LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
97. Kembali utuh


__ADS_3

Rory yang semula meletakkan tangannya dibahu Nayla, segera menurunkannya dan mundur selangkah, ingin memberi ruang untuk Nayla dan Chris.


"Louise,,, kamu bisa kembali menggunakan nama itu padaku," ucap Nayla sedikit terisak, lalu kembali tersenyum.


"Kakak,,," sambung Nayla.


Chris melebarkan matanya seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Seolah itu belum cukup, dan masih memerlukan waktu untuk mencernanya, Nayla telah berlari menghampiri Chris dan memeluknya.


"Maafkan aku,, maaf karena aku terlalu bersikap keras terhadap kakak, maaf," sesal Nayla terisak.


"L-Louise,,"


Nayla mengangguk pelan dipelukan Chris, dalam sekejap Chris membalas pelukan Nayla.


Tanpa sadar, air mata Chris kembali mengalir, tersenyum bahagia ketika kembali mendengar panggilan yang tak pernah ia dengar selama beberapa tahun. Sebuah panggilan yang ia rindukan.


"Kamu melakukan hal benar dengan bersikap seperti itu, jika dia bersama kita, dia pasti juga akan melakukan hal yang sama seperti yang kamu lakukan," ucap Chris lembut.


Chris mengusap air matanya sebelum melepaskan Nayla dari pelukannya, menatap Nayla dengan tatapan bangga.


Tangannya terulur untuk menyeka air mata Nayla dengan ibu jarinya, lalu tersenyum penuh kasih.


"Kamu tumbuh menjadi sosok luar biasa, Louise. Aku yakin dia pasti bangga padamu seperti halnya aku juga bangga padamu," tutur Chris.


"Kak Nick selalu bersama kita," ucap Nayla.


Chris mengangguk, dan kembali tersenyum. Nayla berjongkok dan meletakkan bunga yang ia bawa disamping bunga yang dibawa Chris.


"Sekarang, kak Nick tidak merasa khawatir lagi kan? Aku tidak lagi sendiri, aku bahkan membawa mereka bersamaku," ucap Nayla pelan.


Rory dan yang lain menghampiri Nayla, berdiri dibelakang Nayla dengan senyum haru di wajah mereka setelah melihat semua hal yang terjadi didepan mata mereka.


"Kak Chris juga sudah kembali dengan dirinya sendiri," imbuh Nayla.


Chris mengusap lembut kepala Nayla, lalu tersenyum saat Nayla menatapnya.


"Aku punya sesuatu untukmu," ucap Chris berdiri sembari merogoh saku celananya. Membuat Nayla ikut berdiri.


Chris mengeluarkan kotak kecil dari saku celananya dan membukanya, memperlihatkan isinya pada Nayla yang terlihat terkejut karena ternyata isinya adalah gelang yang hampir sama dengan gelang yang diberikan Nick padanya beberapa tahun lalu.


"Gelang itu adalah gelang sepasang, kami membelinya bersama saat di taman hiburan waktu itu. Hanya saja, aku tidak langsung memberikan ini padamu," papar Chris.


Chris memakaikan gelang itu dipergelangan tangan Nayla dan mengabungkan dengan gelang yang sudah terpasang disana.


"Memang sedikit berubah,karena gelang sebelumnya telah rusak, tapi gelang ini diperbaiki dengan sangat baik dan tetap cocok saat disatukan," ucap Chris tersenyum.


"Kau memperbaiki gelang ini dengan sangat baik, Rory. Bahkan kau berusaha keras untuk itu, terima kasih," tutur Chris mengarahkan pandangannya pada Rory, tersenyum penuh rasa terima kasih.


"Aku akan terus melakukannya dengan atau tanpa alasan sekalipun," sambut Rory tersenyum haru.


Nayla memandangi gelang ditangannya yang terlihat kembali utuh seolah tak pernah rusak sebelumnya, lalu tersenyum dan menatap Chris.


"Apakah selama ini kakak menyimpannya?" tanya Nayla.


"Tentu saja, aku bahkan selalu membawanya kemanapun aku pergi. Tapi, aku tak memiliki keberanian untuk memberikan itu padamu saat kita kembali bertemu," jelas Chris.


Nayla kembali tersenyum, menyeka air mata yang kembali bergulir, merasakan kekosongan hatinya kembali terisi.


"Dan ini," ucap Chris lagi menyodorkan selembar foto yang memuat dua foto berbeda pada Nayla.


