
Nayla memacu mobilnya lebih cepat.Berharap agar segera tiba diapartemen miliknya.Pertemuan dengan Vania meninggalkan rasa tak nyaman dihatinya yang membuatnya teringat akan kata katanya yang merendahkan Rory dan teman temannya.Dan entah kenapa rasa kesal yang merayap dihatinya terasa sama ketika orang lain berkata hal tak menyenangkan tentang kakaknya.
Setibanya diapartemen,Nayla masuk keruang kerja pribadinya.Duduk bersandar dengan kepala mendongak menatap langit labgit ruangannya.Mengatur nafas dan menenangkan diri.
Bangun dari duduknya,Nayla meraih gitar yang selalu menemani diirinya diruangan itu.Gitar yang selalu dia rawat dengan baik,dan selalu memainkannya untuk menenangkan hati serta pikirannya.
Kembali duduk dengan gitar dipangkuannya dan menghembuskan nafas pelan,Nayla mulai memetik gitar dengan menutup matanya,seolah ingin meresap semua meledi yang dihasilkan kedalam pikiran dan hatinya.
Perlahan seulas senyum terbentuk dibibirnya,dan mengalunlah sebuah lagu dari bibinya.Sebuah lagu lembut namun menegaskan perasaan yang dirasakan tanpa kebimbangan dihatinya.Memenuhi keheningan yang ada diruangannya.
Bersamaan dengan berakhirnya lagu yang disenandungkan Nayla,bel pintu berbunyi.Nayla membuka matanya dan melirik jam yang ada dimeja kerjanya.
'Siapa yang datang di jam seperti ini?'pikirnya.
Dengan engan,Nayla meletakkan gitarnya dan beranjak mendekati pintu.
"Adrian?"desis Nayla setelah membuka pintu dan melihat siapa yang berdiri dibaliknya.
Adrian tersenyum dan mengangguk sopan.Kedua tangannya menenteng paper bag putih besar yang berisi buku dan cetak asli karyanya.
"Maaf saya lupa menghubungi anda sebelum datang.Saya datang untuk mengantarkan ini."kata Adrian menunjuk paper bag dengan matanya.
"Masuklah Adrian.itu terlihat berat."kata Nayla tertawa kecil.
"Kenapa tidak diletakkan dikantor saja?"tanya Nayla.
"Itu akan menambah tumpukan barang diruangan anda."jawab Adrian tersenyum,mulai terlihat santai didepan Nayla.
"Apa maksudmu?"tanya Nayla.
"Sebelum itu,,dimana saya harus meletakkan ini?"tanya Adrian.
"Letakkan diruang kerjaku."jawab Nayla.
Nayla memimpin jalan menuju ruang kerjanya,membuka pintu serta menahannya untuk membiarkan Adrian masuk.
Ketika berada didalam,Adrian tercengang melihat ruang kerja Nayla.Matanya melihat sekeliling ruangan dengan mulut terbuka.
'Aku memang pernah masuk saat kejadian itu dan tak begitu memperhatikan ruangan ini.Tapi ruangan ini sungguh menakjubkan.Berapa banyak buku yang ada disini?'pikir Adrian.
"Kau bisa menutup mulut mu Adrian,walaupun disini tak memungkinkan ada lalat yang siap untuk bersarang didalamnya,tapi siapa yang akan menduganya?"kata Nayla tersenyum.
"Aahh..Maafkan saya.."jawab Adrian.
"Aku tau,,ruangan ini mengerikan dengan barang barang yang sangat berantakan.Aku hanya tak memiliki cukup waktu untuk merapikannya."kata Nayla melipat tangannya dan bersandar dirak buku.
"Tidak..Tidak..Bukan itu,"jawab Adrian mengelengkan kepalanya.
"Saya benar benar takjub dengan banyaknya buku yang ada disini."lanjut Adrian.
"Begitukah?"tanya Nayla melangkahkan kakinya mendekati gitar yang dia letakkan di lantai,bersandar pada meja kerja miliknya.
Dengan hati hati,Nayla memindahkan gitar ke tempatnya yang berada tak jauh dari meja kerjanya lalu berbalik menghadap Adrian.
