LOVE OF MY LIFE

LOVE OF MY LIFE
25.Mengenal Lebih Baik


__ADS_3

"Apa kita harus sampai seperti ini?Kalian membuatku terlihat seperti stalker sungguhan."suara protes Nathan memecah kebisuan.


Ethan dan Thomas hanya tertawa menanggapi. Mata mereka masih mengawasi Rory dari mobil mereka. Mereka memutuskan (paksaan Ethan sebenarnya) mengikuti Rory sejak Rory pergi saat hari mulai gelap dan menunggu lama tak jauh dari kantor tempat Nayla bekerja.


"Aku benar-benar lapar sekarang." kata Ethan mengabaikan Nathan.


"Apakah kau hanya memikirkan makanan?"tanya Nathan mulai kesal.


"Jangan marah..aku kan sudah membelikan buku untukmu,dan aku hanya minta kau ikut sebagai balasan." jawab Ethan santai.


""Hei,,, akulah yang mendapatkan buku untuk kalian." celetuk Thomas.


"Tapi kamu kan juga tidak sendiri setelah itu." bela Ethan.


"Kebetulan sekali,mereka singgah ke kedai burger, kita bisa kesana untuk bergabung." usul Ethan.


"Jika akan begitu,kenapa kita mengikuti mereka diam-diam seperti penguntit?" tanya Nathan kesal.


"Jika kita bersama Rory,dia mana mungkin akan mengajak Nayla."jawab Ethan tenang.


"Kenapa kau sebegitu senangnya bertemu dengannya?"tanya Nathan.


"Kau akan mendapatkan jawabannya jika bertemu dengannya, satu hal yang pasti adalah, Nayla sangat sangat berbeda dengan wanita itu." ucap Ethan.


Nathan menatap Ethan tak percaya.


"Cih..kau hanya bertemu sekali dan berkata seyakin itu?"tanya Nathan.


"Sejujurnya aku juga merasakan hal yang sama dengan Ethan." jawab Thomas.


"Bahkan kau juga?" sambut Nathan tak percaya.


"Aku yakin,Kevin tak akan percaya secepat kalian." tambahnya.


"Tentu saja Kevin akan begitu, siapapun tak akan bisa menerima ketika adik mereka disakiti dan khawatir itu terjadi lagi." jawab Ethan.


"Tapi, jawabnnya akan kau ketahui hanya jika kau mengobrol dengannya." kata Thomas menambahkan.


Nathan menaikkan bahunya. Mereka kembali mengarahkan pandangan mereka pada Rory yang memasuki kedai buger. Mereka mengatur jeda waktu dan mulai mengenakan masker dan topi mereka untuk masuk kedai bersama, menciptakan kesan kebetulan.


"Apakah dia tak menilai aneh karena kita menutupi wajah kita?"tanya Nathan.


"Tidak akan."jawab Ethan."Ayo jalan."ajak Ethan.


Mereka pun mengikuti Ethan untuk masuk kedalam kedai.


Nayla menarik lengan Rory menuju meja yang terletak disudut ruangan dan sedikit tertutup dari pandangan pengunjung lain dipintu masuk.


"Kenapa disini?" tanya Rory.


"Hanya berpikir kau akan lebih nyaman disini." jawab Nayla santai.


"Kau tak harus selalu memikirkanku Nay." kata Rory.


"Mana bisa begitu, Itu juga tidak sepenuhnya untukmu, itu juga untuk rasa nyamanku sendiri." jawab Nayla.


"Tapi ada satu masalah." ucap Nayla serius.


"Apa itu?" tanya Rory.


"Kau mengajakku kesini disaat aku baru saja selesai dengan pekerjaanku dan tidak memiliki kesempatan untuk menganti pakaianku," jawab Nayla menunduk melihat pakaiannya sendiri.


"Itu bukan masalah, kau tau? dan lagi,kau tetap cantik," sanjung Rory.


"Roy.,,," Nayla menyipitkan mata.


"Aku hanya jujur," balas Rory.


Samar-samar Rory mendengar suara yang sangat dikenalnya, Nayla pun merasakan hal yang sama. Mereka mengarahkan pandangan mereka kearah sumber suara dan melihat tiga orang yang sedang memesan makanan.


Rory membelalakan mata menyadari tiga orang itu adalah teman-temannya. Kemudian matanya berpindah menatap Nayla yang juga sedang menatapnya dengan ekspresi yang sama lalu mengarahkan pandangan mereka pada tiga orang itu lagi. Meskipun tiga orang itu menutupi wajah mereka, Rory tidak kesulitn untuk mengenali mereka, begitu juga Nayla.


