LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
45.LDR


__ADS_3

~Dukung karyaku dengan komen,like dan vote yaaa..dukungan dari kalian sangatlah berarti~


Semua anggota FM termasuk Martin tengah berkumpul ketika Rory tiba di ruang santai.


Martin mendecak kesal melihat Rory kembali membawa Nayla ke tempat pribadi mereka.Kevin hanya menghembuskan nafas kasar melihat Rory.Thomas tersenyum canggung.Nathan hanya diam, namun matanya bergantian menatap Rory,Martin dan Kevin.Sementara Ethan hanya menaikan bahunya acuh dengan sikap Martin dan tersenyum ramah pada Nayla.


'Terlihat sangat jelas dia masih marah padaku,' batin Nayla.


Nayla mempertahankan senyum tenangnya ketika tatapannya bertemu Martin dan Kevin.


"Apa maksudnya sekarang? Kau juga mengundangnya ke sini?" Martin mulai menyerang Rory.


"Bukankah kita berencana mencari pemeran wanita untuk membuat video baru? Jika aku menyarankan satu orang apakah itu salah?" sambut Rory tenang.


"Kami sudah memndapatkannya!" tukas Kevin. "Dan dia memenuhi semua syarat," imbuhnya.


"Oke,,, kalau begitu masalah ini selesai.Aku ingin mengajaknya ikut bersama kita," ungkap Rory.


Nayla menoleh dengan wajah terkejut.Kevin dan Martin bangkit dari duduknya.


"Jangan membuat masalah yang tak perlu!" sergah Kevin.


"Kamu tenang saja, aku yang menanggung tiket dan semua yang di perlukan olehnya,!" jelas Rory.


"Ini bukan tentang tiket Rory, tapi tour kali ini akan berlangsung selama empat bulan," tukas Martin.


"Aku tau itu, Italia selama empat bulan bukan? Aku bisa mengurus semuanya sendiri," sambut Rory.


"Kamu tidak mengatakan hal ini padaku sebelumnya," sela Nayla menarik lengan baju Rory.


"Dan sekarang aku mengatakannya," jawab Rory.


"Tapi aku tidak bisa," tolak Nayla.


"Jika itu tentang pekerjaanmu, kamu bisa berhenti, atau meminta cuti selama empat bulan," sahut Rory.


"Tidak mungkin,!" tegas Nayla.


"Kenapa?" protes Rory.


"Aku memiliki tanggung jawab dalam pekerjaanku, tidak mungkin jika aku meninggalkannya begitu saja," jelas Nayla.


'Walaupun aku bisa mengurusnya, tapi itu akan membebani Adrian.' batin Nayla.


"Itulah sebabnya aku memintamu untuk berhenti! Aku bisa menghidupimu,memenuhi semua kebutuhanmu, dan semua keinginanmu," tukas Rory.


"Jangan konyol," timpal Martin. "Dia tidak mungkin bersama kita," tambahnya.


"Karena dia orang lain bagimu, tapi tidak bagiku," ucap Rory bersikeras.


"Sulit jika kita mengajaknya, dan kau tau persis di mana letak masalahnya," timpal Kevin.


"Hei,,, tolong hentikan! Kita bisa bicarakan ini baik-baik," sela Thomas tidak tahan dengan perdebatan yang terjadi di depannya.


"Aku akan tetap mengajaknya," tegas Rory.


"Dan aku menolak," timpal Nayla.


Rory mengarahkan pandangannya pada Nayla berniat protes.Sebelum mengatakan rasa keberatannya,Nayla melanjutkan.


"Jangan memaksaku melakukan hal ini, aku tidak bisa karena aku memiliki alasan," jelas Nayla.


"Tapi__,,,"


"Biarkan aku menyelesaikan apa yang ingin ku katakan, kamu sudah banyak bicara tanpa mendengarkan pendapatku," potong Nayla.


Rory pun diam, sementara Martin dan yang lain tekejut dengan sikap Rory yang menurut diam.Selama ini mereka hanya tau ketika Rory kekeh dengan sesuatu, dan memancing adu argumen, yang dapat menghentikan aksi debatnya hanya Kevin.


Kevin menatap Nayla tajam, dan sedikit khawatir jika Nayla akan merubah Rory.


"Hal ini bukan hanya tentang aku dan kamu, tapi ini juga tentang mereka, teman-temanmu yang menjadi keluargamu. Juga para pengemarmu," jelas Nayla.


"Tanpa kamu mengatakannya padaku, aku tau kamu dan mereka, kalian semua, bekerja keras untuk mencapai titik ini. Jangan hanya karena ego satu orang, kamu menghacurkan apa yang telah kamu capai," papar Nayla.


