
Libur telah usai. Semua santri balik lagi seperti semula di pondok pesantren.
Mengikuti peraturan lagi seperti semula. Sebentar lagi, aku akan selesai sekolah di pesantrenan. Dan ... akan segera menikah. Aku berharap tidak ada halangan tentang rencanaku dan Ustaz Aris.
Kami sedang duduk di depan teras kantin sambil memakan jajan yang kami beli dari kantin.
“Ana nggak sabar, Da. Lihat antum menikah sama Ustaz Aris,” Bisik Salsa yang duduk di dekatku.
“Memangnya antum mau ngapain kalau ana nikah nanti?” tanyaku menoleh melihat sahabatku itu.
“Yaa, nggak ada sih, tapi mau lihat antum cepat-cepat pakai gaun pengantin. Pasti bakalan cantik banget,” kata Salsa tersenyum-senyum melihatku. Bahkan, aku juga menyunggingkan senyuman karna bahagia.
“Tunggu saja, tinggal sebentar kok. Ujian aja tinggal 4 bulan, setelah itu ... wisuda dan hari H.” Aku cekikan sendiri melihat Salsa. Yang kurasakan tidak sabar. Ingin secepatnya bersama Ustaz Aris.
“Semoga ana juga dapat calon suami yang kayak antum. Yang soleh, ganteng, pintar, trusss tajir. Wahh lengkap dunia akhirat dah jadinya."
“Ya Allah ... hahaa antum mah, nggak usah ngomong lengkap dunia akhirat. Kayak gimana kedengarannya."
"Iya iya, pokoknya ana doain semoga antum berjodoh. Dan di mudahkan nantinya."
"Amin allahuma amin,” jawabku lalu terkekeh melihat Salsa.
“Yeehh, ketawa dia,” kata Salsa memanyunkan mulutnya.
“Antum itu, terlalu lebay, lengkap dunia akhirat.” Aku mengambil air botol yang berada di dekatku. Entah harus ku bilang apa tentang sahabatku ini. Sering kali ia juga ngeselin. Tapi sering kali ia juga asyik orangnya dan lucu.
“Yaa, seperti itulah kita mengibaratkan,” kata Salsa lagi membalasku.
“Oke, oke, terserah antum saja,” kataku lagi kepada Salsa.
Keesokan harinya, tepatnya pada hari jum’at pagi. Aku menyapu di halaman depan pondok santriwati. Tanpa kusadari Ustaz Aris di belakang menyapaku.
“Nyapunya yang rajin,” Ustaz Aris lewat begitu saja di hadapanku.
Aku yang mendengar kata-kata itu pun langsung berhenti menyapu. Aku hanya tersenyum hambar melihat Ustaz Aris yang berjalan menuju rumah Ustazah Erin yang tidak jauh dari pondok santriwati.
Aku pun melanjutkan lagi untuk menyapu setelah melihat laki\-laki yang akan mempersuntingku itu.
******
“Kok lauknya sayur aja,” ucap Salsa hanya memandangi nasinya ketika makan bersamaku.
“Sudah. Syukurin saja,” kataku lagi kepada Salsa. Sementara aku, melanjutkan memakan nasiku.
__ADS_1
“Ana nggak nafsu makan kalau kayak gini,” Sahabatku itu mulai cembrut memandangi nasinya.
“Sudah, di makan saja. Ini 'kan bukan pertama kalinya kita pakai lauk sayur, sebelumnya 'kan sering, kok baru sekarang antum nggak mau makan pakai lauk sayur.” Tegurku agak kesal melihat sikap Salsa.
Ini bukan pertama kalinya kami makan dengan lauk sayur. Sebelumnya sering sekali. Dan itulah kenyataannya. Dan makan sayur setiap hari itu sehat 'kan. Sahabatku itu, memang selalu banyak alasan.
“Eehhh, itu Ustaz Aris. Kita tukeran nasi, antum diam di sini. Ana mau minta lauk yang enak sama dia.”
Salsa mengambil nasiku begitu saja, dan nasinya di berikan kepadaku. Jelas aku pun menganga melihat Salsa mengambil nasi yang berada di tanganku. Entah apa yang akan ia lakukan.
Ternyata, ia memanggil Ustaz Aris yang akan lewat di hadapan kami.
“Ustaz. Ustaz Aris ... sini.” Salsa melambaikan tangan memanggil Ustaz Aris. Terlihat Ustaz Aris menyambut kata-kata Salsa. Hingga ia menghampiri kami.
“Antum ngapain panggil Ustaz Aris?” tanyaku kepada Salsa.
“Ada apa anti manggil?” tanya Ustaz Aris kepada Salsa. Dan aku hanya diam melihat Salsa yang sudah memanggil Ustaz Aris.
“Ustaz lihat coba, masak calon istri antum tidak mau makan? Katanya dia nggak suka sama lauknya, Ustaz.” Salsa mendonga Ustaz Aris yang lebih tinggi darinya seraya memberi tahunya.
“Eehhh, nggak kok, Ustaz. Salsa bohong, ini nasi Salsa Ustaz. Tadi ... “ kata-kataku terhenti ketika Salsa berkata lagi.
“Nggak kok, Ustaz. Ngapain ana bohong sama antum. Antum 'kan percaya sama ana kalau Salsa itu adalah sahabat sejati Manda. Nggak mungkin 'kan, ana harus bohong.”