Secara kebetulan, tiga orang itu melihat mereka berdua dan dengan semangat melambaikan tangan pada Rory dan Nayla. Mereka pun berjalan mendekati meja dimana Rory dan Nayla duduk.


PLAKK,,,!!


Rory menepuk dahinya dan mengeluh pelan.


"Apa yang mereka lakukan disini" keluh Rory.


Nayla menutupi mulutnya dan tertawa pelan.


"Ini tidak lucu Nay,," keluh Rory.

__ADS_1


Nayla hanya mengangkat bahunya tersenyum geli.


"Ternyata kau disini Rory," sapa Ethan yang dibalas dengan menyipitkan mata.


"Malam Nayla, kita bertemu lagi," sapa Thomas.


"Senang bisa melihatmu lagi, Thomas," balas Nayla ramah.


"Apa kami boleh bergabung Nay?" tanya Thomas.


"Ten,,," kalimat Nayla terpotong.


"Tidak,,, carilah meja kalian sendiri," potong Rory cepat.


"Kasar" sindir Nathan.


"Karena kalian menganggu," jawab Rory.


Sekilas Nayla menatap Nathan lalu beralih ke Rory.


"Tidak sama sekali, kalian boleh bergabung bersama kami," jawab Nayla.


"Nay,,,!" Rory mengeluh tidak setuju.


"Meja ini bisa memuat enam orang, jadi apa salahnya dengan mereka bergabung?" kata Nayla tersenyum pada Rory.


"Dia saja tak masalah" sambut Nathan menatap Nayla dengan tatapan terima kasih.


Nayla tersenyum ramah dan meminta mereka duduk.Thomas memilih duduk disamping Nayla yang duduk berhadapan dengan Rory.Sedangkan Ethan dan Nathan duduk bersebelahan disamping Rory.


Sebelum mereka mengatakan sesuatu, pelayan datang mengantarkan pesanan mereka dan meletakkan semua pesanan dimeja.


"Bagaimana harimu Nay?" tanya Thomas membuka maskernya begitu pelayan pergi. Mereka bertiga pun melakukan hal yang sama.


"Jika boleh jujur.Melelahkan," jawab Nayla diiringi tawa, matanya tertuju pada Ethan dan Nathan yang duduk berdampingan bagai pinang dibelah dua. Kedua wajah mereka sangatlah mirip, hampir tidak memiliki perbedaan.


"Pekerjaan?" tanya Thomas lagi.


"Benar, tapi ada saat dimana hal itu juga terasa menyenangkan" jawab Nayla.


"Jika kau tak keberatan aku bertanya, apa pekerjaanmu Nay?" tanya Ethan.


Mata Nayla beralih ke Ethan dan tersenyum.


UHUKKK,,,,!


Nathan tersedak saat hendak meneguk minumannya, dan segera menatap Nayla yang melihatnya sedikit khawatir.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Nayla.


"Tenang,,dia akan baik-baik saja," jawab Ethan menepuk punggung Nathan.


"Kamu bisa menebak semudah itu?" tanya Nathan tak percaya.


"Lebih mudah karena kalian berada didepanku sekarang" jawab Nayla tenang.


"Apakah tersedak juga merupakan kemiripan kalian?" tanya Nayla.


Rory dan Thomas tertawa membenarkan. Sementara Nayla hanya mengelengkan kepalanya geli dengan tingkah mereka.


"Bagaimana kamu bisa membedakan kami semudah itu?" tanya Nathan penasaran.


"Jika aku mengatakan dengan melihat, kalian tak akan puas dengan jawabannya bukan?" tanya Nayla menaikan alisnya.


"Tapi,memang hanya itu jawaban yang terlintas dipikiranku, mata kalian memiliki warna yang berbeda,"lanjutnya.


"Kamu memiliki pengamatan yang cukup tajam ya?" Nathan berkomentar.


"Aku setuju," sambung Thomas.


Nayla mengangkat bahunya dan tersenyum. Mereka pun mulai menyantap makanan mereka.


"Apa kamu menginginkan sesuatu yang lain Nay?" tanya Rory melihat Nayla tak melanjutkan makannya.


"Tidak,,,ini cukup kok," jawab Nayla tapi masih tetap tak melanjutkan makannya.


"Adakah yang salah dengan makanannya?" tanya Rory lagi. "Karena wajahmu mengatakan begitu" tambahnya.


"Tak ada yang salah dengan makanannya, sungguh, hanya saja aku tak bisa makan lagi," jawab Nayla.


"Katakan saja apa yang salah dengan makanannya," pinta Thomas.


Nayla menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Apakah akan aneh jika aku mengatakan karena mayonise?"tanya Nayla.


