LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
37.Kehilangan.


__ADS_3

Dua tahun berlalu begitu cepat.Seiring dengan bertambahnya usia Louise dan kegiatan sekolah Chris yang memakan waktu lebih banyak dari tahun sebelumnya membuat mereka tidak bisa setiap hari bertemu.Meski begitu,Chris sebisa mungkin menyempatkan waktu untuk mengunjungi Louise.


Bahkan Nick menjadi lebih sering pulang larut karena tambahan pekerjaan yang dia terima.Louise yang memahami kekhawatiran Nick menghabiskan waktunya untuk menunggu Nick selesai bekerja dan menjemputnya di perpustakaan Bibi Goldie.Terkadang Louise menunggu di Halte yang berada tak jauh dari perpustakaan karena perpustakaan harus tutup saat malam.


Pagi itu,Louise mendatangi tempat dimana Nick bekerja.Tangan kanannya menenteng sebuah kotak makan.Louise mengedarkan pandangannya menyusuri sebuah area kontruksi dan melangkah dengan hati hati.


"Hai adik manis,di sini bahaya lho.Siapa yang sedang kamu cari?"suara ramah seorang pria dewasa mengentikan langkah Louise.


"Selamat pagi pak,maaf saya tidak bermaksud menganggu,saya ingin menemui kak Nicholas."kata Louise membungkuk sopan.


"Aahh,,mencari Nicholas ya?"tanya pria itu."Apakah kamu adiknya?"tanyanya.


"Benar."jawab Louise tersenyum.


"Manis sekali,dan kamu juga sopan."kata pria itu tersenyum ramah."Tunggu sebentar.."pria itu berbalik dan matanya mencari sosok Nick yang kebetulan saat itu sedang menurunkan kantong semen dari bahunya.


"Hei..Nicholas..!"pria itu berteriak memanggil Nick yang segera menoleh."Kemarilah sebentar."katanya.


Nick mengangguk dan melangkah mendekati pria yang memanggilnya.


"Ya pak?ada apa?"tanya Nick sopan.


"Ada yang mencarimu."jawaban pria itu membuat Nick mengerutkan keningnya namun segera pria itu menggeser badannya dan menunjuk Louise dengan kepalanya.


"Louise..kenapa kamu disini?"tanya Nick kaget.


"Kak Nick melupakan ini."jawab Louise mengangkat kotak bekal ditangannya."Jadi Louise antar aja sekalian berangkat kesekolah."lanjutnya.


"Tapi kamu tidak seharusnya disini."kata Nick mendekati Louise.


"Terus nanti makan siang kakak gimana?"tanya Louise."Lagi pula Louise kan tidak masuk terlalu jauh,seperti yang selalu kak Nick katakan itu bahaya."tambahnya.


"Wah wah...Kamu tidak hanya manis,tapi kamu juga cerdas ya."sambut pria itu lalu berjongkok didepan Louise tersenyum kagum.


"Berapa usiamu?"tanyanya.


"7 tahun pak."jawab Louise.


"Panggil paman saja.Paman Jag."katanya ramah.


"Tapi..."Louise mellirik kakaknya yang mengangguk dan tersenyum.


"Kamu keberatan?"tanya Jag.


"Tidak.Tapi apakah boleh?"tanya Louise polos.


"Tentu saja,bukankah aku yang memintanya?"tanya Jag.


"Baik paman."jawab Louise tersenyum.


"Begitu lebih baik."kata Jag mengusap kepala Louise lembut.


"Kau bisa menemani adikmu sebentar Nicholas.Aku pergi dulu."kata Jag setelah berdiri lalu pergi meninggalkan mereka.


"terima kasih banyak pak."kata Nick.


"Dadaahh paman Jag"Louise melambai dengan senyum di bibirnya.


Jag berbalik sebentar lalu tersenyum dan membalas lambaian Louise.Nick menarik pelan tangan Louise ke tempat yang lebih aman.


"Ini.."Louise menyodorkan kotak makan yang ada di tangannya.


"Terima kasih ya Louise."kata Nick tersenyum lembut menerima kotak makan itu.


Louise tersenyum.ketika secara tidak sengaja matanya menangkap sebuah toko bunga kecil yang terletak tak begitu jauh dari tempatnya berdiri,matanya berbinar.Nick mengikuti kemana arah pandangan Louise lalu tersenyum.


"Kamu mau?"tanya Nick.


"Apa kak?"tanya Louise beralih menatap Nick.


