LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Teringat


__ADS_3

 


Langit begitu indah saat mata memandanginya. Dihiasi oleh bintang-bintang yang bertebaran ke segala arah. Sangat indah. Hembusan angin terhempas pelan. Angin malam ini tidak terlalu menusuk tubuh. Bahkan sejuk sekali.


Aku duduk sendiri malam ini. Setelah satu minggu lalu sahabatku pulang meninggalkanku. Jika bisa, betapa inginnya aku ia bisa tinggal bersamaku lebih lama lagi.


 


Namun, semua itu tidak akan mungkin. Pasti ia akan dimarahi oleh Ayahnya kalau terus tinggal di rumahku. Apalagi ia anak perempuan kesayangan Ayah dan kakaknya. Bisa berabe nantinya jika ia tinggal lama di sini.


"Manda," terdengar suara lembut dari seorang Ibuku.


Aku membalikkan badan, mendonga Ibu yang sudah berdiri di dekatku. Aku hanya tersenyum lebar melihat wajah ayu Ibuku.


"Kamu tidak makan?"


"Manda 'kan sudah makan tadi, Bu."


Kini Ibu duduk di dekatku seraya mengelusku.


"Kapan?"


"Tadi waktu Ibu tidak ada di rumah."


"Oouhhh, Ibu kira belum. Ya sudah, kamu tidur sana. Jangan terlalu lama di luar kamu baru sembuh, Nak."


"Manda baru selesai makan, Buk. Nanti dulu," jawabku memasang muka lemas.


"Baiklah. Oh ya, Salsa ... berapa bersaudara, Nak? Pertama kali ia ke sini sampai sekarang di jemput oleh orang yang sama."


"Itu Riko, Bu. Kakaknya Salsa, saudaranya Salsa cuman Kak Riko aja, Buk."


"Ouuhhh," jawab Ibu lagi.


"Memangnya kenapa Ibu nanya saudara Salsa?" tanyaku.


"Tidak ada. Ibu cuman penasaran aja, makanya nanya kamu."


"Kirain ada apa, Buk."


"Nggak ada apa-apa," jawab Ibu tersenyum hambar.


 


Aku lalu mengajak Ibu masuk untuk tidur. Karena malam sudah larut.


 

__ADS_1


******


 


Berada di rumah tanpa ada kegiatan sama sekali sungguh membosankan. Aku masih bingung apa yang harus kulakukan selanjutnya. Setelah gagal menyelesaikan sekolah di pesantren.


 


Ingin kuliah? tidak mungkin. Dengan keadaan Ibu yang serba kekurangan. Aku tidak mungkin menyusahkan beliau. Sampe sekarang pun aku masih ingat dengan kekecewaan yang kuberikan kepada Ibu. Dan sampe sekarang pun aku masih sangat bersalah.


Semenjak keluar dari pesantren Ibu tidak pernah lagi menyebut kenanganku saat berada di pesantren dulu.


Mungkin saja, beliau menjaga perasaanku. Agar tidak kepikiran tentang apa yang pernah aku terima di sana.


Karena, jika mengingat semua itu lagi. Hatiku masih terasa sakit. Sangat sakit. Butuh waktu lama untuk sembuh dari sakit hati yang telah kuterima.


"Manda ... Manda," suara Ibu memanggilku.


"Iya, Buk ..." Aku melangkahkan kaki keluar dari kamar untuk menghampiri Ibu.


"Ibu mau kerja dulu, kamu diam di rumah, ya," ucap Ibu kepadaku dengan suara halusnya.


"Manda ikut, ya, Buk."


"Jangan! Kamu baru saja sembuh, istirahat saja di rumah."


"Tapi, Buk. Manda capek di rumah terus," aku menundukkan kepala dengan wajah sedih. Supaya Ibu mau mengizinkanku untuk ikut.


"Pokoknya, kamu tetap di rumah. Jangan ke mana-mana dulu. Kamu baru sembuh. Dan Ibu juga mau ke sawah, bukan kerja yang enak, Nak."


Setelah aku pikir-pikir. Dari pada menyusahkan Ibu lagi nantinya. Aku pun mengiyakan wanita yang kusayangi itu agar tidak ikut dengannya.


Keadaan rumah terasa sepi. Di kala Ibu pergi bekerja dan hanya aku sendiri yang berada di rumah.


Karena tidak ada kegiatan. Aku memutuskan masuk ke kamar untuk membaca buku. Mungkin saja, dengan membaca buku pikiranku bisa terasa tenang.