“Ya sudah, nanti ana beliin anti nasi. Kalau anti nggak suka jangan di paksakan,” kata Ustaz Aris melihatku. Aku mendonganya juga dengan wajah melarangnya agar tidak membeli nasi untukku. Aku menggelengkan kepala agar ia mengerti bahwa Salsa telah berbohong kepadanya.
Namun, usahaku sia-sia saja. Ustaz Aris tidak mengerti dengan kode-kode yang kuberikan.
“Jangan, Ustaz! jangan!” Aku memberhentikan langkah Ustaz Aris untuk pergi.
“Nggak apa-apa kok. Anti nggak usah malu. Mau sampai kapan anti harus malu?” tanya Ustaz Aris kini berdiri di hadapanku.
“Nggak, Ustaz. Ana nggak malu sama antum, tetapi ini ...” Ustaz Aris pergi begitu saja meninggalkanku.
Hal itu pun lantas membuatku kesal dan cembrut di hadapan Salsa. Aku pun merebut nasiku dari Salsa dan melanjutkan memakan nasiku lagi.
“Haa, ana juga bilang apa sama anti. Ustaz Aris itu sudah percaya sama ana., Apalagi 'kan dia tau ana adalah sahabat antum. Jadi, apapun yang dikasih tau pasti dia percaya.” Salsa berbicara di dekatku tanpa aku mau memperdulikannya.
Selesai makan, aku mencuci piring ke dapur. Meninggalkan Salsa karena kesal ia sudah berbohong kepada Ustaz Aris. Salsa bahkan merasa tidak bersalah apa-apa. Ia hanya cuek dengan sikapku yang kesal kepadanya.
Aku lalu balik ke kamar santriwati untuk beristirahat mumpung hari libur. Aku tidak menyangka jika Salsa berlari menghampiriku, seraya memanggil namaku berkali-kali.
Dan aku tetap tidak mau menoleh walau dipanggil berkali\-kali.
__ADS_1
“Manda! Manda ... !! tungguin!” Salsa menarik tanganku dari belakang.
Tidak berkata apa-apa, berjalan terus tanpa menghiraukan Salsa yang menarik tanganku.
“Manda. Masak gara-gara itu antum marah. Maafin ana ya,” kata Salsa memohon kepadaku.
“Ana nggak suka sama cara antum yang bohongin Ustaz Aris,” kataku lagi yang kini duduk di dekat lemari.
“Ya ana tau. Maafin ana, ya, masak antum nggak kasian sama ana. Ana nggak nafsu makan, makanya Ana harus bohong agar Ustaz Aris mau beliin antum nasi.” Salsa kini duduk di sebelahku.
"Antum 'kan tau, sudah banyak teman-teman yang gosipin ana. Kasian juga Ustaz Aris antum suruh-suruh kayak gitu."
"Ya, maaf. Maaf. Tapi 'kan kalau dia jadi biliin antum. Kita makan berdua jadinya."
“Kok aa sih, yang minta 'kan antum.” Aku menoleh melihat Salsa dengan wajah marah.
Ketika aku dan Salsa sedang berdebat masalah Salsa yang minta di belikan nasi. Salah satu santriwati memanggilku dan bilang jika Ustaz Aris memanggilku.
Aku keluar menghampiri Ustaz Aris dengan wajah cembrutku.
“Anti kenapa?” tanya Ustaz Aris yang memberikanku sebuah bingkisan plastik berwarna hitam berisikan nasi bungkus.
“Nggak kenapa-kenapa,” jawabku berusaha tersenyum hambar.
“Terus kalau nggak kenapa-kenapa. Kenapa mulutnya manyun gitu?” tanya Ustaz Aris lagi.
“Antum tau nggak, yang tadi itu bukan ana yang nggak nafsu makan. Tapi Salsa yang memang bohong sama antum. Bilang kalau ana nggak doyan sama lauknya.” Aku berusaha menjelaskan.
“Sudah. Ana tau Salsa bohong,” kata Ustaz Aris menjawabku dengan tenang.
Begitu lembut, ia laki-laki yang sabar. Bahkan, sifatku yang kekanak-kanakan selalu sabar ia menghadapiku.
Bila diakui, dulu aku malu untuk bertemu dengan Ustaz Aris apalagi sampai di lihat oleh santriwati lainnya. Sekarang rasa malu itu seakan-akan hilang semenjak Ustaz Aris benar-benar ingin mengajakku menikah.
Belum lagi ia sudah membawaku fitting baju, hal itu membuatku semakin yakin dan tidak malu lagi untuk bertemu langsung dengannya.
“Dari mana antum tau kalau Salsa bohong?” tanyaku lagi.
“Kan ana sudah lihat Salsa dari jauh saat dia nuker nasi sama anti,” jawab Ustaz Aris tersenyum.
“Oouuhh, gitu,” kataku lagi menggaruk sedikit keningku.
“Ya sudah. Anti masuk sana,” kata Ustaz Aris lalu beranjak pergi dari pondok santriwati.
__ADS_1
Aku masuk memanggil Salsa untuk mengajaknya keluar memakan nasi tersebut. Mencari tempat yang sepi supaya santriwati lainnya tidak bertanya-tanya jika kami mendapatkan nasi bungkus dari mana.