
Gang sempit itu terlihat gelap dan lembab. Tampak tiga orang pria tengah duduk dan bersenda gurau. Mengatakan sesuatu lalu tertawa terbahak-bahak. Tangannya mengibas-ngibaskan uang di depan wajah mereka.
Nayla memberanikan diri menghampiri mereka. Mencoba mencuri dengar apa yang di katakan mereka.
"Kita mendapatkan jacpot," ucap si gondrong.
"Kita hanya melakukan pekerjaan kecil dan mendapatkan bayaran besar," sambung si pirang.
"Jika kita bisa memeras mereka dengan foto yang kita dapatkan, bukankah kita akan mendapatkan uang lebih banyak?" timpal pria berambut capak.
"Memang benar, tapi itu di luar perjanjian kita padanya," sambut si pirang.
"Jika hal ini terekspos, wanita itu akan hancur karena di hujat oleh media massa," sela si gondrong.
"Kita tidak perlu memikirkan itu, yang terpenting sekarang adalah kita mendapatkan bayarannya," tukas si pirang.
Mereka tertawa lagi, merayakan keberhasilan mereka mendapatkan uang dalam jumlah besar di waktu singkat.
Nayla merasa lebih yakin saat mendengar obrolan mereka dan memutuskan untuk menghubungi Rory.
TUT...
TUT...
TUT...
"Hallo"
Sebuah suara menjawab dari seberang telepon.Nayla melangkah mundur sedikit menjauh agar mereka tidak mendengar suarannya.
"Dengar, aku ingin kamu melakukan sesuatu," ucap Nayla tanpa basa-basi.
"Kenapa kamu terdengat tegang, Nay? Ada apa?" tanya Rory berubah cemas.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja, ini adalah kabar baik yang harus kamu dengar. Aku menemukan mereka," terang Nayla.
"Kamu APA,,???" seru Rory kaget.
"Aku sudah menemukan orang-orang yang ada di foto itu, aku yakin mereka jugalah yang memotretku dan menyebarkannya," jelas Nayla.
Nayla berbicara melalui telepon dengan setengah berbisik.
## Sudut pandang Rory##
Rory masih bersama teman-temannya termasuk Martin. Membahas tentang rumor yang tersebar menjadi semakin memanas seiring waktu.
Sebagian besar orang hanya menyudutkan Nayla dan menyalahkannya.
"Aku tau ini terdngar egois, tapi satu-satuya cara hanya menuruti permintaannya," ungkap Martin.
"Kau hanya salalu mencari alasan untuk mengakhiri hubungan kami hanya karena kau tidak menyukainya kan?" sergah Rory.
"Aku tidak bermaksud untuk melakukan itu, Rory! Tapi lihatlah situasinya," sanggah Martin.
"Ini sudah lima hari sejak dia datang dan ingin mengatasinya, namun dia belum memberikan informasi yang berguna untuk meredam romor ini," sambung Martin.
"Lalu apa? Jika kita menurutinya begitu saja, itu hanya akan memberi mereka kesempatan untuk melakukannya lagi dengan alasan yang berbeda," balas Rory.
"Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan sekarang? Jika ini terus berlanjut, aku khawatir hal ini akan terdengar hingga di telkinga orang tuamu," jawab Martin.
Rory membeku, wajahnya menahan amarah, namun apa yang di katakan Martin adalah benar.
"Hentikan,!!!" hardik Kevin.
"Yang di katakan Martin benar, tapi apa yang di katakan Rory
juga tidak bisa diabaikan," sambung Kevin.
"Aku selalu memikirkan sebuah bukti bahwa Nayla hanya di jebak. Tapi, aku selalu menghadapi jalan buntu jika memikirkan bukti seperti apa yang harus di gunakan untuk melawan," sela Thomas.
"Karena mereka memiliki potret asli," sela Ethan. " Itu hanya akan membuat mereka lebih bertindak sesuka hati mereka," lanjutnya.
"Menggunakan jasa hacker pun akan sia-sia karena masalah yang kita hadapi bukan hanya dari media sosial saja," Nathan yang semula diam mulai membuka suara.
"Aku masih berharap, Nayla menemukan sesutu," sambut Thomas.
'Mungkin ini terdengar kejam, tapi aku tidak punya pilihan lain selain menggunakan cara ini agar Martin tidak meminta Rory mengakhiri hubungan mereka,' batin Thomas.
"Tidak bisakah kita menggunakan semua yang kita bisa agar mereka berheti, uang atau apapun, berapapun yang mereka minta aku akan memenuhinya," keluh Rory mulai frustasi.
'Kenapa aku tiba-tiba merasa cemas seperti ini? Kenapa aku terus memikirkan Nayla?' batin Rory.
"Aku sudah melakukannya, Rory," jawab Martin. " Apakah kamu berpikir aku tidak akan melakukan hal itu?" tebak Mrtin.
"Tapi mereka hanya mencemooh tawaran yang kami berikan," sambung Kevin.
