
Enam hari sudah aku berada di rumah. Semenjak Salsa menelpon. Ia belum juga datang ke rumahku seperti apa yang di janjikan.
Karena masih mempunyai kesempatan untuk libur di rumah
Aku membantu ibu untuk mengambil pakaian kotor para tetangga. Selain berjualan gorengan dan kue-kue, ibu menjadi buruh cuci untuk menambah penghasilan juga.
“Assalamu’alaikum, Buk.”
“Wa’alaikumsalam. Eh, Manda. Mau ngambil pakaian kotor?” tanya salah satu ibu yang sering dicucikan bajunya oleh ibuku.
“Iya, Buk.”
“Tunggu dulu, ya, Nak. Ibu ambilkan dulu pakaian kotornya.” Ibu itu lalu masuk mengambilkan pakaian kotornya.
Setelah aku mengumpulkan semua pakaian kotor yang di ambil dari tetangga, aku pun pulang untuk mencuci pakaian tersebut.
Waktu libur aku gunakan untuk membantu ibu.
Sesampai di rumah, aku menuju kamar mandi untuk mencuci semua pakaian kotor tetangga.
Satu persatu aku mulai mencuci baju yang kotor.
Setelah 1 jam mencuci dan membersihkan semua pakaian. Aku juga membantu ibu lagi untuk membuat kue dan gorengan yang akan di jual keliling. Ketika kami sedang asyik menggoreng tiba\-tiba terdengar suara mobil yang berhenti di depan rumah.
“Manda. Siapa yang datang?” tanya ibu yang sedang merapikan kue lalu di masukkan ke dalam keranjang untuk di jual.
“Nggak tau, Buk. Mungkin, ada keluarga tetangga yang datang.” Aku pun menjawab dengan tidak terlalu menghiraukan suara mobil tersebut.
Aku melanjutkan lagi untuk menggoreng. Tidak lama kemudian, setelah suara mobil tersebut berhenti. Seseorang mengetuk pintu dan memberikan salam yang aku dan ibu dengar.
“Assalamu’alaikum,” ucap seseorang memberikan salam.
“Wa’alaikumsalam,” jawabku dan ibu.
“Kamu di sini saja, nanti Ibu lihat siapa yang datang.” Ibu lalu keluar menghampiri seseorang tersebut.
Aku merasa suara yang mengucapkan salam tersebut tidak asing untukku dengar. Secara tidak sengaja aku mendengar percakapan Ibu.
“Eehhh, Ustaz Aris. Masuk, Ustaz.”
Sontak aku yang mendengar Ibu menyebut ustaz Aris merasa kaget, dan terdiam kaku ketika ustaz Aris datang ke rumah.
“Duduk dulu, Nak Aris. Saya panggilkan Manda dulu."
Ustaz Aris? Untuk apa dia ke sini. Ya tuhaan ... jantungku terasa berdegup kencang saat mendengar namanya.
“Manda. Ustaz kamu datang, Nak.” Ibu datang dan berdiri didekatku.
“Apa! beneran Ustaz Aris datang, Buk?” tanyaku dengan wajah cemas melihat ibu.
“Iya. Kamu temenin dia dulu sana,” tanganku di tarik oleh ibu agar mau menemani guruku itu.
“Ngapain Ustaz Aris ke sini, Buk.” Aku mulai dengan wajah cemas dan khawatir. Untuk apa dia ke sini?
“Ibu juga tidak tau, Manda. Ibu juga bingung, kok dia ke sini lagi. Apa mungkin karena basa basi ibu yang menyuruhnya untuk ke sini. Mungkin itu yang membuat Aris ke sini lagi.”
“Nggak tau, Buk.”
“Tapi ... Ibu boleh bertanya sama kamu?”
Aku terdiam dan takut ketika Ibu ingin bertanya sesuatu kepadaku. Sorotan mata ibu seperti ingin bertanya sesuatu hal. Dan mulai seperti curiga denganku.
“Iya, Ibu mau nanya apa?”
“Kamu ... tidak ada hubungan apa-apa ‘kan sama Ustaz kamu sendiri, atau kalian memang ada hubungan?” tanya Ibu menatapku lekat.
“Manda tidak ada hubungan apa-apa sama Ustaz Aris, Buk.”
“Sebenarnya? Ibu tidak mau menanyakan hal seperti ini. Tapi ... kalau kamu tidak ada hubungan apa-apa. Terus untuk apa dia ke sini nyari kamu. Ibu bingung, Nak.”
