
Bob menjalankan mobilnya dengan mulus. Mereka berdua hanya berbicara seperlunya karena tidak ingin menganggu Nayla di kursi belakang yang mungkin saja tengah beristirahat.
Meskipun mereka tau Nayla tidak akan keberatan tentang hal itu, namun sikap Nayla yang selalu tidak membedakan tentang status mereka dan selalu bersikap ramah pada mereka, membuat mereka mencari cara sendiri untuk memberikan rasa nyaman pada Nayla selama bersama mereka.
Mobil yang dinaiki Nayla mulai melambat ketika memasuki area gedung pertunjukan yang dipadati oleh orang-orang yang tengah menunggu giliran untuk masuk kedalam gedung dengan menunjukkan tiket masuk ditangan mereka.
"Sean,,,!" panggil Nayla.
Pembatas mobil yang semula menutupi antara sopir dan penumpang perlahan turun.
"Saya nyonya?" jawab Sean.
"Tinggalkan jas yang kamu pakai disini, aku tidak ingin menarik perhatian. Atau kau tetap disini besama Bob," ucap Nayla memberi pilihan.
"Saya akan ikut, nyonya," jawab Sean segera melepas jas yang ia pakai.
Nayla mengangguk seraya memakai kacamanya kembali. Tak lupa ia juga mengenakan topi yang selalu ia bawa kemanapun ia pergi. Dengan menggerai rambutnya untuk menutupi wajahnya, Nayla membuka pintu mobil dan keluar.
Sean segera mengiringi langkah Nayla disampingnya, seperti hal yang biasa Nayla minta darinya.
Nayla berjalan sedikit menunduk, berpura-pura memainkan ponselnya. Sementara Sean memastikan Nayla bisa berjalan dengan tenang dibarisan pemilik tiket VIP tanpa hambatan.
"Tolong tiket anda," sapa petugas yang melayani tiket VIP.
Nayla mengangkat wajahnya dan menaikan sedikit topinya, tersenyum ramah kepada petugas penerima tiket yang segera mengenalinya.
"Ahh,,, maaf atas ketidak sopanan saya," ucapnya membungkukan badannya.
"Silahkan," ucapnya lagi mempersilahkan Nayla masuk tanpa tiket diikuti Sean.
Beberapa orang yang melihat hal itu saling berbisik karena iri. Mereka masih harus menunggu antrian untuk masuk, namun Nayla bisa masuk tanpa hambatan sedikitpun.
"Enak sekali, pasangan itu bisa masuk begitu saja tanpa tiket," ucap seorang wanita yang berdiri tidak jauh dari tempat Nayla masuk.
"Benar, siapa mereka? Bagaimana mereka bisa masuk dengan mudah?" timpal temannya.
Nayla melepaskan topinya, menoleh kearah mereka, lalu tesenyum dengan menempelkan jari telunjuknya di bibir disertai kedipan mata.
"Eehhh,,,,,"
"Nyloes_hemph,,,"
"Uhh,, bodoh sekali," rutuknya memukul mulunya sendiri.
"Hampir saja aku memanggilnya," imbuhnya.
Mereka yang sempat melihat Nayla mengangguk mengerti dan tetap diam, sementara Nayla kembali meneruskan langkahnya masuk kedalam gedung.
Nayla menuju ruang yang di khususkan untuk Rory beserta tim, menyapa beberapa orang yang ia kenal sebelum masuk kedalam ruang ganti.
"Kamu datang, Nay?" sambut Thomas.
"Mustahil untuk tidak datang, Thomas," jawab Nayla.
"Bagaimana sesi tanda tangannya?" tanya Nathan.
"Antriannya sangat panjang, aku bahkan tak menyangka akan selesai setelah gelap," keluh Nayla yang segera menghempaskan tubuhnya di sofa.
"Kelihatannya, kau mengalami hari yang berat," sela Kevin.
Kevin menghampiri Nayla, memberikan tatapan khawatir padanya. Ketika mendengar Nayla tak sadarkan diri dan di rawat, ia melupakan segalanya dan bergegas mengunjunginya di rumah sakit tempat Chris bekerja.
Meski Chris mengatakan Nayla hanya kelelahan, tetap saja hal itu membuatnya panik, dan bersikeras untuk menjaganya walaupun ada Rory dan Chris disana.
"Apakkah kamu juga makan dengan benar hari ini?" tanya Kevin.
"Tentu saja," sambut Nayla. "Sean yang membelikan makan siang untukku," imbuhnya.
"Tapi anda tidak memakannya, nyonya," sela Sean.
"Egrrh,,, Sean, tidak bisakah kau diam saja?" sungut Nayla.