"Tidak sama sekali, karena dia juga begitu," jawab Thomas menunjuk Rory dengan dagunya. "Satu-satunya diantara kami yang tidak menyukai mayonise," tambahnya.


Nayla menatap Rory tak percaya,


"Kamu,,,??" ucap Nayla melebarkan matanya. "Sungguh.?" tambahnya.


"Sepertinya pesanan milikmu tertukar dengan salah satu diantara kami, selain Rory." kata Thomas mengedarkan pandagannya dan berhenti pada Ethan.


"Ethan,,," Thomas menatap Ethan.


"Apa.??" tanya Ethan masih dengan santai menyantap makanan yang ada didepannya.


"Tidakkah kau menyadari makanan yang kau pesan itu milik Nayla?" tanya Thomas.


"Apa yang membuatnya berbeda?toh menu yang kita pilih sama." jawab Ethan.


"Ouchh...apa sih" protes Ethan saat Nathan menyodokkan sikunya.


"Dia memiliki selera yang sama dengan Rory." kata Nathan.


"Ya bagus dong, bukankah itu hal baik?" ucap Ethan melanjutkan makannya.


"Arghhh...." geram Nathan lalu menjitak kepala Ethan.


"Auhh,,, apa sihh?" sungut Ethan kesal mengusap kepalanya.


"Hei,,cukup..hentikan..biarkan saja." ucap Nayla menengahi lalu tertawa pelan.


"Mau pesan yang baru?" tawar Thomas.


"Tidak perlu, itu akan memerlukan waktu lagi. Lagi pula aku tak mungkin bisa menghabiskannya jika memesan yang baru." jawab Nayla.


"Kalau begitu kamu makan punyaku," ucap Rory menyodorkan makanannya.


"Tidak Roy.itu untukmu saja," tolak Nayla tersenyum.


"Hemmm,,,, kalau begitu." Rory bergumam seraya membagi makanannya menjadi dua dan memberikan sebagian pada Nayla.


"Begini saja," ucap Rory memberikan sebagian makanannya pada Nayla.


"Berikan saja itu pada Ethan, dia akan menghabiskannya dengan senang hati," ucap Rory mengedipkan matanya.


Nayla menatap haru pada orang-orang yang belum lama dia kenal, tapi menghangatkan hatinya.


"Terima kasih,"ucap Nayla.


"Dan,,ini untukmu, awas saja jika kau tak menghabiskannya!" ancam Rory menyodorkan makanan Nayla pada Ethan.


"Kalian ini kenapa sih?" tanya Ethan menatap teman-temannya bergantian.


"Makanan yang kau makan itu milik Nayla, dann,,, selera dia sama dengan selera Rory, apa kau masih tak mengerti?" ucap Thomas tidak sabar.


"Oh,,tidak..."desis Ethan menatap makanannya."maaf Nay,aku benar benar tak tau."kata Ethan menyesal.


"Bukan salahmu.lagi pula kita impas bukan?aku juga memakan makananmu."jawab Nayla.


"Tapi itu berbeda.aku bisa makan apapun,tapi kamu..."Ethan merasa bersalah dan menatap Nayla meminta maaf.


"Tenanglah.tidak apa apa."kata Nayla menenangkan.


"Kamu baik sekali."kata Ethan.


"Kalian bahkan lebih baik dariku."jawab Nayla.


Setelah beberapa saat,mereka menyelesaikan makan mereka.Mengobrol untuk saling lebih mengenal.Merasa sudah waktunya untuk pergi,mereka memakai masker dan membetulkan letak topi mereka.


"Apa yang kau pikirkan?"tanya Rory ketika menyadari Nayla terseyum tipis setelah menatap mereka bergantian.


"Tolong jangan tertawa,tapi entah kenapa ketika kalian berbicara dan saling menjawab,aku merasa pernah mendengar suara kalian entah dimana."ungkap Nayla.


"Benarkah?apakah itu saudara atau keluargamu?"tanya Thomas mengelak.


"Tidak,,mungkin karena aku hanya berhalusinasi."kata Nayla seolah menutupi sesuatu.


Jawaban Nayla justru membuat mereka memperhatikan raut wajahnya berubah selama beberapa saat.


"Yuk pergi."ajak Rory tidak ingin mendesak Nayla.


Nayla mengangguk dan beranjak dari duduknya ketika sebuah suara tepuk tangan menghentikan mereka.


"Wah wah...lihat siapa ini yang baru saja makan bersama dengan pasukan aneh nya."suara sarkasme menghentikan mereka dan serentak menoleh kesumber suara dan melihat seorang pria dan wanita tengah menatap mereka dengan senyum sinis mereka.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2