“Maksud Ibu, apa?” Aku mulai gugup dengan pertanyaan Ibu. Aku takut jika ibu tau tentang aku dan ustaz Aris.
“Yaa, mungkin saja kamu ada hubungan. Sehingga dia sebegitu baiknya sama kamu.”
“Manda tidak punya hubungan apa-apa dengan Ustaz Aris.” Aku berusaha menjawab meyakinkan ibu.
Dan kini aku di suruh duduk oleh ibu menemani guruku itu. Dengan tatapan mata tajam. Entah apa yang ada dalam pikiran ibu.
“Kamu beneran tidak ada hubungan apa-apa dengan Ustaz Aris?” Ibu mengulangi pertanyaan lagi. Mungkin saja ibu akan tau yang sebenarnya. Tamatlah aku!
“Iya, Buk. Manda nggak tau apa maksud beliau ke sini juga. Kok Ibu nanya gitu. Walau pun Manda sering di bantu juga, tapi nggak tau apa maksudnya, Buk.”
__ADS_1
Aku berusaha meyakinkan Ibu dengan cara berbohong. Sejujurnya aku ingin berkata jujur kepada Ibu bahwa aku memang menyukai ustaz Aris.
Namun, takut jika kejujuran membuat ibu kaget. Ketika tau anaknya mempunyai hubungan dengan gurunya sendiri. Aku takut jika Ibu kecewa nantinya. Semuanya akan ibu tau jika ustaz Aris benar-benar serius kepadaku.
“Ya sudah, kamu buatkan teh dulu untuk dia. Terus bawakan jajan ini juga untuk Ustaz Aris.” Ibu memberikan piring berisi kue-kue.
“Iya, Buk.” Aku berusaha tersenyum lebar menjawab Ibu.
Dengan segera aku pun membuatkan teh manis untuk ustaz Aris. Dan cepat keluar membawakan teh dan kue-kue untuknya.
“Ustaz,” tegurku yang membawa teh beserta kue.
“Ehh, jadi ngerepoti.” Ustaz Aris mendonga melihatku.
“Nggak kok, Ustaz. Afwan, ya, cuman bisa menyajikan ini saja, Ustaz.” Aku menaruh teh di depan guruku itu.
“Ana yang seharusnya minta maaf sama anti, kedatangan ana sudah membuat anti repot.”
Kali ini ustaz Aris tersenyum lagi untuk kesekian kalinya melihatku. Sungguh, senyuman beliau membuat hatiku terasa bergetar. Aku merasa bahagia tapi malu melihat senyuman penuh artinya itu.
Karena malu aku pun hanya tersenyum hambar, lalu menundukkan pandangan. Sepertinya nanti malam aku tidak bisa tidur. Saat itu pula, jika aku mulai berada di dekat ustaz Aris, jantungku selalu berdegup kencang. Badan terasa dingin, kaku dan gugup, keheningan pun terjadi di antara kami berdua lagi.
“Loh, kenapa tidak di minum tehnya,” tegur ibu. Menagetkanku. Aku menoleh ketika ibu menegur ustaz Aris. Ibu yang baru saja keluar dari dapur membawa keranjang jualannya untuk keluar berjualan keliling. Kini aku berdiri di hadapan ibu.
“Ibu mau jualan?” tanyaku.
“Iya,” jawab ibu dengan tersenyum.
“Aku ikut, ya, Buk.”
“Kalau kamu ikut jualan, Ustaz Aris sama siapa? Kamu temenin ustaz kamu duduk saja dulu, ya?” Ibu mengelus pundakku.
Aku hanya mengangguk mengiyakan ibu, lalu ibu bergegas keluar untuk berjualan keliling.
“Nak Aris. Saya tinggal dulu,” ucap Ibu memberi tahu ustaz Aris.
“Memangnya Ibu mau ke mana?” tanya ustaz Aris lagi.
“Ibu mau pergi jualan,” jawab Ibuku.
Setelah Ibu keluar untuk berjualan, meninggalkan aku bersama ustaz Aris. Sesekali ustaz Aris meneguk tehnya.
“Manda. Bagaimana kalau kita duduk di luar saja. Soalnya ‘kan, Ibu anti lagi tidak ada di rumah. Takutnya nanti jadi fitnah kalau duduk berdua di dalam rumah sementara kita bukan mahromnya.” Ustaz Aris memberikanku saran. Memang ada benarnya juga saran darinya. Kami pun duduk di teras rumah.
