
Didalam sebuah gedung yang tengah mengadakan sebuah acara siaran langsung, dimana dikunjungi oleh banyak orang, yang sebagian besar adalah pengemar grup FM
Perwakilan dari berbagai media televisi dan surat kabar turut hadir dalam acara itu. Bahkan beberapa orang penting dari agensi musik menghadiri acara tersebut.
Rory dan tim turun dari mobil. Menimbulkan keributan kecil dimana mereka berebut untuk menyorot Rory dan menyanyakan berbagai pertanyaan.
Namun penjagaan yang diperketat membuat usaha mereka gagal untuk mendekati Rory. Mereka segera masuk kedalam gedung dan memasuki ruang tunggu hingga acara dimulai.
Betapa terkejutnya Rory ketika ia masuk kedalam ruang tunggu, orang tuanya telah berada disana menunggu kedatangan mereka. Tersenyum lembut menyambut mereka.
"Mama,,, Papa,,," sambut Rory.
"Bagaimana kalian bisa berada disini?" tanya Kevin terkejut.
Kedua orang tua Rory memeluk Kevin dan Rory secara bergantian.
"Aku bisa jelaskan semuanya, Ma," ucap Rory membuka suara.
"Mama datang bukan untuk penjelasanmu, mama percaya padamu. Semua yang kamu lakukan tentu sudah dipikirkan dengan baik," sambut Gloria tersenyum.
"Apakah kau menceritakan semuanya, Kevin?" tuduh Rory.
"Dasar, kamu masih saja nakal," ucap Gloria menarik telinga Rory.
"Aahhh,,,, Ma,,, " keluh Rory mengusap telinganya.
" Kevin justru menutupi semuanya, karena tau kamu tidak akan menyukainya," sambut Gloria.
"Daripada itu, bagaimana dengan keadaan wanita itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Vincen (ayah Rory).
"Dia_,,,," Rory mengigit bibir bawahnya.
"Kalian tidak putus hubungan karena hal ini kan?" sela Gloria.
"Tuntu saja tidak," jawab Rory cepat.
"Tapi_,,," Rory kembali mengantung kalimatnya. Tidak tau bagaimana harus menceritakannya.
"Maaf menyela, tante," sela Thomas sopan.
"Bolehkah saya saja yang menjelaskannya?" tawar Thomas.
"Kenapa?" tanya Gloria bingung.
Gloria menatap Rory yang kini menghindari tatapannya. Namun justru memperlihatkan kemurungan diwajahnya. Melihat hal yang tidak biasa, Gloria akhirnya mengangguk dan mengikuti Thomas duduk di sofa yang ad disudut ruangan.
Thomas dengan hati-hati menceritakan semuanya secara singkat. Baik Vincen maupun Gloria sama-sama membelalakan mata mereka.
"Jadi dia masih dirawat?" tanya Gloria tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Benar. Kami masih merahasiakan acara hari ini darinya. Akan lebih baik jika dia tidak tau tentang rencana ini," terang Thomas.
"Apakah dia baik-baik saja?" tanya Vincen.
"Saat kami meninggalkannya, kondisinya telah membaik," jawab Thomas.
"Sekarang apapun yang akan Rory lakukan, aku akan mendukungnya. Tidak peduli apapun yang akan terjadi nanti," ungkap Gloria.
"Yah,,, aku akan melakukan hal yang sama," sambut Vincen.
"Tapi, apakah dia akan baik-baik saja kalian tinggalkan begitu saja,?" tanya Gloria.
"Siang nanti, Kevin akan kembali lebih dulu. Selain itu, dokter yang merawatnya adalah kakaknya sendiri, jadi itu mengurangi kekhawatiran kami," terang Thomas.
"Thomas, sudah saatnya,"
Suara Martin menyela mereka, memutuskan obrolan mereka begitu saja.
__ADS_1
Gloria memiliki banyak pertanyaan yang akan dia ajukan, sayangnya waktu yang mereka miliki tidaklah cukup untuk menjelaskan lebih detail tentang yang terjadi.
Meski begitu, kedua orang tua Rory mulai bisa sedikit meraba bagaimana hal itu terjadi.
"Aku segera kesana," sambut Thomas.
"Maaf, Om, Tante, saya undur diri dulu, maaf tidak bisa menjelaskan lebih rinci dari ini," sesal Thomas.
"Kau bisa menjelaskan itu nanti, Thomas. Pergilah," balas Gloria.
Thomas mengangguk dan membungkkukan badanya dengan sopan sebelum pergi meninggalkan mereka berdua.
"Baru kali ini aku mendengar ada wanita yang rela melakukan hal nekat seperti itu hanya untuk seseorang yang penting baginya. Dan itu adalah anak kita," gumam Vincen.
