LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
95. Suatu hal


__ADS_3

Nayla menyingkir dari depan pintu dan membiarkan mereka membuka pintu untuk melihat ruang kerjanya.


Tanpa sadar, mereka membuka mulut mereka ketika pintu terbuka, bahkan Rory juga melakukan hal yang sama.


Ruangan cukup luas dengan dinding rak buku yang tingginya mencapai langit-langit terisi penuh dengan buku yang tersusun rapi. Beberapa tumpukan buku yang belum disusun berada dilantai, namun tidak berserakan.


Meja lengkap dengan komputer berada disisi lain ruangan, dan dua gitar yang terlihat sangat terawat berada di sudut ruangan, beanbag dan sebuah meja kecil dengan alas karpet bulu dibawahnya.


Bingkisan hadiah dan paper bag juga tergletak dilantai, bahkan kotak hadiah yang belum di buka dikumpulkan menjadi satu.


"Apakah ini yang kau sebut berantakan?" celetuk Ethan menatap ruangan tanpa berkedip.


"Aku tau kalau seorang penulis akan memiliki banyak buku, tapi aku tak menyangka akan sebanyak ini," timpal Thomas.


"Ini hanya setengah dari yang kumiliki," ucap Nayla sembari mengosok belakang telinga dengan telunjuknya.


"EHHH,,," seru Thomas dan Ethan dengan cepat menoleh kearah Nayla.


"Kau sebut ini setengahnya? Lalu dimana yang lainnya?" tanya Nathan melebarkan matanya.


"Di ruangan sebelah," jawab Nayla. "Beberapa, aku terpaksa membungkusnya agar tidak rusak," jelas Nayla.


"Bisakah kita duduk di sini saja, Nay?" harap Thomas.


"Aku dengan senang hati akan membantu merapikan buku-buku itu," ucap Thomas lagi sembari menunjuk tumpukan buku yang ada dilantai.


"Kalaupun aku mengatakan tidak, kau akan terus membujukku bukan?" sindir Nayla menyipitkan matanya.


"Bolehkah aku menayakan sesuatu, Nay?" ucap Rory.


"Tentu, apa itu?" jawab Nayla mengarahkan pandangannya pada Rory.


"Apakah selalu Adrian yang merapikan tempat ini? Ehm,, maksudku ruangan ini," tanya Rory.


"Ya, dia yang selalu melakukannya. Hanya ruangan ini dan ruangan sebelah. untuk ruangan lain, aku biasanya mengunakan jasa kebersihan," jelas Nayla.


"Kenapa Adrian?" tanya Rory lagi.


"Karena aku akan mudah mencari apa yang aku perlukan jika dia yang melakuknnya. Dia selalu ingat dimana meletakkan buku yang dia tata disini," terang Nayla.


"Sedangkan aku sendiri jarang memiliki waktu untuk merapikan tempat ini sendiri," imbuhnya.


Rory menganguk-angukkan kepalanya tanda mengerti tanpa kecurigaan apapun. Ia mengedarkan pandangannya dengan decakan kagum.


"Jadi, aku boleh duduk santai disini kan?" sela Thomas bertanya lagi.


"Lakukan saja, Thomas. Selama kamu tidak merusak bukuku, aku tak masalah," jawab Nayla tersenyum.


"Itu tidak akan pernah terjadi, aku janji," sambut Thomas girang.


"Ah,, benar juga,," ucap Nayla tiba-tiba membuat Thomas menatapnya dengan raut wajah bertanya.


Nayla berjalan menuju deretan buku yang berada didekat pintu, barisan paling bawah. Mengeluarkan beberapa buku, dan kembali mendekati Thomas.


"Ini," ucap Nayla sembari memberikan dua buah buku pada Thomas.


Thomas menerima dengan kening berkerut, tak mengerti. Namun, wajahnya beruba saat melihat buku yang diberikan Nayla padanya.


"B-Buku ini,,," Thomas mengantung kalimatnya menatap buku itu dengan mata berbinar.


"Ini untukku?" tanya Thomas tak percaya.


"Bukankah kamu menginginkannya?" jawab Nayla balas bertanya.

__ADS_1


"Dan ini untuk kalian," ucap Nayla beralih pada Nathan dan Ethan.


"Kamu serius memberikan ini?" sambut Ethan girang.


"Bagaimana kamu bisa memiliki tiga buku yang sama?" timpal Nathan masih tak percaya dengan apa yang ia dapatkan.


