
Kata ibu aku sudah lima hari berada di rumah sakit. Lima hari dengan pingsanku yang dua hari. Badanku masih terasa lemas. Aku merasa letih. Dan alhamdulillah sakit di dadaku agak mendingan.
Berbaring di tempat tidur memang sangat membosankan. Apalagi sampai berhari-hari. Rasanya aku ingin keluar ke suatu tempat. Dengan perasaan yang tidak menentu seperti ini.
Alhamdulillah Salsa datang menghampiriku. Ia bahkan tersenyum lebar saat membuka pintu kamar rumah sakit. Aku pun berusaha membalas senyumannya.
Jika melihat Salsa. Aku selalu ingin menangis. Betapa ia sangat mendukung hubunganku dengan Ustaz Aris. Ia yang selalu menemani dan menjadi pengawalku saat bersama Ustaz Aris.
Dukungan Salsa itupun punah. Punah karena penghiatan laki-laki yang aku cintai. Laki-laki yang aku sayangi kini menjadi milik orang lain.
Ketakutanku dulu menjadi nyata. Ya, benar kata orang. Jodoh, maut, rizki sudah di tentukan semua oleh yang maha kuasa. Kita sebagai hambanya hanya bisa menjalaninya. Dan mau tidak mau harus terima dengan apa yang sudah ditentukan. Karena itulah ketentuan.
Aku tidak pernah menyangka. Jika akhir ceritaku dan Ustaz Aris seperti ini. Dan lebih parahnya lagi, aku tidak menyangka Ustaz Aris tega mengingkari janjinya. Setauku jika seseorang yang benar\-benar cinta pasti akan memperjuangkan cintanya. Walau terhadang oleh badai sekali pun.
Karena itulah kekuatan cinta sesungguhnya. Berani berkorban demi mendapatkannya.
"Antum sudah mendingan sekarang?" tanya Salsa duduk di dekatku.
Aku pun mengangguk menjawab sahabatku itu.
"Antum sudah makan?" tanya Salsa lagi.
Lagi-lagi aku menjawab Salsa dengan anggukan saja. Bibirku terasa berat untuk menjawab pertanyaan Salsa.
Saat Salsa sedang bersamaku. Terdengar suara ibu seperti memarahi orang dari luar.
"Antum tunggu dulu di sini. Ana mau keluar ada apa di luar," ucap Salsa kepadaku.
"Iya," jawabku singkat.
Aku seperti mengenali suara seseorang. Yaa ... seperti suara Ustaz Aris. Atau mungkin saja hanya perasaanku. Tidak mungkin ia ke sini. Ia 'kan sudah mempunyai istri. Ustazah Nisa pasti akan memarahinya jika ia sampai berada di sini.
"Untuk apa Nak Aris ke sini? Untuk apa? Untuk menyakiti Manda lagi!" Terdengar suara ibu berteriak. Dan aku mendengar ibu menyebut nama Ustaz Aris.
Seketika dadaku bergemuruh. Terasa sakit lagi seketika. Badanku mulai terasa dingin. Untuk apa ia ke sini? Untuk apa? Apakah ia datang dengan Uminya? ataukah ia datang untuk menghinaku dan ibuku lagi.
Tidak ...!! Tidakkk !!
Aku berteriak sekencang mungkin. Hingga ibu dan Salsa masuk menemuiku.
__ADS_1
"Antum kenapa, Da?" tanya Salsa khawatir.
"Kamu kenapa, Nak?" tanya ibu lagi terlihat sangat khawatir.
"Siapa yang ibu marahi tadi?" tanyaku ragu.
"Maksud kamu? Ibu tidak marahi siapa-siapa, Nak. Ibu hanya sama Salsa saja tadi. Iya 'kan Salsa."
"Iii iya," jawab Salsa ragu.
Aku tau ibu berbohong kepadaku. Aku mengenali suara Ustaz Aris. Aku yakin yang dimarahi ibu tadi adalah Ustaz Aris.
Aku hanya meminta semoga Allah tidak mempertemukanku lagi dengan Ustaz Aris.
"Kamu minum obat dulu, ya, Nak."
Ibu mengambilkan obat untukku lalu meminum obat tersebut.
******
Sakit di kepalaku terasa agak mendinga. Hari ini pun aku diberikan izin untuk pulang oleh Dokter. Aku begitu sangat rindu rumah.
