
Sesekali aku melihat pasangan suami istri yang sekarang masih di depanku. Tidak mengarahkan pandanganku secara langsung, aku juga kebanyakan menunduk.
Meremas ujung jilbabku, cara ampuh untuk menghilangkan rasa malas menghadapi dua insan yang ada di hadapanku.
Mungkin, ujung jilbab yang kuremas akan berbentuk keriting. Keriting ikal, keriting lurus, keriting kribo ... dan masih banyak model kriting. Kira rambut apah, ujung jilbab bisa kriting.
Saking kuatnya tangan ini meremas. sampai tanganku berkeringat.
"Kita duduk di sana, ya, Da." Lamunanku buyar ketika ustazah Nisa mengajak duduk di sebuah teras depan kelas santriwati.
Aku hanya menurut saja, dan belum mau untuk mengeluarkan kata sedikit pun.
"Oh, iya, Da. Kenapa anti tidak bilang jika mau ke pondok. Kalau anti bilang sebelumnya. Mungkin, kami bisa jemput anti. Kasian 'kan kalau pake sepeda motor jangkauannya jauh. Jalanannya juga agak rawan menuju ke sini, sementara anti perempuan."
Hah. Apa aku tidak salah dengar. Masak iya aku harus kasih tau dia kalau mau ke sini. Emang dia siapa harus dikasih tau. Emak bukan? saudara bukan? Sahabat bukan. Guru. Emang pernah jadi guru, tapi itu 'kan dulu. Kagak sekarang. Apa, sih, maksudnya?
"Manda."
"Iya, Zah," jawabku ketika zah Nisa menegurku.
"Hm. Ustazah tidak mau berbasa-basi terlalu lama. Kita langsung ke intinya saja, ya," kata ustazah Nisa lagi.
Aku mengernyitkan sedikit dahi mendengar ucapan ustazah Nisa. Apa sebenarnya yang ingin dibicarakan. Jika berlama-lama aku pengin pergi.
"Se-sebelumnya, ustaz Aris pernah ngajak kamu menikah 'kan." Ustazah Nisa meraih tanganku. Ia mengelus tanganku. Mungkin untuk mengambil hati atau bagaimana. "Nah, sekarang ustazah sudah ada di antara kalian berdua. Ana tau, Manda. Kalian berdua masih sangat saling mencintai. Jika bisa, ana mau anti jadi teman atau sahabat ustazah sekaligus kita berdua jadi istri ustaz Aris."
Aku kaget. Dan sangat kaget. Apa yang kudengar. Apakah ada yang salah dengan pendengaranku?
__ADS_1
Apakah aku perlu memeriksakan telinga kepada spesialisnya? Jika bisa, jantungku ingin berhenti berdetak sebentar. Mulutku terasa kaku seketika.
"Maksud, ustazah apa?" tanyaku bingung. Dan mungkin saat ini aku seperti orang ****'.
"Mungkin, dulu ustazah pernah melakukan kesalahan merebut laki-laki yang kamu cintai. Ustazah tau kalian berdua sama-sama mempunyai perasaan yang begitu kuat. Namun, ana merebut semua itu dari anti, Manda."
Aku ingin memejamkan mata ketika mendengar kata\-kata ustazah Nisa. Bagaimana bisa ia membahas masa lalu. Sungguh, aku sangat benci jika ia harus membahas masa lalu. Aku berusaha mengatur nafas untuk bisa menjawab segala perkataannya.
"Zah. Ustazah tidak boleh menyalahkan diri sendiri. Apa yang terjadi kepada ustazah semuanya sudah menjadi ketentuan Allah. Dan ... tentang yang dulu tidak perlu untuk di bahas. Ana sudah melupakan semuanya, Zah."
Aku berusaha menjawab ustazah Nisa walau sebenarnya hatiku sudah mulai terasa sakit. Jika jujur, tidak mungkin. Aku tidak akan mungkin bilang jika hatiku masih merasakan sakit sampai sekarang. Dan tidak tau kapan akan sembuh.
"Ana tau semuanya sudah menjadi ketentuan Allah. Namun, sekarang ustazah ikhlas dan sangat mau jika kalian menikah. Ustazah sanggup, malahan sangat mau jika kita bersama-sama jadi seorang istri yang baik buat ustaz Aris."