"Wow,,,!!! Ku akui, aku cukup terkesan. Kau mengatakan hal itu dengan sangat percaya diri. Apakah begitu caramu menaikkan image yang ada pada dirimu?" sindir Martin.


"Apakah itu sarkasme anda, Tuan?" jawab Nayla lalu tersenyum ramah.


"Sayangnya, saya sama sekali tidak mencoba melakukan hal untuk membuat siapapun terkesan atas apa yang saya lakukan. Saya hanya mengatakan apa yang saya pikirkan. Dan jika logika saya terasa tidak masuk akal bagi anda, maka anda bisa melemparkan kembali kepada saya,!" sambut Nayla.

__ADS_1


Martin bungkam, tidak menyangka Nayla menjawab ucapan pedasnya dengan mempertahankan senyum di bibirnya. Bahkan semua yang di katakan Nayla memang benar adanya.


"Ada apa sebenarnya denganmu, Martin? Ini sudah kesekian kalinya kamu merendahkannya," geram Rory.


"Tolong jangan bertengkar! Kau sudah berjanji tidak akan mamaksa jika mereka tidak setuju dengan saran darimu bukan?" cegah Nayla menahan tangan Rory yang sudah terkepal.


"Aku memang menjanjikan itu, dan aku akan menepatinya. Tapi, tidak dengan dia yang merendahkanmu," sangkal Rory.


"Dia tidak melakukannya, sudahlah!. Aku tidak ingin membahas ini. Sepertinya akan lebih baik jika aku pergi," ucap Nayla.


Nayla maju beberapa langkah dan membungkukkan badanya. Senyum ramah menghiasi bibirnya, tanpa menyimpan amarah dalam wajahnya.


"'Mungkin ini tidak sopan__,, Ah lebih tepatnya ini memang tidak sopan.Tapi saya pamit undur diri. Saya sangat menyesal telah menganggu waktu kalian, tolong maafkan saya," tutur Nayla.


Sekali lagi Nayla tersenyum lalu pergi meninggalkan mereka yang hanya bisa mematung melihat apa yang baru saja terjadi.


"Tunggu, Nay!" Rory menahan tanganya saat Nayla melewatinya.


"Aku bisa pulang sendiri, Roy!," tepis Nayla, dan berlalu pergi.


"Aku tau kalian khawatir padaku, tapi bagaimana bisa kalian melakukan ini?" desis Rory pada Martin dan Kevin.


Rory berlari mengejar Nayla setelah berhasil membating pintu.


"Sejujurnya, aku juga kecewa. Kau satu-satunya yang selalu berpikir logis, Kevin. Tapi, hari ini aku melihat sosokmu yang tidak ku kenali,kau bahkan secara terang-terangan mendukung ucapan Martin," sindir Thomas dan berlalu pergi, berniat mengejar Rory.


"Apa kau juga akan mengatakan sesuatu, Ethan,?" tebak Martin lesu.


"Tidak," jawab Ethan singkat lalu pergi meninggalkan ruangan tanpa mengatakan apapun yang di ikuti Nathan di belakangnya.


"Hhaahh,,,!" desah Kevin dan martin bersamaan.


Rory menarik tangan Nayla saat berhasil mengejarnya, menghentikan langkahnya.


"Tunggu, Nay,,,!" pinta Rory.


"Ehh,,,! " Nayla terkejut saat Rory menarik tangannya, membuatnya kehilangan keseimbangan dan menabrak Rory.


"Roy,,,! Kenapa mengejarku?" sambut Nayla setelah menegakkan kakinya.


"Bukankah itu sudah jelas?" balas Rory menyentil hidung Nayla.


"Anggaplah itu liburan, Nay! Tidak bisakah kamu melakukannya?" bujuk Rory.


"Tidak,!" tegas Nayla.


"Tapi aku pergi selama empat bulan," lanjut Rory.


"Apa masalahnya?" tanya Nayla menaikkan alisnya.


"Itu terlalu lama jika aku harus berpisah denganmu," keluh Rory.


"Bukankah ponsel juga akan melakukan tugasnya jika itu yang kau khawatirkan?" sambut Nayla.


"Dan kamu tidak keberatan dengan LDR,?" tanya Rory.


"Ku akui itu memang sulit, tapi aku percaya semua akan baik-baik saja karena aku percaya padamu," ungkap Nayla.


"Hhaahhh,,, kau tau?" desah Rory. " kau membuatku menjadi semakin mencintaimu," sambut Rory memeluk Nayla.


"Cih,,, ternyata aku sia-sia merasa khawatir tentang kalian," celetuk Thomas.


Nayla mendorong Rory menjauh dengan wajah merah padam membuat Thomas tergelak.


"Aku sempat berpikir kalian akan bertengkar," ucap Thomas. " Syukurlah kalau hubungan kalian baik-baik saja," sambungnya.


