LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Kedatangan dan Perdebatan


__ADS_3

Aku duduk termenung, sendiri. Di siang hari ini cuaca begitu cerah. Namun, tidak secerah hati ini. Untuk sekarang, aku hanya bisa diam di rumah. Tanpa adanya aktifitas.


Belum ada panggilan semenjak memasukkan lamaran pekerjaan di toko roti yang di suruh oleh Kak Riko. Sudah empat hari berlalu setelah aku berkunjung ke rumah Salsa hanya diam di rumah.


Ingin rasanya membantu Ibu ke sawah, tapi beliau tidak mengizinkan. Padahal, aku kasihan kepadanya. Dan perasaan ini tidak enak jika terus diam di rumah sementara Ibu bekerja. Jika memaksa, maka aku akan berdebat lagi dengan beliau.


Sudah cukup perdebatan selama ini. Semenjak keluar dari pesantrenan, kami selalu saja berdebat. Hal kecil-kecilpun selalu dibesar-besarkan. Lama-lama lelah juga dan jenuh harus seperti itu dengan Ibu.


Aku bingung harus berbuat apalagi. Sementara, aku belum meminta izin kepada Ibu. Apakah ia mengizinkan untuk bekerja atau tidak. Dalam hati ini, sebenarnya tidak yakin jika Ibu setuju. Tapi, aku akan mencoba membujuk beliau supaya diizinkan.


Disaat duduk sendiri. Terik matahari yang begitu cerah. Tiba-tiba saja mobil berhenti di depan rumahku. Mobil yang kulihat itu, tidak asing bagiku. Awalnya, aku berusaha mencoba untuk mengingat mobil siapa itu. Tidak lama kemudian, turunlah seorang laki-laki.


Aku melihat mulai dari sepatunya. Sesaat mata ini melihat wajahnya lagi. Jantung ini seketika berdebar kencang. Dada ini mulai terasa sesak, darah ini terasa ingin berhenti mengalir. Dia. Dia datang lagi. Untuk apa lagi? Dia? yaitu Ustaz Aris. Dan untuk apalagi dia ke sini?


Aku yang tadinya duduk. Bangun memundurkan badanku. Apa lagi yang akan terjadi. Perasaanku mulai tidak menentu. Jangan sampe terjadi sesuatu. Aku takut tuhan ...! Belum lagi Ibu tidak ada di rumah.


"Assalamu'alaikum," ucap Ustaz Aris memberikan salam.


"Wa' ... wa' ... alaikumsalam," keringat mulai membasahi keningku.


"Manda. Anti apa kabar?"


 


Badanku gemetar. Ini untuk pertama kalinya aku merasa gemetar karena ketakutan. Diam. Hanya diam.


 


"Manda."


Aku mencoba memberanikan diri untuk menjawab laki-laki pengkhianat itu. "Alhamdulillah, baik."


"Mmmm ... ana boleh ngobrol sama kamu?"


"Untuk apa!"


"Mmmm ... sebelumnya ana minta maaf. Jika kedatangan ana buat anti kaget."


Kali ini aku berani menatapnya dengan wajah benci. Dengan wajah kecewa, dengan wajah ingin marah. Dulu, saat aku di hina oleh orang tuanya. Ia sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya. Dan sekarang ia muncul secara tiba-tiba di hadapanku.

__ADS_1


 


Untuk apa lagi? untuk apa lagi ia ingin menemuiku! Batinku terus saja memberontak. Betapa lelahnya aku menahan sakit hati ini.


"Ibu anti mana?"


"Ibu ke sawah. Ada perlu apa ke sini," aku mengalihkan pandanganku kearah lain. Melihatnya rasanya aku tidak sudi.


"Mmmm ... apa tidak sebaiknya kita bicara sambil duduk saja. Biar lebih nyaman."


 


Dia masih memberanikan diri untuk berbicara denganku. Bahkan sedikitpun ia tidak merasa malu untuk bertemu denganku.


"Ya. Silahkan duduk," ucapku agak sedikit cuek.


"Ana minta maaf sama anti. Dan tiba-tiba saja ana ke rumah anti."


"Tidak usah basa basi. Ada keperluan Apa Ustaz datang ke sini?"


"Mudir ... Mudir nyuruh ana ke sini. Mudir mau minta maaf sama anti. Jika anti mau balik ke pondok. Maka Abi pasti akan sangat senang menerima anti kembali."