"Toko bunga itu belum lama ini mulai buka,tokonya terlihat kecil,tapi bunga bunga nya indah."kata Nick.


"Tidak ah,kalau beli bunga,nanti juga akan layu kan?"jawab Louise.


"Kalau begitu,kita beli tanamannya saja."kata Nick lagi."Kita rawat bersama,pasti cantik kalau nanti mulai berbunga."tambahnya.


"Memangnya kakak suka bunga apa?"tanya Louise.


"Amarilis dan Anyelir merah."jawab Nick.


"Kenapa?"tanya Louise."Bunga Amarilis kan hanya tumbuh di musim dingin,dan layu setelah mekar."lanjutnya.


"Amarilis juga tumbuh di musim semi kok."jawab Nick."Amarilis memiliki arti kekuatan,kecantikan dan kebanggaan.Para orang Yunani juga menyebut bunga Amarilis sebagai kemegahan."jawab Nick.


"Kalau Anyelir?"tanya Louise penasaran.


"Anyelir melambangkan detak jantung,yang memiliki arti cinta dan kasih sayang yang dalam."jawab Nick tersenyum lembut.


"Meskipun mereka bukan bunga yang akan bertahan di masim panas,tapi bukan berarti tidak bisa tetap hidup.Mereka bisa tetap tumbuh kalau dirawat dengan baik."jelas Nick.


"Kalau begitu,ayo kita tanam bunga itu."kata Louise bersemangat.


"Boleh..Kakak akan tanya pada pemilik toko itu,dia pasti bisa mencarikan tanaman itu untuk kita."jawab Nick membuat Louise tersenyum senang.


"Ya udah,Louise berangkat dulu ya,nanti telat."kata Louise.


"Mau kakak antar?"tanya Nick.


"Sebenarnya sih mau,pengen pamer ke teman teman kalau Louise punya kakak yang keren.tapi tidak deh.Nanti kakak di marahin."kata Louise.

__ADS_1


"Ada ada saja."Nick tertawa pelan."Kakak tidak kena marah kok.kakak bisa minta waktu sebentar buat antar kamu ke sekolah."kata Nick.


"Aku kan sudah bisa sendiri."jawab Louise tersenyum lebar.


"Ya sudah..Tetap hati hati ya."kata Nick mengingatkan.


"Iya kakak..Daahh.."Louise melambai yang segera dibalas oleh Nick kemudian berbalik dan berlari kecil menuju sekolahnya dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.


Nick mendesah pelan menatap punggung adik kecilya.Satu sisi hatinya,dirinya merasa bangga dengan sikap Louise yang bisa mengerti keadaan,bahkan setelah semua hal yang terjadi,tidak mempengaruhi prestasinya di sekolah dan senantiasa menjadi juara kelas.


Namun sisi hati nya yang lain merasa sesak seakan terhimpit batu yang membuatnya sulit untuk bernafas.Merasa bahwa dirinya belum bisa memberikan cukup untuk Louise.Menggeleng pelan,Nick kembali melanjutkan pekerjaannya.


Ketika jam sekolah Louise berakhir,dengan langkah ringan Louise masuk ke perpustakaan.


"Bibi..."Louise menaikkan volume suaranya begitu berada didalam perpustakaan.


"Louise,,,apa kamu lupa apa aturan utama di perpustakaan?"sambut seorang wanita di balik meja.


"Kan sedang tidak ada siapa siapa."jawab Louise membela diri.


"Peraturan tetap peraturan."jawabnya.


'Iya iya..Maaf deh.Bibi Goldie sedang apa?"tanya Louise masuk ke balik meja melalui pintu kecil yang ada di samping meja.


"Mendata buku baru yang masuk hari ini.Oh..benar juga,kalau kamu mau baca buku barunya,sudah boleh kok.Bibi letakkan di rak belakang."kata Goldie.


"Benaran boleh?"tanya Louise memastikan.


"Iya..Boleh kok."jawab Goldie tersenyum.


"Yeeyyy..."Louise bersorak disertai lompaan kecil lalu berlari menuju rak tempat buku baru tersimpan.


Louise menengelamkan diri dengan membaca buku.Seiring dengan berjalannya waktu,buku yang Louise baca pun berganti.Karena bosan,Louis meletakkan buku itu dan merenggangkan badannya.Matanya menagkap sebuah buku tebal yang cover nya sudah sedikit memudar.Di dorong rasa penasaran,Louise meraih buku itu.Buku itu tetap bersih dari debu karena dirinya membersihkan tempat itu setiap hari,namun cover biru gelap yang tampak memudar menandakan itu adalah buku lama.