"Letakkan saja itu disitu."kata Nayla menunjuk lantai kosong dengan kepalanya.
"Baik."Adrian menjawab dan meletakkan paper bag dilantai.
Adrian terdiam sesaat,memperhatikan Nayla yang baru saja meletakkan gitar disudut ruangan.
"Emmm..Maaf sebelumnya nona,bolehkah saya merapikan ini?"tanya Adrian hati hati menunjuk tumpukan buku dilantai.
Nayla menaikkan alisnya,menatap Adrian lekat.Sebuah ketulusan terpancar disana.
"Bukankah kau baru saja selesai bekerja?merapikan kekacauan ini akan menghabiskan waktumu dan tenagamu tentu saja."kata Nayla.
"Sama sekali tidak nona.Saya dengan senang hati merapikan semua ini.tentu saja hanya jika anda mengijinkan saya melakukannya."kata Adrian tulus.
"Baiklah..aku sangat berterima kasih kau mau melakukannya."kata Nayla.
"Bagaimana bisa tidak?"kata Adrian berubah semangat."Saya memiliki kesempatan melihat buku buku anda"lanjutnya.
"Terima kasih."kata Nayla.
__ADS_1
"Ini bukan masalah nona."jawab Adrian tersenyum dan mulai menata buku pada rak yang kosong.
"Baiklah..aku akan membuatkan mu minum,mungkin hanya itu yang bisa kugunakan sebagai balasannya."kata Nayla.
"Anda tidak perlu repot nona."jawab Adrian cepat.
"Aku tak menerima penolakan."kata Nayla,lalu keluar meninggalkan Adrian.
"Ahh,,,nona Nayla yang sebaik ini,bagaimana bisa aku menganggap sikap yang dia tunjukan padaku adalah untuk menyusahkanku?"gumam Adrian pelan setelah pintu tertutup.
Adrian mulai menempatkan buku buku yang dia bawa tadi ke rak yang kosong dengan menyesuaikan jenis jenis buku yang ada.
Ketika Adrian mulai merapikan buku buku yang berada di rak samping meja kerja Nayla.Rak buku setinggi langit langit berisi buku buku karya orang orang yang tak asing bagi dirinya.
Sekilas,Adrian melihat bingkai foto yang berdiri dimeja kerja Nayla.Didorong rasa penasaran,Adrian memperhatikan foto itu,Seorang pria yang seumuran dengannya atau bahkan lebih muda darinya bersama gadis kecil yang duduk dipundaknya tersenyum cerah menghadap kamera.Terlihat sangat jelas senyum bahagia yang diperlihatkan oleh mereka.Gelang yang melingkar ditangan gadis kecil itu menarik perhatiannya.Sangat jelas itu bukan gelang untuk ukuran tangan kecilnya.Adrian mengalihkan pandangannya dan kembali merapikan buku buku ketika mendengar langkah kaki mendekat.Mengeser badannya sedikit menjauh dari meja.
'Apakah itu nona Nayla?senyuman itu terlihat sangat berbeda dengan senyum yang biasa dia perlihatkan selama ini.'pikir Adrian.
"Aku tak tau minuman apa yang kau suka,aku hanya ingat kau menikmati ketika minum kopi.Jadi aku membuat kopi untukmu,dan sebotol jus jika kau sedang tak ingin kopi."Nayla berkata saat masuk dan meletakkan nampan berisi dua cangkir kopi dan sebotol jus dimeja kecil yang ada di sisi ruangan.
"Woww..kau cepat juga merapikan itu."komentar Nayla saat melihat Adrian sudah beralih ke rak yang berseberangan dengan rak pertama yang Adrian rapikan.
"Terima kasih nona,anda tidak seharusnya melakukan itu."kata Adrian.
"Apa maksudmu tidak seharusnya?kau sudah membantuku dengan kekacauan ini."kata Nayla tertawa ringan.
"Sejujurnya,,ini tak seburuk itu nona.Saya terbiasa berurusan dengan hal yang lebih buruk dari ini."kata Adrian.
