LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Menginap


__ADS_3

 


Aku mencoba memejamkan mata setelah mendengar segala curhatan dari Salsa. Malam ini, ia bercerita katanya ada yang deketin dia.


Laki-laki itu keturunan tiong hoa, mirip Lee Min Ho. Itu katanya Salsa. Awalnya aku terdiam, karena tidak tau siapa itu Lee Min Ho. Dan setelah dikasih tau, rasanya aku ingin ketawa. Masak iya ada yang deketin Salsa mirip artis korea begitu. Maklum saja, aku tidak suka korea. Makanya, Lee Min Ho saja aku tidak tau.


 


Jika belum melihat wajah aslinya, aku tidak akan pernah percaya kalau ada laki-kaki yang mirip si itu. Siapa tadi Lee Min Ho.


Saat perasaanku akan mulai hilang, tiba-tiba saja handphoneku berbunyi menandakan adanya panggilan masuk.


 


Aku menyipitkan mata melihatnya, tertera ustazah Nisa. Yang tadinya aku sangat ngatuk seakan rasa ngantuk itu hilang.


Kulihat jam dinding yang ada di kamar Salsa menunjukan jam sepuluh lebih. Sementara Salsa yang berada didekatku sudah tertidur pulas. Melihat cara tidurnya yang begitu pulas. Sepertinya ia bermimpi ke korea bertemu seorang laki-laki yang mirip dengan Lee Min Ho. Tidur yang begitu nyenyak. Semoga saja ia bisa berjodoh dengan laki-laki yang sangat ia idam-idamkan itu.


 


Rasanya ragu mengangkat telpon dari ustazah Nisa. Yang jadi pertanyaan untuk apa ia menelpon? Setelah suaminya yang menelpon sekarang ia lagi. Apa aku begitu sangat penting sehingga mereka terus saja menggangguku.


Tetap aku tidak ingin mengangkat telpon darinya. Kali ini ada pesan masuk di handphoneku. Dan ternyata pesan dari ustazah Nisa.


 


[Assalamu'alaikum, Manda. Kamu apa kabar? Maaf ganggu kamu. Semoga mimpi kamu indah malam ini]


 


Dasar lebay. Berasa seperti dikirimin pesan sama kekasih kata-katanya. Untuk apa mereka bersikap baik kepadaku.


 


"Apakah untuk bisa membuat hatiku luluh agar mau balik ke pondok. Jangan mimpi!" gumamku mematikan handphoneku.


 


Kucoba menarik selimut menutup wajahku. Semoga saja malam ini bisa tertidur pulas seperti Salsa.


 


******


"Kapan-kapan nginep lagi, ya," ucap Salsa ketika memboncengiku untuk ke tempat kerja.


Aku mencoba merapikan jaket yang masih kupakai. Masih begitu pagi Salsa mengantarkanku. Angin pagi menusuk tubuh rasanya. Sebelum ke tempat kerja, aku menyuruhnya untuk mengantarkan ke kos saja.


 

__ADS_1


Akhirnya, aku sampai juga di depan kos. "Makasih, ya, udah diantrin."


 


"Iya, sama-sama. Aku balik dulu, ya. Assalamu'alaikum," ujar Salsa seraya membelokkan motornya.


"Wa'alaikumsalam," jawabku lagi.


 


Aku lalu masuk ke dalam kos mengambil sesuatu. Karena belum sarapan. Aku mencoba untuk masak mi instan. Tapi, setelah dipikir-pikir ini masih pagi. Kuurungkan niat untuk memasak mi. Karena tidak mungkin, diriku ini memakan mi pagi-pagi.


Sementara perutku sangat sensitif dengan makanan yang akan membuatnya sakit atau pun miles. Untung saja, aku melihat selembar roti tawar. Tidak apa-apa asalkan bisa menjanggal perut.


 


Setelah selesai memakan roti. Aku bergegas bekerja. Waktu terasa berjalan cepat. Rasanya tadi masih pagi. Hanya duduk sebentar sudah menunjukan pukul delapan.


 


Karena jarak tempat kerja dengan kos tidak terlalu jauh. Aku berjalan kaki menuju toko roti tempatku bekerja.


 


Sesampainya di sana aku melihat Salsa berdiri seperti menunggu seseorang


"Salsa," tegurku menghampiri.


"Kok kamu ada di sini?" tanyaku.


"Iya, nih. Aku lupa bawa titipan Kak Riko ke anak bos kamu. Padahal tadi udah jauh. Tapi aku balik lagi, karena mau kasih sesuatu ke Kak Hadi."


