
Disebuah ruangan yang dipenuhi dengan setelan jas dan gaun dengan cermin besar dibeberapa sudut ruangan yang dilengkapi dengan tirai besar
Nayla tengah duduk disofa dengan sebuah majalah ditangannya, namun matanya justru menerawang. Sesekali senyuman kecil tumbuh dibibirnya seolah baru saja mengingat hal lucu yang terbersit di pikirannya.
"TAAKK,,!!!"
"Auh,,," Nayla mengaduh saat seseorang menyentil dahinya.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya orang yang menyentil dahinya.
Lamunannya seketika buyar begitu saja. Dengan wajah merengut sembari mengusap dahinya, ia segera mendongak, bersiap untuk mengeluarkan argumennya.
Alih-alih mengeluarkan argumennya, Nayla justru menatap pria yang berdiri menjulang didepannya dengan mulut terbuka.
Ia mengamati tiap inci pria didepannya dengan tatapan tak percaya.
"Kau sudah menatapku tanpa mengatakan apapun selama lima menit, Ma Chéri, apakah seaneh itu penampilanku? Haruskah aku mencoba setelan lainnya lagi?" tanya Rory ragu sembari melihat penampilannya sendiri dan bersiap pergi.
Ini adalah setelan ke tujuh yang sudah ia coba, dan Nayla belum memberikan respon positif sekalipun padanya.
"Tidak,,,tidak,,tidak,, ini sempurna," ucap Nayla menahan tangan Rory agar tidak pergi.
"Ini terbaik dari yang terbaik," imbuhnya seraya berdiri.
Nayla mengitari Rory dan menatapnya dengan decakan kagum.
Setelan tuxedo putih melekat sempurna ditubuhnya. Dalaman berwarna gelap dengan dasi yang memiliki warna sedikit lebih terang dibalut jas putih dan celana putih membuat penampilan Rory berbeda dari biasanya saat dirinya mengenakan setelan jas lain.
Nayla mengulurkan tangannya dan merapikan rambut Rory dengan sedikit berjinjit.
"Hanya perlu sentuhan akhir di rambutmu, dan penampilanmu akan luar biasa," puji Nayla tersenyum tulus.
Tangannya beralih merapikan dasi Rory, hingga membuat tatapan mereka terkunci satu sama lain. Dengan gerakan lembut, Rory melingkarkan tangnnya dipinggang Nayla dan menariknya mendekat, lalu mencondongkan wajahnya.
"Jika kau terus menatapku seperti itu, aku tidak yakin apakah aku masih bisa mengendalikan diriku sendiri," bisik Rory saat mendekatkan bibirnya ditelinga Nayla.
Rory sedikit menjauhkan wajahnya, namun Nayla justru melingkarkan tangannya dileher Rory.
"Oh,, benarkah? Aku penasaran seberapa baik kamu dalam mengendalikan diri" tantang Nayla sembari mendekatkan wajah Rory kearahnya.
"Kau semakin berani belakangan ini, apakah kau sadar akan hal itu, Ma Chéri?" jawab Rory pelan.
"Entahlah," jawab Nayla menaikan bahunya. "Jika memang demikian, kaulah yang harus disalahkan karena kaulah yang mengajariku," sambungnya.
"Hemm,,," seringai tumbuh dibibir Rory. "Aku tak keberatan tentang itu selama kau menunjukan sikap ini hanya padaku," balas Rory.
"Ekhmm,,"
Suara dehaman orang lain membuat mereka berdua menoleh sekilas lalu tertawa ringan. Nayla melepaskan tangannya, begitu pula dengan Rory yang melepaskan Nayla.
"Ehmm,,, apakah anda menyukai setelan yang ini nona?" tanya pelayan toko tersenyum.
"Lebih dari sangat, secara pribadi aku akan memilih ini, tapi_,,," Nayla mengantung kalimatnya seraya menatap Rory.
"Apakah kamu nyaman dengan setelan ini atau tidak, Roy?" lanjut Nayla bertanya.
"Dibandingkan dengan yang sebelumnya, ini yang terasa paling nyaman, jadi aku akan mengikuti keputusanmu," jawab Rory.
