LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Lucifer


__ADS_3

"Dasar cowok aneh!"dengus Aya,masih berdiri dan masih saling menatap tajam.


"Sudah cukup! silahkan duduk dan lanjutkan makan kalian,setelah itu baru bicara!"pusing dengan pertengkaran anaknya dengan anak partner kerja nya.


"Duduk lah nak!"perintah bibi Alya pada anak nya lembut.


Dengan sangat terpaksa kedua nya duduk,bahkan saat duduk saja masih menatap tajam.Seperti ingin membunuh orang saja.


Berbeda dengan cowok yang duduk di depan Aya,dia terlihat tenang menikmati suasana dan tidak lupa senyuman tipis nya.Membuat semua orang yang melihat akan mabuk karena ketampanan nya.


Aya beralih menatap cowok yang ada di depan nya.Terlihatlah dia sedang makan dengan cool,dia pun merasa ada yang memperhatikan,dia mendongak,mata mereka saling bertahap.Senyuman itu muncul lagi,tidak seperti yang lain,bagi Aya senyuman itu mempersulit dirinya karena sulit untuk menebak isi hatinya.Aya tidak tahu apa yang di fikirkan anak itu sekarang.


Setelah mencoba mencari tahu tapi tidak berhasil,Aya memilih untuk melanjutkan makanan nya.


Sedangkan cewek yang tengah duduk di samping kiri Aya,matanya terus saja menatap kedua cowok yang tengah duduk dan makan dengan gaya yang berbeda tapi terlihat sama sama keren.


Sesekali Aya melirik kak Nana.


Makan saja sambil melihat mereka?huh,apa dia tidak punya pekerjaan lain?*


Tak lama kemudian ide jail melintas di otak Aya yang cemerlang itu.Seringai tipis pun muncul,Aya memulai aksi nya.


"Ukhuk ukhuk!"kak Nana tersedak setelah memasukkan sendok yang berisi sambal,ya,benar Aya tadi meletakkan sambal di piring Nana saat dia tidak melihat piring karena fokus pada pandangan indah yang ada di depan mata nya.Dan sial nya Nana menyendok sambal itu bukan nasi nya lalu memasukkan ke mulut nya.


Semua orang menatap Nana terkejut,tapi tidak dengan ketiga anak itu,mereka menahan tawa karena tahu yang memasukkan sambalnya adalah Aya.


"Hei kau kenapa,minum dulu!"Ibu menyodorkan gelas yang berisi air putih kepada Nana,dengan segera mungkin Nana meminum nya dengan di bantu tangan Ibu.


"huh hah hah hah!"nafas Nana terengah-engah.


Nana menatap piring nya,dan betapa terkejutnya dia melihat bekas sambal di sana.Nana menoleh ke samping kanan,seperti tahu siapa di balik semua ini.


Aya yang di tatap Nana hanya menatap datar.


"Kau yang melakukan ini bukan,kenapa?kau iri dengan ku?!"bentak Nana


"Tidak juga."Jawabnya singkat lalu memasukkan nasi ke mulut nya.


"Jangan bohong!"sambil mendorong tubuh Aya,dan membuat sendok yang di pegang nya terjatuh ke lantai,untung nya nasi nya sudah di masukkan ke mulut.


Klontang!


Suara sendok yang beradu dengan lantai.


sret!


Suara gesekan kursi dan lantai.


Meskipun Aya sedikit terdorong ke belakang dan merasakan nyeri di kakinya karena menatap kaki meja,dia terlihat tetep santai.

__ADS_1


Berusaha untuk terlihat tidak marah,padahal asli nya,ingin sekali meluapkan semua isi hatinya yang terpendam dari dulu.


"Aku bukan seperti mu."Jawab Aya di iringi senyuman tipisnya.


"Maksudmu aku pembohong?!"mencengkram lengan baju kiri dan kanan Aya kuat.


"Tidak,kau sendiri yang mengatakan itu."Nana ingin menampar Aya,tapi tidak,ayah lebih dulu memisahkan mereka.


"Jika kalian masih bertengkar tidak ada uang jajan sebulan."Nana sudah siap untuk menampar,tapi mendengar itu dia kembali menurunkan tangannya.Seringai tipis yang muncul di sudut bibir Aya kini agak lebih melebar melihat ekspresi kakaknya saat Ayah mengatakan ancaman nya.


