
Lima bulan berlalu ...
“Mau sampai kapan Manda di sini?”
“Nggak tau, Buk. Kamu tanya aja anak-anak.”
“Dia kenapa nggak nyewa kos saja?”
“Buk. Kasian Manda jika tinggal di luar. Dia juga belum tau banyak jalan di sini.”
“Ibu tau, Sa. Tapi setidaknya dia mau belajar mandiri. Masak dia kayak gini terus.”
“Iya, Nak. Kamu bujuk aja temen kamu. Mungkin juga dia agak nggak terlalu nyaman juga di sini. Nyatanya sampai sekarang makan aja masih malu-malu.”
“Ayahhhh ...”
“Kalau Ayah sama Ibu keberatan Manda di sini. Nanti biaya uang makan Riko yang tanggung.”
“Maksud Ayah sama Ibu tidak begitu. Cuman ...?”
“Buk. Manda itu sahabat Salsa. Nggak mungkin Salsa nyuruh dia pergi.”
“Sudah sudah. Nanti Riko cariin Manda kos-kosan. Ayah Ibu sama adek nggak usah bedebat kayak gini. Besok aku coba untuk bicara baik-baik sama Manda.
Dengan langkah sedikit mundur. Aku mencoba bersembunyi di balik tembok. Semua pembicaraan dari keluarga Salsa kudengar. Setelah beberapa lama tinggal di sini. Rasa nyaman terasa tidak ada.
Mungkin, Ayah dan Ibu Salsa benar. Aku harus pergi dari rumah ini. Dan mungkin saja mereka juga tidak nyaman jika aku berada di sini terus.
Dengan hati yang agak sedikit tersinggung aku melangkah menuju kamar. Memikirkan apa yang sudah terdengar tadi.
“Loh. Manda. Kamu kapan pulang?” tanya Salsa ketika melihatku sedang duduk di tempat tidurnya. Semenjak tinggal di rumah Salsa. Kamarnya pun juga menjadi kamarku.
“Tadi,” jawabku singkat.
“Yahhh ... tadi Kak Riko mau jemput kamu. Tapi kamunya keburu udah pulang.”
“Aku barusan pake ojek online. Kebetulan pulangnya pagi. Makanya nggak sempat kasih tau Kak Riko.”
“Oouuhhh ... Aku keluar dulu. Kasih tau dia, takutnya nanti kamu di jemput.”
Aku mengangguk mengiyakan sahabatku itu. Rasanya ingin memberhentikan langkahnya. Namun, ini belum saatnya untuk membicarakan apa yang kudengar tadi.
Aku mencoba memejamkan mata sejenak. Memikirkan siapa orang yang bisa membantu untuk mencari tempat tinggal.
Rasanya tidak nyaman jika harus berlama-lama di rumah sahabatku ini. Mungkin, Salsa merasa merasa tidak enak melihatku untuk pergi dari rumahnya. Tapi, orang tuanya mungkin saja merasa terganggu dengan kehadiranku. Semuanya terus terngiang-ngiang dalam pikiran ini.
Apa yang di katakan Ibu benar. Lambat laun rasa tidak nyaman akan aku rasakan. Begitu kata beliau dulu. Dan ternyata aku merasakannya juga.
Febi. Aku mengingat salah satu teman kerja. Kebetulan aku dan dia cukup akrab.
__ADS_1
Aku mencoba mengambil handphone yang berada di dekatku. Jemariku mencoba mencari kontak nama Febi.
“Hallo. Assalamu’alaikum, Feb,” ucapku ketika temanku itu menjawab telpon dariku.
“Wa’alaikumsalam, Da.”
“Kamu lagi di mana?”
“Lagi di rumah, Da. Memangnya
kenapa?”
“Mmm ... aku mau nanyak sesuatu sama kamu,” jawabku lagi dengan perasaan ragu. Aku mencoba untuk mengecilkan volume suara. Takut jika ada yang mendengar.
“Kamu mau nanyak apa?”
“Mmmm ... kamu tau nggak kos-kosan yang deket sama tempat kerja kita.”
“Kos-kosan? Maksudnya gimana?”
“Aku mau cari kos-kosan."
“Loh, kamu ‘kan sudah ada tempat tinggal. Ngapain cari kos-kosan, Da?”
“Hemm ... besok dah aku jelasin ke kamu. Nggak enak kalo lewat sini. Tapi kamu tau kan kos-kosan yang deket sama toko tempat kita kerja?”
“Iya, tau.”
Aku mencoba cepat memutuskan pembicaraan. Karena takut jika ada yang mendengar pembicaraanku tadi. Rasanya agak sedikit lega. Mudah-mudahan saja bisa mendapatkan tempat tinggal selayaknya.