"Kalau begitu, kami ambil yang ini untuk tuxedonya," ucap Nayla beralih pada pelayan toko.
"Baik," sambutnya dengan senyum ramah.
"Bagaimana dengan gaunnya, nona?" tanya pelayan lagi.
"Apakah anda juga akan mencobanya hari ini?" imbuhnya.
"Ah,, benar, kamu harus mencobanya, Ma Chéri, aku sangat ingin melihatnya," sambung Rory antusias.
"Bukankah sekarang giliranmu untuk mencoba?" imbuhnya.
"Oh tidak,,, bisakah kita melakukannya besok saja?" harap Nayla memasang wajah memelas.
"Hari ini sudah cukup melelahkan," imbuhnya.
"Tidak, besok kita memiliki hal lain untuk dikerjakan, jadi selesaikan hari ini juga," jawab Rory melipat tangannya.
"Huuh,, baik, jika itu akan terasa adil untukmu," sungut Nayla.
Rory terkekeh pelan saat Nayla pergi ke balik tirai untuk mencoba gaun sementara dirinya melepaskan tuxedo yang ia coba, lalu duduk disofa tempat Nayla tadi menunggu.
Rory melirik tas Nayla yang tergletak disofa, lalu meletakkan tas itu disampingnya.
__ADS_1
Menunggu Nayla keluar dari balik tirai, Rory tersenyum tipis saat mengingat mereka yang akan segera menikah. Dan disinilah mereka saat ini tengah memilih pakaian untuk pernikahan mereka.
Semula, Rory merasa akan sulit ketika ia ingin membicarakan tentang ini dengan Nayla. Tapi, entah kenapa semua berjalan dengan sangat mulus.
Kedua orang tua Chris yang menjadi wali untuk Nayla juga menyambut dengan antusias rencana ini. Karena mereka tidak pernah bertemu dengan Nayla sejak mereka pergi terakhir kali saat Nayla masih kecil, membuat mereka merasa tidak enak dengan hal itu.
Namun, Nayla justru yang meminta mereka, termasuk Chris untuk mendampinginya saat ia akan menikah, karena Nayla menganggap mereka keluarganya.
Kedua orang tua Rory juga membuka lebar tangan mereka meski dirinya telah menceritakan bahwa Nayla sebatang kara, namun kedua orang tua Rory hanya berpikir asalkan mereka berdua saling mencintai, maka mereka akan mendukung.
"SREEKK,,,!!"
Suara tirai dibuka menarik Rory dari lamunannya kembali ke kenyataan. Ia mengangkat wajahnya untuk melihat Nayla yang telah mengenakan gaun pengantin.
Gaun putih pertama yang di coba Nayla adalah gaun tanpa lengan.
Rory merasa itu cantik, namun segera mengeleng tidak puas. Hal itu membuat Nayla mengerutu pelan namun segera meminta pelayan toko yang membantunya memakai gaun menutup tirai untuk menganti dengan gaun lain.
Gaun kedua memberikan reaksi yang sama pada wajah Rory, hingga gaun ketujuh Rory masih menunjukan raut wajah yang sama.
Nayla berkacak pinggang sembari menyipitkan matanya, menatap Rory yang dengan santainya duduk disofa menatapnya.
"Apakah kau balas dendam padaku, Roy?" tanya Nayla.
"Apa yang bisa kukatakan? Gaun ini terlihat sama saja dengan gaun sebelumnya," sanggah Rory.
"Itu belum cukup untuk memperlihatkan siapa dirimu dengan gaun itu," tambahnya beralasan.
Nayla menghembuskan nafas menyerah, dan kembali menutup tirai.
"Bolehkah saya mengatakan sesuatu, nona?" tanya pelayan toko.
"Yah, tentu, katakan saja!" jawab Nayla.
"Sejujurnya dari gaun pertama hingga yang sekarang, semua tampak cantik saat anda mengenakannya. Namun, sepertinya tuan masih melihat hal yang kurang saat anda memakainya, sepertinya tuan sangat jeli dalam hal ini," ungkap pelayan toko tulus.
"Dan jujur saja, selama saya bekerja disini, saya belum pernah menemui seseorang yang cocok dengan semua gaun yang ada ditoko kami," pujinya tulus.
