
"Menikahlah dengan, ustaz Aris. Ustazah mohon," pinta ustazah Nisa menatapku lekat. Bibirku terasa gemetar, bingung harus menjawab apa.
Aku tidak tau apa yang ada dalam pikiran ustazah Nisa. Kenapa bisa ia memohon lagi agar aku menikahi ustaz Aris. Ia sampai berani ke tempat kerjaku hanya untuk meminta hal seperti ini.
Ustazah Nisa menggenggam tanganku erat. Melihat wajahnya memohon rasanya aku tidak sanggup. Walau sebenarnya diriku belum mengerti apa maksud dan tujuannya terus memaksaku menikah.
Bahkan, Pak Kyai pun harus turun tangan ke rumah hanya untuk melamarku. Jika sendainya ustaz Aris ingin mencari istri lagi.
Kenapa ia tidak mencari wanita yang lain saja. Kenapa harus aku. Semua itu terus saja terlintas dalam pikiranku. Apa yang harus kulakukan.
Sungguh, jika aku jadi kuliah. Takut jika semua ini akan membuatku terganggu.
"Ana tidak bisa, Ustazah. Afwan (maaf)." Aku menarik pelan tanganku, yang sedari tadi digenggam erat oleh ustazah Nisa.
"Apa alasannya? Kenapa anti tidak mau?" Lagi-lagi ustazah Nisa bertanya. Padahal sebelumnya aku pernah bilang, bahwa aku tidak mungkin menikahi laki-laki yang sudah mempunyai istri.
"Kenapa anti diam, Manda?"
Pertanyaan ustazah Nisa seperti memaksaku. Apakah ia tidak berfikir, jika aku lama\-lama tertekan diberikan pertanyaan seperti ini. Apa aku harus mengeluarkan sifat asliku. Sifat asli yang tidak suka jika ditanya seperti ini terus.
Ustaz Aris. Pokoknya semua istrinya sama saja. Ia begitu gampangnya memintaku untuk menikahi laki-laki yang sudah mempunyai istri. Di mana cara berfikir mereka. Aku perempuan, dan sakit jika berbagi hati dengan wanita lain.
Diri ini memang mencintai ustaz Aris. Tapi, masak iya aku harus menikah dengannya. Apa yang pernah terjadi dulu sangat sulit untuk dihilangkan.
"Ustazah. Maaf, ana harus bekerja dulu. Ngobrolnya bisa kita sambung lain waktu." Aku membalikkan badan tanpa harus bersikap sopan kepada guruku itu.
Aku melangkahkan kaki pergi dari hadapan beliau. Aku tau ini tidak sopan, tapi untuk menghindari pertanyaan aku pergi begitu saja.
Setelah masuk toko, aku ikut berbaur dengan teman-teman yang lainnya. Dan aku melangkah mendekati Febi saat sedang meladeni pelanggan.
Febi mengernyitkan dahi melihatku. Sesekali ia masih fokus meladeni pelanggan.
Saat pelanggan sudah agak sedikit, tiba\-tiba Febi menarik tanganku. Ia membawaku ke pojok ruangan toko. Di mana tidak ada teman\-teman yang akan mengganggu.
"Eeehh. Lepasin, Feb. Kamu mau ajak aku ke mana. Nggak usah ..."
"Aku mau nanya sesuatu sama kamu."
Sorotan mata Febi sungguh membuatku takut. Ia melihatku dengan mata begitu sadis. "Ka\-kamu mau ngapain, Feb. Nggak usah li ..."
"Kenapa? kamu takut?" tanya Febi menyudutkanku lagi. Emang aku salah apa sama dia. Sehingga ia songong sekali menjawabku. Setiap ingin ngomong ia selalu memotong perkataanku. Kebiasaan banget si Febi. Kalau ngomong maunya dia aja yang nguasain.
"Ngapain si perempuan itu dateng ke sini?"
"Maksud kamu?" aku sedikit bingung dengan agak tegang dengan pertanyaan Febi.
__ADS_1
"Yaelah. Emang tadi siapa yang nyari kamu. Emang kamu nggak kenal dia?! Jangan bilang kamu nggak kenal dia!"
"Hmmm." Aku mendengus kasar melihat Febi. "Maksud kamu ustazah Nisa?" tanyaku memperjelas.
"Aku lama-lama penasaran deh sama kisah kamu."
Aku tertegun mendengar ucapan Febi. Emang ia pengin tau banget, ya. Sehingga harus kepoin tentang kehidupanku. Aku bukan artis yang kehidupannya bisa narik perhatian banyak orang. Hidupku memangnya sangat menarik, ya?
Aku hanya gadis biasa yang mempunyai lika\-liku kehidupan begitu pahit. Ah. Aku jadi curhat kan jadinya.
"Kenapa bisa. Ustazah Nisa nyuruh kamu ... nikahin ustaz Aris?"
