LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Beberapa Tahun Kemudian


__ADS_3

Aya dan Lucifer naik ke ring dengan sedikit berlari karena panik.


Sedangkan teman teman Rey pun juga naik,menghampiri Rey yang sudah pingsan sedari tadi.


"Aya bangun,hei!" Ragil menepuk nepuk pipi Aya yang ada di pangkuan kak Al.


Iya benar,Aya saat ini pingsan,mungkin karena sudah tak tahan menahan rasa sakit nya dan juga kelelahan.


"Cepat bawa ke-"Ragil belum menyelesaikan perkataan nya,kak Al sudah membawa Aya dengan cara menggendongnya,ala bridal style.


Otomatis membuat tangan Ragil dan Lucifer yang berada di tubuh Aya,tersingkir.


Mereka menatap Aya yang di gendong kak Al sampai turun,otak lemot on.


Ragil dan Lucifer saling pandang pandangan,lalu dengan segera mengejar Aya.


"Hei!tunggu! mau kau bawa kemana teman ku,sialan!!"teriak Ragil sambil berlari tergesah gesah.


Setelah sampai di rumah sakit,Aya di letakkan di ranjang yang sudah tersedia.Kak Al mendorong ranjang itu bersama suster suster lainnya.Sedangkan dokternya sudah berjalan duluan.


Kak Al mendorong sambil memegang tangan Aya,wajahnya sudah terlihat cemas,berkali kali ia berusaha membangunkan Aya tapi tak ada hasil sama sekali.


Setelah sampai di pintu UGD Al di hadang oleh salah satu suster saat ingin ikut masuk.


"Silahkan tunggu di luar,pak."Ujar nya lalu masuk.


Ceklek


Suara pintu tertutup.


Al mengusap wajahnya kasar,sambil mondar mandir sudah seperti menyetrika baju.


Tak lama kemudian.


"Kak Al!!"teriakan beberapa orang dari kejauhan.


Al merasa ada yang memanggil pun menoleh ke sumber suara.


"Di mana Aya?"tanya Lucifer khawatir.


"Dan kenapa kau meninggalkan kami?!"bentak Ragil pada Al.


"Bagaimana keadaan nya?"tanya Lucifer lagi.


"Dia baik baik saja kan?"


"Apa kalian tidak bisa diam?"tanya Al jengkel dengan kedua anak itu.


Bagaimana pun dia yang juga sangat khawatir dan juga dia yang akan bertanggung jawab.


"Makanya jawab!"bentak Lucifer.


"Aku juga tidak tahu!"tak kalah bentak,mata mereka saling menatap tajam.


Al yang ingin sekali meninju wajah Lucifer dia pun memilih untuk duduk di kursi yang telah tersedia.


Duduk dengan posisi kaki terbuka dan siku tangan yang di tumpangkan di atas paha,sedangkan telapak tangan nya di tempelkan di wajah.


"Haruskan aku memberitahu keluarga Aya?"tanya Ragil yang baru duduk di samping kiri Al.

__ADS_1


Al menoleh ke kiri,menatap Ragil intens.


"Lakukan sesukamu."Menghadap depan lagi.


Ragil bisa melihat seberapa besar kekhawatiran kak Al.


Ragil mengeluarkan ponsel nya,terlihatlah jemari Ragil mulai mengoperasikan ponsel nya.


Tak lama kemudian,telpon sudah tersambung.


"Halo assalamualaikum,paman Aya sekarang berada di rumah sakit,dia pingsan.


Cepat datang di rumah sakit citra indah,di UGD."


"Iya,paman cepatlah."


"Waalaikumsalam."Mengakhiri telpon.


Lucifer yang sedari tadi memperhatikan Ragil berbicara dengan orang tua Aya,hanya menatap datar.Dia tidak duduk melainkan berdiri sambil bersandar di dinding,menaikkan satu kakinya,dan menempelkan telapak kaki yang beralas sepatu di dinding.


Ragil yang menyadari dia pun menoleh.


"Apa?"


Bukannya menjawab,Lucifer malah memalingkan wajahnya.


"Sialan!"gumam Ragil.


Ceklek


Suara pintu terbuka,dan keluarlah seorang dokter dan beberapa suster.


Semua orang yang ada di situ langsung menghampiri mereka.


"Hanya ada beberapa luka diwajahnya,dan dia butuh istirahat yang cukup saja."


Semua bernafas lega.


