
Nayla terdiam selama beberapa saat. Tangannya mulai gemetar dan berkeringat, dengan mempertahankan senyum dibibirnya, ia mencoba untuk mengontrol perasaanya.
Tiba-tiba, Rory berdeham pelan, namun cukup untuk membuat Nayla mengarahkan pandanagnnya pada Rory.
Tangan Rory terangkat seolah tengah membetulkan posisi jam tangannya. Dengan gerakan pelan, Rory mengoyangkan tangannya lalu mengedipkan matanya, tersenyum hangat berharap hal itu bisa membuat Nayla sedikit lebih tenang.
Nayla tersenyum kecil menangkap maksud Rory. Dengan hal kecil yang dilakukan Rory, Nayla melihat gelang ditangannya, satu tangannya diletakkan diatas gelang yang ia kenakan.
'Aku yakin kakak ada disini, benar kan?' batin Nayla.
"Nyloes bukanlah singkatan dari nama saya, melainkan nama kakak saya,Nicholas Louise. Bisa dikatakan, itulah satu-satunya inspirasi bagi saya," jawab Nayla dengan suara tenang.
"Sungguh mengesankan, tentunya kakak anda sangat bangga kepada anda saat ini," sambutnya.
"Lebih dari apapun," jawab Nayla tersenyum.
"Baiklah,, Baiklah,, sejujurnya saya pribadi sangat ingin menanyakan lebih banyak, namun itu akan melanggar ketentuan yang sudah ada," ucapnya sembari tertawa ringan.
"Acara malam hari ini akan saya tutup sampai disini," ucapnya tersenyum. "Akan tetapi, untuk kalian semua yag ada disini, diberi kesempatan untuk bertanya selama sepuluh menit. Terima kasih telah menemani kami, dan selamat malam,"
Pembawa acara mengakhiri acaranya, namun tidak beranjak dari duduknya. Menunggu siapa yang akan mengajukan pertanyaan.
Rory mengeliat tidak nyaman ditempat duduknya dengan satu tangan didalam saku celananya. Matanya tak lepas dari Nayla yang juga tengah menatapnya.
'Sekarang apa? Apakah aku harus mengurungkan niatku? Atau aku harus tetap menjalankan rencanaku? Aku ingin memberinya kejutan, tapi justru dia yang lebih dulu memberiku kejutan tak terduga ini,' batin Rory.
Mereka kembali kebelakang panggung setelah waktu untuk bertanya telah habis. Suara tepuk tangan mengiringi langkah mereka yang meninggalkan panggung.
Nayla disambut dengan pelukan cepat Adrian yang tersenyum bangga ketika mereka masuk ke ruang pribadi mereka, tanpa menyadari tatapan beberapa pasang mata tengah menatap tajam Adrian.
"Kau harus menghubungi Rose, dan menceritakan ini. Dia akan senang mendengar kabar ini," ucap Adrian.
"Sepertinya aku akan menjadi lebih sibuk setelah ini, tapi itu tak masalah karena itu sepadan" imbuhnya meringis.
Rory mendekati Nayla dan melingkarkan tangannya dibahu Nayla, membuat Adrian menatapnya bingung. Ia tau siapa Rory hanya dengan sekali melihat wajahnya, dimana dirinya juga menjadi pengemarnya.
"Apakah kamu teman Nayla?" tanya Rory.
"Bisa dikatakan begitu," jawab Adrian. "Dan sejujurnya saya pengemar anda," imbuhnya.
"Ah,,, begitu, terima kasih," sambut Rory tersenyum kaku.
Nayla menyikut Rory, lalu tertawa pelan. Namun, tawanya terhenti ketika ia menyadari bukan hanya Rory yang menatap Adrian dengan tatapan mengintimidsi, tapi semua yang berada diruangan itu kecuali Martin.
Adrian mengaruk kepalanya dengan bingung, masih tidak mengerti dengan reaksi Rory dan teman-temannya.
"Apakah aku melakukan kesalahan, Nay?" tanya Adrian mulai bergidik.