"Conan Doyle?"gumam Louis membaca sebagian tulisan yag masih terlihat,


Dengan rasa penasaran,Louise membaca buku itu hingga lupa waktu.Hingga Louise tak menyadari matahri telah terbenam.


"Louise.."panggil Goldie.


"Louise.."suara Goldie terdengar lagi saat Louise tidak menjawab.


"Louise.."panggil Goldie lagi.


Louise masih tetap tidak menjawab.Merasa aneh,Goldie menghampiri Louise dan melipat tangannya saat melihat Louise asik membaca dan mengabaikan dirinya.


"Louise.."panggil Goldie lagi menaikkan suaranya.


"Iya bibi,Louise dengar kok.Tapi ini sedang seru sekali."jawab Louise tanpa menoleh.


"Buku apa yang kamu baca?itu bukan buku baru."tanya Goldie penasaran.


"Judulnya tidak tau karena halaman depan robek,dan covernya sudah pudar.Tapi penulisnya Conan Doyle."jawab Louise masih terus membaca.


"Apakah itu judulnya?"tanya Louise masih terus membaca.


"Benar.Itu buku lama,dan tidak di terbitkan lagi."jawab Goldie.


"Apakah bibi masih ada buku yang lain selain ini?"tanya Louise.


"Tidak ada."Goldie menggeleng.


"Sayang sekali."desah Louise."Padahal ini buku yang sangat bagus."lanjutnya.


"Oke,,,sekarang dengarkan bibi sebentar."kata Goldie membuat Louise akhirnya menoleh.


"Kenapa bi?"tanya Louise.


"Ini jam seharusnya kakak mu datang menjemput,tapi dia masih belum datang.Sepertinya dia akan lembur lagi.Jadi kamu tetap di sini sampai bibi selesai beres beres untuk menutup perpustakaannya."kata Goldie.


"Iya bibi."jawab Louise.


"Kalau bukan karena hari ini bibi ada urusan di luar,kamu tetap di sini itu bukan masalah.Tapi urusan bibi benar benar tidak bisa di tinggal sekarang."kata Goldie menjelaskan.


"Iya,bibi.Louise bisa mengerti kok."jawab Louise tersenyum.


Goldie tersenyum mengusap kepala Louise lembut dan membiarkan dia melanjutkan membaca.


ZRRAASHHH...


Hujan turun dengan lebatnya ketika malam semakin larut.Menambah kegelapan dengan awan gelap menutupi langit.


"Louise..."panggil Goldie.


"Iya Bi?"sahut Louise mendekati Goldie.


"Ini sudah larut,apa bibi antar aja ke rumah?"tanya Goldie.


"Tidak usah bibi,Louise nunggu kak Nick di halte saja.Takutnya nanti kak Nick tidak langsung pulang dan menjemputku di halte seperti biasa."jawab Louise.


"Tapi ini hujan."kata Goldie khawatir.


"Di halte kan terlindung dari hujan bibi."jawab Louise tersenyum.


"Ya sudah,bibi antar kamu ke halte."kata Goldie pada akhirnya karena tidak punya pilihan lain.


Louise mengikuti Goldie dari belakang menuju mobilnya dan segera naik.Dengan hati hati,Goldie menjalankan mobilnya menuju halte menembus hujan.


"Bibi hati hati di jalan ya.."kata Louise sebelum turun dari mobil.

__ADS_1


"Iya sayang..Ini benar tidak apa apa kamu sendirian?"tanya Goldie khawatir.


"Tidak apa apa kok Bi.kak Nick pasti datang sebentar lagi.Bibi kapan pulang?"tanya Louise.


"Setelah urusan bibi selesai langsung pulang kok."jawab Goldie tersenyum.


"jadi besok perpustakaannya tetap buka dong?"tanya Louise dengan mata berbinar.


"Tentu saja.Apakah yang kamu khawatirkan adalah perpustakaan tutup?"tanya Goldie menyipitkan mata.


Louise hanya tersenyum lebar membuat Goldie mengelengkan kepalanya.


"Ya sudah..Bibi tinggal ya.."kata Goldie.


Louise mengangguk dan melambaikan tangannya.


Mobil Goldie pun menghilang ditelan kegelapan malam.


BEERRRR...


Louise mengosok lengannya sendiri dengan tangan kecilnya merasakan dingin yang menembus pakaiannya.