"Jadi, maksudmu, papa menyetujui hubungan mereka bahkan sebelum bertemu dengan wanita yang dicintai Jo?" tanya Gloria.
"Tentu saja, hal itu sudah membuktikan dia adalah wanita baik-baik. Bahkan Jo juga sampai melakukan hal ini.Hal terpenting adalah, Jo mencintainya," sambut Vincen.
"Aku setuju akan hal itu," sambut Gloria. "Ayo kita lihat apa yang akan dikatakan Jo didepan publik mengenai hal ini," sambungnya
Mereka keluar dari ruangan dan duduk di kursi penonton, bergabung dengan beberapa orang penting lainnya. Menanti dimulainya acara yang akan di siarkan secara langsung.
Seorang pembawa acara memsuki ruangan, mengucapkan beberapa kata dan mempersilahkan Rory beserta timnya untuk duduk disofa yang telah disediakan.
"Ace,apakah benar anda menjalin hubungan dengan wanita yang ada difoto itu sesuai rumor yang beredar?"
Suara seseorang menyela sebelum pembawa acara kembali berbicara. Suara yang berasal dari barisan bangku penonton dengan sebuah catatan ditangannya. Beberapa kamera fokus menyorot wajahnya.
"Apa yang membuat anda mau menjalin hubungan dengan wanita yang bahkan tidak bisa disebut baik?" timpal yang lain.
"Siapa sebenarnya wanita ini?" timpal yang lain lagi.
"Tolong tetap tenang," pinta pembawa acara. "Kita akan membicarakan tentang itu, jadi mohon tetap tenang," ucap pembawa acara.
"Reputasi anda bahkan bisa hancur dalam sekejap jika anda bersama wanita seperti itu," sambung yang lain lagi, mengabaikan si pembawa acara.
"Benar, apakah kamu akan menghancurkan reputasimu hanya untuk wanita seperti itu?" salah satu pengemar Rory berseru menimpali.
Rory mengepalkan tangannya, bersiap meledakan emosinya, ketika tangan Thomas berada dibahunya untuk menenangkannya, membuatnya mengurungkan niatnya.
Rory menatap pembawa acara yang terlihat bingung dengan situasi yang tiba-tiba riuh dan memberondong Rory dengan pertanyaan hingga mengabaikan dirinya yang menjadi pembawa acara saat ini.
Rory segera mengangkat tangannya, memberi isyarat agar tenang. Dan benar saja, mereka yang semula ribut, berubah tenang begitu saja.
"Saya akan menjawab semua pertanyaan yang kalian ajukan kepada saya," ucap Rory ketika suasana berubah hening.
"Tapi, sebelum itu, beri saya waktu sepuluh menit saja untuk menceritakan sesuatu kepada kalian," ucap Rory lagi.
"Wanita itu ya?" Rory berkata lalu mengedarkan pandangannya dengan tatapan sinis.
"Kalian menyebutnya dia bukan wanita baik? Dan dia tidak pantas berada disisi saya? Jadi menurut kalian siapa yang lebih pantas darinya?" paparnya.
"Dia adalah Nayrela_,,,"
"Ada yang bilang dia hanyalah karyaw_,,,," seseorang memotong penjelasan Rory namun dengan cepat Rory kembali momotong pertanyaanya.
"Saya belum selesai bicara," potong Rory meninggikan suaranya. " Jadi tolong dengarkan, dan setelah saya selesai anda bisa bertanya apapun kepada saya," tegas Rory.
Semua orang yang berada disana bungkam seketika.
"Dia adalah Nayrela. Yang saya tau dia memang hanya seorang karyawan biasa disebuah kantor redaksi percetakan buku. Dia adalah seorang wanita yang sama seperti kalian yang ada disini, seorang wanita biasa yang ingin jatuh cinta dan dicintai," jeda sesaat.
"Jika kami saling mencintai? Dimana letak salahnya? Apakah hanya karena dia orang biasa? Hingga dia tidak pantas untuk dicintai? Bahkan jika orang itu adalah saya yang mencintainya?" tanya Rory.
"Apakah kalian berpikir dia hanya menginginkan popularitas dan kekayaan yang saya miliki? Kalau begitu, katakan kepada saya tentang satu hal," pinta Rory.
Rory menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Saya akan memperlihatkan kepada kalian sesuatu, lihat baik-baik, dengarkan dan kalian bisa menilai setelahnya," ucap Roy.
Rory menoleh pada Martin yang segera menghidupkan laptopnya yang telah terhubung dengan layar dibelakang mereka.
Rekaman CCTV yang memperlihatkan Nayla berjalan memasuki sebuah gang dimana beberapa pria duduk disana terekam.
Setelah rekaman CCTV diperlihatkan, suara rekaman yang berhasil Rory rekam melalui Nayla pun diputar.