Rory menunduk lesu dengan hati yang berkecamuk. Perasaan khawatir yang datang tiba-tiba mengusik hatinya, seoalah akan terjadi sesutu pada Nayla.
__ADS_1
Saat pikiran itu semakin menganggu hatinya, saat itulah dering ponselnya membuat semua perhatian tertuju pada Rory.
Rory mengeluarkan ponselnya dan membelalak kaget saat tau bahwa yang menghubunginya malam itu adalah Nayla.
"Siapa?" tanya Kevin melihat Rory tidak segera mengangkat panggilan yang masuk.
"Nayla," jawab Rory pelan.
"Angkat saja," saran Martin. " walaupun dia tidak menemukan papun, aku menghargainya karena dia mau membantu," sambungnya.
Rory mengangguk dn menerima panggilan Nayla. Tanpa sengaja, Rory justru menghidupkan pengeras suara hingga membuat semua yang berada di sana mendengar apa yang di katakan Nyala.
"Hallo," sapa Rory.
"Dengar, aku ingin kamu melakukan sesuatu," sambut Nayla.
Rory terkejut saat menyadari jarinya tidak sengaja menyentuh pengeras suara. Saat Rory berniat mematikan pengeras suara, tangan Thomas menghentikannya dan meminta Rory tetap berbicara.
"Biarkan kami juga mendengarnya," bisik Thomas.
"Kenapa kamu terdengar tegang, Nay? Apa yang terjadi?" tanya Rory cemas.
"Aku baik-baik saja, hanya saja ini kabar baik yang harus kau dengar. Aku menemukan mereka," papar Nayla.
"Kamu APA,,,???" Rory berseru kaget dan langsung berdiri.
Bukan hanya Rory, tapi semua yang mendengar apa yang dikatakan Nyala terkejut, mereka langsung menagkap kemana arah pembicaraan yang akan Nayla sampaikan.
"Aku menemukan mereka, orang-orang yang berada didalam foto, aku yakin mereka jugalah yang memotret dan menyebarkannya," jelas Nayla.
"Dimana kamu sekarang? Aku akan menyusulmu," sambut Rory khawatir.
"Tidak, jangan lakukaan itu sekarang," larang Nayla.
"Aku ingin menyimpan buktinya dengan baik, dan hal itu bisa di lakukan jika kamu membantuku," terang Nayla.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Nay?" tanya Rory tampak gusar.
Thomas meletakkan tangannya di bahu Rory, mencoba menenangkannya.
"Biarkan dia menjelaskan dulu rencananya, kamu harus tenang, Rory!" saran Thomas.
Rory menghembuskan nafas pelan dan mengikuti saran, Thomas. Kembali duduk dan mendengarkan apa yang akan Nyala sampaikan.
"Katakanlah, Nay!" pinta Thomas.
"Aku tidak mungkin mengambil resiko merekamnya sendiri, karena mereka pasti akan menyadarinya dan mengambilnya dariku," terang Nayla.
"Apa kau sudah gila???" hardik Rory.
"Bagaimana jika mereka melukaimu?" sentak Rory gusar.
"Jangan lakukan apapun. Aku akan segera kesana,!" pinta Rory.
Rory bangkit dari duduknya dan akan beranjak dari tempatnya hingga Nayla kembali menghentikan langkahnya.
"kamu hanya akan membuat semua menjadi sia-sia jika melakukannya sekarang," tukas Nayla.
"Kamu bisa datang setelah mendapatkan buktinya, dan aku juga akan mengirimkan lokasinya," ucap Nayla menenagkan Rory.
Suasana menjadi menjadi lebih berat saat Nayla mengatakan rencananya dan mereka hanya duduk diam mendengarkan.
'Dia bertindak sampai sejauh ini apakah hanya untuk membuktikan ucapannya? Atau akulah yang telah salah menilainya?' batin Martin.
'Apakah aku sudah salah menilainya? Dia bertindak sampai sejauh ini hanya untuk Rory? sedangkah aku tidak melakukan apapun?' batin Kevin.
Semua sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Rory kembali duduk dan menuruti apa yang Nayla minta.
"Baiklah," jawab Rory lesu.
###Sudut pandang Nayla###
Nayla tersenyum tipis mendengar Rory mau mengikuti intruksinya.
"Baiklah, emmm,, Thomas, kamu masih disana kan?" tanya Nayla masih dengan mengecilkan suaranya.
"Ya, aku disini," jawab Thomas.
"Kamu bisa menggunakan ponselmu untuk merekam, dan terima kasih sudah menahan Roy," ucap Nayla.
"Aku akan mulai," sambungnya.
"Aku mengerti, tolong berhati-hatilah," harap Thomas.
Nayla tersenyum kecut, dan mentertawakan dirinya sendiri.
'Sebaik apapun aku dalam berhati-hati, resiko yang pasti akan terjadi adalah mereka akan melakukan kekerasan, tapi aku bersedia mengambil resiko itu jika dengan hal ini aku bisa menyelesaikan masalahnya' batin Nayla.
__ADS_1
Nayla menyimpan ponsel di saku celananya dan mulai melangkah mendekati mereka yang tengah mengobrol di sudut gang.
