
Hanya keheningan yang ada saat kami berada di dalam mobil. Aku yang duduk di depan pun juga hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
Kak Riko pun juga fokus menyetir tanpa membuka pembicaraan. Aku bingung? ke mana Kak Riko akan membawaku untuk memasukkan lamaran pekerjaan.
"Kak. Kita berhentinya kapan, sih? jalan-jalan terus dari tadi?" tanya Salsa kepada saudara laki-lakinya itu yang masih fokus menyetir.
"Iya. Bentar lagi nyampe, kok, kamu tenang aja."
"Tenang tenang."
"Oh ya, Manda. Saya sudah cariin kamu kemarin tempat masukin lamaran. Kamu tinggal naruh persyaratan nanti teruss tunggu panggilan," Kak Riko menoleh dan memberitahuku.
"Apa! Memangnya Kak Riko udah cari tempatnya gitu. Kok cuman disuruh naruh persyaratan aja?" tanya Salsa lagi menyaut dari belakang.
"Kakak udah dari kemarin nyariin Manda pekerjaan. Kasian 'kan Manda jika harus kerja di tempat yang nggak-nggak."
"Maksudnya, Kak?" tanyaku menoleh Kak Riko yang memberitahu Salsa.
"Maksud saya? Jadi, semenjak Salsa cerita Manda mau cari kerja. Semenjak itu saya berinisiatif mencarikan pekerjaan. Dan tempat saya cariin kamu kerjaan ini kebetulan punya orang tua temen."
"Oouhhh," jawabku lagi.
"Terusss Manda kerja apa emangnya di sana, Kak?" tanya Salsa lagi menyaut.
"Jadi karyawan di toko."
"Toko apa??" tanya Salsa lagi.
"Toko roti," jawab Kak Riko yang masih hadap depan menyetir.
Aku tidak pernah menyangka jika Kak Riko mencarikan tempat untukku memasukkan lamaran pekerjaan. Aku hanya bisa bersyukur bisa dikenalkan oleh orang-orang baik seperti Salsa dan Kakaknya. Semoga saja mereka selalu diberikan kesehatan dan selalu dilindungi oleh yang maha kuasa.
Akhirnya, setelah perjalanan Kak Riko memberhentikan mobil di depan sebuah toko roti. Kami pun bergegas turun dari mobil seraya Kak Roki juga menyuruhku untuk membawa berkas yang akan kuserahkan.
"Ini toko roti yang Kakak maksud?" tanya Salsa yang berdiri didekatku.
Kak Riko tidak menjawab adiknya itu. Ia hanya mengangguk seraya aku dan Salsa mengikutinya masuk ke dalam toko tersebut.
Kedatangan kami pun di sambut dengan baik oleh salah satu pria muda. Dan ia berpelukan dengan Kak Riko. Aku tidak tau pasti ia siapa.
"Kirain kamu nggak jadi ke sini, Bro."
"Masak nggak, ya, jadilah," jawab Kak Riko sumringah di depan pria itu.
"Mana wanita yang akan kerja di sini?" ku dengar ia bertanya kepada Kak Riko. Dan saudara dari sahabatku itupun memperkenalkanku dengan pria itu.
__ADS_1
"Manda," jawabku menyalami pria tersebut.
"Hadi," jawabnya lagi menyalamiku juga. "Oh, ya, saya temannya Riko. Kamu jangan takut, ya, sama saya."
Aku mengangguk mengiyakan Kak Hadi yang memberitahuku. Kak Riko pun tidak lama membawa kami di sana. Aku juga langsung menyerahkan berkas persyaratan untuk bisa bekerja di toko tersebut. Semoga saja langsung di panggil untuk bekerja. Dan semoga saja Ibu tidak marah dengan kenekatanku ini.
"Kita mau ke mana lagi?" tanya Kak Riko kepada kami waktu akan menuju pulang.
"Ke pantai aja, Kak," jawab Salsa dari belakang.
"Pantai?? Kamu ini, ini hari sabtu. Nggak seru ke pantai kalau hari sabtu," jawab Kak Riko lagi.
Sementara aku hanya diam mendengar pembicaraan kakak beradik itu. Tanpa aku mau ikut mengeluarkan pendapat.
"Hmmmm ... ya udah. Kita pulang aja kalau gitu," kata Salsa lagi.