 


Tanganku meraih sebuah novel. Awalnya ingin membaca buku lain. Entah kenapa aku memilih novel yang bersampul warna pink tersebut. Novel yang pernah diberikan oleh sahabatku yaitu Salsa. Seingatku, aku belum selesai membacanya. Jadi, kuputuskan untuk melanjutkan membaca novel tersebut.


 


Ia tau aku suka membaca novel. Dan ia juga hobi membaca novel, tidak novel saja sih. Tapi ... Salsa memang hobi membaca juga.


Kubuka novel yang bersampul warna pink tersebut. Kubuka lembaran pertama, dan di lembaran kedua. Aku menemukan sebuah kertas putih yang terlipat.


Karena penasaran, aku membuka kertas tersebut. Ternyata, kertas itu adalah surat lama yang pernah dikirimkan oleh laki-laki yang pernah ada dihati ini.

__ADS_1


 


Hanya dengan membaca setengah paragraf saja hati rasanya seperti diiris\-iris. Sakit. Dan teramat sakit.


 


Setiap mengingatnya, air mata ini selalu saja deras membasahi pipi. Sekarang aku tau, bagaimana rasanya dikhianati. Dulu, aku selalu bertanya? Kenapa wanita selalu menangis jika ditinggalkan oleh laki-laki yang ia cintai? Dan sesakit apa sih rasanya dikhianati? Sekarang pun aku menemukan jawabannya. Rasa sakit ketika dikhianati memang tidak bisa diutarakan oleh kata-kata.


Aku yakin. Wanita manapun di Dunia ini. Jika mencintai seorang laki-laki dan berencana akan menikah. Tapi nyatanya ia meninggalkan kita begitu saja. Pasti akan sangat menyakitkan. Kita memang tau jodoh sudah sudah ada yang menentukan. Namun, alangkah lebih baiknya jika ia meminta maaf dulu dan bilang kepada kita bahwa tidak bisa menikah dengan kita. Bukan lari dari permasalahan dan mengambil keputusan begitu saja.


Ustaz Aris ... aku bingung harus bilang apa kepadanya. Aku berharap Allah tidak mempertemukan kami lagi. Karena aku tidak ingin bertemu dengannya lagi.


Di saat melamun, memikirkan sebuah pengkhianatan. Handphoneku berbunyi. Tertulis yang memanggil atas nama Salsa.


"Hallo. Assalamu'alaikum," ucapku.


"Wa'alaikumsalam, Manda."


"Iya, Sa. Kenapa?"


"Nggak ada, cuman mau nanya kabar antum aja. Bagaimana kabar antum?"


"Alhamdulillah, baik. Kalau antum bagaimana?" tanyaku balik seraya bangun dari tempat dudukku.


"Baik juga, Da. Kok antum nggak pernah hubungin ana, sih?"


"Maaf, Sa. Ana nggak pernah pegang handphone semenjak sakit. Ini saja tumben pegang hape."


"Oouhh, ya sudah. Oh ya, Da. Ana mau ngajak antum jalan-jalan minggu depan. Mau tidak?"


"Jalan-jalan? kemana?"


"Kurang tau. Nanti kita sama Kak Riko perginya. Antum mau nggak?"


"Mmm ... ana nggak berani janji. Nanti minta izin dulu sama Ibu. Memangnya kita pergi pake apa?" tanyaku lagi rada-rada ragu.


"Pake mobil lah. Masak pake sepeda motor! Mau bonceng tiga gitu?"


"Yaaa nggak, sih, 'kan ana cuman nanya. Kali aja pake sepeda motor."


"Nggak. Kita pake mobilnya Ayah. Kak Roki juga pingin ketemu sama antum."


"Ketemu? Untuk apa?"


"Yaaa dia cuman nggak mau lihat antum galau terus. Makanya dia ngajak kita jalan-jalan."


"Oouhhh, ya sudah, Sa. Besok kalau di izinin sama Ibu ana kasih tau antum. Sudah dulu, ya, assalamu'alaikum."

__ADS_1


Aku menutup telpon mengakhiri pembicaraan dengan Salsa. Aku berharap, semoga diizinkan keluar sama Ibu. Karena, baru sembuh. Takut jika beliau tidak mengizinkanku keluar nantinya. Ibu selalu saja khawatir dengan keadaanku.


Kasih sayang seorang Ibu memang tidak bisa digantikan oleh siapa pun jua.


__ADS_2