Kami lalu keluar bersama ustaz Aris duduk di depan teras rumahku.
“Di sini suasananya enak,” kata ustaz Aris yang duduk melihat anak-anak kecil sedang bermain di depan rumah.
“Hm, iya,” jawabku singkat.
“Di sini suasana nyaman dan masih asri. Perkampungan yang begitu tentram.”
Kulihat senyum ustaz Aris terpancar di wajahnya, ketika melihat anak-anak kecil sedang asyik bermain.
Walau pun kami duduk ngobrol di luar, tetapi aku tidak terlalu banyak mengeluarkan kata-kata di depan guru itu. Rasa malu dan khawatir tetap kurasakan. Aku terus bertanya pada diri sendiri, untuk apa ustaz Aris berkunjung lagi ke rumahku. Aku takut jika di tanya lagi tentang menikah.
“Manda,” tegur ustaz Aris.
“Na’am, Ustaz. Kenapa?”
“Sebelumnya, afwan jika ana menanyakan ini lagi sama anti. Anti ...? bagaimana jawabannya, anti mau tidak menikah sama ana?” tanya ustaz Aris kepadaku untuk kesekian kalinya.
Ya Allah ... kenapa dia harus menanyakan ini lagi. Aku bingung harus jawab apa. Aku hanya diam, mulutku terasa kaku untuk menjawab pertanyaan itu.
“Manda,” tegur ustaz Aris lagi.
“Mmm ... ana bingung mau jawab apa, Ustaz.” Aku mengkerutkan ke dua alisku.
“Bingung kenapa?”
“Kenapa Ustaz terus menanyakan hal ini kepada ana. Kenapa Ustaz mau mengajak ana menikah?” tanyaku dengan suara ragu-ragu.
“Kalau tidak anti, terus harus ngajak siapa?” Ustaz Aris menjawab dengan suara halusnya. “Baiklah, sebelumnya ana sudah bilang sama anti. Kalau ana menyukai anti, dan ingin mempersuntingmu menjadi istri. Ana ngggak mau seperti ini terus harus memendam rasa sama anti, lebih baik lebih cepat.”
“Ustaz, sebelumnya ana juga minta maaf sama antum. Antum ‘kan tau, ana masih sekolah di pondok. Dan tidak mungkin harus menikah sama antum.” Aku menjawab sambil menunduk.
“Ana tau, Manda. Ana tau anti masih sekolah, ana akan tunggu anti sampai selesai sekolah nanti di pondok. Cuman tinggal satu tahun lagi ‘kan.”
“Tapi ...?” Kali ini wajahku amat khawatir.
“Tapi apa? Oke, gini saja. Ana janji walau pun kita sudah menikah nanti. Ana janji akan bantu anti untuk bisa kuliah ke Cairo.” Senyum lebar terpancar dari ustaz Aris berusaha meyakinkan dan membujukku.
__ADS_1
Namun, aku hanya terdiam memikirkan perkataannya. Aku memang ingin menikah dengan ustaz Aris. Tapi, di sisi lain aku ragu untuk bisa bersatu dengannya. Apakah semua akan setuju jika ustaz Aris ingin menikahiku. Hingga, aku berusaha yakin dan menyetujui ajakan ustazku itu yang ingin menikahiku nanti setelah selesai sekolah di pesantren.
“Ya sudah. Ana setuju, Ustaz. Tetapi, ana mohon jangan sampai ada yang tau tentang rencana kita ini. Ana takut, jika semua ini jadi fitnah,” kataku kepada ustaz Aris.
“Iya. Anti tenang saja! tidak akan ada yang tau tentang semua ini!” tegas ustaz Aris berusaha meyakinkanku lagi.
“Antum nggak salat dulu, Ustaz?”
“Salat, dong, masak nggak? Oya, ana mau kasih sesuatu sama anti.” Ustaz Aris bangun dari tempat duduk menuju mobilnya.
Hanya butuh beberapa menit ia kembali membawakan sebuah boneka di depanku. Ia kini duduk kembali menyerahkan sebuah boneka di hadapanku. Lantas aku pun kaget dengan disodorkan sebuah boneka.
“Ini apa, Ustaz?” tanyaku.
“Masak anti nggak tau ini apa?”
“Tau, Ustaz. Ini boneka,” kataku memegang boneka yang di berikan oleh ustaz Aris.
“Ya sudah, kalau anti tau nggak usah untuk di tanyakan lagi.” Ustaz Aris menoleh melihatku duduk dengan jarak yang lumayan tidak dekat.
