
~Dukung karyaku dengan komen,like dan vote yaaa..dukungan dari kalian sangatlah berarti~
------
Nayla tengah sibuk di kantor sejak pagi dengan komputernya ketika pintu ruangan kerjanya terbuka lebar.
BRAAKK,,,,!!!
Suara dentuman pintu membentur dinding membuat Nayla mengarahkan pandangannya ke arah pintu dimana Adrian telah berdiri di sana dengan wajah panik dan sebuah surat kabar di tangannya.
Adrian menghampiri Nayla setelah menutup pintu dan memastikan tidak ada orang lain yang akan masuk kesana.
"Ada apa denganmu, Adrian? Kau tidak sedang di kejar penagih hutang di pagi hari bukan?" sembur Nayla karena terkejut dengan suara pintu.
"Jangan marah dulu, dan coba lihat ini!" tukas Adrian menyodorkan surat kabar pada Nayla.
Nayla menerima surat kabar yang di sodorkan padanya dan melihat halaman utama yang tercetak di sana.
Betapa terkejutnya Nayla melihat halaman pertama yang tercetak di sana. Nayla bangun dari duduknya dan membaca artikel yang membahas tentang dirinya dan Rory di sana.
### ACE, PERSONIL DARI FM GRUP MUSIK MENJALIN HUBUNGAN ASMARA. SIAPAKAH WANITA INI?###
Wanita yang tidak di perlihatkan wajahnya menjalin hubungan asmara bersama Ace, salah satu personil dari FM (Fimm Shadow). Kemesaraan mereka menarik perhatian publik hingga seluruh pengemar Ace menjadi histeris. Parahnya wanita ini juga terlihat menjalin hubungan dengan beberapa pria yang berbeda. Walaupun wajah dari wanita ini tidak terlihat, tapi mereka terlihat sama dari postur tubuh, warna kulit dan rambutnya. Siapa sebenarnya wanita ini? Benarkah wanita ini adalah orang yang sama? ###
Nayla duduk dengan lesu sembari menutup wajah dengan telapak tangannya. Tidak percaya dengan apa yang di lihatnya. Mencoba menyangkal semua firasat buruknya yang menjadi kenyataan, hingga suara Adrian menyadarkannya.
"Jadi foto ini benar-benar kamu, Nay?" tanya Adrian hati-hati.
Nayla tidak menjawab, namun hal itu cukup sebagai jawaban bagi Adrian.
"Aku berasumsi, di kantor ini hanya ada satu orang yang akan langsung mengenalimu selain aku," papar Adrian. "Pak Darwin," imbuhnya.
" Aku tidak tau bagaimana caranya foto-foto ini di dapatkan, tapi ini jelas ilegal dan melanggar privasimu, Nay. Kita bisa membuat tuntutan pada pihak yang mencetak berita ini," Adrian berkata dengan hati-hati untuk menenangkan Nayla.
" Kantor ini akan mendapatkan dampaknya jika aku melakukan itu, dan aku tidak ingin hal itu terjadi," tukas Nayla.
Seketika Nayla teringat Rory yang tiba-tiba datang ke apartemennya tadi malam. Sikap aneh yang di tunjukkan Rory padanya terputar ulang dalam enaknya. Merasa semua hal itu berkaitan, Nayla bangun dari duduknya dan menyambar tas miliknya.
Nayla bangun dari duduknya dan bersiap pergi dengan satu tujuan dalam pikirannya. Menemui Rory di tembat tinggalnya.
"Kamu mau kemana, Nay?" tanya Adrian saat Nayla mencapai pintu.
"Menemui seseorang," jawab Nayla singkat lalu menutup pintu.
Adrian menghembuskan nafas panjang dengan mata masih menatap pintu.
"Apa lagi sekarang? Banyak sekali hal yang terjadi dalam waktu dekat, ku harap Nayla akan baik-baik saja," gumam Adrian.