"Oohh..Aku berharap kau tak akan mengalami hal itu bersamaku."kata Nayla.
"Saya meragukan hal itu akan terjadi."jawab Adrian.
Adrian tertawa kecil.Matanya menangkap sebuah buku tanpa sampul,namun dilapisi dengan cover plastik tebal menjaga buku dari debu di rak paling bawah.Berniat membetulkan posisi buku itu,secara tidak sengaja Adrian justru menjatuhkannya ketika membersikan debu tipis yang menempel dan menyebabkan buku itu terbuka.
"Ahh...maaf,,saya tidak sengaja melakukannya."kata Adrian panik.
"Tenanglah..kau tak harus sepanik itu hanya menjatuhkan satu buku."jawab Nayla tanpa berbalik,merapikan rak disisi lain.
Buku besar bercover plastik tebal berwarna putih bersih.Tulisan tangan yang sangat dikenali Adrian sejak bekerja dengan Nayla.Sebuah lagu beserta kunci gitar tertulis rapi disana.
Adrian meraih buku itu perlahan,matanya menelusuri tulisan yang ada disana.Tiap lembarnya memiliki judul yang berbeda dan tanggal di ujung kiri bawah memperlihatkan tanggal yang berbeda beda.
"No...Na...An..Da..."Adrian terbata bata mengucapkan kata katanya seraya membuka lembar demi lembar dengan hati hati.
"Apa yang sedang ingin kau katakan Adri..."kalimat Nayla terhenti ketika berbalik dan melihat Adrian tengah membuka buku pribadinya.Buku yang berisi lagu lagu ciptaannya sendiri.
"Haahhh...."desah Nayla meletakkan tangan didahinya.
"Nona..Anda bisa menciptakan lagu?"tanya Adrian kagum.
"Jadi...gitar itu bukan hanya sekedar untuk dimainkan,tapi anda juga menghasilkan sebuah karya?"tanya Adrian lagi.
"Itu benar benar luar biasa."seru Adrian antusias.
Nayla tersenyum mengeleng gelengkan kepalanya pelan.
"Apa kau sadar ini pertama kalinya kau memberiku pertanyaan yang cukup panjang?."tanya Nayla tertawa kecil.
"Ahh,,anda hanya salah mengingat saja nona."elak Adrian dengan wajah tersipu.
"Oh..Sayang sekali.Aku cukup percaya dengan daya ingatku."kata Nayla tersenyum.
"Jadi...Ini benar benar anda yang membuatnya?"tanya Adrian mengalihkan pembicaraan.
"Bagaimana menurutmu?"tanya Nayla menaikkan alisnya.
"Saya sangat yakin ini tulisan tangan anda.Dan anda bukalah orang yang akan melakukan plagiat."kata Adrian.
"Jika itu yang kau percaya,maka anggap saja yang kau katakan itu benar."jawab Nayla.
"Itu sangat luar biasa."kata Adrian dengan mata berbinar."Jadi anda suka menyanyi?"tanya Adrian lagi
"Aku menyukainya jujur saja.Itu cukup untuk menenangkan pikiranku dan menjernihkan pikiranku ketika inspirasi terasa buntu."jawab Nayla tulus.
__ADS_1
"Entah kenapa,,saya jadi ingin mendengar anda menyanyi."kata Adrian terus terang.
"Dan gendang telingamu rusak setelahnya?"tanya Nayla tertawa.
"Itu tidak akan pernah terjadi."jawab Adrian tertawa."Saya sangat yakin akan hal itu."tambahnya.
Adrian mengembalikan buku besar itu dan melanjutkan merapikan buku buku disana.Beberapa paper bag yag pertama kali Adrian bawa kesana masih tergletak disana sebagian.
'Sepertinya nona sangat sibuk hingga buku yang ku antarkan kesini pertama kali belum keluar dari tempatnya.' pikir Adrian.
"Bolehkah saya mengajukan pertanyaan nona?"tanya Adrian memecah keheningan.
"Tanyakan saja."jawab Nayla singkat.