"Uhuk. Uhuk. Uhuk." Aku terkejut mendengar pertanyaan Febi. Dari mana ia tahu jika ustazah Nisa memohon agar aku mau menikahi ustaz Aris. "Maksud kamu?"
"Aku heran deh, kamu itu terus aja jawab maksud kamu? Kamu jangan pura-pura ****' deh, Manda!"
"Ya. Habis aku bingung dengan pertanyaan kamu. Kamu nanyanya ngelantur lama-lama. Mau tau ini itu banget tentang kehidupan orang." Aku menjawab Febi setidaknya dengan cara halus walau sedikit kesal.
Sebenarnya ingin marah, tapi tidak mungkin jika mengikuti ego untuk marah di hadapan orang.
"Aku mau balik layanin orang," ucapku ketus lalu pergi meninggalkan Febi.
"Eh. Kamu belum jawab aku, Da."
"Pertanyaan kamu itu nggak cocok untuk di jawab!" aku melangkah pergi meninggalkan Febi.
Apa ia juga tau tentang ini itu. Bibirku gemetar mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.
Bagaimana bisa ada orang yang kepo tentang diriku. Bagiku, tidak ada hal menarik yang bisa dijadikan bahan gosip.
******
Aku menarik nafas dalam, sedalam mungkin lalu mengeluarkannya pelan lagi. rasanya sangat nyaman.
Hari ini, mumpung kalender merah kita libur bekerja. Jadi, Salsa mengajakku untuk pergi ke sebuah pantai.
Padahal ini bukan hari minggu, tapi Salsa terus saja memaksa. Dan alhamdulillah, rasanya nyaman sekali berada di pantai ini.
__ADS_1
Jika bisa, aku ingin berteriak sekeras mungkin dan ingin dipertemukan oleh seseorang yang kau anggap bisa mendampingi hidupku untuk selamanya.
Tapi, sayang. Aku rasanya malu jika harus dipertemukan dengan seorang laki\-laki. Karena aku hanya gadis biasa yang tidak mempunyai kelebihan apapun.
"Jadi, ustazah Nisa datang ke toko nemuin kamu hanya untuk meminta agar kamu menikah sama suaminya?"
Aku mengangguk ketika Salsa bertanya kepadaku.
"Kok bisa ya, mereka maksa? apa sih maksudnya?"
Aku mengkerutkan dahi melihat ekspresi Salsa. Ia bingung dengan apa yang terjadi kepadaku.
"Aku nggak tau, Sa. Tapi aku rasanya malas buat ladenin mereka lagi. Sampai kapan mereka akan ngbujuk aku. Padahal udah berkali-kali diriku menolak. Apakah tidak ada wanita lain selain diriku."
Salsa terdiam seperti memikirkan sesuatu. Aku tidak tau ia memikirkan apa. Hanya saja aku bersyukur untuk saat ini bisa mempunyai sahabat baik seperti Salsa. Sehingga, aku bisa bercerita ini itu kepadanya.
"Kamu masih cinta sama ustaz Aris?"
"Hah. Maksud kamu?" jelas saja pertanyaan Salsa membuatku tersipu malu dan kaget.
"Kamu masih cinta sama dia?" tanya Salsa mengulang.
"Kamu ngapain nanya kayak gitu?"
"Ya Allah, Manda. Kamu cukup jawab ya atau tidak!"
Aku mendengus kesal melihat sahabatku itu. "Aku nggak tau, Sa," jawabku lagi.
"Lahh ... kok nggak tau, sih."
"Iya. Aku nggak tau."
"Kalau seandainya kamu masih punya rasa sama beliau. Kamu terima aja, tapi ... jangan langsung terima gitu aja. Kalau bisa kamu deketin diri sama Allah. Salat tengah malem, kamu curhat sama Allah. Biar kamu nggak kayak gini terus. Sebenarnya, hal kayak gini nggak perlu untuk kita suruh ke kamu. Entah kenapa aku merasa kamu agak jauh sekarang sama Allah."
Perkataan Salsa membuatku menelan ludah. Hatiku seperti diiris, kuakui dulu aku memang sering melakukan salat disepertiga malam. Namun, sekarang aku tidak pernah melakukannya. Ngaji pun jarang sekali. Apa yang dikatakan Salsa sangat menyentuh hati ini.
**Hai semuanya, terima kasih sudah setia membaca karya saya. Jangan lupa vote sebanyak-banyaknya yah 😊
Dan jika berkenan jangan lupa follow sosial media saya. Biar kalian tau cerita baru yang akan saya publis waktu dekat ini. Cerita yang akan membuat kalian penasaran.
Semua sosial media.
@Amy'e Ummu
Amy'e Ummu
@Amy'e Ummu
__ADS_1
Amy'e Ummu**