“Ini ...? buat ana, Ustaz. Untuk apa antum kasih ana boneka?” tanyaku lagi dengan heran.
“Untuk menghilangkan rasa kangen anti sama ana, biar anti nggak kepikiran ana terus.” Ustaz Aris cekikan menggodaku, tetapi melihat ke arah anak-anak yang sedang bermain.
“Heeee, antum ini. Bisa aja, ngegombal! terima kasih, atas pemberian ini, Ustaz.”
“Iya. sama-sama,” jawab ustaz Aris.
“Antum taruh dulu sana bonekanya ke dalam. Takut nanti ada yang lihat, terus tanya-tanya sama anti.”
“Iya, Ustaz. Ana masuk ke dalam dulu, naruh bonekanya.” Aku dengan cepat masuk ke dalam kamar untuk menaruh boneka pemberian ustazku itu.
Satu jam tidak terasa kami duduk berada di depan teras rumahku. Ibu pun datang dengan membawa keranjang jualan yang sudah kosong. Hari itu, dagangan Ibu habis terjual. Dan aku ikut bahagia juga pastinya melihat dagangan ibu terjual habis.
“Ibu,” sapaku kepada Ibu.
“Iya,” jawab ibu dengan tersenyum lebar.
“Jualan, Ibu sudah habis?”
“Iya. Alhamdulillah,” jawab Ibu. “Kamu tunggu Ibu dulu, duduk saja di sana temenin ustaz Aris.”
Aku hanya mengangguk mengiyakan ibu. Melanjutkan lagi obrolanku bersama ustaz Aris. Sebenarnya, aku merasa malu duduk di luar bersama seorang laki-laki. Aku takut jika tetangga memikirkan hal yang tidak-tidak. Setelah mengobrol cukup lama, ustaz pun pergi ke musalla untuk salat.
“Manda. Loh Ustaz Aris mana?” tanya ibu menegurku.
“Ke musalla, Buk. Memangnya kenapa?” tanyaku.
“Nanti kalau sudah balik, ajak masuk untuk makan. Ini sudah siang, dan sudah waktunya makan siang juga.” Ibu berdiri di depan pintu memberi tahuku.
“Ibu sudah masak?” tanyaku lagi dengan heran.
“Iya, sudah.”
“Kenapa nggak kasih tahu Manda, Buk. Ibu ‘kan habis jualan keliling tadi, seharusnya Manda yang masak.” Dengan wajah kesal aku menatap ibu.
“Sudah. Tidak apa-apa. Kamu ‘kan temenin Ustaz Aris tadi, nggak enak kalau kamu ninggalin tamu terus bantu Ibu masak.”
“Iya, juga sih, Buk.”
“Ya sudah, Ibu salat dulu. Kalau Ustaz Aris datang kamu ajak masuk nanti untuk makan sama kita.” Ibu pun masuk ke dalam meninggalkanku untuk salat.
Aku kini duduk lagi di teras, menunggu Ustaz Aris yang balik dari musalla. Setelah menunggu beberapa menit, orang yang di tunggu datang dan aku mengajak beliau masuk untuk makan bersama.
******
“Waah ... ayamnya enak, ya, Buk. Tetapi lebih enak bebalungnya lagi,” dengan lahap ustaz Aris memakan bebalung yang di sediakan oleh Ibu.
“Nak Aris suka sama masakan Ibu, alhamdulillah.”
“Iya, Buk. Ini ke dua kalinya saya makan makanan ini,” ujar ustaz Aris.
“Sebelumnya, Nak Aris pernah makan di mana?” tanya Ibu.
“Di rumah makan, Buk.”
“Memangnya di pondok nggak pernah di buatin sama Uminya?” tanya ibu lagi.
“Nggak pernah, Buk. Umi juga nggak bisa buat makanan seperti ini, apalagi ‘kan Umi bukan orang Lombok. Jadi, beliau cuman bisa masak makanan khas jawa saja.” Ustaz Aris memakan nasinya lagi.
“Oouuhh, jadi Uminya dari jawa. Ibu kira orang Lombok juga sama seperti Abi.”
__ADS_1
“Nggak, Buk.” Ustaz Aris melanjutkan memakan nasi yang ada di piringnya.
Sementara aku hanya terdiam mendengar percakapan ibu dengan guruku itu. Aku hanya fokus memakan nasiku, tanpa ikut berbicara.