
Dua minggu lalu aku mengikuti ulangan harian. Dan hari ini, hasil ulangan dibagikan kepada semua santri.
Aku pasrah dengan nilai yang akan kudapatkan. Setelah untuk kedua kalinya Ustazah Nisa menegurku. Pikiranku begitu sangat terbebani. Ustazah Nisa menegurku lagi, hanya karena Ustaz Aris.
Ia sampai memohon kepadaku agar aku menjauhi Ustaz Aris. Bahkan, ia juga bertanya apa yang aku lakukan kepada Ustaz Aris sehingga begitu cintanya seorang Aris Firdaus kepadaku.
Cinta itu datang secara tiba\-tiba. Dan tumbuh dengan dengan seiring waktu. Aku tidak bisa menghilangkan perasaanku begitu saja tanpa sebab. Jika hanya aku saja yang mencintai Ustaz Aris. Mungkin aku akan berusaha menghapus rasa cinta dan sayangku kepadanya.
Tapi ... ini tidak! kami saling mencintai. Aku tau. Mungkin aku sudah melakukan kesalahan menjalin hubungan dengan guruku. Namun, cinta tidak bisa disalahkan ketika kita merasakannya. Seberapa kali Ustazah Nisa menegurku untuk meninggalkan Ustaz Aris. Aku tidak akan bisa.
Dan apa yang aku takutkan ternyata menjadi kenyataan. Nilaiku jelek, sangat jelek. Sedih. Yaaa sedih yang aku rasakan. Bagaimana bisa di saat ulangan harian aku mendapatkan nilai buruk seperti ini.
"Manda," tegur Ustazah Erin yang mendekatiku saat duduk dibawah pepohonan. Setelah membagikan hasil ulangan nafsu makanku seakan-akan tidak ada.
Aku mendonga Ustazah Erin yang kini duduk di dekatku.
"Anti kenapa, Nak?" tanyanya lagi.
Aku hanya diam menggelengkan kepala. Dan berusaha menyunggingkan senyumku dihadapan guruku itu.
"Oh ya, tadi kenapa nilain anti seperti itu. Anti nggak belajar?" tanya Ustazah Erin lagi.
"Manda belajar kok, Zah," jawabku masih menunduk.
"Kalau anti belajarnya konsen. Pasti nilai anti tidak akan seperti itu. Cerita sama Ustazah ada apa, Nak?"
"Tidak ada, Zah."
"Baiklah. Ustazah tidak akan memaksa Manda untuk cerita. Sekarang Manda salat dulu lalu makan. Biar hati dan pikirannya tenang." Ustazah Erin memberikanku nasehat supaya aku bisa tenang.
Hanya anggukan yang ku berikan kepada guruku itu. Ia lalu pergi meninggalkanku setelah aku tidak ingin menceritakan apapun kepadanya.
__ADS_1
Ustazah Erin memang tau aku menjalin hubungan dengan Ustaz Erin. Tapi tidak serta merta membuatku harus menceritakan masalah pribadiku seperti ini. Tuhan ... aku takut mengecewakan ibu. Kenapa bisa nilai ulanganku sejelek ini?
******
"Manda," tegur Salsa yang kini berada di dekatku. Saat aku sedang melipat mukenah.
"Iya," jawabku singkat.
"Anti kenapa? anti masih kepikiran sama nilai ulangan atau ucapan Ustazah Nisa?"
"Dua-duanya," jawabku lagi. Lalu keluar dari kamar dan duduk di teras depan kamar santriwati.
Salsa pun mengikutiku. "Apa tidak seharusnya ana kasih tau Ustaz Aris?" tanya Salsa dengan ragu\-ragu.
"Kasih tau apa?" jawabku menoleh Salsa lagi.
"Yaaa bilang kalau Ustazah Nisa negur antum lagi. Ini nggak bisa di biarin. Kalau antum biarin terus bisa terganggu sekolah antum."
"Nggak usah," jawabku lagi.
"Da, tapi ana nggak bisa lihat antum kayak gini. Gara-gara itu juga nilai antum jelek." Salsa mengelus pundakku seakan-akan ia merasakan apa yang kurasakan saat ini. "Setau ana. Antum itu nggak pernah dapat nilai ulangan sejelek itu. Semua santriwati juga tau kalau antum orangnya pintar. Makanya Ustazah Erin juga bertanya-tanya antim kenapa?"
"Maksud antum?"
