LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Kenyamanan


__ADS_3

"Kamu rapiin baju aja dulu," kata Salsa menaruh tasku yang berisikan pakaian.


Aku mengulum senyum mengiyakan Salsa. Rasanya bahagia bisa mempunyai sahabat begitu baik. Jika tidak ada Salsa, entah di mana aku akan tinggal. Apalagi di kota Mataram. Aku tidak terlalu tau jalan. Dan ... jujur saja aku tidak tau apa-apa sebenarnya.


 


Memilih bekerja saja resiko besar bagiku. Tidak mudah sebenarnya mengambil keputusan ini. Tapi aku selalu dengan pedenya percaya diri di depan Ibu maupun Salsa kalau bisa melakukan semua ini.


 


"Da. Nanti kamu keluar aja, ya, kita makan bareng," kata Salsa seraya mengelus pundakku.


Aku mengulum senyum lagi dan tidak terlalu mau banyak bicara. Yang ada di pikiranku saat ini. Apakah aku akan nyaman atau tidak tinggal di rumah Salsa. Pertanyaan Ibu tempo hari membuatku terus kepikiran.


Namun, berusaha dengan niat yang baik dan berfikir tidak-tidak Insya Allah aku pasti nyaman kok berada di rumah Salsa. Salsa orang baik dan orang tuanya juga baik kepadaku. Aku yakin itu.


 


Dengan langkah pelan, aku membuka pintu. Menuruni anak tangga satu persatu. Kali ini kamar Salsa berada di atas. Merasa agak canggung, aku berusaha tersenyum lebar ketika semua mata rasanya memperhatikan. Termasuk Kak Riko yang sudah sedari tadi membalas senyumanku.


 


"Ayok, Dek. Sini duduk," sapa Kak Riko kepadaku.


"Iya, Kak. Terima kasih," jawabku lagi seraya menarik kursi yang akan kududuki.


Sekitar lima menit berlalu. Semuanya masih hening tanpa ada membuka pembicaraan satu sama lain. Aku pun juga meneruskan memakan nasiku dengan wajah agak sedikit malu dan merasa canggung makan bersama keluarga Salsa.


Padahal, sebelumnya aku pernah makan bersama keluarga Salsa waktu pertama kali ke rumahnya. Tapi entah kenapa, perasaan ini rasanya agak sedikit malu dan tidak enak. Apakah ini yang di katakan ketidaknyamanan oleh Ibu.


"Jadi ... kamu kerja di tokonya Buk Fatma?" tanya Ayah Salsa melihatku.


Sejenak aku terdiam. Lalu Kak Riko menjawab lebih dulu pertanyaan Ayahnya kepadaku. "Iya, Yah. Dia kerja di toko, Buk Fatma," jawab Kak Riko. "Buk Fatma itu Ibu temanku itu, Da. Tempat kamu kerja besok."


"Ooouuhhh. Jadi, yang punya toko itu namanya, Buk Fatma, Kak?" tanyaku lagi. Aku lalu mengambil gelas air yang berada di dekatku.


"Loh. Kok kamu bisa nggak tau siapa tempat kamu kerja?" tanya Ayah Salsa lagi.


"Iya, Da. Memangnya kamu tidak di kasih tau waktu masukin lamaran?" tanya Ibu Salsa lagi.


 


Aku terdiam sejenak setelah meneguk air minumku. "Saya taunya ... yang punya toko temannya Kak Riko, Paman, Bik," jawabku.

__ADS_1


 


"Iya. Yah, Buk. Manda taunya kalau temen aku yang punya toko itu," lagi-lagi Kak Riko membantu menjawab.


"Oh, ya, Da. Besok kamu di antrin Kak Riko berangkat kerjanya. Soalnya kamu satu arah jalannya ke tempat kerja Kak Riko."


Aku mengulum senyum mengiyakan sahabatku itu. Rasanya terpaksa jika harus terus merepotkan Kak Riko. Harapanku, bisa berangkat bersama Salsa, tapi ternyata tidak.


Mau tidak mau aku harus terima. Bagaimana pun juga mereka sudah mau membantuku.


******


 


Pukul delapan tepat. Aku sudah siap\-siap untuk berangkat kerja. Dan pastinya tidak lupa dengan Kak Riko. Saudara sahabatku.


Berbalut dengan kemeja putih dan dengan memakai celana panjang berwarna hitam beserta sepatu pantopel yang mengkilat. Sungguh, aku sedikit kagum melihat penampilan Kak Riko saat ia melangkah mendekatiku.