"Apakah kalian lupa buku siapa yang ada di tangan kalian?" sindir Nayla.


Mereka bertiga kembali menatap buku ditangan mereka, buku karya Nyloes yang gagal mereka dapatkan, mereka bisa mendapatkan dua buku sekaligus.


"B-Bukan b-begitu," jawab Nathan tergagap.


"Tapi, bagaimana kamu bisa memilikinya?" lanjutnya. "Yang aku ingat, buku ini hanya satu kali terbit dan itu sudah habis terjual," imbuhnya.


"Setiap kali buku di terbitkan, aku akan mendapatkan lima buku untuk kusimpan," jelas Nayla. "Dan aku bebas memberikan buku itu pada siapapun atau menyimpannya," tambahnya.


"Begitu rupanya, tapi apakah kamu yakin memberikan ini" tanya Thomas memastikan.


"Kenapa aku harus tidak yakin? Lagi pula kalian bukan orang asing. Jika aku bisa memberikan bukuku pada orang asing, kenapa kalian tidak?" sambut Nayla.


"Terima kasih, Nay," ucap mereka serentak.


Nayla hanya tersenyum sebagai tanggapan. Sementara itu, Rory justru menangkap sebuah foto yang manarik perhatiannya hingga ia menghampiri untuk melihat lebih jelas foto yang ia lihat.


Seorang pemuda dengan gadis kecil yang duduk dibahunya tersenyum lebar. Dengan melihat sekilas saja, siapapun bisa melihat keceriaan diwajah mereka. Mata Rory tertuju pada gelang yang dikenakan gadis kecil itu, dan membuatnya sadar bahwa gadis kecil itu tidak lain adalah Nayla.


'Jadi, gelang yang selama ini dipakainya adalah gelang itu?" batin Rory.


"TEETT,,,"


Suara bel pintu menyela, menarik Rory kembali pada kenyataan, dan segera membelakangi bingkai foto yang baru saja ia lihat.


"Biar aku saja yang membuka pintu," ucap Martin seraya melangkah keluar dari ruangan.


Martin membuka pintu dan mendapati Adrian berada dibaliknya, menenteng tiga paper bag besar di kedua tangannya.


"Kami hanya berkunjung," jawab Martin sembari membantu Adrian dengan mengambil alih paper bag di salah satu tangan Adrian.


"Kami?" kening Adrian berkerut.


"Maksudmu, kalian berenam berada disini?" tanya Adrian sembari menuntup pintu.


"Benar," jawab martin.


"Ah,,, begitu," Adrian menangguk mengerti.


Adrian segera mmenuju ruang kerja Nayla diikuti Martin yang membantunya membawakan barang bawaannya.


"Apakah ada pesta disini?" celetuk Adrian begitu masuk ke ruang kerja Nayla.


Mereka yang berada di ruang kerja segera menoleh dan tersenyum lebar melihat kedatangan Adrian.


"Barang-barangmu akan diantar besok, hari ini mereka tidak bisa datang," ucap Adrian pada Nayla.


"Dan ini, buku-buku milikmu, juga beberapa hadiah untukmu dari teman-teman," jelas Adrian.


Segera Adrian meletakkan barang bawaannya di lantai, tak jauh dari tumpukan barang lainnya yang telah berada disana sebelumnya.


"Kenapa kamu membawanya sendiri? Bukankah kamu bisa mengabungkan dengan yang akan dikirim besok?" sambut Nayla menghampiri Adrian.


"Untuk yang ini tidak mungkin kan?" jawab Adrian menaikan alisnya.


Nayla hanya tersenyum kecil mananggapi Adrian dengan segala hal kecil yang dilakukan olehnya, namun sangat berarti bagi Nayla.

__ADS_1


"Ah,,, sore ini ada seseorang yang mengirim sesuatu untukmu," ucap Adrian.


Adrian membungkuk untuk mengambil kotak berwarna hijau dengan pita warna emas, dan menyodorkan pada Nayla.


"Lucie berkata padaku, ini diantar langsung oleh orang yang ingin memberikan hadiah padamu," ucap Adrian.


"Aku membawanya karena kamu pernah menanyakannya padaku kalau aku tak salah mengingatnya, pengirimnya bernama Val," imbuhnya.


"Val?" ulang Nayla dengan mata melebar.


"Ya, kamu bisa membaca suratnya kalau memiliki pertanyaan," ucap Adrian.


Tanpa banyak bicara, Adrian mulai merapikan tumpukan buku yang belum sempat ia bereskan, dan memindahkan beberapa hadiah yang telah di buka ke ruangan sebelah.


