LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Diizinkan


__ADS_3

 


Satu bulan berlalu semenjak Salsa berkunjung ke rumah. Kami tidak pernah bertemu lagi. Salsa, mungkin saja sibuk dengan kuliahnya. Setelah ia diterima di salah satu Universitas Negeri yang berada di Lombok.


 


Lain halnya denganku. Memilih untuk berdiam diri di rumah dulu sesekali membantu Ibu kerja juga. Apa dayaku, saat aku menginginkan hal lain Ibu malah memaksaku untuk mengikuti kemauannya.


 


Di saat berniat ingin bekerja, beliau malah tidak setuju. Sampe akhirnya aku menuruti keinginan beliau.


 


Ingin masuk perguruan tinggi, tapi sudah telat untuk ikut. Hingga Ibu bilang aku harus daftar pada tahun yang akan datang.


Aku hanya mangut-mangut saja mengiyakan Ibu. Jika menolak pasti akan berdebat lagi.


Rasa jenuh yang kurasakan membuatku ingin membujuk Ibu lagi agar diizinkan bekerja. "Buk. Manda mau bilang sesuatu sama, Ibu."


"Iya. Bilang saja," jawab Ibu yang sedang membersihkan beras didekatku.


"Buk. Aku kan ... daftar kuliah masih lama. Bagaimana ... kalau??" aku terdiam.Takut jika Ibu marah kepadaku.


"Bagaimana apa?" Ibu menolehku, matanya menandakan menunggu jawaban dariku.


"Tapi ibu jangan marah. Manda takut kalau ibu marah nanti," jawabku dengan suara merengek.


"Iya. Ibu tidak marah. Bilang saja,"


Aku menarik napas. Berusaha mengatur kata-kata agar Ibu mengizinkan. "Buk. Daftar kuliah 'kan masih lama. Bagaimana ... kalau Manda kerja saja dulu. Yaahh, siapa tau Manda bisa ngumpulin uang juga untuk biaya kuliah. Jadi, tidak terlalu membuat ibu terbebani. Bagaimana? Ibu izinin 'kan?"


Hatiku ketika itu takut. Gemetar. Entah apa respon Ibu selanjutnya. Apakah ia akan marah besar atau tidak. Beberapa menit, Ibu terdiam. Mungkin saja, beliau memikirkan apakah mengizinkanku atau tidak.


"Hmmm ... ini sudah sering kali kita bahas. Dan berkali-kali kamu meminta izin supaya Ibu mengizinkan kamu. Yang jadi pertanyaan Ibu sekarang? Kalau kamu kerja di Mataram. Kamu akan tinggal di mana?"


Pertanyaan Ibu membuatku diam. Sebelumnya, aku tidak kepikiran jika akan tinggal di mana. Tapi ... aku masih punya sahabat yang bisa membantuku yaitu Salsa.


"Manda ... tinggal di rumah Salsa, Buk," jawabku dengan pedenya.


"Di rumah Salsa?" Ibu menarik napas dalam melihatku.


"Nak. Kalau kamu minta tolong atau tinggal untuk beberapa hari mungkin tidak masalah. Ini 'kan masalahnya kamu kerjanya lama di Mataram. Masak mau tinggal lama di rumah orang. Kamu pikirkan dulu semuanya, jika kamu beranggap bahwa sudah bukan anak kecil lagi seperti yang Manda bilang selama ini. Maka pikirkan dulu semuanya. Jangan cuman memikirkan kamu langsung kerja saja."


 


Aku diam lagi mendengar penjelasan Ibu. Memikirkan perkataan beliau. Dan benar. Aku tidak mungkin tinggal lama di rumah Salsa. Pasti tidak akan merasa nyaman harus tinggal di rumah orang. Apalagi dalam jangka waktu lama.


 

__ADS_1


"Yaaa ... untuk sementara aku tinggal saja di rumah Salsa, Buk. Nanti kalau sudah punya uang Manda cari kos yang deket dengan tempat kerja."


"Ya, sudah, Ibu setuju dengan kamu. Tapi kalau ada apa-apa kamu langsung kasih tau Ibu."


Aku mengangguk mengiyakan Ibu seraya tersenyum lebar. Alhamdulillah, setelah bujukan berkali-kali beliau mengizinkan untuk bekerja.


 


Tanpa harus menunda\-nunda. Aku langsung menuju kamar. Kuambil handphone yang berada didekat bantalku. Mencari nomer Salsa untuk meminta tolong apakah aku masih bisa di terima kerja atau tidak oleh teman Kak Riko.


 


"Nomer yang anda tuju tidak dapat dihubungi," terdengar suara operator jika nomer Salsa tidak dapat menerima panggilan.


"Mungkin saja, Salsa sibuk makanya nomernya tidak bisa dihubungi," ucap batinku.


******


"Hallo,"


"Hallo. Assalamu'alaikum, Manda."