 


Terakhir, Salsa menceritakan jika saudaranya itu bekerja di sebuah Bank milik Negara. Dulu, aku mengira jika ia akan mengabdi sebagai guru di Sekolah Dasar. Ternyata tidak. Tuhan menentukan ia untuk bekerja sebagai seorang pegawai Bank.


"Yuk. Dek," sapa Kak Riko kepadaku. Dan cukup lama menunggunya, hampir tiga puluh menitan. Mau kesal, tidak mungkin juga.


Kami pun berangkat menggunakan motor matic. "Maaf, ya, Dek. Hari ini nggak pake mobil. Soalnya mobil mau di pake sama Ayah."


 


Sepanjang perjalanan kami tidak terlalu banyak bicara. Hanya diam satu sama lain. Untuk pertama kali diboncengi dengan seorang laki-laki rasanya agak canggung.


Sebelumnya, aku pernah satu mobil dengan laki-laki. Hanya saja tidak secanggung ini. Dan pastinya, aku yakin Kak Riko dengan laki-laki yang pernah kucintai itu sangatlah berbeda.


 


Bagiku, laki\-laki yang pernah kucintai itu adalah monster pengkhianat. Sementara Salsa dan Kak Riko adalah malaikat penolong yang diutus oleh Allah untuk membantuku.


 


"Sudah sampe, Dek," tegur Kak Riko berhenti di sebuah toko yang pernah kukunjungi sebelumnya. Di mana toko inilah tempatku bekerja. Sekitar dua puluh menit kami berada di perjalanan.


 


Aku bingung, dan agak sedikit malu untuk masuk duluan. "Kak," tegurku dengan wajah sedikit cemas.

__ADS_1


 


"Iya. Kenapa?" Kak Riko memarkirkan motornya seraya mengulum senyum melihatku.


Lantas, aku sedikit malu dengan senyuman saudara sahabatku itu.


"Ayokk. Kakak anterin masuk," ajak Kak Riko. Aku pun mengikutinya dari belakang.


Kami berjalan masuk menuju toko roti tersebut. Dan tidak lupa teman Kak Riko yang sebelumnya pernah bertemu dengan kami melambaikan tangan tersenyum lebar menyambut kedatanganku dan Kak Riko.


"Ini," kata Kak Riko memberitahu temannya itu.


"Mmmm namanya Manda 'kan?" tanya teman Kak Riko.


"Iya, Kak."


"Ya, udah. Aku cabut dulu. Soalnya mau berangkat," kata Kak Riko memberitahu temannya itu.


"Oke oke. Sukses selalu buat kamu," jawab temannya lagi.


"Da. Aku pulang kerjanya sekitar jam 3 baru nyampe sini. Nggak mungkin 'kan Kakak nunggu kamu. Jadi, nanti kalau Manda pulang telpon Salsa atau Kakak, ya," kata Kak Riko kepadaku. Aku mengangguk mengiyakan Kak Riko. Betapa baiknya dia kepadaku.


 


Setelah Kak Riko pergi meninggalkanku. Aku mulai diajarkan cara melayani pembeli dan bersikap baik kepada pelanggan. Alhamdulillah, teman Kak Riko juga baik orangnya.


"Jadi, kamu itu teman sekolahnya Salsa, ya?" tanya teman Kak Riko saat kami berdua merapikan roti yang ditaruh di rak.


"Iya, Kak," jawabku singkat sesekali merapikan roti yang kutaruh. "Oh, ya. Nama Kakak siapa? Maaf, saya lupa nama Kakak?"


"Nama saya Hadi. Mmmmm ... berarti rumah kamu cukup jauh, ya?"


"Dari mana Kak Hadi tau kalau rumah saya jauh?" tanyaku lagi melihat anak bosku itu.


"Dari alamat kamu. Waktu kamu nganter persyaratan sudah tertulis jelas 'kan di sana."


"Oh, iya. Saya lupa Kak. Maaf."


Cukup banyak yang kami obrolkan. Bahkan, dengan ramahnya Kak Hadi tidak membuatku canggung untuk mengenalnya. Biasanya, jika baru\-baru dekat aku sulit untuk beradaftasi dengan seseorang.



Allah memang cukup adil kepadaku. Saat\-saat seperti ini aku dipertemukan dengan orang\-orang baik dan luar biasa bagiku. Insya Allah aku pasti bisa melewati masa sulitku nanti. Dan mulai membuka lembaran baru dalam hidupku.

__ADS_1


 


 


__ADS_2