Nayla memacu mobilnya menuju gedung dimana Rory tinggal. Tanpa berpikir panjang, Nayla berlari menuju tempat biasa Rory berlatih dengan surat kabar di tangannya.
Nayla membuka pintu ganda dengan tidak sabar dan langsung masuk yang di sambut dengan tatapan kaget dan heran dari semua anggota FM.
"Lho,,, Nay? Kenapa kamu kesini?" sambut Rory binggung.
Nayla membungkuk sesaat untuk mengatur nafas dan menunjukkan surat kabar yang ada di tangannya.
"A-Apakah ini a-alasan-mu mene-muiku tadi malam, Roy?" tanya Nayla masih tersengal.
Rory menerima surat kabar yang di sodorkan padanya dan membacanya. Matanya melebar begitu melihat gambar dan judul artikel yang tercantum di surat kabar itu.
Anggota Fm yang lain pun menghampiri mereka berdua dan merebut surat kabar dari tangan Rory.
"Jawab aku, Roy!" pinta Nayla. "Apakah sikap anehmu tadi malam berhubungan dengan ini?" imbuhnya.
"Cih,,, orang itu cepat sekali menjalankan rencananya," dengus Martin lalu menatap Nayla tajam.
"Bukankah ini rencanamu sejak awal?" tuduh Martin.
Nayla menyipitkan matanya, hatinya mulai bergolak karena amarah. Namun, masih menekan amarahnya dengan menarik nafas panjang untuk menenangkan hatinya.
"Saya bahkan baru tau pagi ini," sanggah Nayla.
"Bagaimana anda bisa berpikir bahwa saya yang melakuknnya?" sambung Nayla.
"Hal itu sangat mudah jika hanya ingin membuat drama menjadi lebih menarik bagimu," sambut Martin
__ADS_1
"Cukup,,,!!" hardik Rory, lalu mengarahkan pandangannya pada Nayla.
"Maaf, Nay, lebih baik kamu tinggalkan tempat ini! Akan buruk akibatnya jika ada yang melihatmu datang ke sini disaat situasi seperti ini," pinta Rory.
"Apakah kau percaya dengan foto-foto itu?" tebak Nayla. "juga semua yang tertulis dalam artikel itu?" lanjut Nayla.
" Entahlah," sambut Rory menaikkan bahunya. "Aku mencoba untuk mencernanya," imbuhnya.
"Jadi,, kamu percaya semua itu?" cibir Nayla. "Bahkan tanpa mendengar penjelasanku?" sambungnya.
"Penjelasan ya?" tanya Rory datar. " Bagaimana jika kamu mulai dengan menjelaskan ini?" sambung Rory sembari menunjukan foto-foto dirinya bersama Val.
" Bagaimana foto-foto ini bisa ada padamu?" tanya Nayla binggung.
"Jawab aku, Nay! Kamu mengenalnya bukan?" tanya Rory serius.
"Aku memang mengenalnya, tapi hanya sebatas nama saja. Dan itu ku ketahui saat kamu belum kembali, kami hanya kebetulan bertemu di minimarket dan dia membantuku," terang Nayla.
"Kau yakin hanya itu?" tanya Rory datar.
"Tentu saja, kami hanya bertemu saat itu," sangga Nayla.
"Apakah ini juga yang kamu sebut rahasia yang belum siap kau katakan padaku?" tuduh Rory.
"Aku tidak akan memaksamu untuk percaya padaku, tapi aku bisa membuktikannya padamu," papar Nayla.
"Apa yang akan kau buktikan, Nay? Kalaupun hal ini di lakukan secara tidak sengaja,fakta bahwa kamu berhubungan dengannya tidak bisa di pungkiri," sambut Rory.
"Membersihkan namamu," jawab Nayla.
"Cih,,, apa yang bisa di lakukan oleh orang kecil sepertimu untuk mengatasi hal ini? Kau pikir apa yang bisa kau lakukan dengan posisimu?" sindir Martin.
