LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
80. Paris kedua kalinya bagian 2


__ADS_3

Nayla berbalik dan mendapati wanita paruh baya tersenyum lembut padanya. Wajah yang memancarkan ketulusan murni.


Untuk sesaat, Nayla terpana melihat sosok wanita anggun yang kini berdiri didepannya. Gaun indahnya menempel sempurna ditubuh wanita itu. Namun, sesuatu dari wanita itu terasa tidak asing bagi Nayla.


"Tampaknya anda juga bukan warga lokal," ucapnya lagi dengan suara lembutnya.


"Ah,,, maaf, pikiran saya teralihkan untuk sesaat," sambut Nayla tersentak dan segera menggontrol dirinya.


"Bisa dikatakan, apa yang anda katakan tadi mungkin benar," ucap Nayla tersenyum.


"Mungkin?" wanita itu menaikan alisnya.


"Memang benar saya bukan warga lokal. Saya hanya tidak terbiasa dengan suasana pesta," jelas Nayla.


"Ahh,, begitu rupanya. Kalau begitu, apa yang membuat anda datang? Apakah anda bersama pasangan? Atau anda diundang oleh tuan rumah? Maksud saya orang yang mengadakan acara ini," tanyanya penuh selidik.


"Saya datang bersama pasangan saya," tutur Nayla sopan.


"Sungguh manis," sambutnya.


"Lalu, dimana pasangan anda? Bagaimana bisa dia meninggalkan anda sendirian disini?" tanyanya heran.


"Dia hanya pergi sebentar, dan akan segra kembali," jawab Nayla.


"Ah,,, betapa tidak sopannya saya. Saya Gloria. Boleh saya tau nama anda, nona?" tanyanya sembari mengulurkan tangan.


"Nayrela," sambut Nayla menjabat tangan Gloria dengan hangat.


"Nayrela? Nama yang manis, anda juga terlihat cantik dengan setelan ini," puji Gloria.


"Anda berlebihan, nyonya. Saya justru merasa, saya berada di ruangan yang salah," seloroh Nayla tertawa pendek.


"Saya sangat yakin anda memiliki alasan untuk hal itu," sambut Gloria tertawa ringan.


"Sejujurnya saya justru terpesona dengan penampilan anda. Anda benar-benar cantik. Bahkan tercantik dari yang pernah saya temui," puji Nayla tulus.


"Ucapan anda manis sekali," sambut Gloria tersenyum lebar.


"Ahh,, tolong jangan terlalu formal kepada saya. Anda bisa berbicara santai pada saya, nyonya," ucap Nayla.


"Bolehkah?" tanya Gloria.


"Tentu, nyonya," jawab Nayla tersenyum hangat.


"Kamu baik sekali, dan ramah," puji Gloria. " Tak banyak orang sepertimu didunia ini. Banyak dari mereka hanya akan membanggakan dirinya sendiri dan lupa akan siapa dirinya," tutur Gloria.


"Anda terlalu memuji, banyak orang lebih baik dari saya diluar sana," sanggah Nayla tetap tersenyum.


Ditengah-tengah percakapan ringan mereka, Nayla mendengar seseorang tengah membicarakan tentang dirinya.


Tiga wanita yang seumuran dengannya menatap sinis pada Nayla dan membicarakan tentangnya menggunakan bahasa prancis dengan kosakata yang begitu cepat.


"Pst,,, lihat wanita itu, bukankah dia salah kostum? Bagaimana bisa dia dengan percaya diri menghadiri pesta ini dengan pakaian seperti itu?" sindir salah satu dari mereka.


"Bukankah dia yang dikabarkan adalah kekasih Ace?"


"Benar. Itulah yang dikatakan Alisha. Dia memang cantik, tapi dia sungguh tidak tau malu,"


"Sepertinya dia tidak mengerti apa itu dress code. Kalaupun dia mengerti, dia tidak memilikinya, dia bahkan tidak akan mampu membelinya," sambut temannya.


"Aku dengar dia hanya seorang karyawan disebuah kantor percetakan buku. Aku tidak tau pasti posisinya, tapi kurasa dia dibawah editor," timpal yang lain.


"Kurasa juga begitu. Berita tentangnya benar-benar membuat kepercayaan dirinya terlalu tinggi. Seolah dia berada di puncak hanya karena ada Ace dibelakangnya,"


"Sstt,,, dia bisa saja mendengar, dia bisa saja melaporkan apa yang kita katakan kepada Ace," salah satu dari mereka menegur sambil terkikik pelan.


"Cih,, dia bahkan tidak mengerti dengan apa yang kita ucapkan,"


'Alisha? Apakah mereka teman Alisha?' batin Nayla.


Nayla menghela nafas pelan. Mengabaikan apa yang didengarnya. Namun, hal yang tak disangka mengusik hatinya.


Mereka terus berbicara tanpa melihat siapa yang berada disamping Nayla yang hanya mereka lihat punggungnya.


"Aku lebih tidak mengerti dengan pola pikir orang tua mereka. Bagaimana bisa mereka membiarkan Ace, putra kedua mereka menjalin hubungan dengan orang yang tidak terhormat,"


"Bukankah itu menurunkan citra mereka sendiri?"