"Maaf nyonya, tapi tuan yang meminta saya untuk melaporkan yang sebenarnya pada tuan atau pada tuan Kevin," jawab Sean membela diri.
"Nay,,,?" Kevin menatap Nayla meminta penjelasan.
"Apa alasan Nayla menolak makanan yang kamu beli? Apakah kamu salah membeli makanan yang disukainya?" tanya Thomas pada Sean.
"Tidak tuan, saya membeli makanan sesuai dengan yang diinginkan nyonya, tapi setelah melihat makanannya, nyonya tidak mau makan," terang Sean.
"Sekarang katakan! Apa alasannya?" tanya Kevin masih menatap Nayla dengan tangan terlipat.
"Aku tidak tau, hanya saja selera makanku hilang setelah melihat makanannya," jawab Nayla.
__ADS_1
Kevin menghela nafas panjang, merasa sikap Nayla sering kali berubah mendadak akhir-akhir ini. Meskipun tidak ada yang memiliki keluhan tentang itu, namun seringkali Nayla justru membuat semua orang khawatir.
Kevin berjalan menuju tas miliknya, merogoh tas itu dan mengeluarkan sebuah susu kotak. Ia segera kembali menghampiri Nayla dan menyodorkan susu itu padanya.
"Eewww,,,, bisakah aku minum kopi?" ucap Nayla menatap susu dengan wajah ngeri.
"Tidak!" tegas Kevin.
",,,,,," Nayla memajukan bibirnya.
"Apa yang kau katakan dipikiranmu?" selidik Kevin menyipitkan matanya.
"Aku memiliki seorang kakak yang membosankan," cetus Nayla seraya menyambar susu dari tangan Kevin dan meminumnya.
"Ugh,,,"
Nayla mengernyit saat lidahnya merasakan susu pemberian Kevin. Dengan cepat ia segera menutup mulutnya menggunakan sapu tangan, menolak untuk menelannya.
"Kenapa?" tanya Kevin cemas.
"Apakah ini basi?" tanya Nayla segera menjauhkan susu itu darinya.
"Aku bukan pembunuh, kau tau? Aku selalu memeriksanya sebelum kuberikan padamu, dan memastikan itu aman untukmu," papar Kevin.
"Kalau begitu, minum!" perintah Nayla menunjuk susu itu pada Kevin.
"Kau yakin bukan lidahmu yang sedang bermasalah, Nay?" sela Martin.
"Apa?" sambut Nayla menaikan alisnya. "Kamu juga minum!" perintah Nayla lagi.
"Ehh,,? Kenapa aku juga kena?" protes Martin.
"Karena kamu mendukungnya," jawab Nayla seenaknya.
"Aku hanya bertanya," sanggah Martin.
"Itu terdengar sama, dan kamu hanya berdalih," balas Nayla.
"Hei,, hei,, hentikan!" sela Kevin melerai Nayla.
"Aku akan meminumnya," imbuhnya.
'Seorang Kevin bahkan sekarang tunduk pada Nayla,' batin Thomas tersenyum geli.
Thomas kembali tersenyum, merasa betapa hal itu terasa lucu dan bermakna di waktu yang sama.
"Tak ada yang aneh dengan minumannya," ucap Kevin setelah mencoba susu yang di tolak Nayla.
"Kau yakin bukan karena lidahmu yang bermasalah?" sambung Kevin menyipitkan matanya. "Atau itu dalih untuk tidak meminumnya?"
"Mana mungkin?" sanggah Nayla. "Sarapan pagi ini aku sangat menikmatinya," lanjutnya.
"Sean,,," panggil Nayla.
"Saya, nyonya?" jawab Sean.
"Bisakah pesankan satu latte untukku?" pinta Nayla.
"Tugas Sean bukan untuk melayanimu, dia khusus untuk melindungimu," sela Kevin.
"Itu sebagai hukuman karena dia telah mengadu padamu," balas Nayla.
"Bagaimana jika jus saja?" tawar Ethan.
"Tidak mau, aku hanya ingin latte," jawab Nayla.
Tidak hanya Kevin, tapi Martin, Thomas, Ethan serta Nathan meletakkan telapak tangan diwajah mereka, menghela nafas panjang. Seolah pikiran mereka mengatakan hal yang sama,
'Dimana sosok Nayla yang mereka kenal tak suka mengeluh ataupun suka pilih-pilih?'
"Pergi carikan saja apa yang dia mau, Sean," ucap Kevin menyerah.
"Baik," jawab Sean patuh.
Sean pamit pergi, meninggalkan Nayla bersama Kevin dan yang lain diruang ganti. Sementara Nayla tersenyum penuh kemenangan.