"Jangan berlebihan, itu hanya kebetulan. Dan untuk orang sepertinya, dia hanya memiliki seleranya sendiri saja," kilah Nayla.
Pelayan toko itu hanya tersenyum simpul. Menyadari Nayla hanya merendah. Ia kembali fokus membantu Nayla memakai gaunya dan kembali membuka tirai ketika selesai.
"Roy, cukup ini yang terakhir, aku mulai lelah. Terlebih lagi memakai gaun jauh lebih rumit dan lama," keluh Nayla putus asa.
"Tidak lagi,,, berapa gaun lagi yang harus ku coba?" keluh Nayla lagi.
"Tidak ada," jawab Rory tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Ini dia, ini yang aku maksudkan," seru Rory dengan mata berbinar.
"Akhirya," desah Nayla lega. "Sekarang bantu aku melepaskan ini," pinta Nayla kepada pelayan toko.
"Tunggu dulu," cegah Rory.
"Apa?" tanya Nayla. "Bukankah kamu memilih ini? Dan itu berarti selesai bukan?" imbuhnya.
"Kenapa terburu-buru sekali?" jawab Rory terkekeh pelan.
Rory menghampiri Nayla yang masih berdiri ditempatnya, ia mengerakkan tangannya memberi isyarat pelayan toko untuk meninggalkan mereka berdua dan memberi mereka sedikit waktu untuk privasi.
Pelayan itu tersenyum mengerti dan segera pergi tanpa suara, lalu menutup tirai pembatas ruangan.
"Sekarang aku tidak sabar untuk melihatmu di altar. Dan aku harus menunggu sampai hari itu," ucap Rory.
Rory kembali menarik Nayla kearahnya, melingkarkan tangannya dipinggang Nayla.
"Dan kau tau? Itu namanya penyiksaan," keluh Rory.
"Bukankah waktu untuk menunggu akan sepadan?" sambut Nayla.
"Yah,, kau benar," jawab Rory tersenyum.
Rory perlahan mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut kening Nayla, lalu tersenyum.
"Aku akan menunggumu diluar," bisik Rory.
Nayla mengngguk pelan, dan Rory pergi keluar bersamaan dengan pelayan toko yang kembali masuk untuk membantu Nayla melepaskan gaun yang ia pakai.
Mereka berdua segera pergi meninggalkan toko setelah urusan meraka selesai.
Waktu dengan cepat berlalu, kesibukan mereka bertambah menjelang pernikahan mereka. Mereka berdua bahkan tidak bisa bertemu karena kesibukan dan banyaknya hal yang harus diurus untuk pernikahan mereka.
__ADS_1
Berita tentang pernikahan mereka pun disambut dengan antusias oleh pengemar mereka masing-masing.
Hingga saat hari pernikahan mereka telah tiba, mereka berdua belum sempat bertemu sejak dua minggu terakhir. Mereka hanya saling berkirim pesan dan mengobrol melalui ponsel untuk melepas rindu mereka.
Nayla tengah berada didalam ruang rias dimana diluar telah dipenuhi para tamu yang menghadiri acara pernikahan mereka.
Acara pernikahan yang digelar ditempat terbuka, meja dan kursi yang tersusun rapi dangan berbagai makanan dan minuman telah tersaji diatas meja. Bunga, kain dan lampion juga turut menghiasi tempat pernikahan itu di langsungkan.
"Mama tak pernah menyangka, kamu akan secantik ini dengan gaun pengantin," ucap Gloria meneteskan air mata haru.
"Aku bahkan masih kalah jika dibandingkan dengan mama yang tetap cantik sampai sekarang," balas Nayla melihat Gloria dari cermin.
"Kamu tak pernah berhenti berbicara manis," jawab Grloria menyeka air matanya.
"Apakah kamu sudah siap?" tanya Gloria.
"Aku gugup sekali jika mama ingin aku jujur," jawab Nayla meringis.
"Itu adalah hal bagus, bukankan kamu tidak bertemu denganya selama beberapa hari?" goda Gloria.
"Ma,,," keluh Nayla.
"Tante turut bahagia dengan pernikahanmu, Louise," sela mama Chris.