"Wa'alaikumsalam, Sa. Ya Allah, Sa. Untung kamu nelpon. Dari tadi siang aku telpon nggak bisa nyambung," kataku memberitahu Salsa.


"Heee, maaf, Da. Aku lagi di kelas makanya nggak jawab. Lagi di kampus," jawab Salsa lagi. "Oh, ya, kamu apa kabar? Aduhh ... sampe lupa nanya kabar?"


"Alhamdulillah, baik juga. Kok tumben kamu nelpon. Memangnya ada apa, Da?"


"Aku mau nanya ke Kak Riko. Bisa tidak kalau aku kerja di toko temennya itu. Soalnya Ibu sudah izinin." Aku bangun dari dudukku. Berharap semoga aku diberikan kesempatan oleh teman Kak Riko.


"Kamu udah diizinin?" tanya Salsa terdengar suaranya sedikit ragu.


"Iya, Sa. Aku udah dikasih kerja sama Ibu. Nggak mungkin juga 'kan aku diem di rumah terus. Mau daftar kuliah juga udah telat," jawabku lagi dengan suara lemas.


"Ya udah. Nanti aku tanyain ke Kak Riko. Kalau temannya masih mau nerima kamu nanti aku kasih tau, ya,"


"Ya, Sa. Maaf, ya, aku tiba-tiba ngrepotin gini."


"Nggak apa-apa kok, Da. Malahan aku seneng kalau kamu bisa kerja nantinya. Kita 'kan jadi bisa ketemu."


"Iya, Sa."


"Udah dulu, ya, Da. Nanti aku kabarin kalau seandinya kamu masih bisa diterima atau nggak. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh," jawabku.


Harapku semoga bisa diterima. Bosan dan merasa lelah jika terus berada di rumah. Sesekali aku memang membantu Ibu, tapi ... itu pun dengan upah yang tidak seberapa yang kudapatkan. Dengan bekerja di sawah sungguh sangat melelahkan.


Dan semoga saja, ini keputusan yang baik. Agar Ibu tidak terlalu terbebani, aku akan menabung nantinya jika sudah diterima kerja untuk biaya kuliah.

__ADS_1


Keesokan harinya, terdengar suara handphoneku berbunyi. Kuraih handphone yang berada didekatku itu. Tertera bahwa Salsa memanggil. Semoga saja memberitahu berita baik. Harapku.


"Hallo, Sa. Assalamu'alaikum," ucapku menjawab telpon dari sahabatku itu.


"Wa'alaikumsalam. Kamu lagi ngapain, Da?" tanya Salsa.


"Ini lagi bantu Ibu buat kue, Sa," jawabku lagi.


"Aku nggak ganggu kamu 'kan, Da."


"Nggak kok, Sa. Oh, ya, bagaimana jawaban teman Kak Riko."


"Jawaban apa, Da?"


"Hm, masak kamu lupa?" tanyaku lagi dengan perasaan yang tidak karuan.


"Yang mana, Da?"


"Itu ... pekerjaan."


"Ooouhhh ... itu, aku kira apa."


"Gimana, Sa. Aku masih bisa diterima?" tanyaku penuh harap, tapi dengan penasaran dan khawatir.


"Mmmmm ... mmm maaf, ya, Da. Kamu ... nggak dikasih di rumah terus ..."


"Hah ... maksud kamu?"


"Kamu dikasih kesempatan. Kamu boleh kok kerja kata temen Kak Riko. Haha ... kamu pasti kaget?"


Jantungku rasanya berhenti sejenak berdetak saat menunggu jawaban dari sahabatku itu. "Haduuuhh ... alhamdulillah. Kamu nagetin aja. Aku kira temen Kak Riko nggak kasih kesempatan buat kerja di tokonya."


"Heee ... tenang aja, dia orangnya baik, kok. Malahan dia agak sedikit kepo nanya ini itu ke Kak Riko gara-gara kamu nggak jadi kerja kemarin. Kamu sih, udah diterima, malah nggak jadi."


"Maaf, Sa. Aku 'kan terkendala karena nggak diizinin sama Ibu. Maaf, ya," jawabku merasa bersalah.


"Besok kamu dijemput sama Kak Riko. Besok 'kan hari minggu. Jadi Kak Riko libur kerja, kamu siap-siap, ya."


"Oke, Sa. Makasi, ya, atas semuanya."


"Iya, sama-sama. Kamu jangan sering dulu dah makasinya. Ini juga bantuan aku ke kamu nggak seberapa."


Setelah mengobrol lama lewat telponan dengan Salsa. Aku pun memutuskan telponan dari Salsa. Dan melanjutkan lagi membantu Ibu membuat kue.


Rasa syukur yang tiada tara. Allah masih kasih jalan supaya aku bisa kerja.


Walau tadi aku agak sedikit takut dan khawatir. Salsa sedikit lama memberitahu kabar berita itu. Ia memang sahabat terbaik dan jahil.


Semoga Allah selalu memberikan jalan untukku.

__ADS_1


__ADS_2