"Aku sangat menyayangkan mereka yang seorang pebisnis ternama dan terpandang justru tidak mengambil tindakan apapun,"


"Aku lebih tidak mengerti dengan Ace yang menerima wanita seperti itu. Ace yang seorang penyanyi dengan bakat luar biasa, kaya, dan memiliki dari keluarga terpandang bersama wanita yang tidak memiliki kedudukan apapun,"


Nayla memejamkan mata sembari mengepalkan tangannya, mendengus kesal dengan semua hal yang ia dengar.

__ADS_1


"Maaf nyonya, saya permisi sebentar," pamit Nayla.


"Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Gloria.


"Telinga saya sedikit gatal mendengar percakapan mereka," jawab Nayla sebisa mungkin mengontrol emosinya.


"Apakah anda mengerti dengan yang mereka katakan?" tanya Gloria.


Nayla hanya tersenyum, lalu sedikit membungkuk dan menghampiri tiga wanita yang tengah membicarakan tentangnya.


Mereka tersenyum percaya diri ketika Nayla menghampiri mereka. Nayla melangkah perlahan dengan senyum diwajahnya. Jarak mereka dengan tempat dimana Nayla berdiri sebelumnya hanya empat langkah, hal itu memudahkan Gloria mencuri dengar apa yang akan Nayla katakan kepada mereka.


#Percakapan Nayla berlangsung menggunakan bahasa prancis.#


"Excuse-moi mademoiselle," [permisi, nona] ucap Nayla mempertahankan senyum diwajahnya.


"J'ai une sugestion pour toi," [saya memiliki saran untuk anda]. Imbuhnya.


"Mais avant ça, permettez-moi de dire une chose," [ Tapi sebelum itu, ijinkan saya mengatakan satu hal]. lanjut Nayla.


Nayla berhenti sejenak, senyuman diwajahnya lenyap tanpa bekas. Berubah dengan tatapan tajam dan dingin. Menatap tiga orang didepannya yang terlihat sangat terkejut.


Sementara Gloria yang berada dibelakangnya tidak kalah terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar.


Gloria segera menoleh dan melihat Nayla berhadapan dengan tiga wanita yang tengah terpaku ditempatnya.


"Ma,?" panggil seseorang sembari menyentuh bahu Gloria.


"Ada apa?" tanyanya.


"Sstt,," desis Gloria menyuruhnya diam.


"Apa sih,?" tanyanya heran.


Gloria menunjuk Nayla menggunakan dagunya.


"Nayla? ada apa dengannya? Apa dia terlibat masalah?" tanyanya berniat menghampiri Nayla, namun tangan Gloria dengan cepat menghentikannya.


"Diam dulu, Kevin," tegas Gloria.


"Tapi_,," Kevin menatap Nayla cemas.


Tak lama kemudian Rory muncul bersama orang yang menariknya menjauh dari Nayla sebelumnya yang ternyata adalah ayahnya.


"Dia marah untuk, mama," jelas Gloria saat Rory protes padanya.


"Kita lihat dulu saja, dia terlihat sangat marah hanya ketika mereka mengatakan hal yang tidak menyenangkan tentang mama dan kamu," papar Gloria dengan suara pelan.


Mereka kembali mengarahkan pandangan mereka pada Nayla.


"Kalian bisa mengatakan tentangku apapun itu, termasuk menghinaku, dan aku akan diam. Tapi, aku tidak akan segan jika kalian mengatakan omong kosong seperti itu tentang mereka yang ada disekitarku," tegas Nayla.


"Jika kehormatan yang kalian katakan tadi adalah dengan bersikap mengkritik orang lain dibelakang mereka dengan wajah bangga seperti kalian, maaf saja, aku lebih memilih untuk membuang kehormatan itu," sambungnya.


"Cih,,, kau berkata begitu hanya karena ada dia dibelakangmu bukan?" cibir salah satu dari mereka setelah berhasil menguasai keterkejutannya.


"Oh,, benarkah?" sambut Nayla tersenyum percaya diri.


"Aku bahkan bisa melakukan apapun yang aku mau tanpa bantuan mereka. Jika kalian ingin mencobanya, kalian bisa datang padaku kapan saja," sambut Nayla.


"Kedudukan yang kalian bicarakan, bukankan itu adalah kedudukan orang tua kalian? Jika tanpa mereka, apa yang kalian miliki?" sindir Nayla.


"Kau sangat pandai dalam mengertak. Kau pikir apa yang bisa dilakukan oleh karyawan sepertimu?" ejeknya.


Nayla satu langkah mendekati mereka, memberikan tatapan mengintimidasi yang tidak bisa dihindari.


"Apa saja. Termasuk membayar orang untuk menghancurkan kalian bertiga sekaligus," tegas Nayla.


Serentak mereka mundur selangkah, menatap mata Nayla yang sedikit pun tidak memancarkan keraguan. Menegaskan apa yang ia katakan bisa dilakukan kapan saja.


Ketika akhirnya mata mereka menangkap tatapan mata Gloria, mereka segera pergi meninggalkan Nayla.


