LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Gelagapan


__ADS_3

 


Rasa tenang cukup nikmat untuk hari ini. Hanya dengan memejamkan mata walau hati masih melayang-layang ke sana kemari. Semuanya sudah cukup. Tanpa adanya orang mengganggu atau tidak.


Hari ini sebagai seorang perempuan seutuhnya. Aku mencoba memakai masker pemutih wajah yang sudah diajarkan caranya oleh Febi. Padahal, dulu aku tidak tau yang namanya cara memakai masker atau pun make up. Katanya pake make up itu perlu untuk wanita. Nggak selamanya aku itu harus polos terus. Dan aku masih menerima masukan teman rekan kerjaku itu. Febi.


 


Semenjak berteman dengan Febi aku mulai diajarkan apa yang menjadi hobi wanita. Itu katanya Febi. Bukan aku.


**Emang harus, ya, seorang perempuan bisa maskeran, luluran, make up, shopping. Nggak harus 'kan. Namun, nyatanya ia bisa membawaku ke jalan cerah. Katanya Febi seperti itu lagi. Kenapa jalan cerah? Karena muka aku yang kusem dulu sekarang bisa cerah gegara udah bisa pake make up dan bisa maskeran mau pun luluran. Mukaku nggak kusem-kusem amat kok. Malahan walau muka kusem seperti ini, Ustaz Aris pernah kesem-sem sama diri ini. Hah ...!! itu dulu. Ia hanya masa lalu.


Hanya saja aku tidak mengikuti kebiasaan buruk Febi yang suka berbelanja beli ini itu. Karena itu bukan hobi. Febi saja yang salah mengartikan. Bahwa, tidak semua wanita menyukai apa yang ia ajarkan kepadaku. Nyatanya, diri ini sama sekali tidak suka jalan-jalan mau pun pergi shopping**.


 


Aku lebih suka berdiam diri di kos. Sesekali baca buku yang kusuka. Ntah itu novel atau nggak intinya yang disukai.


 


Tok ... tok ... tokkk


"Assalamu'alaikum."


Yang tadinya aku memejamkan mata kini harus membuka mata dengan ekspresi kaget. Kulihat jam di handphone menunjukkan jam sepuluh. Masih pagi. Di saat hari libur seperti ini siapa lagi yang akan bertamu datang ke kos. Apa mungkin Febi??


Memang dasar anak itu. Dia tidak pernah bisa membuatku tenang sebentar saja. Hampir setiap hari ia selalu mampir ke kos.


"Wa'alaikumsalam," jawabku sembari membuka pintu. Dan yang di depanku bukan Febi. Melainkan Ustazah Nisa.


 


Aku lupa. Selain Febi, Ustazah Nisa juga sering ke sini. Semenjak pertemuan di pantai beberapa bulan lalu. Ia sering sekali menelpon dan main ke kos.


Apalagi semenjak berkeputusan tidak ingin melanjutkan sekolah. Ia bahkan semakin sering membujukku untuk balik lagi ke pondok.


 


Satu tahun sudah menganggur, tapi menganggur kerja. Tidak hanya diam di rumah saja. Ibu akhirnya mengiyakan keinginanku agar tidak kepikiran terus dengan kuliah. Meski beliau terlihat terpaksa mengiyakan keputusanku.


"Zah. Ustazah ke sini sama siapa?" tanyaku merapikan jilbab yang kukenakan.


"Manda. Kok, itu wajah kamu kenapa?"

__ADS_1


Gara-gara buka pintu untuk Ustazah Nisa sampe lupa jika maskeran di wajah masih ada. Agak malu. Dan aku berusaha memasang senyum dan seramah mungkin kepada Ustazah Nisa.


"Ustazah masuk dulu atau ... duduk di luar," ujarku dengan kelagapan.


"Di luar aja. Masak di dalam, biasanya 'kan di luar, Manda."


"Oh, iya. Manda permisi dulu, ya, Zah. Mau cuci muka."


"Iya."


 


Aku segera ke kamar mandi. Rasanya malu dengan salah tingkah seperti itu di depan Ustazah Nisa. Setelah membersihkan wajah aku menghampiri cermin yang berada di kamar mandi.


 


Wajah yang kutatap sekarang ini. Bagiku sangat polos. Pede banget. Nyatanya, aku lupa dengan segala kesalahan yang pernah di lakukan oleh Ustazah Nisa dan Ustaz Aris. Secepat inikah aku melupakan semuanya atas apa yang mereka lakukan.