 


Saat aku sedang mengobrol dengan Salsa. Salah satu teman kerja mendekatiku, siapa lagi jika bukan Febi. Terlihat ia membawa sebuah bunga mawar putih dan sebuah kotak yang entah aku tidak tau isinya.


 


"Da. Nih punya kamu," ujar Febi sambil memberikan sebuah mawar putih dan kotak yang sepertinya berisi makanan.


"Loh, kok aku?" tanyaku bingung memegang bunga mawar putih tersebut.


"Ya, orang tadi nganternya bilang buat kamu. Emang siapa nama Manda di sini selain kamu. Di sana juga ada kertas, tertulis untuk Manda tersayang. Cieee," cengir Febi sambil menggodaku lalu pergi dari hadapanku dan Salsa.


 


Padahal masih pagi, tapi aku sudah menerima bunga mawar. Dan bunga mawar putih sangat kusukai. Lalu kubuka kotak yang ternyata berisi cupcake rasa coklat semua.


 

__ADS_1


Rezeki anak soleha. Ketika perut masih lapar begini. Alhamdulillah, masih pagi sudah ada yang memberikan makanan.


Walau aku sedikit penasaran entah siapa yang mengirimnya. Intinya aku sangat berterima kasih.


 


"Dari siapa?" tanya Salsa melihatku seperti menyelidik.


"Nggak tau," jawabku singkat lagi. "Kamu mau makan nggak?"


"Nggak. Kamu kok makan-makan aja. Nanti kalau ada peletnya gimana," ujar Salsa dengan raut seperti tidak suka.


"Ya Allah, Sa. Bismillah aja," balasku memakan cupcake tersebut.


"Kok bisa ada orang ngasih bunga mawar putih sama kamu. Kamu ada deket sama seseorang, ya?" tanya Salsa yang masih berdiri didekatku.


"Nggak ada."


"Nggak ada?" tanya Salsa lagi. Ia kini menatapku tajam seperti memikirkan sesuatu tentang diriku. "Kalau nggak ada? Berarti yang ngasih si itu?"


"Siapa maksud kamu?" tanyaku balik, aku takut jika ia beranggapan bahwa ustaz Aris yang memberikannya kepadaku.


"Siapa lagi kalau bukan masa lalu kamu. Kemarin aja aku lihat ia nelpon kamu?"


"Hmmm ... nggak mungkinlah, Sa. Masak iya Ustaz Aris ngirim beginian ke aku. Sementara dia udah punya istri."


"Emang di sana tertulis dari siapa?"


"Ya nggak ada. Tapi, mungkin aja dari orang lain 'kan."


"Kamu beneran 'kan nggak ada hubungan apa-apa sama dia?" tanya Salsa. Sepertinya ia begitu curiga kepadaku. Yang tadinya aku menikmati memakan cupcake seketika nggak doyan lagi untuk memakannya.


Aku merasa agak kesal di tanya\-tanya terus oleh Salsa. Sebegitu sensitif sekali pikirannya jika membahas ustaz Aris.


"Beneran nggak ada, Sa. Ngapain juga berhubungan sama orang yang udah punya istri."


Saat kami melakukan perdebatan, handphone Salsa berbunyi. Dan alhamdulillah, ia akhirnya pamit untuk pergi ke kampus. Allah memang adil kepadaku. Nyatanya aku diselamatkan dari segala pertanyaan Nyi pelet.



Gimana aku nggak bilang Nyi pelet. Bagaimana bisa ia berfikir bahwa cupcake yang kumakan dikira ada peletnya.


Sepertinya ia begitu dendam dengan ustaz Aris. Sama seperti Ibu juga, kalau membahas ustaz Aris. Kepalanya langsung terbakar, langsung keluar asep dari telinga ibu. Hee, nggak nggak, nggak boleh bilang seperti itu.


Terkadang aku takut kalau ibu atau pun Salsa tau jika aku dan ustazah Nisa juga sering ketemu. Entah apa yang akan terjadi? antara mereka marah atau ... bagaimana, aku tidak tau.


Selama bekerja aku tidak pernah merasa dekat dengan seseorang. Setauku hanya ustaz Aris yang tau bahwa aku sangat menyukai bunga mawar dan paling suka jajanan yang berbau-bau coklat hanya ia yang tau.


Harapku semoga bukan ia yang memberikan semua ini. Karena aku tidak mau diperlakukan seperti ini oleh laki-laki yang sudah mempunyai istri.

__ADS_1


 


 


__ADS_2