"Iya 'kan. Seharusnya dulu ana nggak jalin hubungan dengan Ustaz Aris supaya sekolah tidak terhalang. Mungkin ini maksud ibu nyuruh agar aku rajin-rajin sekolahnya dan tidak melakukan hal yang tidak-tidak."
"Yaaa tapi 'kan. Kita nggak pernah tau perasaan itu datang secara tiba-tiba ke antum sama Ustaz Aris. Cinta mah nggak bisa dihalang-halang, Da. Mau gimana lagi juga."
"Semuanya sudah terlanjur."
"Hmm. Manda, gini, ya. Ustaz Aris tetap bersi keras ingin menikah sama antum. Tugas Anti sekarang, berdoa dan minta petunjuk sama Allah. Semoga antum diberikan jalan keluar atas masalah ini."
Aku terdiam mendengar kata\-kata sahabatku itu. Salsa memang benar, aku harus lebih mendekatkan diri kepada Allah. Hanya Allah yang bisa tempatku berkeluh kesah saat ini.
******
Pukul tiga tengah malam. Aku terbangun dari tidur. Dan semua santri juga dibangunkan untuk melaksanakan salat tahajjud.
__ADS_1
[Ya Allah ... ampuni aku. Ampuni dosa-dosaku dan dosa kedua orang tuaku. Ya Allah mudahkan segala urusanku. Buatlah aku selalu kuat, tegar dan sabar dalam menghadapi setiap masalahku. Hamba hanya meminta, beri hamba petunjukmu, dan berkahilah ilmu yang hamba dapatkan. Ya allah jika dia memang jodoh hamba maka dekatkanlah ... tapi jika tidak, hamba serahkan semuanya kepada engkau. Karena sesungguhnya, engkaulah yang sudah menentukan lembaran setiap hambamu. Amin amin ya rabbal alamin.] Hanya itu doa yang kupanjatkan.
Aku serahkan semuanya hanya kepada Allah. Karena kuyakin, ia pasti membantu setiap hambanya yang mengalami kesulitan.
******
Langit mendung. Pekat. Tidak seperti cuaca kemarin yang begitu cerah. Selesai berdoa semua santri masuk ke dalam kelas masing-masing. Begitu pula aku berlari menuju kelas. Rintik-rintik hujan mulai turun.
Terdengar seseorang memanggil namaku. Aku membalikkan badan. Terlihat laki-laki itu ... yaa laki-laki yang berbadan tinggi itu cepat-cepat menghampiriku tidak lain ia adalah Ustaz Aris. Aku ingin menghindarinya, tapi aku tidak tega jika menghindarinya.
Sungguh, aku tidak akan bisa menghilangkan perasaanku kepadanya.
"Anti nanti kalau keluar main kita bicara. Ajak Salsa," ucap Ustaz Aris kepadaku
"Ana tidak bisa, Ustaz."
"Kenapa?"
"Karena ana takut jika ada orang yang melihat antum dengan ana. Ana tidak mau mendengar perkataan yang tidak-tidak lagi dan tidak ingin ditegur juga."
"Tegur? Maksud anti?"
"Ustazah Nisa negur ana lagi, Ustaz. Bahkan dia bersi keras meminta agar ana ninggalin antum."
"Ana akan tegur dia nanti," kata Ustaz Aris menjawabku lagi.
"Jangan, Ustaz. Ana tidak mau jika dia nantinya negur ana lagi."
"Manda. Ana akan tetap tegur dia. Ana tidak punya perasaan apa-apa sama Nisa. Ana cuman ingin menikah sama anti saja."
"Ustaz. Apa tidak sebaiknya kalau antum menjauhi ana."
"Tidak bisa, Manda. Ana sudah janji sama anti, dan ini memang sudah ke ..."
"Sudah dulu, Ustaz. Ana mau masuk kelas. Teman-teman sudah berdoa di dalam." Aku menghentikan perkataan Ustaz Aris kepadaku. Dan berlari menuju kelas.
Hujan turun begitu lebat. Langit menangis membasahi bumi ini. Dan hatiku menangis pula saat menyuruh Ustaz Aris menjauhiku. Sungguh, hatiku sakit dan tidak akan bisa kehilangannya. Entah sampe kapan aku menyembunyikan perasaanku yang begitu dalam kepadanya.
__ADS_1
Aku mencintainya. Aku tidak ingin sebenarnya berbicara agar ia menghindariku. Tapi ... keadaanlah yang membuatku harus berkata seperti itu kepadanya.