"Di mana keluarga nya?"tanya dokter


"Masih dalam perjalanan."Jawab Ragil.


"Baiklah,saya permisi."Berjalan meninggalkan teman teman Aya dan di ikuti beberapa suster tadi.


***


Beberapa tahun kemudian,kini Aya kelas 6 SD dan beberapa bulan lagi akan lulus sekolah.Dua minggu lagi Aya akan menjalankan ujian akhiri.


Maka dari itu dia belajar dengan sungguh sungguh.


Berhubung sekarang hari minggu dia pergi ke rumah bunda nya,yaitu bu Laras.Tempat nya tak jauh dari rumah Aya,hanya saja rumah bu Laras berada di kompleks sebelahan dengan kampung Aya.


Aya ke sana menggunakan sepeda gunung nya.


Dan tak lupa membawa buah buahan untuk bunda nya yang sedang sakit.


Entah kenapa tiba tiba bu Laras menjadi sakit sakit an,Aya tak tahu penyakit apa yang sedang menyerang bunda nya.


Aya berusaha mencari tahu itu,tapi bundanya selalu saja,melarang Aya dengan cara apapun.

__ADS_1


Aya juga pernah mencari tahu secara sembunyi sembunyi,tapi alhasil tetap sama,seperti nya bu Laras mempunyai banyak mata mata di luar sana.


Dan akhirnya Aya menyerah,dan dia percaya suatu hari nanti dia akan menemukan jawabnya.


Sekarang dia hanya fokus pada kesehatan bunda nya dan ujian sekolahnya.


Sesampai di sana,Aya memarkirkan sepedanya di garasi,lalu membuka pintu,setelah itu berjalan ke dapur untuk mencuci buah buahan yang telah di beli di jalanan tadi.


Meletakkan buah yang sudah di cuci di sebuah mangkuk besar,dan sekalian pisaunya.


Setalah itu melangkahkan kakinya ke kamar bu laras.


Ceklek


Aya membuka pintu kamar bundanya,terlihat lah dia sedang berbaring tak berdaya.


Perlahan Aya menutup pintu,lalu berjalan ke arah nya dan duduk di pinggir ranjang.


"Bunda,bunda belum makan?"tanya Aya lembut sambil mengusap kening nya.


Perlahan bunda membuka mata nya,dan menoleh ke samping kiri.


"Aya,kapan kamu datang nak.Bunda merindukan mu."Ingin bangun.


"Eh,udah...jangan di paksa."Lembut Aya.


Bunda tersenyum penuh arti pada Aya,dan Aya pun membalasnya dengan senyuman tulus.


"Ayo makan bunda,bunda belum makan kan?"melihat ke samping kiri yang ada sebuah mangkuk yang masih wutuh di atas meja.Dengan cekatan Aya menyuapi bunda nya.


Bunda sedari tadi hanya menatap Aya sambil tersenyum.


"Ada apa bunda menatap ku seperti itu?"


"Kau calon istri yang sangat telaten dan perhatian Aya."


Seketika Aya merasa malu dan gugup.


"Jangan membahas itu bunda,aku masih kecil,umurku baru bulan kemarin 13 tahun.


Masih banyak yang belum aku wujudkan,mimpiku sangat tinggi bunda."Sambil menyuapinya.


"Bunda tahu,bunda hanya bisa mendoakan mu nak,kamu adalah anak perempuan bunda satu satunya.Apapun keputusanmu,bunda akan dukung."Tersenyum tulus.


DEG


Seketika jantung Aya berdetak kencang,ada rasa sakit yang menjalari harinya.


Salah satu keinginan Aya adalah mendapat support dari seorang ibu,tapi sayangnya,Aya tak pernah mendapatkan itu.Tapi walau begitu Aya sudah sangat bersyukur orang tua angkatnya memberikan dukungan,ini pertama kalinya,Aya mendapatkan dukungan dari seorang ibu.Dan selama ini hanya ayah nya saja yang memberikan dukungan Aya.


"Kenapa diam?"


"Ah,tidak,terimakasih bunda."Mata mulai berkaca kaca.


"Kamu kenapa,kenapa menangis?"mengusap air mata nya.


"Tidak,aku tidak papa."Memegang tangan bunda nya,yang sedang mengusap air mata nya lembut.


Tok tok tok

__ADS_1


Suara ketukan pintu.


BERSAMBUNG....


__ADS_2