
Akhirnya kami sampai juga di kosku. Setelah perjalanan satu jaman dari pondok ke kos.
Aku pun rasanya tidak sabar untuk cepat menarik tangan Febi. Dan bertanya apa saja yang ia ketahui tentang kisahku. Tidak mungkin 'kan, aku harus mati penasaran dengan kata-kata Febi waktu masih di perjalanan tadi.
"Cepetan kasih tau," aku menarik pergelangan tangan Febi. Untuk cepat masuk bawa ia ke dalam kos.
"Aduhh ... kamu apa-apaan, sih, Manda. Sakit tau!" Febi menarik tangannya kembali dengan wajah kesal melihatku setelah ia melepas helm-Nya juga tadi.
"Kasih tau kata-kata kamu yang tadi," ucapku lagi.
"Ya Allah ... Manda. Kamu bisa apa nggak lebay gitu. Kita baru nyampe tau."
"Aku tau. Tapi kamu harus kasih tau aku dulu!" ucapku menekan kalimatku lagi.
"Eh. Jangan lebay deh, jadi cewek. Aku mau salat. Kamu tau 'kan kita satu jaman di perjalanan. Mau salat magrib dulu. Nanti keburu isya."
Febi pun berjalan menuju pintu kosku. Tanpa ia memperdulikan segala ucapanku. "Kuncinya mana?"
Aku lalu mengambil kunci kos yang berada di tasku. Lalu membukakan ratu kepo untuk masuk.
"Aku kira kamu nggak bisa salat," cetusku mengejek Febi.
"Apa! Kamu bilang apa tadi! jaga, ya, omongan kamu. Walau pun tampang aku kayak gini aku bisa salat, Manda ...!!"
"Hahahaha. Ekspresinya biasa aja, nggak usah serius gitu," balasku dengan hati lega melihat kekesalan teman kerjaku itu.
"Aku muslim. Jangan mentang-mentang kamu pernah sekolah di pondok terus bilang aku nggak bisa salat. Bisa ngejek gitu sepuasnya."
"Yehh. Becanda aja kalee. Nggak usah di masukin ke hati. Oh, iya, kasih tau dong, Feb. Yang tadi," ucapku memohon lagi.
"Eh. Nanti. Aku mau salat dulu."
Febi langsung masuk ke kamar mandi tanpa mau memberi tahuku sedikit pun dari mana ia tau tentang kisahku. Tapi, aku yakin ia tau semuanya pasti dari ustazah Erin.
__ADS_1
Siapa lagi kalau bukan ustazah Erin. Seraya kan ustazah Erin juga tau tentang kisahku. Hem. Kalau seandenya ia tau semuanya, semoga saja ia tidak cerita ke sana kemari tentang kisahku ini. Bahaya kan seandainya ia cerita kepada orang lain.
Takutnya akan menjadi fitnah. Dan takutnya juga, aku dipojokkan seperti dulu. Mengingat kejadian dulu sangat sakit untukku terima. Aku tidak mau menerima sakit lagi. Sudah cukup rasa sakit yang kurasakan.
Karena perjalanan satu jaman aku memilih untuk merebahkan badan di tempat tidurku. Sambil menunggu Febi selesai salat, aku mencoba membuka aplikasi WA. Mungkin saja, Salsa aktif.
Setiap kali merasa rindu kepada sahabat. Apalagi aku dan Salsa sangat akrab. Untuk beberapa hari ini kami tidak pernah saling menanyakan kabar. Rasanya aku pengin curhat sama Salsa.
Curhat tentang pertemuan dengan ustaz Aris dan istrinya. Dan tentang gimana ia mengajakku untuk menikah juga.
Sejujurnya, aku takut jika ustaz Aris suatu saat mencariku lagi. Sebesar apa sih, cintanya ustaz Aris kepadaku. Sampe\-sampe hati istrinya bisa ia luluhkan dan ia pun diizinkan menikah lagi.
Yang jadi pertanyaan dalam pikiranku. Apakah harus aku yang jadi istri ke dua. Apakah tidak ada wanita lain selain diriku. Kayaknya ... ustaz Aris cinta banget, ya, sama Imanda Ramdhani.