"Passe une bonne journée," seru Nayla membuat mereka mendengus kesal.


Nayla menghela nafas panjang menatap kepergian mereka. Ia masih belum menyadari Rory, Kevin dan kedua orang tuannya tengah menatapnya dengan wajah terkejut.


'Jadi, dia bisa berbicara bahasa prancis?' batin Rory dan Kevin.


Nayla berbalik dan mendapati Rory dan Kevin menatapnya bersama dengan orang yang mengajaknya mengobrol dan satu orang lagi yang tidak ia kenal.


"Kamu sudah kembali?" sambut Nayla menghampiri Rory.


Nayla menatap mereka secara bergantian dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Nayla polos.


"K-kamu bisa berbicara bahasa prancis?" tanya Rory.


"Errr,,, itu,,," Nayla mengosok belakang telinga menggunakan jarinya. Menyadari Rory telah mendengar pertengkaran kecil yang terjadi.


"Hanya beberapa," sangkal Nayla.


"Itu lebih dari beberapa, tapi kamu sangat fasih," sambut Kevin.


"Uhm,,, apakah kalian juga mengenal nyonya Gloria?" tanya Nayla menganti topik pembicaraan.


"Tck,,, Selalu saja, kau masih saja suka mengelak dari pertanyaan," decak Kevin.


"Akan kuperkenalkan dengan lebih baik," lanjut Kevin.


"Mereka adalah orang tua kami, Nay," ungkap Kevin memperkenalkan orang tuanya.


"Ma, Pa ini Nayla," imbuhnya.


"Ehh,,, jadi anda,, " Nayla melebarkan matanya.


"Yang sering dibicarakan oleh,Jo?" sambung Gloria tersenyum.


"Benar," jawab Kevin.


"Jo,?" Nayla mengerutkan keningnya.


"Ahh,,, itu adalah panggilan kami padanya. Jordan, tapi teman-temannya memanggilnya Rory,, dan dikenal Ace sebagai penyanyi," terang Gloria.


"Ahh ,,, begitu. Senang bertemu dengan anda. Saya minta maaf tidak segera mengenali anda, nyonya," ucap Nayla sembari membungkuk sopan.


"Oh ayolah, jangan bersikap seperti ini. Kita bahkan sempat mengobrol," seloroh Gloria.


"Kemarilah," pinta Gloria membuka tangannya.


Gloria memeluk hangat Nayla, dan segera melepaskannya setelah teringat sesuatu.


"Apakah aku menyakitimu?" tanya Gloria cemas.


"Tidak sedikitpun nyonya," sambut Nayla.


"Tante!" tukas Gloria.


"Kamu adalah bagian dari kami, jadi jangan memanggilku nyonya," pinta Gloria.


"Dan dia adalah suamiku, Vincen. Ayah mereka," ucap Gloria menunjuk suaminya yang berada di samping Rory.


"Kami sudah banyak sekali mendengar cerita tentangmu. Tapi baru sekarang kita bisa bertemu. Terima kasih sudah bersedia datang menemui kami bahkan disaat kamu tidak dalam kondisi baik," ungkap Gloria.


"Tidak tante, justru ini adalah sebuah kehormatan bagi saya," sambut Nayla.


"Kami minta maaf karena tidak datang saat kamu di rumah sakit," sesal Vincen.


"Tolong jangan berkata seperti itu, saya bisa mengerti alasan Om tidak bisa datang," sambut Nayla.


"Sekarang, kita bisa mulai acaranya," ucap Vincen tersenyum hangat.


Vincen segera mengandeng istrinya dan mengajak Nayla bergabung dengan Rory yang meraih tangannya, berjalan dibelakang mereka.


"Aku tidak pernah tau kamu bisa berbicara bahasa prancis, kenapa kamu tidak mengatakannya?" bisik Rory bertanya.


"Karena kamu tidak bertanya," jawab Nayla.


"Haa,,, kau benar, dan itu yang menjadi alasan kenapa kamu tidak bertanya apa yang kuucapkan kepada penata rias tadi," sambut Rory sembari manarik hidung Nayla.


"Ish,,, banyak mata yang melihat disini," ucap Nayla menepis tangan Rory.


"Biarkan saja, itu bahkan lebih baik," jawab Rory.


"Tapi aku penasaran, bagaimana kamu bisa bahasa prancis?" tanya Rory.


"Aku pernah belajar dari seseorang yang sangat suka bepergian. Dia menguasai beberapa bahasa, salah satunya prancis," terang Nayla.


"Ahh,, begitu," Rory mengangguk mengerti.


"Aku terkejut kamu bisa membungkam mereka tanpa keributan," sela Kevin yang berdiri disampingnya.


"Ucapanmu seolah mengatakan aku hanya bisa menyiram mereka dengan minuman ditanganku untuk membuat mereka diam," cibir Nayla.


Kevin tertawa pelan membenarkan. Kedekatan mereka menarik perhatian orang-orang yang berada disana.


Tidak sampai disana, suasana hangat sangat terlihat saat semua teman Rory berkumpul dan saling berbincang disertai tawa ringan bersama orang tua Rory.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2