Mereka mendengarkan semua kalimat yang dikatakan oleh suara beberapa pria yang berbeda. Yang sangat jelas menyebutkan mereka sengaja menjebak Nayla atas perintah seseorang. Merekayasa semua foto yang mereka sebarkan.
Mereka bahkan mendengar suara ketika para pria itu menyiksa Nayla. Suara rintihan kesakitan yang terdengar memilukan, dan berakhir dengan suara keras seperti ponsel yang dihempaskan dengan kasar.
Rekaman kembali beralih pada CCTV yang memperlihatkan Rory dan teman-temannya tiba di gang yang sama dan keluar setelah beberapa menit dengan Nayla yang berada digendongannya dengan keadaan tidak sadarkan diri dan tubuh penuh luka.
Mereka yang melihat hal itu tanpa sadar menitikan air mata. Beberapa orang menutup mulutnya, dan menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Disaat kalian sibuk dengan hujatan kalian terhadapnya, dia justru sibuk mencari cara untuk membersihkan namaku," ucap Rory lagi menahan amarahnya. Menghilangkan sikap formalnya. "Mengorbankan dirinya sendiri untuk sebuah bukti bahwa aku hanya di jebak," imbuhnya.
"Dan kalian yang menggaku sebagai pengemarku, hanya menyudutkan orang yang bahkan tidak melakukan apapun, termasuk menyudutkan kami,"
Ungkapan pedas Rory membungkam semua orang yang hadir dalam acara itu. Tak satupun bisa mengeluarkan suaranya.
"Kalian mengkhawatirkan reputasiku? Apakah itu yang terpenting bagi kalian? Jika mencintainya aku harus mengorbankan itu semua, maka itulah yang akan aku laukuan,"
"Aku tau, aku bisa sampai dititik ini itu semua juga berkat dukungan dari kalian semua yang menjadi pengemar kami. Tapi, katakan padaku! Apakah aku yang mencintainya adalah sebuah kesalahan?"
"Jika dengan hal ini kalian berbalik arah membenci kami, kami siap menerimanya. Bahkan jika kalian ingin kami berhenti dari dunia musik sekalipun, kami akan dengan senang hati melakukannya," tegas Rory.
"Baiklah, kalian bisa mengajukan pertanyaan," ucap Rory.
Semua orang menundukkan kepalanya, tidak ada yang berani membuka suara dan mengangkat kepala mereka.
Hingga sesi pertanyaan selesai, mereka hanya diam dan membiarkan Rory dan teman-temannya kembali keruang tunggu untuk sesi pertemuan khusus dengan beberapa agensi.
Rory duduk bersandar diruang tunggu dan menutupi wajah dengan tangannya. Ia bergeming saat seseorang menyentuh bahunya.
"Biarkan aku seperti ini sebentar saja, Thomas. Aku hanya perlu waktu untuk bernafas," ucap Rory tanpa menurunkan tangannya.
Tangan dibahunya justru meremas lembut. Mengenali tangan yang ada dibahunya, Rory mengangkat tangannya dan melihat orang tuanya menatapnya lembut dengan berkaca-kaca.
Rory gagal menyembunyikan wajahnya yang telah basah oleh air mata.
"Mama,,," desis Rory mengusap wajah dan menghapus air matanya.
Gloria segera memeluk Rory dan mengusap punggung Rory dengan penuh kasih.
"Kamu mencintai wanita yang luar biasa, Jo. Mama akan selalu mendukungmu," bisik Gloria.
"Tapi mama minta maaf, karena tidak bisa menemuinya sekarang. Kami harus segera pergi. Karena pengakuanmu, beberapa orang yang menjalin kerja sama dengan papamu, menghubungi kami. Dan kami harus menyelesaikannya," terang Gloria.
"Aku mengerti," balas Rory.
Gloria melepaskan pelukannya dan memeluk Kevin sebelum pergi.
"Kamu bisa menghubunginya jika merasa khawatir, Rory," ucap Kevin setelah kedua orang tuangnya menghilang dari pandangan mereka.
"Tidak," jawab Rory mengelengkan kepalanya. " Aku percaya padanya, dan aku juga percaya padamu," sambungnya.
"Baiklah, aku akan kerumah sakit sekarang," ucap Kevin.
Rory mengangguk setuju. Karena sejujurnya dirinya sangat mengkhawatirkan Nayla. Semakin cepat Kevin kembali ke rumah sakit, rasa khawatir di hatinya sedikit berkurang.
Kini hanya mereka berlima yang masih tertinggal disana setelah Kevin pergi.
Kevin mengenakan masker dan topi yang menutupi sebagian wajahnya dan menyelinap keluar, sebisa mungkin menghindari media kembali ke rumah sakit.
...****************...
__ADS_1