Kesambet apa ustazah Nisa tiba\-tiba mau kalau ustaz Aris menikahiku. Sebegitu gampangnya ia membujukku. Dikira aku bakalan mau apa di madu.
"Ustazah tinggalin kalian berdua. Mungkin, ustaz Aris juga mau bicarakan hal penting sama kamu," kata ustazah Nisa beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Ustazah mau ke mana?" tanyaku dan ikut bangun dari tempat dudukku. Bagaimana bisa ia menyuruhku untuk mengobrol dengan suaminya.
Ini pesantrenan, dan banyak orang di sini. Jika ia meninggalkanku dengan suaminya. Takutnya yang melihat aku dan ustaz Aris akan menjadi fitnah.
"Ustazah mau balik dulu ke pondok santriwati. Nanti ana balik," ucapnya lalu pergi meninggalkan kami berdua.
Aku sangat kesal. Dan sangat kesal dan ingin marah rasanya. "Antum kenapa diam aja dari tadi," kataku kepada ustaz Aris.
__ADS_1
Kali ini aku melihat ustaz Aris dengan wajah tidak suka. Rasanya ingin ngjambak orang. Dari tadi ia hanya diam, dan enggan untuk ikut berbicara. Dari tadi ia hanya jadi seorang pendengar setia antara pembicaraan istrinya dan aku.
"Ana harus bilang apa. Semuanya sudah dijelaskan oleh ustazah Nisa. Sekarang anti harus memikirkan setiap kata yang di lontarkan oleh zah Nisa," kata ustaz Aris menjawabku lagi.
"Antum. Antum itu ... ana benci sama antum lama-lama. Antum tidak tau apa, dengan cara istri antum biarin ana sama antum di sini akan menimbulkan fitnah. Antum lama-lama kayak orang **** tau!" ucapku lantang. Aku tidak bisa menahan amarahku lagi.
"Ana ****' karena anti," balas ustaz Aris lagi. Caranya membalas ucapanku biasa-biasa saja. Ia tidak kesal sama sekali dengan suaraku yang sedikit kesal tadi.
"Ana benci sama antum!"
"Benci tapi cinta?" balas ustaz Aris lagi.
"Benci tapi cinta?" ulangku lagi dengan wajah yang mulai memerah dan aku ingin marah. "Ana tidak pernah mencintai antum. Antum bermimpi jika ana sampe mencintai seorang laki-laki penhkhianat seperti ..."
"Seperti ... ana." Kali ini ia memotong perkataanku. Tatapan kami bertemu satu sama lain. Kami membuat dosa. Aku dengan cepat mengalihkan pandanganku agar tidak menatapnya lama.
Aku melangkahkan kaki, berniat untuk pergi meninggalkan ustaz Aris. Bagiku, hanya buang waktu saja jika meladeni setiap perkataannya. Sementara hatiku mulai sakit, apalagi harus mengingat kejadian dulu.
"Jika anti tidak mencintai ana. Maka anti tidak akan pernah bilang jika ana pengkhianat."
Bahkan, langkahku terhenti ketika mendengar ucapan dari ustaz Aris. Hatiku semakin sakit saat ia melontarkan kata-kata seperti itu. Aku membalikkan badan dan kembali lagi menghampiri laki-laki yang kubenci sekaligus kucintai itu.
"Iya. Ana mencintai antum! tapi itu dulu. Bahkan, ana mengharapkan antum! tapi itu dulu," ucapku lantang dengan membendung kristal bening yang sudah mulai menumpuk dipelupuk mata. Sebentar lagi, pipiku akan basah. "Semuanya adalah dulu! antum tidak pernah tau sakit yang ana rasakan. Antum nggak pernah tau!"
"Ana tau semuanya. Dan ana mengerti dengan sakit yang anti rasakan. Makanya, ana ingin memperbaiki hubungan dengan anti."
"Memperbaiki hubungan apa? Memperbaiki dengan cara antum memaksa untuk menikahi ana! Ah. Jawab ustaz!" ucapku dengan lantang lagi.
Bening kristal yang berusaha aku pendam. Akhirnya jatuh juga membasahi pipiku. Kejadian dulu pun membuatku teringat lembali. Jika boleh, aku ingin menampar ustaz Aris sepuasku mungkin. Tapi itu tidak akan pernah bisa.
__ADS_1