"Akan lebih baik jika kau diam dan segera pergi dari sini," sela Kevin.
Nayla menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Matanya menatap satu persatu orang yang telah menyerangnya, lalu tersenyum getir.
"Aku akan pergi, tapi beri aku kesempatan untuk memperbaiki ini," pinta Nayla.
"Kau tak akan bisa melakukan apapun untuk memperbaiki keadaan, kau hanya akan memperburuk keadaan jika bertindak sembarangan," cecar Martin.
"Aku bisa melakukannya," janji Nayla.
"Hentikan, Martin,,!" sentak Rory.
"Kumohon, pulanglah Nay!" pinta Rory melemahkan suranya.
"Satu minggu," tukas Nayla teguh dengan pendiriannya. " Beri aku satu minggu untuk memperbaiki keadaan dan mencari bukti bahwa apa yang mereka singgung dari Rory adalah salah, itu cukup untuk membersihkan namamu, dan kalian semua," Nayla berkata kekeh pada pendiriannya.
"Itu hanya akan membahayakanmu, Nay!" sambut Rory.
"Dan hal itu sepadan untuk di lakukan," balas Nayla.
"Oke,,, mari kita lihat, sejauh mana kau bisa bertindak!" tantang Martin.
"Martin,,,!" hardik Rory. " Kita bisa mengatasi ini, tak perlu melibatkannya," sambung Rory tidak setuju.
"Dialah yang memutuskan untuk terjun kedalamnya," sanggah Martin.
" Ada apa dengan kalian,? Tidakkah kalian merasa bahwa kalian justru melempar masalah ini hanya pada Nayla?" sela Thomas kesal.
"Dia sendiri yang ingin melakukannya, aku tidak memintanya," bela Martin.
"Rory, kau bahkan terdengar menyalahkannya, apakah kau sadar itu?" ucap Thomas tak percaya.
"Tak apa-apa Thomas, terima kasih. Berikan aku beberapa foto yang di kirim mereka pada kalian," pinta Nayla tiba-tiba.
" Bagaimana kau bisa tau jika mereka mengirim banyak foto?" selidik Martin.
"Hhaahh,,,," desah Nayla. " Logika saja, jika mereka sampai mencetak di surat kabar dengan memperlihatkan foto yang masih menutupi sebagian wajahku, itu artinya mereka mengancam kalian. Dan mereka memiliki banyak foto yang bisa di gunakan untuk mengancam. Apakah logikaku salah?" jelas Nayla tidak sabar.
"Aku bisa mengerti betapa pentingnya reputasi kalian, jadi beri aku waktu untuk membalik keadaan," harap Nayla.
"Lakukan apapun itu selama itu tidak membuat keadaan lebih buruk, jika hal itu terjadi, kau harus pergi," ancam Martin.
Nayla tersenyum getir, perlahan rasa kecewa menyusup kedalam hartinya. Namun, dirinya juga tau dan bisa mengerti, Rory juga berada pada posisi sulit.
__ADS_1
"Satu-satunya hal yang akan aku lakukan adalah memperbaiki keadaan, bukan menghancurkannya," sambut Nayla.
"Baik, mari kita lihat apa yang bisa di lakukan olehmu," jawab Martin sinis.
Martin menyodorkan tumpukan foto pada Nayla.
Tanpa banyak bicara, Nayla mulai memilah mana foto yang akan dia ambil. Gerakan tangannya terhenti ketika Nayla melihat foto dirinya bersama Val yang menolongnya saat diaakan terjatuh tempo hari.
'Mereka bahkan melibatkan, Val. Oh benar juga, aku lupa menyanyakan tentang Val pada Rose, sekarang dia terlibat masalah karena aku' batin Nayla.
"Apakah kau senang dengan foto itu?" sindir Rory.
Nayla menengadah menatap mata Rory dan memaksakan sebuah senyum kecil padanya.
