
Aku menarik napas dalam sebelum memberitahu ibu. Sebenarnya hatiku rada-rada ragu untuk bilang kepada ibu. Tapi, aku tidak mungkin jika tidak memberitahu beliau.
Sementara Salsa memilih beristirahat setelah perjalanan panjang kami. Baru tadi sore kami sampai di rumahku. Malam ini pula aku duduk mendekati ibu.
"Ibu kira kamu sudah tidur?" Ibu bertanya ketika aku duduk di kursi sebelahnya.
"Nggak, Buk. Ini kan masih pagi, jam delapan aja belum."
"Ya mungkin saja kan kamu ngantuk, Nak."
"Belum, Buk. Oh iya, Manda ..."
"Manda. Kayaknya baru-baru kemarin kamu pulang. Kok sekarang udah pulang lagi, Nak. Kan jauh," ucap ibu melihatku yang akan membuat susu hangat.
Setelah susu hangat jadi, aku melihat ibu lalu berkata. "Buk. Manda mau bilang sesuatu sama, Ibu."
"Iya. Bilang apa?"
"Mmm. Kalau seandainya Manda udah kuliah. Terus Manda akan tetep kuliah, Buk." Aku ragu mengatakan ini, tapi bismillah aja. "Kalau Manda nikah. Ibu kasih?" tanyaku dengan raut wajah cemas.
"Nikah?!" tanya ibu mengulang lagi. Ia seperti terkejut mendengar ucapanku. Ibu membelalakan matanya. "Maksud kamu apa, Manda?
Melihat ekspresi ibu membuat kakiku gemetar. Kenapa sih, aku harus mengatakan hal seperti ini kepada ibu. Jelas-jelas ibu kaget, sepertinya sebentar lagi ibu bakalan serangan jantung deh. Ya Allah ... mudah-mudahan aja nggak terjadi sesuatu malam ini.
"Manda! Apa maksud kamu berkata seperti itu? Ibu tidak salah dengar kan?"
Lagi-lagi melihat ekpresi ibu saja aku sudah tidak sanggup untuk berkata lagi. Jantungku seperti berhenti berdetak melihat wajah ibu yang mungkin sebentar lagi akan keluar asap dari telinga ibu. Eh, bukan asap. Mungkin, aja keluar api. Astagfirullah, durhaka banget aku sama orangtua bilang seperti ini.
"I-ibu nggak salah denger kok. Manda beneran ngomongnya, Buk."
"Kan kemarin kamu bilang udah lulus kuliah. Tapi, kenapa sekarang bahas nikah? Ibu tidak ngerti maksud kamu apa?"
"Manda bisa nggak kuliah sambil berumah tangga, Buk. Ibu ... se-setuju atau nggak?" tanyaku penuh harap dan memasang wajah sedih.
"Tidak. Ibu tidak akan setuju."
"Tapi, Buk ..."
"Ibu tidak mengerti dengan jalur pikiranmu, Nak. Apa yang membuatmu berfikir untuk menikah. Padahal, kemarin mendengar kamu lulus kuliah saja ibu sangat senang dan bersyukur."
"Manda tau, Buk. Tapi, kan sekarang banyak orang walau kuliah bisa berumah tangga," kataku memberitahu ibu lagi.
"Iya. Ibu tau. Tapi, orang ..." perkataan ibu terhenti dan beliau memijat keningnya. "Sudah. Sekarang Ibu tanya sama kamu. Memangnya kamu mau menikah sama siapa?"
__ADS_1
Ibu melotot melihatku. Sungguh, aku takut melihat tatapan ibu. "Sama ... us-ustaz."
"Ustaz. Ustaz Aris?" tanya ibu memperjelas lagi.
Aku berusaha mengangguk untuk memberikan kode iya. Aku hanya bisa berdoa semoga ibu tidak kaget dan memarahiku abis-abisan.
"Manda." Ibu terdiam lagi dan mataku dengan ibu bertemu satu sama lain. Entah, aku bingung cara mengartikan ekspresi ibu. Antara ia sedih, marah, dan seperti kesal juga.
"Ma-maafin Manda, Buk. Kalau ibu nggak setuju Manda nggak bakalan lanjut kok, Buk."
Saat melihat ibu, beliau seperti menarik napas pelan lalu memejamkan mata sejenak. "Manda. Kali ini Ibu tidak akan marah. Karena Ibu juga capek marah saat kita membahas ustaz Aris lagi. Nak, kamu tau kan ustaz Aris sudah punyai istri?"
Aku menunduk dan ragu-ragu untuk menjawab ibu. "I-iya. Tau, Buk."