"Di rak buku ini berisi buku buku dari banyak penulis.Bagaimana cara anda mengumpulkannya hingga sebanyak ini?Bahkan banyak buku yang sudah tak dicetak lagi."tanya Adrian penasaran.
"Banyak buku yang kudapatkan dari mereka yang sering mengirim surat padaku.Beberapa dari mereka selalu membalas kembali balasan yang aku kirim.jadi mereka bertanya tentang apa yang aku suka.Tentu kau bisa menebaknya apa yang terjadi setelah itu."kata Nayla terkekeh pelan.
"Ahh..saya hampir melupakannya,Hari ini hadiah dari pengemar anda datang."kata Adrian.
"Jadi itu yang kau sebut tumpukan barang dikantor?"tanya Nayla.
"Benar."jawab Adrian menganggukkan kepalanya.
"Baiklah..biarkan saja dulu untuk sementara.Aku akan mengurusnya nanti."kata Nayla.
"Jika anda tidak keberatan,saya bisa menghubungi orang yang biasa mengambil barang dari kantor untuk di antarkan kesini nona."kata Adrian.
"Kau yakin?"tanya Nayla.
"Sangat.dan kapanpun anda membutuhkan saya,saya akan dengan senang hati melakukannya."kata Adrian bersungguh sungguh.
"Terima kasih"kata Nayla.
"Minumlah dulu."kata Nayla lagi meminta Adrian duduk di Bean bag yang ada disana.
Adrian menurut dan meminum kopi yang dibuat untuknya.Aroma kopi yang menenangkan melewati hidungnya.
"Nona..Bolehkah saya berkata jujur pada anda.?"tanya Adrian setelah menyeruput kopinya.
"Katakanlah"jawab Nayla santai.
"Selain anda sangat luar biasa dalam menulis,anda berbakat menciptakan lagu.Tapi saya tak menduga anda juga berbakat membuat kopi."kata Adrian tulus lalu menyeruput kopinya lagi.
"Uhhuukk...."Nayla tersedak ketika menyeruput kopi ditangannya.
"Nona..Anda baik baik saja??"tanya Adrian panik.
"Adrian..tolong jangan mengatakan hal mengerikan ini lagi padaku.Aku jadi merasa yang berada didepanku bukan kamu."kata Nayla mulai tertawa.Meletakkan cangkirnya dan meraih serbet untuk menyeka mulutnya.
"Anda jahat sekali..saya hanya berkata jujur."keluh Adrian lalu ikut tertawa.
Adrian mulai menikmati suasana ketika berada disekitar Nayla.Menikmati kopi bersamanya,tertawa ringan,dan secara natural membuat Adrian lebih banyak bicara dan bertanya.Menanggapi kekonyolan Nayla bahkan membalas.Kedekatan yang tercipta begitu saja.
Sekilas Adrian menangkap gelang yang dipakai Nayla sama persis dengan gelang yang di foto itu.
Merencanakan sesuatu dipikirannya,Adrian memutuskan untuk pamit pada Nayla.
"Aku sangat berterima kasih kau membantuku hari ini."kata Nayla saat mengantar Adrian menuju pintu.
"Saya sungguh tidak keberatan melakukannya."jawab Adrian tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit nona,jaga kesehatan anda.Selamat malam nona."kata Adrian seraya membungkukkan sedikit badannya dan berlalu pergi.
"Hati hati,dan tetap aman dalam perjalanan."kata Nayla yang dijawab dengan anggukan kepala.
Nayla menutup pintu ketika Adrian masuk kedalam lift dan kembali keruang kerjanya.Seolah waktu datang dengan sangat tepat,ponsel Nayla berdering.
Wajah cerianya terlihat ketika mlihat layar ponselnya.Memberitahunya siapa yang menghubunginya 'My Lover'.Dengan senyum dibibirnya,Nayla menerima panggilan itu.
"Aku baru saja berfikir kenapa kau tak menghubungiku.Apa kau mendengar pikiranku Roy?"kata Nayla setelah menempelkan ponsel ke telinganya dan tawa renyah terdengar di seberang sana.
...****************...
__ADS_1