Foto Nayla bersama Chris dan Nick. Dimana Nayla duduk diantara kedua bahu Chris dan Nick yang saat itu masih remaja. Nayla yang dengan jahil membentuk dua tanduk dengan jarinya dan mendekatkan dikepala Chris sembari menjulurkan lidahnya, Nick tertawa sedangkan Chris menatap bingung karena tidak menyadari keusilan yang Nayla lakukan.


Sedangkan satunya lagi, Nayla yang tersenyum lebar berdiri diantara Chris dan Nick sembari menarik tangan mereka berdua dimasing-masing tangannya, menyebabkan kepala mereka berbenturan.


"B-bagaimana foto ini bisa_,,, ada pada kakak?" tanya Nayla terbata.

__ADS_1


"Aku menyimpannya. Dan tentu saja bukan hanya ini. Masih banyak yang lain dan aku menyimpannya," papar Chris. "Hanya saja, foto ini yang selalu kubawa kemanapun," imbuhnya.


"Kenapa kakak tidak memberikan ini sejak awal?" protes Nayla.


"Jika aku memperlihatkan ini sejak awal, apakah saat itu kamu akan ikut pindah bersamaku?" tanya Chris.


"Ya, aku akan ikut," jawab Nayla dengan yakin.


"Mendengar hal itu saja, aku sudah cukup senang, dan kali ini aku tidak menyesali apa yang sudah terjadi," ucap Chris.


"Dan aku juga percaya kau bisa menjaganya," sambung Chris beralih menatap Rory.


"Bukan hanya dia, aku juga akan menjaganya," sela Kevin.


"Kami pun akan melakukan hal yang sama," timpal Martin sembari mengangkat tangannya dan mengarahkan pada Thomas, Ethan juga Nathan yang mengangguk setuju.


Mereka tetap disana untuk beberapa saat, kemudian pergi ketika matahari hampir terbenam. Mereka meninggalkan makam bersama, Nayla hanya menemani Chris hingga dia sampai di mobilnya.


"Aku masih harus bekerja karena temanku yang mendapatkan giliran malam akan datang terlambat, dan aku yang mengantikannya sementara. Tapi, jangan ragu untuk menghubungiku kapanpun. Dan juga, datanglah untuk berkunjung sesekali," tutur Chris.


"Aku mengerti, aku akan megunjungi rumah kakak kapan-kapan. Tapi, kak Chris tidak keberatan kan kalau aku datang bersama mereka?" tanya Nayla.


"Tidak sama sekali, aku justru akan menyambutnya," sambut Chris.


"Aku pergi dulu, jaga dirimu," ucap Chris sembari mengusap lembut pipi Nayla.


Nayla mengangguk pelan sebagai tanggapan. Matanya terus mengiringi Chris hingga mobilnya menghilang dari pandangannya.


"Kita pulang sekarang?" tanya Nayla setelah berbalik menghadap Rory.


"Tidak," jawab Rory mengelengkan kepalanya.


"Kamu sudah sepakat untuk ikut denganku kesuatu tempat," tambahnya.


"Kemana tepatnya?" tanya Nayla menaikkan alisnya.


"Jadi, kita pergi bersama?" tanya Nayla lagi.


"Hanya kau dan aku, mereka akan kembali," jawab Rory.


"Tapi bagaiman_,,,,"


Kalimat Nayla terputus saat melihat Mobil Rory dikendarai oleh seseorang yang segera berhenti disamping mobil yang tadi mereka naiki bersama.


"Kamu sudah merencanakannya?" tanya Nayla menyipitkan matanya.


"Jika tidak, itu akan lebih sulit," jawabnya tenang. "Ayo pergi,!" ajak Rory mengulurkan tangannya.


"Tapi mereka,,?" tanya Nayla merasa tak enak dengan temannya yang lain.


"Ini bukan hanya rencananya, tapi kami juga ikut menyusun rencananya, Nay. Jadi, kamu tidak perlu khawatir," tutur Thomas.


"Pergilah,!" ucap Kevin.


"Baiklah," jawab Nayla menerima uluran tangan Rory dan pergi ke arah yang berbeda dengan yang lain.


#####Flashback off


Dan disinilah mereka sekarang. Rory mengajak Nayla ke suatu tempat yang harus ditempuh dengan berjalan kaki karena jalan terlalu sempit untuk dilalui menggunakan mobil. Dan jika menggunakan jalan lain akan memakan waktu terlalu lama.


"Aku menyukainya lebih dari apapun, dan kamu bisa mengatakan hal itu ratusan kali padaku," lanjut Rory.