"Pst,, Pst,, ada wanita cantik menuju kearah kita," ucap si gondrong.
Dua orang yang mendengar ucapan si gondrong tersenyum licik melihat Nayla yang melangkah mendekati mereka.
"Hai,, cantik? Apa yang sedang kamu lakukan di sini malam-malam?" sapa si gondrong dengan seringai di bibirnya.
PLAK,,,!
Suara pukulan terdengar keras saat si pirang menepuk keras kepala si gondrong, membuatnya mendengus kesal.
"Apa-apaan kau ini," gerutu gondrong.
"Dasar bodoh! Lihat wajahnya baik-baik," hardik pirang.
Pria berambut capak menyambut Nayla dengn seringai lebar di wajahnya.
"Tidak kusangka, kau secepat ini menyadarinya," sambut capak bertepuk tangan.
"Dengan caramu berbicara seperti ini, ku anggap kau tu apa alasanku menemui kalian disini," balas Nyala.
"Tentu saja, aku sangat tau apa alasanmu," sambut si capak.
"Dan kalian tidak melakukan pembelaan apapun?" tanya Nayla.
"Ha ha ha,,, kenap aku harus melakukan pembelaan?" sambut si capak.
"Toh kami memiliki cara kami sendiri untuk membungkam wanita cantik sepertimu," sela si pirang.
"Jadi keluarkan saja semua pertanyaan yang ada di kepalamu," timpal si gondrong.
"Dan kalian akan menjawab dengan benar?" tanya Nayla penuh selidik.
"Tepat," jawab si capak.
"Masih ada satu orang lagi yang seharusnya terlibat selain yang membayar kalian, bukankah begitu?" tanya Nayla.
Pertanyaan Nayla sontak mengejutkan mereka.
"Akan ku anggap jawabannya adalah benar, melihat reaksi terkejut kalian," sambung Nayla tenang.
"Hebat juga kau bisa tau bukan hanya kami yang terlibat di dalamnya," cibir si pirang.
"Baiklah,, Baikalah,, kami hanya menjalankan peran kami. Berpura-pura menabrakmu dan memotret di waktu yang tepat. Dan hasilnya kau sudah melihatnya," papar si capak.
"Dan yang membayar kalianlah yang mengirim semua foto itu ketempat mereka tinggal?" sambung Nayla.
"Woww,,, ku akui, tebakanmu sangat akurat. Aku tidak menyangka kau secerdas ini," puji si gondrong.
"Berapa dia membayar kalian melakukan kebohongan ini? Aku akan membayar kalian sebanyak yang kalian inginkan jika kalian mengatakan pada semua orang kebenarannya," tanya Nayla.
"Bukan begitu cara mainya cantik,"
Sebuah suara berat dibelakang Nayla mengejutkannya. Membuat Nayla bergidik dan segera menjauh.
"Kau sangat pandai memilih tempat untuk berdiri, cantik. Kau berdiri dan memposisikan dirimu tersorot CCTV. Apakah itu caramu untuk mendapatkan bukti lebih?" ucap pria dengan penuh tato.
Nayla bergidik melihat pria bertubuh besar dengan penuh tato ditubuhnya.
"Yah,, kau mungkin memiliki persiapan kecil sebelum kesini. Tapi, perlu kuingatkan satu hal, itu akan sia-sia. Walaupun kau merekamnya menggunakan ponselmu selama pembicaraan kalian, apakah kau pikir kami tidak bisa menghancurkan penselmu?" lanjutnya.
"Beserta pemilik ponsel," timpal suara yang berbeda.
Sekali lagi Nayla terkejut mendengar suara orang yang berbeda. Disisi lain dibelakang pria bertato, seorang pria dengan cerutu di tangannya.
Nayla menelan ludah dan berusaha menekan rasa ngerinya. Bersikap setenang mungkin di depan mereka.
"Cih,,, kenapa aku baru menyadarinya, bahwa kau terlihat menarik," gerutu pria yang memegang cerutu.
Matanya menyala menatap Nayla dari atas hingga bawah lalu mengusap bibirnya.
"Kau sudah tau semua kebenarannya kan?" tanyanya pada Nayla.
"Kami yang menjebakmu, kami yang memotret semua aktivitasmu dan menjadi penguntit selama beberapa minggu," ungkapnya.
Mereka berdiri berjajar dan menatap Nayla dengan tatapan lapar.
"Pernahkah ada yang mengatakan padamu, bahwa kau memiliki tubuh yang menggoda?" ucap pria bertato.
Nayla kembali bergidik menatap ngeri lima pria di depannya. Matanya kembali menangkap sosok lain mendekat yang menatapnya dengan penuh nafsu.
"Apa kau pikir bisa pergi begitu saja dari kami?" cibir si gondrong.
"Kau bodoh jika masih berpikir bisa menghadapi enam orang sendirian," timpal si pirang.
Nayla melangkah mundur perlahan, kakinya mulai merasa gemetar. Namun, Nayla masih tetap berusaha tenang.
__ADS_1
...****************...