"Jika itu yang kau lihat, maka anggaplah seperti itu," jawab Nayla pasrah.
'Aku hanya harus fokus untuk membersihkan namanya, tak akan ku biarkan orang lain menghancurkan karir yang telah kau bangun selama bertahun-tahun, Roy,' bisik hati Nayla.
Nayla mengambil beberapa foto dimana dirinya merasa pernah bertemu dengan pria asing yang ada di foto itu dan menyimpannya.
Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dan sosok wanita anggun melangkah masuk menghampiri mereka.
Tanpa rasa canggung, wanita itu melewati Nayla dan memeluk Kevin yang menyambutnya.
"Aku membaca surat kabar yang menuliskan tentang andikmu, apakah kamu baik-baik saja?" tanyannya dengan suara khawatir.
"Apakah kamu datang jauh-jauh hanya untuk itu, sayang?" tanya Kevin bersuara lembut.
"Tentu saja, aku khawatir padamu, juga pada adikmu," jawabnya.
"Kami sedang mencoba mengatasinya, Alisha," sela Martin.
Wanita yang di sebut Alisha yang juga sebagai tunangan Kevin menoleh menatap Martin lalu tersenyum.
"Katakan saja padaku apa yang bisa aku bantu, aku akan melakukan apapun," ucap Alisha.
"Kamu baik sekali, Alisha," puji Martin.
"Kamu tidak perlu melakukan apapun, kami bisa mengatasinya," sambung Kevin.
Saat itulah Alisha menyadari keberadan Nayla dan menyipitkan mata, lalu tersenyum.
"Bukankah dia yang bersama adikmu,?" tanyaanya dengan senum manis di bibirnya.
Alisha menghampiri Nayla dan tersenyum ramah padanya.
"Aku tau ini waktu yang tidak tepat, tapi senang bertemu danganmu, aku Alisha, tunangan Kevin," paparnya sembari mengulurkan tangan.
"Nayla," sambutnya sembari tersenyum ramah pada Alisha.
"Aku sering sekali mendengar Rory meyebut namamu, aku tidak menyangka akn bertemu di situasi seperti ini," terang Alisha.
Nayla menanggapi Alisha dengn senyum tulus, sebisa yang bisa dia tunjukkan.
"Kenapa kalian menatapnya seperti itu? Apa yang terjadi?" tanya Alisha menyadari tatapan sinis Martin dan Kevin. Bahkan Rory hanya menatap datar.
Dering ponsel Nayla menyela pertanyaan Alisha. Menyelamatkan Nayla dari pertanyaan yang siap di lontarkan Alisha.
Nayla tersenyum hambar sebelum meraih ponselnya dengan nama Adrian tertera di layar dan segera menjawab tanpa memperdulikan semua mata yang tertuju padanya.
"Ya,,,?" jawab Nayla setelah meletakkan ponsel di telinganya.
"Segera kembali kesini, Nay. Aku mendapatkan hal penting yang harus kamu tau," pinta Adrian dengan suara khawatir.
"Oke,, aku segera kesana," jawab Nayla.
"Hati-hati, dan jangan gegabah dalam bertindak," harap Adrian.
"Aku tau," sambut Nayla singkat.
Nayla memasukkan ponsel kedalam saku celananya setelah panggilan berakhir, lalu mengedarkan pandangannya. Menatap satu persatu mata yang menatapnya, dan berhenti pada Rory.
"Aku akan menghubungimu ketika ada kabar baik," ucap Nayla lalu berbalik pergi.
Rory tertegun melihat raut wajah Nayla yang tampak suram. Raut wajah yang memperlihatkan rasa kecewa dan rasa sakit pada waktu yang sama. Sebuah ekspresi yang tidak pernah di lihat sebelumnya.
__ADS_1
Tanpa diduga, Thomas pergi menyusul Nayla . Tak lama Ethan juga pergi mengikuti jejak Thomas. Sementara Rory diam membeku di tempatnya.
...****************...