"Tapi, aku sangat senang hari ini semua berjalan lancar. Pertemuanmu dengan produser, hubunganmu dengan Chris membaik dan kamu juga menerima penghargaan dengan buku terbaik. Tidakkah kamu merasa hal ini harus di rayakan?" tanya Rory.


"Aku tak pernah melakukan itu sebelumnya, jadi kurasa itu tak perlu," jawab Nayla pelan.

__ADS_1


"Justru karena kamu tak pernah melakukannya, itu akan terasa lebih baik," balas Rory.


"Aku hanya merasa tidak nyaman dengan suasana keramaian seperti itu, Roy," tutur Nayla beralasan.


"Aku akan selalu disisimu, Nay. Jangan lupakan tentang itu," ucap Rory.


Nayla melihat senyuman di sudut bibir Rory dari belakang. Kehadiran Rory disisinya membuat Nayla merasa lebih tenang ketika ia merasa keadaan sekitar terasa menekannya.


Rory terus melangkah tanpa kesulitan meski mengendong Nayla dipunggungnya.


"Roy,," panggil Nayla.


"Uhm,,?" jawabnya bergumam.


"Kamu bisa menurunkanku sekarang, aku akan berjalan sendiri," ucap Nayla.


"Sebentar lagi kita akan sampai, aku tak keberatan membawamu seperti ini sampai tujuan," sambut Rory.


"Dan kelelahan setelahnya, sangat cukup untukmu bisa terus menyalahkanku karena aku yang membuatmu kehabisan tenaga?" balas Nayla.


"Tentu saja tidak," jawab Rory tertawa ringan.


"Kamu pikir, latihan seperti apa yang aku jalani setiap harinya untuk memperkuat fisik? Stamina yang harus selalu ada untuk di panggung tidak didapatkan secara instan meski aku penari terburuk di dalam tim," ungkap Rory.


Nayla terdiam untuk waktu yang lama, merenungi tiap kata yang diucapkan Rory. Hal yang membuktikan Rory dan teman-temannya berusaha keras bahkan ketika mereka telah berada di atas, mereka tetap bekerja keras.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Rory menghentikan langkahnya, dengan hati-hati menurunkan Nayla dari punggungnya.


Nayla terpana dengan apa yang dilihatnya. Pemandangan seluruh kota dengan kilauan lampu menerangi malam terbentang dihadapannya.


Kilauan bagaikan lautan berlian tanpa suara bising kesibukan kota yang tak pernah berakhir. Puluhan pohon yang dihias dengan lampu yang memancarkan cahaya bihu hangat, menciptakan seperti negeri dongeng.


"Woaahh,,,,,"


Nayla menatap takjub dengan nuansa indah didepannya, matanya menatap tak berkedip.


"Ini,,, indah,,,luar biasa,,," ucap Nayla melangkah maju menuju pagar pembatas.


"Bagaimana kamu bisa menemukan tempat seindah ini? Ini sungguh menakjubkan," sambungnya.


"Pertama kali aku menemukan tempat ini saat suasana hatiku sedang kacau, dan ajaibnya disini membuatku melupakan segalanya. Dan ketika mereka juga tau tempat ini, kami menjadikan ini tempat rahasia kami," terang Rory.


"Dan alasanmu membawaku kemari?" tanya Nayla dengat alis terangkat.


Satu tangan Rory berada didalam saku celananya, mengenggam kotak beludru kecil warna biru gelap.


"Aku ingin kamu tau bahwa kamu sangat berarti bagiku, dan aku ingin membagi apa yang aku miliki denganmu, salah satunya tempat favoritku,"


Rory meraih kedua tangan Nayla, mengatur nafasnya. Saat Rory akan mengucapkan sesuatu, suara ponsel Nayla menyela lebih dulu, membuat Rory menelan kata-katanya kembali. Sementara Nayla mengeluarkan ponselnya.


"Martin?" gumam Nayla.


"Apakah ponselmu mati, Roy?" tanya Nayla heran.


"Kurasa begitu," jawab Rory sembari mengeluartkan ponselnya yag ternyata memang mati.


"Ya? Ada apa Martin?" sambut Nayla setelah menghidupkan pengeras suara.


"Kau menganggu," sindir Rory.


"Bisakah kamu-kalian segera kembali? Kita dalam masalah," ucap Martin cepat mengabaikan sindiran Rory.


Suara tegang Martin terdengar sangat jelas, membuat Nayla dan Rory saling pandang untuk sesaat, lalu mengangguk.


"Kami akan kembali," jawab Nayla segera mematikan ponselnya dan bergegas meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2