*****
Mencoba untuk berbicara empat mata di waktu istirahat kami. Tanpa ada yang harus ikut campur dengan masalah yang menjadi beban pikiran ini.
“Jadi. Kamu udah yakin untuk out dari rumah teman kamu itu?” tanya Febi yang berada di dekatku saat sedang memegang nasi kotaknya.
“Iya. Yakin,” jawabku menoleh Febi.
“Dulu. Aku kira Kak Riko itu keluarga kamu. Soalnya, setiap hari dia aja yang anter kamu ke ke sini.”
“Nggak. Dia saudara sahabat,” jawabku lagi dengan menunduk.
“Malahan. Aku kiranya dia itu pacar kamu?”
Jelas saja apa yang aku dengar membuatku membelangak mendengarnya. “Eehhh. Nggak. Masak Kak Riko pacar aku.”
“Hahaha ... ekspresinya biasa aja kali. Nggak usah sock kayak gitu,” Febi menyenggol pundakku.
Sebenarnya, bukan hanya Febi saja yang mengira bahwa aku dan Kak Riko mempunyai hubungan spesial. Banyak yang sering bertanya-tanya melihat kedekatan kami. Karena selama ini jika ke mana-mana hanya ia yang selalu setia menemani.
__ADS_1
Padahal, kalau masalah akrab sampe sekarang aku agak malu dengan Kak Riko. Boro-boro punya hubungan. Rasanya tidak mungkin.
“Kita balik, yuk, ini udah lewat lima menit dari jam istirahat,” kata Febi mengajakku untuk balik ke toko.
Kami pun balik ke toko setelah selesai makan siang. Dengan cuaca yang cukup cerah, tapi lumayan gerah.
******
Perasaan tidak enak terus menjadi beban. Entah dengan alasan apa agar Salsa mengerti dengan keputusanku.
Aku yang sedang duduk di kursi belajar menoleh Salsa. Gadis baik yang selalu ceria itu sedang asyik memainkan handphone-Nya.
Aku mencoba menarik napas pelan. Memikirkan apa yang harus ku katakan kepada sahabatku itu.
“Salsa.”
“Hmm,"
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” aku mencoba mendekati sahabatku itu.
“Iya. Ngomong aja, Da.” Salsa masih saja tetap fokus memainkan handphone-Nya tanpa menoleh sedikit pun.
“Sebelumnya ... terima kasih selama ini kamu sudah banyak bantu aku.”
Kali ini Salsa melihatku dengan mengkerutkan alisnya. “Kok, tiba-tiba kamu terima kasih. Ada apa?” tanya Salsa melihatku lekat.
“Yaa ... nggak ada, Sa. Cuman. Selama ini kamu sudah terlalu baik sama aku dan keluarga kamu.”
“Ya ampun, Da. Kamu itu sahabat aku dan kamu sudah aku aggap kayak saudara. Lagi pula, aku dan Kak Riko sudah janji sama Ibumu. Supaya kita selalu ngjaga kamu,” ucap Salsa lagi.
Rasanya berat untuk mengatakan apa yang menjanggal di hati. Apalagi melihat Salsa tersenyum lebar mengelus tangan ini.
Akan tetapi, mau tidak mau aku harus mengatakannya kepada Salsa. Akan menjadi beban jika terus menyembunyikannya.
“Sa."
“Hmmm.”
“Aku ... minta maaf sebelumnya. Terima kasih kamu udah baik sama aku, Sa. Aku udah ambil keputusan untuk tinggal di kos-kosan.” Akhirnya, aku bisa mengatakannya juga. Walau agak terlalu polos.
Terlihat Salsa mengkerutkan dahi melihatku. “Maksud kamu apa, Da?”
“Aku udah cari kos-kosan. Dan aku mungkin dalam waktu dekat pergi dari sini.” Aku mencoba untuk tetap tenang bicara di hadapan Salsa. Walau pun sebenarnya berat.
“Kos-kosan? Maksud kamu apa sih, Da. Kenapa tiba-tiba kamu mau pergi. Kenapa? Bilang sama aku. Kenapa, Da? Apa ada orang yang bilang sesuatu sama kamu sehingga kamu mau pergi?”
“Eeehhh. Nggak, Sa. Nggak ada. Ini memang keputusan aku.”
“Nggak mungkin kamu tiba-tiba mau pergi dari rumah ini. Apa ada orang yang buat kamu tersinggung. Kasih tau aku, Da.”
__ADS_1
“Nggak ada. Ini memang keputusan aku, Sa. Aku mohon kamu mengerti dengan keputusanku ini.”
Mencoba untuk tetap tenang dan membujuk Salsa sebisa mungkin. Bahwa ini memang keputusanku. Aku tidak mau membebani orang terus menerus. Karena takut akan merasa bersalah nantinya harus tetap berada di rumah orang.