"Apakah musim dingin sudah dekat?"gumamnya pelan.


Menggigil kedinginan,Louise menggosok telapak tangannya berharap hal itu dapat mengurangi hawa dingin.


Louise menoleh saat merasakan seseorang tengah mendekatinya dan wajah nya berubah ceria saat tau siapa yang datang.


"Kakak..."Louise menyambut Nick dengan memeluknya.


"Hei,,heii..kakak basah Louise,nanti kamu ikut basah."kata Nick mendorong pelan Louise agar melepaskan pelukannya.


"Kan cuma air kakak."jawab Louise.


"Kamu ini sangat pintar menjawab.Memang benar itu hanya air,tapi itu air hujan dan ini sudah malam.Itu bisa membuatmu demam."kata Nick menjelaskan.


"Iya..iya.."jawab Louise cemberut.


"Ehhh...di bilangin juga,,"kata Nick dengan gemas menarik hidung Louise.


"Aaahhh...kenapa sih kak Nick dan kak Chris sama saja,suka banget narik hidung?"sungut Louise menutupi hidungnya membuat Nick tertawa.


"Yukk pulang,sudah terlalu larut."ajak Nick mengulurkan tangan.


Louise mengangguk dan menerima tangan Nick.


Mereka berjalan menuju rumah mereka dengan hujan yang menemani langkah mereka.Canda tawa mengiringi tiap langkah mereka.


Mereka menyeberang jalan saat lampu telah menyala hijau.Bertepatan dengan mereka yang tengah menyebrang,Nick menyadari sebuah mobil melaju kencang tanpa terkendali ke arah mereka.Louise yang terlambat menyadari hal itu merasakan tubuhnya tiba tiba melayang ke tepi jalan karena Nick mendorong tubuhnya dan kaki kanannya menghantam pembatas jalan.


Bertepatan dengan benturan keras dan suara decitan ban mobil yang bergesekan dengan jalan.Louise melihat tubuh Nick terlempar jauh akibat hantaman mobil dan terhempas ke aspal sedangkan mobil itu melesat pergi begitu saja.


Louise bangun dan menghampiri tubuh kakaknya yang tidak bergerak dibawah guyuran hujan.Memaksa kakinya yang terluka,Louise terus berjalan dengan menahan sakit.


"Kakak.."desis Louise jatuh terduduk melihat darah menggenang di sekitar tubuh Nick bercampur dengan air hujan.


"Kakak..."panggil Louise dengan suara bergetar.


Louise mengangkat kepala Nick dan meletakkan di pangkuannya.


"Kakak..Louise mohon,bangunlah."pinta Louise mulai menangis.


Perlahan Nick membuka matanya,dengan sisa tenaganya mencoba mengulurkan tangan mencapai pipi Louise.


"Kakak.."Louise tercekat.


"Jangan menangis,"kata Nick tersenyum lemah."Maaf ya,kakak tidak bisa antar louise pulang."lanjutnya dengan suara tersendat.


"Kita ke rumah sakit.Kak Nick pasti sembuh."kata Louise parau.


"Tidak Louise."Nick menggeleng lemah.


"Louise mau memaafkan kakak kan?"tanya Nick terbata.


"Louise akan maafin kakak kalau kak Nick sembuh.Kak Nick janji akan terus menemani Louis kan?"tanya Louise menangis lagi.


"Kakak akan selalu menemani Louise di manapun dan sampai kapanpun."kata Nick terbata.


"Maaf ya,kakak tidak mengantar Louise pulang."Nick mengulang kalimatnya.


Akhirnya Louise mengangguk menumbuhkan senyum lembut terakhir di bibir pucat Nick lalu jatuh terkulai.


"Pembohong..."


"Kakak...pembohong..."


"Kak Nick.."


"KAKAK..!!!!!"


Louise berteriak memanggil Nick yang tidak lagi bergerak.Kepala Nick terkulai di pangkuan Louise yang menangis dan mencoba terus membangunkannya.


"Pembohong..."


Louise memeluk erat kepala Nick.Air matanya mengalir deras dan terus bergumam pelan dengan suara parau.


"Pembohong..."


"Kenapa kak Nick berbohong padaku.."

__ADS_1


Semua teriakannya,isak tangisnya hanya dijawab dengan suara guntur dan hujan yang turun dengan deras.Tak seorangpun yang datang membantu ataupun menolongnya.Louise terus memeluk kepala Nick dibawah guyuran hujan.


...****************...


__ADS_2