"Hei,,, berhenti mengintimidasinya seperti itu, dia bahkan tidak melakukan kesalahan apapun," ucap Nayla.
"Kalau begitu katakan! Siapa dia?" tanya Rory.
"Asistenku," jawab Nayla.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menanyakan apa maksud semua kejutan ini padanya alih-alih menanyakan orang lain, Rory?" sela Thomas.
"Sekarang jelaskan,!" pinta Martin.
Nayla merasakan mereka semua kini menatapnya dengan tatapan penuh tanya, namun tidak mengungkapkan pertanyan mereka.
"Ukh,,, iya, aku tau, jangan menatapku seperti itu!" keluh Nayla.
Nayla menghela nafas panjang lalu menatap teman-temannya yang menunggu penjelasannya. Ia segera duduk disofa diikuti mereka, termasuk Adrian yang memilih duduk disamping Nayla dikursi yang berbeda.
"Sebenarnya ini hal yang ingin aku katakan kepada kalian besok di acara yang aku sebutkan beberapa hari lalu," ungkap Nayla.
"Bahwa kau adalah Nyloes?" sela Ethan.
Nayla mengangguk kecil. Ia menatap lantai untuk beberapa saat, lalu kembali mengangkat wajahnya, tersenyum tipis.
"Aku terlalu lama menyimpan keraguan untuk mengatakan hal ini pada kalian, terutama padamu, Roy," jelas Nayla menatap Rory yang duduk disampingnya.
"Tapi, setelah semua waktu yang kujalani bersamamu, (mengalihkan perhatiannya kepada yang lain) bersama kalian, aku terus berpikir bahwa aku tidak mungkin bisa selalu menyembunyikan ini. Dan berpikir jika kalian suatu saat mengetahui hal ini dari orang lain, itu akan membuatku lebih sulit untuk menjelaskannya dan tentu saja itu akan membuat kalian kecewa karena aku tidak mengatakannya sejak awal,"
"Aku berencana untuk mengatakan hal ini besok sebelum acaraku di mulai, tapi perubahan jadwal mendadak membuatku tidak memiliki pilihan lain selain mengatakan malam ini juga," Nayla kemudian menatap Adrian.
"Kau yang mengagalkan rencanaku, Adrian," sambung Nayla.
"Hei,,, bukan aku yang merubah jadwalmu, dan kau sendiri yang memilih untuk tetap maju bukan?" sanggah Adrian.
"Adrian?" gumam Kevin mengerutkan keningnya.
"Jadi Adrian adalah asistenmu?" tanya Kevin menatap Nayla.
"Apakah dia juga orang yang sama dengan yang mengunjungimu ketika kamu dirumah sakit?" tanya Kevin mengabaikan pertanyaan Nayla.
Nayla mengerutkan keningnya, menatap lekat mata Kevin.
"Bagaimana kamu bisa tau? Apakah saat Adrian disana kamu melihatnya?" selidik Nayla.
Nayla kembali mengingat ketika Adrian mengunjunginya di rumah sakit, Kevin muncul dengan sikap aneh setelah kepulangan Adrian.
"Dan orang yang selalu menghubungimu juga dia?" tanya Kevin lagi.
"Tunggu sebentar,,," Nayla mengangkat tangannya, menatap lekat Kevin, lalu tertawa.
"Apa menurutmu itu lucu?" sambut Kevin kesal.
"Sakarang aku mengerti, kenapa sikapmu sedikit aneh saat itu setelah Adrian mengunjungiku atau setelah Adrian menghubungiku," ucap Nayla berusaha menahan tawanya.
"Apakah kamu berpikir kalau aku dan Adrian menjalin hubungan?" tebak Nayla.
"Aku_,,," Kevin tidak bisa menyangkal dan memilih untuk memalingkan wajahnya.
"Konyol," sergah Adrian
"Adrian bahkan sudah menikah, bagaimana mungkin aku menjalin hubungan dengannya,?" ucap Nayla tersenyum geli.