Apa yang kudengar ini. Mudir meminta maaf? setelah mudhiroh menghinaku sampai seisi pondok pun tau. Tiba-tiba menyuruh Ustaz Aris ke sini untuk meminta maaf. Sejujurnya, aku berat menerima permintaan maafnya. Hati ini belum bisa pulih dari sakit yang berlipat ganda kuterima. Segampang itukah mereka meminta maaf.


"Ana sudah memaafkan, Ustaz. Ana tidak mungkin menaruh dendam kepada keluarga antum. Jika Allah maha pemaaf. Kenapa ana sebagai hambanya juga tidak bisa memaafkan. Jelas ana memaafkannya sudah dari dulu."


"Alhamdulillah jika antum menerima maaf, Mudir dan Mudhiroh."


"Jika Allah maha pemaaf. Maka kita sebagai hambanya juga harus saling memaafkan."


"Iya. Anti benar," jawab Ustaz Aris lagi kepadaku. "Ana ke sini, di suruh sama Mudir."


"Di suruh? maksudnya?" Aku semakin bingung dengan perktaan Ustaz Aris. Apa sebenarnya tujuannya ke sini. Aku takut jika ada yang tau ia ke sini.


 


Ia sudah mempunyai istri. Sementara Ibu tidak ada di rumah. Aku takut jika akan menimbulkan masalah jika ia berlama\-lama di rumah.


 

__ADS_1


"Mudir nyuruh anti untuk balik ke pondok."


Perkataannya jelas membuatku terkejut. Sangat terkejut. Balik ke pondok? untuk apa lagi Mudir menyuruh Ustaz Aris untuk mengajakku balik ke pondok. Aku semakin bingung dengan maksudnya. Kepalaku terus saja dikelilingi dengan berbagai macam pertanyaan.


"Untuk apa ana balik ke pondok. Bukannya sudah jelas. Apa yang sudah terjadi dulu."


"Ana tau. Makanya dari itu Mudir meminta maaf sama anti."


"Teruss ... ana mau balik untuk apa ke sana. Lagi pula sekolah di sana juga sudah selesai. Sudah cukup dua tahun 'kan? Apa lagi?"


"Ana tau. Tapi 'kan ... anti belum sempat wisuda. Belum sempat mendapatkan ijazah pula. Makanya dari itu, biar ada bukti kalau anti pernah sekolah di sana. Makanya Mudir suruh anti balik dan bisa mengambil ijazah anti juga."


"Tidak usah, Ustaz. Buat apa juga. Ana tidak dapat ijazah dari pesantrenan juga tidak apa-apa."


 


Aku bangun dari tempat dudukku. Rasanya tidak tahan jika mengobrol lama dengan Ustaz Aris.


 


Setenang apapun aku menjawabnya. Tetap saja, hati ini masih terasa sakit atas kekecewaan yang telah ia torehkan. Goresan hati ini masih belum bisa sembuh dari lukanya. Entah sampe berapa lama lagi akan membekas luka hati ini.


"Yah. Mungkin saja, besok ijazah anti berguna. Mungkin, anti bisa mengajar besok. Atau ... ana juga punya rencana untuk bantu anti masuk ke perguruan tinggi di Cairo. Seperti apa yang anti inginkan dulu."


Ternyata, ia masih ingat dengan janjinya dulu ingin membantuku untuk bisa sekolah di Cairo. Aku kira setelah ia menikah dengan Ustazah Nisa ia lupa dengan janjinya. Ternyata tidak!


"Hemm ... antum masih ingat dengan janji antum."


"Ana tidak mungkin lupa, Manda."


"Terusss janji yang dulu itu. Antum masih ingatkah dengan semua janji palsu antum!" Kini suaraku agak sedikit keras. Masih dengan keadaan berdiri, aku melihat guruku itu dengan wajah penuh benci.


Ustaz Aris pun juga ikut berdiri. Kini ia berada di hadapanku.


"Iya. Ana ingat, maka dari itu juga. Ana minta maaf sama anti."


"Hahh. Segampang itukah antum meminta maaf. Waktu ana dipermalukan! waktu ana di hina! Antum ke mana, Ustaz! Ana tanya antum dulu!" Air mata mengalir deras di pipiku.


Kejadian dulu pun semua harus teringat lagi sekarang. Dadaku begemuruh, sakit dan sesak. Deraian air mata terasa tidak ingin berhenti mengalir. Wajahku memerah, terasa ingin terus-menerus marah kepada laki-laki yang aku benci sekaligus kucintai.

__ADS_1


 


 


__ADS_2