Hah. Tidak tidak. Kalau ia cinta banget. Nggak mungkin ia ninggalin aku gitu aja. Lebih milih menikahi wanita lain. Walau pun ingin menuruti perkataan orang tua, tetap saja ia tidak memperjuangkan cintanya kepadaku.
Kayak aku 'kan. Dulu nggak bisa bersatu sama ustaz Aris karena aku orang biasa. Dan ... mungkin, karena sebagai santriwati juga. Jadi, melanggar peraturan. Tapi, tetap saja mereka menghinaku. Aku masih ingat kejadian dulu, dan tidak bisa untuk dilupakan.
"Eh. Kamu nggak salat?" tanya Febi menepuk bahuku. Astaga, keasyikan melamun aku sampe nggak sadar kalau Febi sudah selesai salat. "Kamu kenapa?"
"Hah. Mmm ... ng-nggak ada, kok," jawabku seperti orang bodoh.
"Nggak ada, kok, bengong gitu?" Febi mendekatiku. "Gue laper ..."
Hm. Ini anak kenapa juga dia pasang muka memelas kayak gitu. Aku orangnya suka nggak tegaan jadinya. "Nggak ada makanan. Eh. Tadi 'kan kamu di kasih sesuatu sama ustazah Erin. Buka aja, siapa tau makanan 'kan."
"Oh, iya. Aku lupa."
Febi lalu membuka plastik hitam yang sempat diberikan oleh ustazah Erin. Sebuah kotak berisi kue ternyata.
"Wah. Mmmm enak, banget, Da."
Melihat Febi menikmati memakan kue yang diberikan oleh ustazah Erin. Membuat aku pengin juga, tapi pengin nggak ada nafsu makan juga. Aku mengurungkan niat untuk ikut makan kue tersebut.
"Kamu beneran nggak mau?" tegur Febi lagi yang masih mengunyah kue dimulutnya. Aku paling nggak suka liat orang ngomong sambil makan. Kayak nggak sopan gitu, nenurutku.
__ADS_1
"Bisa nggak. Makanan kamu telen dulu, baru ngomong," kataku dengan wajah kesal melihat Febi.
Mendengarku berkata seperti itu Febi lalu bangun mengambil air minum.
"Feb. Kamu belum kasih tau aku. Kok, kamu bisa tau?" tanyaku melihat Febi yang meneruskan lagi memakan kuenya.
"Itu ... di-kasih tau sama ..."
"Sama siapa?" tanyaku lagi. "Panjang banget dikasih taunya."
"Di kasih tau sama, Bibik."
Aku hanya diam mendengar ucapan Febi. Tebakanku benar juga kalau ia diberi tau oleh ustazah Erin.
"Memangnya, ustazah Erin cerita apa saja ke kamu?"
"Nggak banyak, kok, dia cuman cerita kalau kamu sama ustaz Aris itu pernah sama-sama suka, katanya."
"Ustazah Erin bilang apa, aja?" tanyaku cemas. Nggak tau kenapa, aku seperti khawatir.
Ustazah Erin juga kenapa, sih, harus cerita segala. Ia tidak tau apa keponakannya terlalu banyak omong. Nanti kalau ia cerita kan bisa bahaya.
"Kamu luar biasa, ya," kata Febi kepadaku.
"Luar biasa apa?" tanyaku mengernyitkan dahi.
"Iya, kan. Kamu itu luar biasa banget, bisa disukai sama laki-laki setampan gitu."
"Hah. Itu yang kamu anggep luar biasa?"
"Iya. Udah ustaz, anak pimpinan pondok, ganteng. Apalagi yang kurang."
"Iya. Tapi nggak jodoh," jawabku sewot.
"Hahahahahah."
Dasar anak nggak waras. Oh, iya. Aku baru sadar dengan jawabanku yang tadi. Seperti orang yang nggak suka aja caranya ku ngjawab. Abisan aja dia ketawa puas kayak gitu. Astaga. Imanda!!
"Kamu masih cinta, ya, sama dia?" Febi mendekatkan wajahnya mengejekku.
Aku cembrut melihat Febi yang mentertawakanku. "Nggak juga."
"Nggak juga, tapi jawabnya kesel gitu. Hahahahaha."
"Ketawa aja sepuasnya," kataku lalu memukul Febi memakai bantal yang berada didekatku.
__ADS_1