
"Kamu tidak boleh ke mana-mana. Jika Ibu bilang tidak! ya, tidak," kata Ibu menjawabku setelah memohon agar diizinkan pergi bersama Salsa.
Kali ini, Ibu benar-benar tidak mengizinkanku untuk keluar. Sebegitu khawatirnya ia. Ibu tidak tau jika kepalaku rasanya mumet terus berada di rumah saja. Padahal, ini minggu ke dua lebih aku sembuh dari sakit.
Kalau Salsa ke sini dengan saudaranya aku akan bilang. Bahwa tidak di izinkan untuk pergi.
Tidak lama kemudian, selang beberapa menit. Ketika aku duduk melamun karena tidak diizinkan pergi. Terlihat mobil berhenti di depan rumahku.
Seorang gadis cantik berkerudung putih turun dari mobil. Siapa lagi kalau bukan sahabatku Salsa. Ia ternyata datang juga. Setelah tadi aku memikirkannya, panjang umur dia.
"Assalamu'alaikum," ucap Salsa seraya menyunggingkan senyum melihatku.
Aku pun juga membalas senyuman lebar sahabatku itu seraya menjawab salam darinya. "Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," jawabku bangun dari dudukku.
"Kok antum sendirian aja?" tanya Salsa kepadaku. Terlihat juga Kak Riko berjalan membuntuti Salsa.
"Iya. Nggak ada temen, makanya sendirian duduknya," jawabku lagi. "Oh, ya, ayok duduk dulu. Kak Riko sini."
Aku mempersilahkan sahabatku itu dan Kakaknya untuk duduk. Karena ada kursi di luar. Aku mempersilahkan mereka untuk duduk. Walaupun dengan kursi sederhana. Maklum saja, aku dari keluarga yang tidak berada. Jadi, apa adanya saja.
Tidak perduli apapun kata Salsa dan saudaranya nanti. Toh mereka juga sering ke sini. Aku tidak malu dengan keadaan yang seperti ini.
"Kalian tunggu di sini dulu, ya," ucapku yang akan beranjak pergi menuju dapur.
"Antum mau ke mana, Da?" tanya Salsa mencegah langkahku.
"Ini mau ..."
"Antum nggak usah repot-repot. Kita 'kan mau pergi."
Aku memasang wajah murung dan duduk kembali di dekat Salsa. "Ana sudah minta izin sama Ibu. Tapi ... tetap aja Ibu nggak kasih keluar," bisikku.
"Loh, kenapa?"
"Nggak tau juga. Ibu bilang ana baru sembuh. Jadi, dilarang ke mana-mana. Ana nggak bisa pergi sama antum, Sa."
"Yahh ..." Salsa terdiam melihatku. Mungkin saja ia kecewa. Karena sudah capek-capek ke sini sama Kakaknya untuk menjemputku.
"Kok antum nggak bilang tadi malem. Sms atau telpon ana?" tanya Salsa mengkerutkan alisnya melihatku.
__ADS_1
"Maaf, Sa. Ana nggak ada pulsa buat hubungin antum." Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang harus kulakukan.
Aku tau, Salsa pasti kecewa karena aku tidak bisa ikut dengannya. Ketika kami sama-sama terdiam. Tiba-tiba Ibu keluar membawakan minuman untuk Salsa dan Kakaknya.
"Ayokk ... di minum dulu tehnya." Ibu mempersilahkan Salsa dan Kak Riko untuk meminum tehnya. "Hemm ... Sebenarnya, Ibu mau mengizinkan Manda pergi. Tapi ... karena dia baru sembuh, sulit untuk Ibu izinkan dia keluar dulu."
"Ibu. Nggak apa-apa kok, Buk. Salsa paham. Saya juga tau, Ibu sayang sama Manda. Dia 'kan baru sembuh juga. Jadi, wajar kalau Ibu khawatir."
Aku melihat jelas. Salsa menjawab Ibu dengan begitu halus dan sangat mengerti dengan sikap Ibuku.
"Nanti kalau Manda sudah agak mendingan. Insya Allah Ibu akan izinkan dia untuk pergi sama kamu, Nak."
"Hee, iya, Buk."
"Di minum dulu, Nak Kiro," kata Ibu menyapa Kak Riko yang hanya terdiam dari tadi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Kok Kiro, Buk?" Aku menjawab Ibu seraya melihatnya. "Namanya Kak Riko, Buk. Bukan Kiro!"