"Apa yang membuatmu berfikir untuk menikah dengan ustaz Aris, Nak?"
Aku memilih diam dari pada harus menjawab ibu. Mendengar suara ibu saja, sepertinya beliau sedih. Aku takut jika akan membuat beliau kepikiran.
Ibu bangun dari tempat duduknya dan beranjak pergi meninggalkanku. Sebelum keluar dari dapur, ibu menoleh ke belakang lalu berkata kepadaku. "Ibu tidak akan setuju jika kamu menikah dengan laki-laki yang sudah mempunyai istri. Ibu tidak ingin kamu merasakan sakit lagi seperti dulu."
Ya Allah. Yang tadinya ibu diem dan enggan untuk menjawab panjang lebar dengan pertanyaanku. Tiba-tiba saja kata-kata ibu mengena sekali. Aku rasanya lemah. Apa yang harus kulakukan.
Melihat ibu pergi begitu saja meninggalkanku sendirian di dapur. Aku hanya diem dan langsung menghabiskan susu yang kubuat tadi.
"Aku juga bilang apa. Ibu kamu nggak setuju kan," kata Salsa langsung menyodorkanku dengan kalimat nyegirnya.
Lantas aku mengernyitkan dahi melihat Salsa yang tiba-tiba saja memanahku dengan kata-kata saat baru saja masuk ke kamarku.
"Kamu dari mana tau. Kamu nguping, ya?" tanyaku menyipitkan mata melihat Salsa.
"Heee. Kalau iya. Emangnya kenapa?" cara Salsa melihatku seperti menantang lagi. Aku lalu duduk di kursi belajarku menghadap Salsa yang sedang duduk di tepi tempat tidur.
"Eh. Nggak boleh nguping atau pun ngurusin orang! Dosa!" ucapku dengan nada tidak suka.
"Yah. Emang mana hadisnya?"
"Eh. Udahlah, aku males lawan kamu bedebat, Sa. Kamu kayak si Febi dah lama-lama."
"Siapa Febi?"
"Temen kerja aku."
"Ouh. Sahabat baru kamu itu," jawab Salsa dengan sewotnya di hadapanku. "Oh iya. Kak Riko nitip salam ke kamu."
"Kak Riko? Ouhh, wa'alaikumsalam."
Tumben-tumbenan Kak Riko nitip salam. Terakhir kirim pesan satu bulan lalu pas diriku udah selesai ikut tes tulis. Itupun ia hanya bertanya tentang kabar.
__ADS_1
"Eh, Sa."
"Apa?"
"Mmm. Kak Riko udah punya pacar apa belum, sih."
"Mmm. Setau aku sih, nggak ada sekarang ini. Soalnya aku nggak pernah lihat adanya tanda-tanda dia punya kekasih."
"Oouuhhh."
"Memangnya kenapa?" Salsa bertanya seraya tersenyum tipis melihatku. "Kamu mau titip salam sama dia. Nah, kalau kamu sama Kak Riko aku pasti langsung bakalan setuju."
"Eh. Kamu ini. Nggak kok, kan aku cuman nanya."
"Ya kan aku cuman nawarin atau nebak. Kalau seandainya kalian suatu saat punya perasaan. Pasti bakalan bisa ketemu."
"Nggak bakalan," jawabku singkat.
Masak iya aku harus menikah sama saudara sahabatku. Aku juga mencintai laki-laki lain. Nggak bakalan bisalah bersatu sama sosok laki-laki seperti Kak Riko. Kak Riko itu lumayan tampat dan dewasa juga, tapi selama ini kita seperti adik kakak. Salsa ada-ada aja.
"Besok pagi kita balik," kata Salsa merebahkan diri di tempat tidurku.
"Hah. Kok cepet banget, sih. Kan kita baru nyampe," eluhku mencolek pundak Salsa.
"Emang kamu mau ngapain lagi di sini. Kamu kan udah bilang, pulang cuman mau minta restu sama Ibumu. Dan jawabannya, Ibumu nggak kasih restu alias tidak setuju."
"Tapi kan, Sa. Kita tadi sore baru nyampe sini. Masak besok pagi langsung berangkat."
"Ya udah. Kalau kamu mau lebih lama lagi di sini aku balik sendiri aja kalau gitu."
Salsa lama-lama membuatku kesal. Masak iya baru nyampe tadi sore diajak balik ke Mataram lagi.
Jangan lupa follow sosial media saya. Biar kalian tau cerita baru yang akan saya publish waktu dekat ini. Cerita yang akan membuat kalian penasaran.
Semua sosial media.
@Amy'e Ummu
Amy'e Ummu
@Amy'e Ummu
Amy'e Ummu
__ADS_1