__ADS_1
"Kalau begitu, jelaskan padaku kenapa dia juga memiliki kunci apartemenmu dan bisa kesana kapanpun dia mau?" sambut Kevin.
Rory melebarkan matanya, Thomas, Nathan, Ethan termasuk Martin tekejut dengan apa yang dikatakan Kevin.
"Apakah itu benar, Nay?" tanya Rory.
"Itu memang benar, dia memiliki kunci apartemenku dan bisa kesana kapanpun," jawab Nayla polos.
"Termasuk datang disaat kamu tidak ada disana?" tanya Kevin lagi.
"Sekarang aku bertanya-tanya, dari mana kamu tau semua itu, Kevin?" tanya Nayla dengan kening berkerut.
"Aku yang bertanya disini, dan jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan. Aku bisa mengerti jika dia hanya mengunjugimu ataupun menghubungimu karena dia adalah asistenmu dan itu tentang pekerjaan, tapi aku tetap tidak mengerti bagaimana bisa kamu memberikan kunci apartemenmu padanya?" Kevin mulai meninggikan suaranya.
"Ohoo,,,, tahan sebentar disini," cetus Adrian.
"Apa? Kau mau membela diri?" sambut Kevin kesal.
"Tck,,, kau hebat Nay bisa bertahan bersama mereka dengan sikap arogannya," sindir Adrian.
"Apa maksud_,,,"
"Dia terlalu ceroboh dalam menjaga dirinya sendiri," potong Adrian mulai tersulut emosi.
"Kau bahkan tidak tau apapun tentangnya dan bersikap seolah kau tau segalanya dengan menyudutkan orang lain hanya berdasarkan asumsi tanpa dasar yang kau buat," dengus Adrian.
"Hei, hentikan! Kenapa kalian jadi bertengkar? Aku akan jelaskan Kevin, jadi tolong tenaglah," pinta Nayla.
"Itu juga berlaku untukmu, Adrian!" imbuhnya.
"Apa lagi? Kau memintaku tenang di saat dia menilaimu seperti itu? Dia bahkan tidak pernah melihat seperti apa penampilanmu yang tidak tidur selama enam hari karena naskah. Dan dia seenaknya berkata hanya karena dia memiliki asumsi tanpa dasar?" hardik Adrian.
"Apa???" seru Kevin terkejut.
"Tidak tidur,,,,,,?" Rory bergumam dengan mata melebar.
Mendengar pernyataan Adrian, mereka memiliki reaksi yang sama.
"Sekrang apa? Pura-pura terkejut? Berharap aku akan terkesan dengan reaksi kalian? Sekarang aku merasa menyesal menjadi pengemar kalian," dengus Adrian.
"Adrian,, tolong,, hentikan," sela Nayla sembari meraih tangannya.
"Alasanku sangat sederhana, aku ingin menjaganya. Kalian keberatan tentang itu?" tanya Adrian bangun dari duduknya.
"Adrian,, cukup,,!" pinta Nayla.
"Apakah dia juga menggunakan kalimat sarkasnya padamu, Nay? Jika iya, aku benar-benar ingin menghajarnya. Dan jika Chris tau, dia juga akan bersikap sama," ucap Adrian.
Tak satupun dari mereka bisa menjawab ucapan Adrian. Semua terkejut karena mereka memang tidak mengetahui apapun.
"Kau mau tau kenapa aku memiliki kunci apartemennya? Kau hanya perlu bertanya tanpa menyudutkan seperti itu, dan aku dengan senang hati akan menjawabnya," ucap Adrian.
Adrian merasakan tangan Nayla meremas tangannya, dan ia juga tau apa artinya. Nayla ingin dia berhenti. Namun, emosinya meluap mengingat Nayla telah berkorban banyak dan mereka menilai tanpa bukti. Bahkan penilaian Kevin hanya berdasarkan asumsi tanpa dasar yang menurutnya konyol.
__ADS_1
Adrian tanpa ragu menatap tajam pada Kevin, berlanjut menatap Rory dan teman-temannya yang lain, sebelum kembali berkata.
...****************...