"Aku juga tak kalah bahagia untukmu, Nay," ucap Rose.
Rose sengaja datang untuk acara pernikahan Nayla bersama keluarganya.
"Kau selalu menjadi yang terbaik, Rose," balas Nayla.
"Kami akan memunggu di luar," ucap Rose.
Rose keluar setelah mengecup pipi Nayla diikuti mama Chris dan Gloria.
Nayla keluar dari ruang rias dan di sambut Chris yang berdiri di depan pintu. Untuk sesaat Chris terpukau dengan Nayla yang kini didepannya dibalut gaun pengantin.
Chris segera mengulurkan tangannya, yang disambut Nayla.
"Kenapa kamu tegang sekali,?" tanya Chris terkekeh pelan menyadari Nayla mencengkran kuat lengan Chris.
"Aku menjadi lebih gugup lagi sekarang," keluh Nayla.
"Kamu cantik, Louise. Dan pengantin wanita tercantik yang pernah ku temui," ucap Chris berusaha menenagkan Nayla.
"Kamu siap?" tanya Chris.
Nayla menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan, meletakkan tangannya di lengan Chris.
"Hanya saja, jangan biarkan aku jatuh," harap Nayla.
"Tidak akan pernah," jawab Chris.
Mereka berdua mulai melangkah pelan menuju altar. Tiap langkah mereka membuat para tamu mengarahkan pandangannya kepada mereka berdua. Nayla melihat Rory menunggu diujung altar dengan senyum diwajahnya.
Hingga saat mereka berdua telah mencapai ujung altar, Chris mengulurkan tangan Nayla yang segera disambut Rory.
Nayla dan Rory saling menatap satu sama lain hingga mereka berdiri didepan imam yang akan menikahkan mereka.
Acarapun dimulai dengan tenang, hingga sampai pada pengucapan janji suci pernikahan mereka diucapkan. Mereka saling berhadapan dengan berpegangan tangan.
"Selamanya bersamamu saja tidaklah cukup, tetapi mulai hari ini dan seterusnya, aku bersumpah untuk memanfaatkan setiap momen sebaik mungkin. Kamu telah menjadikanku pria paling bahagia di dunia saat ini dengan setuju untuk berbai hidupmu denganku. Aku berjanji untuk berdiri disampingmu sebagai suami dan teman, dalam sakit dan sehat, sedih dan bahagia, damai dan kekacauan, selama kita berdua masih hidup, karena kamulah cinta dalam hidupku,"
Janji suci yang diucapkan Rory menggema mengisi keheningan.
"Kamu adalah segalanya yang pernah aku impikan dan semua yang aku butuhkan. Aku tidak hanya berjanji bahwa cintaku untukmu tumbuh setiap hari, tetapi aku berjanji untuk menjadi teman dan mitramu disetiap langkah, selalu ada untukmu dalam kemakmuran dan kemunduran, sehat dan sakit, dan akan disini bersamamu, untukmu, selamanya dan selalu,"
Nayla menyelesaikan janji sucinya setelah Rory.
"Aku berjanji untuk mencintaimu selamanya," ucap Rory dan Nayla bersama.
Rory menyematkan cincin dijari manis Nayla, dan bergantian Nayla menyematkan cincin dijari manis Rory.
Mereka kemudian berciuman yang disambut sorakan bahagia dari para tamu. Gloria kembali meneteskan air matanya dan tersenyum bahagia.
Kevin tesenyum puas, disertai teman-teman lainya yang turut bahagia atas pernikahan mereka.
Chris tak kalah bahagia dengan pernikahan mereka berdua hingga tanpa sadari ia meneteskan air mata.
Rory melepaskan Nayla dan memandangi wajah Nayla dengan cinta dimatanya, tersenyum bahagia, lalu mengedarkan pandangannya kepada seluruh tamu yang hadir, sedikit membungkukkan badannya diiringi dengan ucapan terima kasih.
Suara tepuk tangan dan sorakan bahagia kembali terdengar, bahkan lebih meriah lagi dibandingkan sebelumnya dari semua orang yang menjadi saksi atas pernikahan mereka.
__ADS_1
...********THE AND SEASON 1********...
See you in the bonus Chapter,,,