Nana dengan sangat terpaksa dan kesal,melepas cengkeraman tangannya kasar,membuat butuh Aya terayun ke belakang.


Aku tahu kau tidak akan melakukan itu.*Aya kembali menyantap makanan nya,dengan santai seperti tidak terjadi apapun.


Setelah makan,semua masih diam,tidak ada yang berbicara sampai....


"Maaf atas kejadian tadi."Ujar Ayah meminta maaf kepada sepasang suami istri itu.


"Ah sudahlah,namanya juga anak anak,pasti seperti ini."Jawab paman Yunus ramah.


"Terimakasih atas pengertian nya."


"Sama sama pak."


"Oh iya,apa kerja sama kita tetep berjalan?"tanya Ayah


"Tentu saja."


Semua orang menoleh ke arah nya dengan tatapan berbeda beda.


"Kenapa?"tanya paman Yunus


"Karena dia sudah membuatku malu!"menunjuk Aya,yang di tunjuk hanya menatap datar.


"Lalu?"tanya nya lagi


"Pokoknya aku tidak setuju!"tegas nya


"Itu urusanmu."


Semua orang diam


"Lagian kau setuju atau tidak,keputusan ada di tangan papa."Lanjut nya.


Anak itu menatap papa nya tajam,lalu beranjak pergi.Semua hanya menatap kepergian anak itu.


"Apa masih berlanjut?"tanya Ayah


"Tentu,biarkan saja anak sialan itu,ini pekerjaan saya,saya yang bekerja,bukan dia."Tegas nya

__ADS_1


"Maaf,karena pekerjaan ini,hubungan kalian menjadi retak."Ujar Ayah lagi


"Tidak masalah pak,lagian ini sudah terbiasa terjadi."Jelas nya


"Tidak perlu sungkan."Saut istri nya.


"Oh iya nak,siapa nama mu?"tanya Ayah


"Lucifer,paman."Tersenyum ramah.


"Waw nama yang indah,persis seperti orang nya."Saut Ibu


"Saya permisi dulu."Celetuk Aya,karena sudah merasa tidak enak ada di zona seperti ini.Aya yakin Ibu pasti akan menjelekkan nama Aya di depan semua orang,dan Aya lebih memilih untuk pergi.


"Kau mau ke mana?"tanya Ayah,yang melihat Aya berdiri.


"Taman."Jawabnya singkat.


"Permisi!"melangkahkan kaki nya pergi.


Melihat Aya pergi diapun juga ikut pergi.


"Saya juga permisi mau ke sana."Tersenyum ramah,berdiri.


"Ikut Aya?"tanya bibi Alya


Lucifer hanya mengangguk tanda perkataan bibi nya benar.


"Permisi."Ucapnya lalu melangkah pergi ke belakang.


Semua orang geleng geleng kepala melihat tingkah laku Lucifer,tapi tidak dengan Ibu dan kak Nana mereka terlihat kesal.


Di taman belakang,Aya duduk di ayunan,dengan pikiran yang melayang layang.


Perasaan sebal dengan cowok tadi,menggebu di hati nya.


"Huh,dasar menyebalkan,kau pikir kau siapa hah,berani nya berbicara seperti itu di depan Ayah!"


"Anak kurang ajar,mungkin dia minta di sliding,awas saja kau kalau bertemu lagi akan ku sliding habis habisan!"


"Anak sialan,bisa bisanya dia seperti itu!"


Berbicara sendiri tanpa ada habisnya mengutuki cowok sialan itu.Dan tanpa Aya sadari ada seseorang yang memperhatikan Aya dari sana,dia bersandar di pintu,sambil mendengarkan ocehan Aya yang tiada habis nya.Sesekali dia tersenyum mendengar nya.


"Huh anak sialan akan ku-!"emosi menggebu gebu.


"Belum puas dari tadi kau mengumpatnya?"berdiri di samping kanan Aya sekitar 1 setengah meteran.


Aya menoleh,menatap anak itu tanpa ekspresi.Anak itu pun melangkah untuk duduk di kursi sebelah Aya,agar lebih dekat.

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2