Kak Riko pun tertawa kecil melihatku menjawab Ibu dengan memanyunkan mulut. Dasar Ibuku memang. Masak Riko loncat ke Kiro. Jauh sekali bedanya. Mungkin, karena faktor usia sehingga beliau lupa.
"Ya sudah, Dek. Kita perginya berdua saja. Besok kapan-kapan kita ajak Manda pergi." Kali ini kata-kata Kak Riko keluar. Aku kira ia akan tetap diam tanpa sepatah kata pun.
Dari semenjak datang ia hanya diam saja. Bahkan, walau ia sering ke sini menjemput Salsa. Aku tidak pernah melihatnya untuk mengatakan sesuatu. Aku juga tidak tauk. Apakah ia sosok laki-laki pendiam atau bagaimana??
Sahabatku yang satu itu pun memelukku. Ia seperti saudara bagiku. Ia tetap mengerti dengan keadaanku dan selalu perhatian. Entah di mana aku akan mencari sahabat yang begitu baik dan perhatian seperti Salsa.
"Ana pulang dulu. Assalamu'alaikum," ucap Salsa yang akan masuk menuju mobilnya.
******
"Manda," panggil Ibu ketika aku duduk di atas sebuah tikar setelah selesai makan bersama beliau.
"Iya, Buk." Aku menjawab seraya membereskan piring-piring kotor.
"Ibu mau ngomongin sesuatu sama kamu."
"Ngomongin apa, Buk?" Aku melepas piring yang akan kubersihkan di belakang.
"Kamu masih ada niat untuk kuliah?" tanya Ibu menatapku lekat.
__ADS_1
"Emmm ... emmm ... ng, nggak, Buk."
"Loh kenapa nggak?" tanya Ibu lagi kepadaku. Aku menundukkan kepala. Menyembunyikan keinginanku, dibalik keinginanku. Aku menyembunyikan rasa sedih.
Aku tidak mungkin menyusahkan Ibu lagi. Karena sudah cukup beban yang sudah kuberikan kepada beliau. Entah kenapa beliau tiba\-tiba saja bertanya tentang kuliah?
"Manda. Masak secepat itu keinginan kamu untuk kuliah sudah tidak ada. Kenapa, Nak?"
"Tidak ada, Buk. Manda ... emmm kalau bisa. Manda pingin kerja, Buk." Sungguh, aku ragu mengatakan ini kepada Ibu.
"Kerja?"
"Iya, Buk. Nanti, Manda coba minta tolong sama Salsa. Mungkin saja, dia bisa bantuin untuk cari kerja di Mataram."
"Manda. Kamu lihat Ibu dulu! Kamu dari tadi hanya nunduk saja jawab Ibu."
Aku berusaha menatap Ibu dengan biasa-biasa saja. Namun, dengan wajah cemas. "Maaf, Buk. Ibu setuju 'kan kalau Manda kerja nanti."
"Tidak! Ibu tidak akan pernah setuju jika kamu bekerja. Kamu masih kecil, Da. Ibu mau kamu kuliah saja."
"Tapi, Buk ... Manda nggak mau nyusahin Ibu. Dan biaya kuliah juga mahal! Manda mau kuliah dari biaya mana??"
"Ibu yang akan membiayai kamu!" Suara Ibu sedikit keras menjawabku.
"Buk. Manda nggak mau nyusahin Ibu. Dari mana Ibu akan cari biaya buat Manda."
"Ibu memang selalu bekerja kasar. Dengan upah yang tidak seberapa. Mungkin, itu yang membuat kamu dari mana Ibu akan dapat biaya untuk biayain kamu sekolah. Ibu masih punya Allah, insya Allah pasti akan ada saja jalan jika kita memang benar-benar mau berusaha."
"Manda tau, Buk. Tapi 'kan ..." Kata-kataku terhenti. Entah apa yang harus kukatakan lagi kepada Ibuku.
"Jika niat kamu benar-benar ingin kuliah. Pasti Allah akan kasih jalan nantinya, Nak." Ibu pun bangun meninggalkanku setelah ia tetap bersi keras agar aku mau kuliah dan tidak bekerja.
Sebenarnya, aku sangat ingin sekali kuliah. Akan tetapi, aku kasihan dengan Ibu nantinya. Aku bingung harus mengatakan apalagi kepadanya agar beliau mengerti bahwa aku tidak ingin menyusahkan ia terus menerus.
__ADS_1
Dan beliau masih menganggapku anak kecil! Tinggal di pondok saja dua tahun. Bagiku, umur dua puluh bukan anak kecil lagi.