Martin tanpa sadar tergerak untuk membantu Adrian. Seolah memahami pola pikir Adrian, ia mengerti dimana harus meletakkan barang atau buku yang ia tunjukkan hanya dengan Adrian menunjuk satu tempat, dibantu oleh Kevin dan Nathan.


Sementara Nayla segera membuka kotak hijau dari Val untuk meihat isi didalamnya, bersama Rory, Thomas dan Ethan didekatnya yang juga penasaran dengan apa isi kotak itu.


Nayla kembali melebarkan matanya setelah melihat isi didalamnya. Buku yang pernah dijanjikan oleh Val padanya juga sebuah jam tangan pasangan disamping buku itu.


Senyum tiis mengembang dibiir Nayla ketika ia membaca surat yang terselip di kotak itu.


[[ hai,, emmm,,, saya tidak tau bagaimana harus bersikap sekarang, sedikit canggung karena saya tidak bisa bersikap seperti biasanya. Terlepas dari saya pernah bertemu dengan anda secara tidak sengaja, saya ingin minta maaf jika saya bersikap tidak seperti seharusnya. Sejak terakhir kali bertemu, saya kesulitan untuk menemui anda kerena tidak tau dimana tepatnya anda tinggal, dan ingin memberikan buku sesuai yang saya janjikan. Setelah mengetahui anda dan dia adalah orang yang sama, saya harap anda tidak keberatan saya memberikan buku dengan cara ini, ]]


Rory yang ikut membaca surat itu, mengarahkan pandangannya pada Nayla.


"Apa maksudnya?" Rory mengerutkan keningnya.


"Ehmm,,," Nayla memutar bola matanya, memikirkan cara cepat untuk menjelaskan.


"Ingat kejadian di festival waktu itu? Stand buku?" tanya Nayla.


"Lebih dari apapun," jawab Rory singkat, raut wajahnya tiba-tiba berubah.


"Hei,, dengar dulu," sambut Nayla tertawa.


Thomas sekuat tenaga berusaha menahan tawanya ketika mengingat kejadian malam festival, dimana Rory terlihat sangat marah hanya karena pria asing memegang tangan Nayla terlalu lama, dan itu karena buku.


"Aku mengetahui namanya saat pulang dari swalayan, dan dia membantuku, lebih tepatnya menolongku dari dari gangguan orang yang berbuat kasar padaku," papar Nayla.


"Kapan itu terjadi?" tanya Rory.


"Uhm,, itu,,, saat,,," Nayla bingung dangan apa yang akan ia katakan.


"Tidak perlu di teruskan, aku mengerti," potong Rory.


"Lalu,?" tanya Rory meminta kelanjutan ceritanya.


"Dia ingin memberiku buku sebagai permintaan maaf karena salah paham di festival sekaligus kerena membuatmu kesal," terang Nayla.


"Dia??" ulang Rory tak percaya.


"Dia mengira kalian adalah sepasang kekasih dan dia merasa tak enak telah membuatmu cemburu, jika aku tidak salah menarik kesimpulan dari ceritamu," sela Thomas.


"Tepat," sambut Nayla. "Aku sudah menolaknya dan mengatakan tidak apa-apa. Tapi dia bersikeras untuk memberiku buku. Da aku tak begitu memikirkannya karena berpikir dia tidak bisa menemuiku tanpa mengetahui dimana aku tinggal," terang Nayla.


"Aku terkesan dengan cara dia berpikir, setidaknya dia tidak berasumsi tanpa dasar seperti seseorang," sindir Ethan.


"Tak perlu menyindirku, aku tau kemana arah yang kau maksud," sungut Rory.


Mereka hanya tertawa melihat sikap Rory, namun mereka juga bersyukur kerenanya. Setelah insiden yang terjadi, sikap Rory berubah. Ia tidak lagi menerima berita yang ia dengar tanpa menyelidiki kebenarannya, berusaha tenang jika ada sesuatu yang berkaitan dengan Nayla, dan lebih fokus dengan karir musiknya tanpa mengabaikan prioritas utamanya.


Tanpa terasa, Adrian telah selesai merapikan semua buku lebih cepat berkat bantuan dari Martin, Kevin dan Nathan.

__ADS_1


Sebelum pulang, Adrian menyampaikan pada Nayla untuk datang ke kantor besok jam dua siang. Setelah itu berpamitan untuk pulang.


...****************...


__ADS_2