 


Di dalam pikiranku. Mungkin ini sudah saatnya melupakan kejadian burukku dulu. Jangan sampai menaruh benci kepada Ustaz Aris dan keluarganya.


 


"Kita mau ke mana, Zah?" tanyaku masih bingung di depan Ustazah Nisa.


Entah kenapa? aku langsung iya saja saat diajak keluar.


"Udah. Kita ke mobil saja dulu. Kita jalan-jalan. Oke." Tanganku ditarik oleh Zah Nisa tanpa aku enggan untuk menolak.


 


Baru menyadari setelah masuk ke dalam mobil. Yang menyetir mobil adalah Ustaz Aris. Jelas saja membuatku kaget dengan melihatnya. Berusaha untuk tidak menampakkan perasaan canggung dan gugup. Aku berusaha tetap tenang duduk di belakang.


Sementara Zah Nisa duduk di depan tepatnya di samping suaminya yaitu Ustaz Aris. Masih saja sakit untuk dilihat.


 


"Ana kira anti nggak bakalan mau diajak sama Zah Nisa untuk keluar?" tanya Ustaz Aris masih fokus menyertir mobilnya bertanya kepadaku.


 


Rasanya malas untuk menjawab pertanyaan darinya. Mau tidak mau mulutku yang tadinya rapat harus terpaksa terbuka menjawabnya. "Mmm ... Iya, Ustaz."

__ADS_1


 


"Da. Kamu jadi mau balik ke pesantren."


"Untuk apa?" tanyaku secara mengejutkan. Kenapa sih mulut ini kadang-kadang nggak bisa nyaring kata-kata dulu. Penyaringannya kayak bolong aja.


"Loh. Kok untuk apa? ya untuk melanjutkan sekolah kamu lagi," ujar Ustazah Nisa kepadaku sambil melihatku duduk dibelakangnya.


"Ohhh ... kalau ma-masa-masalah itu saya perlu kasih tau Ibu dulu, Zah."


 


Yang jadi pertanyaanku. Apa sebenarnya tujuan mereka terus ngbujuk untuk balik ke pondok. Rasanya ingin menghindari mereka. Entah kenapa Allah selalu saja mempertemukan kami.


 


"Manda. Sebelumnya Ana pernah ke rumah anti untuk menyampaikan maaf Abi dan Umi. Anti 'kan maafin, nggak ada niat anti untuk balik ke pondok?"


"Nggak ada."


Hah. Dasar ceroboh. Dasar dungu. Sebenarnya ada apa? kenapa mulut ini jawab cepla ceplos gitu aja. Kalau mulut kayak begini. Bisa-bisa perkataan kotor mungkin bisa keluar juga. Apa mungkin ada jin di mulutku. Sehingga nggak mikir dulu jawab pertanyaan Ustaz Aris.


"Oouuuhhh ... ana kira sebelum minta izin ke Ibu anti ada niat buat balik ke sana."


Aku diam. Mencoba istigfar berkali-kali. Takut jika ngjawab yang langsung-langsung aja nantinya.


"Jadi, kamu tetap masih kerja rencananya?" tanya Ustazah Nisa.


"Iya. Eeeehhh na'am, Zah."


 


Ya Allah ... rasanya ingin balik ke kos. Berasa kayak gugup lama\-lama ditanya ini itu sama dua insan yang ada di depanku.


 


Aku merasa lama-lama seperti diintrogasi. Bahkan, Ustazah Nisa bertanya apakah aku kepikiran untuk menikah atau tidak. Apa sih maksud mereka?


Apa Ustazah Nisa sengaja bertanya seperti itu. Hanya untuk menyakiti perasaanku lagi. Jika seandainya Ustazah Nisa belum menjadi istri dari laki-laki yang sedang menyetir mobil yang kami tumpangi. Maka aku akan berdoa supaya bisa berjodoh dengan Ustaz Aris.


Akan tetapi, semuanya tidak mungkin. Semuanya sudah sirna. Tidak akan ada lagi mimpi untuk bisa menjadi istri Ustaz Aris. Aku sudah terlalu banyak di butakan oleh cinta. Sehingga lupa dengan semuanya.


Cita-citaku bahkan punah karena keegoisanku. Hanya kecewa saja yang kuberikan kepada orang terdekatku selama ini.

__ADS_1


__ADS_2