"Kita ke pantainya besok aja, ramai kalau hari minggu. Kamu ikut, ya, Da?" tanya Kak Riko menoleh melihatku.
"Hmmm, tapi ... saya mau pulang besok rencananya, Kak."
"Pulang? Kamu 'kan baru dua hari di rumah. Kok pulang? Besok kalau kamu di panggil buat kerja gimana?" tanya Kak Riko kaget.
"Iya, Da. Kamu ini, baru ajak nyampe udah mau pulang. Katanya kamu mau kerja?" kata Salsa lagi dari belakang.
"Kalau di panggil saya balik lagi ke Mataram, Kak, Salsa. Kasian Ibu sendirian di rumah, saya juga mau kasih tau beliau, Kak."
"Iya, Kak. Saya mau," jawabku kepada Kak Riko.
Sebenarnya aku tidak ingin ikut, tapi karna diajak mau tidak mau aku mengikuti saja. Lagi pula, sudah dua kali Salsa mengajakku liburan. Namun, aku tidak pernah punya kesempatan untuk diajak liburan. Kali ini, alhamdulillah ada waktu untuk pergi bersama sahabatku itu.
******
"Waaahhhhh ... akhirnya kita sampe di pantai juga."
Betapa bahagianya Salsa bisa melihat pantai. Ia bahkan sampai berteriak ketika bisa melihat pantai. Aku ikut bahagia melihat sahabatku itu bahagia.
Tanpa menegurnya sama sekali, aku mencari tempat duduk sesekali menikmati deburan ombak yang terlihat di depan mata.
Kulihat Kak Riko lebih memilih duduk di pasir dibandingkan duduk di tempat yang sudah disediakan. Melihat Kak Riko yang asyik duduk sambil memainkan handphone. Aku pun ikut duduk, dengan jarak yang tidak terlalu dekat dengannya.
__ADS_1
Lama sudah, aku tidak pernah ke pantai. Terakhir ke pantai waktu masih sekolah, itu pun bersama teman\-teman.
Terlihat jelas Salsa begitu menikmati suasana pantai. Ia bahkan, sampe berputar-putar kegirangan tanpa memperdulikan orang yang berada disekelilingnya.
Jika aku, mungkin, akan malu jika berputar di dekat pantai. Salsa Salsa.
Aku pun juga ikut menikmati pantai dengan deburan ombaknya. Dan ... desiran angin yang begitu sejuk.
"Manda," tegur Kak Riko.
"Iya, Kak. Kenapa?" tanyaku menolehnya.
"Kamu mau ikut nggak?"
"Ke mana, Kak?"
"Beli makanan. Ayokk."
Kak Riko pun bangun dari tempat duduknya. Mengajakku untuk membeli makanan.
Aku pun mendoganya, tanpa mau ikut menemani ia untuk membeli makanan.
"Manda nggak ikut, Kak."
"Hmmmm. Kamu ini, ya, sudah. Tunggu di sini, ya," kata Kak Riko lalu pergi meninggalkanku. Sekarang aku duduk sendiri melihat orang-orang yang lumayan ramai di pantai ini.
Terlihat di sekelilingku semua orang menikmati suasana pantai. Tiba-tiba saja Salsa datang dan mendekatiku. Ia mulai merusak suasana hatiku yang tadinya tenang sekarang berubah menjadi buyar.
"Eeehhhh ... kita jalan-jalan, yuk," kata Salsa menarik tanganku.
"Jalan-jalan ke mana, sih, Sa?" tanyaku lagi dengan wajah yang mulai kesal.
"Jalan-jalan di dekat pantai, Da. Masak kamu cuman mau diem aja duduk di sini."
"Lebih enakan duduk kayak gini sambil menikmati suasana pantai. Ngapain jalan ke sana kemari, mau cari perhatian orang?" tanyaku memanyunkan mulut.
"Yaaaaahhh. Ni anak. Aku nggak pernah ngajak kamu buat cari perhatian orang, Da. Hmmm ... males aku ngjelasin ini itu sama kamu."
__ADS_1
Sepertinya Salsa kesal denganku. Namun, aku tidak perduli dengan kesalnya. Aku males jika harus ke sana kemari. Duduk seperti ini sudah cukup nyaman bagiku.