"Kenapa aku harus bertengkar dengannya?" sambut Nayla.


"Entahlah," jawab Thomas menaikkan bahunya. " karena Martin mungkin," jawabnya asal.


"Dia tidak salah, tapi tidak bisa di benarkan pada saat yang sama. Aku bisa mengerti kenapa dia bersikap demikian," jawab Nayla tenang.


"Kau memang benar-benar sesuatu, Nay," celetuk Ethan.


Mereka bertiga mengarahkan pandangannya ke arah datangnya suara dimana Ethan menghampiri mereka dengan Nathan di belakangnya.


"Maaf, kami tidak membelamu," sesal Ethan.


"Hei,,,! Ayolah, kenapa sekarang kamu juga bersikap seolah melakukan kesalahan?" sanggah Nayla.

__ADS_1


"Karena kami bersalah," sambung Nathan.


"Kalian tidak bersalah, jadi tolong hentikan! Aku tidak terbiasa dengan drama seperti ini," sambut Nayla.


Mereka pun tersenyum lega.Nayla melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar di ikuti oleh mereka.Ketika mereka berada di luar gedung, Nayla kembali mengarahkan pandangannya ke arah toko bunga langganannya dan teringat percakapan terakhir bersama kakaknya.


'Aku ingat dia pernah membeli bunga di toko itu,' batin Thomas.


"Nay,,,!" panggil Rory.


"Emhhh,,,?" gumam Nayla tanpa menoleh.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Rory hati-hati.


"Tidak ada," jawab Nayla sembari mengelengkan kepalanya.


"Aku ragu kamu baik-baik saja dengan ekspresi seperti itu!" celetuk Ethan.


"Ha ha ha, mungkin kau benar" sambut Nayla.


Mereka tidak bayak bicara lagi dan menyadari tawa yang di keluarkan Nayla saat itu hanyalah tawa sumbang.


"Baiklah,ayo!" ajak Rory. " ku antar kamu pulang," lanjutnya.


Nayla hanya mengangguk tanpa suara dan menerima uluran tangan Rory.


Sementara Thomas, Ethan dan Nathan kembali masuk kedalam gedung.


"Nay,,,!" panggil Rory ketika mereka telah berada di dalam mobil.


"Apa?" sahut Nayla menoleh kearah Rory.


"Aku tidak ingiin terkesan memaksamu untuk mengatakannya, tapi bisakah kamu memberitahuku sedikit saja apa yang membuatmu bersedih?" pinta Rory sembari mulai menjalankan mobilnya.


"Entah kenapa aku jadi memikirkan tentang LDR," kilah Nayla dengan senyum lebar.


"jadi kamu akan memutuskan untuk ikut?" sambut Rory antusias.


"Tidak," tegas Nayla lalu menjulurkan lidahnya.


"Ck,,, jangan mengodaku dengan bersikap seperti itu," ucap Rory memberi peringatan,


"Atau apa?" tantang Nayla.


"Kau yang memulainya, jadi jangan menyesal jika aku melakukannya," ancam Rory.


"Tidak,,,Tidak,,, aku tarik kembali ucapanku," sambut Nayla.


"Kau tidak bisa menarik ucapanmu, Nay," balas Rory.


"Apa-apaan itu? itu namanya penindasan,!" timpal Nayla.


"Dan aku tidak peduli, kau sendiri yang memulainya," balas Rory.


"Emm,,, Roy, kapan kamu berangkat?" tanya Nayla tiba-tiba.


"Kurasa lusa. Dan aku tidak bisa menemuimu sebelum aku berangkat. Terlalu beresiko untukmu jika aku bersikeras menemuimu,! jelas Rory.


"Aku mengerti,!" jawab Nayla.


"Aku sangat ingin menemuimu sebelum berangkat, tapi kali ini lebih sulit dari sebelum keberangkatan kami ke Paris,!" jelas Rory lagi.


"Hei,,, aku sudah bilang kan kalau aku mengerti, jadi jangan mengkhawatirkan apapun, oke!" pinta Nayla.


Rory mengangguk dan tersenyum penuh rasa terima kasih.


"Aku akan menghubungimu nanti," janji Rory.


"Aku menantikannya, Roy," balas Nayla.


Rory menghentikan mobilnya ketika mereka tiba di depan apartemen Nayla.Namun, Nayla tidak segera keluar dari mobil. Rory memeluk erat Nayla, lalu mendesah pelan.


Merasa waktu untuk bersama Nayla justru semakin sedikit karena kesibukan yang di milikinya.


Setelah beberapa saat, Rory pergi dari apartemen setelah melambaikan tangan pada Nayla.


"Hubungan LDR di mulai"


Mereka menggumamkan hal yang sama dan tersenyum. Percaya bahwa semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2