita hadiri, tentu saja semua jadwal dan hal yang diperlukan ada padanya," jelas Kevin.


"Ahh,, begitu. Aku mengerti," sambut Nayla.


"Baiklah, sekarang berhentilah memasang wajah masam kalian!" pinta Nayla.


"Pernahkah kalian mendengar tentang konsep Stoicism?" tanya Nayla.


"Apa itu?" tanya Rory.


"Filsuf Yunani kuno Zeno dari Citium di kota Athena di awal abad ke-3 SM?" jawab Thomas bertanya.


"Benar," sambut Nayla tersenyum.


"Apa lagi itu?" sela Kevin.


"Jangan menggunakan bahasa yang hanya kalian berdua mengerti artinya!" protes Ethan.


"Teori Stoicism berfokus pada hal yang bisa kamu kendalikan dan menyadari ada banyak hal di luar kendalimu," jelas Thomas.


"Stoicism mengajarkan kepada kita untuk tidak bergantung pada hal-hal diluar kendali kita. Jika kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan, jangan bertanya mengapa? Bukankan lebih baik melakukan hal lain yang bisa kita andalkan, alih-alih hanya melampiaskan kekesalan kita yang justru merugikan diri kita sendiri?" tutur Nayla.


"Kita tidak bisa selalu terus mendapatkan apa yang kita mau bukan? Terlebih ini hanya tentang buku. Kalian tidak berpikir bahwa buku bisa kalian dapatkan karena merasa bisa mengendalikan orang lain untuk tidak mendapatkannya kan?" tanya Nayla.


"Aku hanya_,,,," Ethan gagal melanjutkan kalimatnya.


Nathan dan Thomas terdiam. Kini mereka merasa konyol akan diri mereka sendiri. Meski sisi hati mereka tetap menyayangkan karena mereka tidak bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan, namun mereka merasa jauh lebih baik.


"PROK,,,! PROK,,,! PROK,,,!"


Suara tepuk tangan muncul dari ambang pintu, memperlihatkan Martin tersenyum puas melihat hal yang tak pernah ia lihat selama bersama mereka.


"Sepertinya ada yang bisa kuandalkan untuk mengurangi stres yang kurasakan hasil dari perbuatan kalian ya?" ucap Martin.


Dia menatap Nayla dengan senyum terima kasih. Merasakan bebannya sedikit berkurang hanya dengan Nayla bisa meredam pertengkaran konyol dari teman-temannya.


"Baiklah. Kita langsung saja karena Nayla sudah datang," ucap Martin tanpa basa-basi.


Nayla menerima jadwal yang akan dilakukan mereka di akhir pekan dimana ia akan turut hadir di acara tersebut. Jadwal acara tersebut tepat sehari sebelum acara yang dijadwalkan Adrian padanya. Hal itu membuat Nayla menyembunyikan senyum leganya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2