Kasian ibu. Aku sudah menyusahkan beliau. Entah dari mana ia mendapatkan biaya untuk kebutuhanku?
"Nanti Salsa langsung pulang, ya, Buk," kata Salsa memberitahu ibu setelah kami sudah sampai di rumah.
"Loh kok secepat itu. Kamu nggak nginep dulu," jawab ibu lagi kepada sahabatku itu.
"Iya, Sa. Antum nginep aja di sini," kataku lagi kepada Salsa.
"Mmmm ... nanti kita lihat, Da. Kalau kak Roki izinin. Aku akan nginep."
"Kakak Roki mau jemput antum ke sini?"
"Iya, Da. Eeehhh, antum tau nggak. Ana baru sempat cerita sekarang. Kak Roki pernah lo sampe nanyain antum segala."
"Maksudnya? Nanya apa maksud anti?"
"Iya nanya-nanya gitu. Antum dari mana, tinggal di mana? waktu ia belum pernah ana ajak ke sini. Buat dia kepo? ana 'kan sering cerita sama dia."
__ADS_1
"Oouuhhh ... ana kira dia nanya apa."
Setelah lama berbincang\-bincang dengan Salsa. Kakaknya pun datang menjemput. Tidak lupa juga aku menyuruh Salsa untuk mengajak kakaknya masuk.
Ibu pun juga membuatkan minuman untuk kakak Salsa.
"Kita nggak usah lama di sini. Manda juga mau istirahat. Dia 'kan baru pulang dari rumah sakit," kata Roki kepada Salsa.
"Nggak apa-apa kok, Kak. Malahan ana seneng kalau Salsa nginep lagi," jawabku melihat kak Roki.
"Tapi 'kan ... kamu baru pulang dari rumah sakit, Da. Takutnya Salsa nanti ganggu kamu."
"Nggak kok, Kak. Manda seneng malahan kalau Salsa di sini. Jadi ada teman Manda di rumah," jawabku.
"Baiklah. Kakak izinin Salsa nginep di sini satu hari saja. Takutnya ia di cari sama Ayah nantinya."
Tidak lama kemudian, ibu pun datang membawakan minuman dan jajanan untuk kami. Alhamdulillah ibu kembali seperti dulu lagi.
Setelah sikapnya tidak mengenakan kepadaku. Ia begitu kecewa kepadaku. Di dalam pikiranku sekarang. Apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku kepada ibu.
Sekarang aku tidak memikirkan lagi tentang kuliah atau melanjutkan sekolah. Yang kupikirkan sekarang bagaimana caraku agar bisa membahagiakan ibu. Apakah aku harus bekerja?
Jika ingin melanjutkan sekolah. Takutnya aku menyusahkan beliau lagi. Sudah cukup beban yang harus ia tanggung. Aku sudah terlalu banyak menyusahkannya.
Sampai sekarang belum bisa membalas budi kebaikan ibu. Jika tuhan meridoiku untuk bekerja. Aku akan bekerja nantinya supaya bisa bantu\-bantu ibu.
"Da. Kakak pulang dulu, ya, jaga kesehatan kamu. Oh ya, jangan mikirin yang tidak-tidak," kata Kak Roki kepadaku ketika ia akan berpamitan untuk pulang.
"Iya, Kak. Terima kasih atas semangatnya," jawabku lagi tersenyum lebar.
"Besok kalau kamu sudah sembuh. Kakak janji akan bawa kamu sama Salsa jalan-jalan."
"Aku udah sembuh, kok, Kak," jawabku lagi.
"Maksud kakak sudah sembuh total."
Kak Roki lalu berpamitan pulang kepada kami. Ia ramah sama seperti Salsa. Seandainya aku memiliki saudara laki\-laki ia pasti tidak ingin melihat aku di sakiti oleh laki\-laki.
Tapi sayang, aku tidak mempunyai saudara. Aku hanya anak tunggal yang bisanya menyusahkan ibu saja. Tanpa mau memberikan yang terbaik kepada ibu.
__ADS_1
Seandainya Ayah masih ada. Aku akan ceritakan semuanya kepada Ayah. Tentang kesedihanku, bahagiaku, ataupun sakit hatiku. Betapa rindunya aku dengan sosok seorang Ayah. Ayah aku rindu. Jika saja engkau masih ada aku ingin memelukmu erat.