"Roy dimana? Aku tidak melihatnya sejak aku datang?" tanya Nayla mengedarkan pandangannya.
"Dia kembali ke gedung latihan karena kami meninggalkan sesuatu," jelas Martin.
"Kenapa dia yang pergi? Bagaimana jika waktunya tampil dia belum datang?" cecar Nayla.
"Aku sudah mengatakan itu, tapi dia bilang akan datang sebelum acara dimulai," jelas Martin.
__ADS_1
"Tapi dia masih belum datang sekarang," sambut Nayla was-was.
"Kita tunggu saja, dia pasti datang," sela Kevin menenangkan.
Tok,,,
Tok,,,
Tok,,,
Suara ketukan pintu menyela mereka, membuat mereka serentak mengarahkan pandangan kearah pintu.
Sean kembali dengan gelas kopi ditangannya, namun ia kembali tidak sendirian. Dibelakangnya Adrian dan Vania mengikutinya.
"Maaf nyonya, mereka ingin bertemu dengan anda," ucap Sean.
"Ada apa kalian menemuiku sampai disini?" tanya Nayla.
"Aku?" jawab Vania menunjuk dirinya sendiri.
"Tentu saja melihatmu, pekerjaanku sudah selesai, dan aku bisa bebas," lanjutnya.
"Minuman anda, nyonya," sela Sean menyodorkan kopi pada Nayla yang segera menerimanya.
"Terima kasih," ucap Nayla.
Sean hanya mengangguk, lalu kembali berdiri dibelakang Nayla.
"Apakah kau datang ingin menawarkan lagi tentang mereka yang ingin mengambil bukuku?" tanya Nayla beralih pada Adrian.
"Yah,,, itu tujuanku utamaku, tapi sepertinya itu bisa di bicarakan nanti, jadi aku hanya ingin melihatmu sekaligus nonton pertunjukan mereka," jawab Adrian dengan senyum lebar.
"Lakukan sesukamu," jawab Nayla.
"Ugh,,,"
Sekali lagi, Nayla mengernyit setelah menyeruput kopi di tangannya. Ia segera meletakkan kopi itu di meja dan berlari secepat mungkin menuju toilet terdekat, mengeluarkan lagi kopi yang belum sempat ia telan.
Sementara mereka yang berada disana kembali bingung dengan sikp Nayla.
"Ada apa dengannya?" tanya Adrian.
"Entahlah," jawab Kevin menaikan bahunya.
"Itu juga yang ingin aku cari tau," imbuhnya.
Tak berselang lama, Nayla kembali lagi, menatap tajam kearah Sean yang segera menundukkan kepalanya.
"Apa yang kau masukkan kedalam minumanku, Sean?" tuduh Nayla menaikan intonasi pada saranya.
"S-Saya tidak m-memasukan apapun, nyonya," jawab Sean terbata,
Untuk pertama kalinya, Nayla sedikit menaikkan suaranya kepada Sean. Dan untuk pertama kalinya Sean merasakan tatapan penuh intimidasi dari Nayla ketika menatapnya. Membuat ia tidak berani mengangkat wajahnya.
Tak seorangpun membuka suaranya, bahkan untuk membela Sean yang tengah terpojok. Mereka terlalu terkejut dengan perubahan mendadak dari Nayla.
"Jika tidak memasukan apapun, kenapa kopinya memiliki rasa aneh?" sergah Nayla.
"S-saya,,,"
"Nay, cukup! Caramu bertanya itu terdengar menuduhnyamelakukan sesuatu yang tidak dia lakukan," sela Adrian mencoba menenangkan suasana.
Adrian mengambil kopi di meja dan menyesapnya, mengernyit sesaat, dan mengerti setelah menemukan letak salahannya.
"Sepertinya Sean lupa mengatakan takaran kesukaanmu atau baristanya yang lupa," papar Adrian.
"Tapi, kenapa kamu harus marah, Nay?" tanya Adrian.
"Aku tidak marah," sanggah Nayla.
"Tapi,,,?" tanya Adrian.
"Aku_,,,,"
"BRAAKKK,,,,!!!"
Suara pintu terbuka dengan terburu-buru menimbulkan suara dentuman keras. Memotong ucapan Nayla, disertai dengan munculnya seorang pria yang mereka kenal dari balik pintu, membuka pintu tanpa mengetuk.
"GAWAT,,,! Ada masalah dengan sound sistemnya. Dan itu perlu waktu untuk perbaikan. Apakah kalian bisa tampil tanpa musik?"
Ungkapan pria yang mereka kenal sebagai orang yang selalu membantu mereka ketika konser mengejutkan mereka.
...****************...
__ADS_1