LUKA YANG MENDALAM

LUKA YANG MENDALAM
Untuk pertama kalinya


__ADS_3

“Seharusnya antum tidak usah melarang ana sama Salsa mengikuti pengajian,” kataku memberi tau Ustaz Aris seraya berjalan bersama Salsa dan Ustaz Aris.


“Ya, ana tau ini salah. Ana ingin membicarakan keseriusan ana sama anti, Manda.”


“Keseriusan apa maksud antum?” tanyaku dengan wajah penasaran.


Padahal tanpa diberi tau aku sudah mengerti apa yang di maksud.


“Ana ingin menghalalkan Anti,” jawab Ustaz Aris.


Aku terdiam sejenak mendengar kata-kata Ustaz Aris.


“Terus ... antum mau apakan Ustazah Nisa?” tanyaku dengan nada suara yang tidak suka.


“Ustazah Nisa?? Ana tidak punya hubungan apa-apa sama dia,” jawab Ustaz Aris sambil berjalan bersamaku dan Salsa.


“Terus buat apa gosip beredar antum akan menikah dengan Ustazah Nisa?” tanyaku.


“Ya Allah, Manda. Berapa kali lagi harus ana jelasin anti. Yang jodohin ana sama Ustazah Nisa itu Mudir. Kalau ana tidak mencintai dia buat apa harus menikah sama dia??.” Ustaz Aris menjawabku lagi.


Salsa yang berada di belakang kami sangat kesal. Yang hanya mendengar percakapanku dan Ustaz Aris sambil berjalan-jalan di taman.


Gara-gara asyik berdebat dengan Ustaz Aris. Aku sampai cuekin sahabatku. Hingga membuat Salsa memanyunkan mulutnya karena kesal.


“Manda, Imanda.” Salsa menarik tanganku dari belakang.


“Apa?” tanyaku kini mendekati Salsa.


“Antum ya, ana bosan kalau kayak gini. Antum asyik gobrol sama Ustaz Aris, Ana di cuekin. Lama-lama kayak pengawal ana,” kata Salsa mencerucutkan mulutnya.


“Ya, ya, maaf. Ya sudah, kita cari tempat duduk dulu, ya.” Aku membujuk sahabatku itu lalu maju menghampiri Ustaz Aris yang sedang berjalan.


“Ustaz,” tegurku.


“Ya, Salsa kenapa?” tanya Ustaz Aris.


“Nggak ada, Ustaz. Cuman dia mau duduk katanya,” jawabku.


“Ya sudah, kita duduk di sana saja,” kata Ustaz Aris lagi mengajakku dan Salsa duduk di dekat bunga-bunga yang ada di taman.


Saat kami sedang duduk Ustaz Aris pun menyempatkan membelikanku dan Salsa makanan. Ini untuk pertama kalinya aku harus di bawa keluar oleh seorang laki\-laki dan di dampingi oleh sahabatku sendiri juga.

__ADS_1


Aku tidak tau pasti. Apakah yang kulakukan ini salah atau tidak.


“Besok kalau sudah libur, anti mau pulang tidak liburan?” tanya Ustaz Aris yang meminum minuman botol.


“Insya Allah, sepertinya ana pulang, Ustaz. Tapi, tidak lama mungkin ana di rumah.”


“Ana boleh tidak ke rumah Anti besok kalau libur?” tanya Ustaz Aris.


“Antum mau ngapain, ke rumah Ana?” tanyaku lagi yang duduk di dekat Salsa.


“Antum begok banget sih,” ucap Salsa yang mendorongku.


“Yaa, maksudnya apa?” tanyaku menoleh Salsa.


“Kan dari pertama awal pembicaraan Ustaz Aris bilang sama anti, kalau dia ingin serius!” Salsa dengan nada suara sedikit keras.


"Hmmm ... Manda. Kadang kesel juga dengan sifatnya yang seperti itu," cetus Ustaz Aris lagi.


“Hee, ya, ya. Ana ngerti,” jawabku tersenyum menunduk.


“Ana bolehkan ke rumah anti? untuk bertemu sama Ibu anti?” tanya Ustaz Aris lagi.


“Na’am, Ustaz. Boleh. Tapi ... apakah secepat ini antum akan mengajak ana me ... nikah? dengan malu aku menjawab dan bertanya lagi.


"Oouuhhh, ya, Ustaz," jawabku.


Setelah aku di bawa jalan-jalan oleh Ustaz Aris. Aku dan Salsa di ajak lagi untuk balik ke pesantren.


Mulai hari itu, Aku berusaha melupakan segala apa yang telah di omongin oleh teman\-teman tentangku. Aku selalu saja di yakini oleh Ustaz Aris, bahwa ia ingin secepatnya menikahiku.


Aku menaruh harapan yang sangat besar. Aku rasanya ingin cepat-cepat memberi tau Ibu. Tapi ... apakah Ibu akan senang atau tidak mendengarku yang ingin menikah bersama Ustaz Aris.


Jika bicara kaget ibu pasti kaget. Aku yakin kalau dijelaskan. Beliau pasti akan senang dengan keputusan yang akan kuambil.


Lagi pula, setelah menikah nanti Ustaz Aris memberikanku kebebasan untuk melanjutkan sekolah lagi. Dan ia tidak melarangku. Bahkan ia juga bilang akan membantuku nantinya agar bisa masuk Universitas yang kuinginkan.


******


Sesampai di pondok, suasana pondok masih terasa sepi. Para santriwan dan santriwati belum juga balik dari ikutan pengajian.


Melihat keadaan masih sepi aku dan Salsa cepat-cepat untuk masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Aku dan Salsa membaringkan badan di tempat tidur kami. Rasanya ingin memejamkan mata.


Namun, tiba-tiba Ustazah Erin datang menghampiri kami berdua.


“Manda,” tegur Ustazah Erin.


“Yaaa. Eeh, astagfirulloh hal’azim, Ustazah.” Aku bangun dari tempat tidurki saat melihat Ustazah Erin yang duduk di dekatku.


“Bagaimana tadi?” tanya Ustazah Erin tersenyum lebar kepadaku.


“Bagaimana tadi? Apa maksud, Ustazah?” tanyaku balik lagi.


“Rencana sama Ustaz Aris,” jawab Ustazah Erin.


“Oh, ya, Zah. Berarti Ustazah sudah tau hubungan Manda sama Ustaz Aris?” tanya Salsa yang duduk di dekatku juga.


“Ya, sudah tau. Malahan Ustaz Aris bilang ingin secepat-cepatnya menikahi Manda. Sebenarnya sudah dari dulu Ustaz Aris ingin mengajak Manda menikah, tetapi karna Manda tetap bersi keras ingin melanjutkan sekolahnya di sini dulu. Makanya Ustaz Aris sabar menunggu,” kata Ustazah Erin yang memberi tauku dan Salsa.


“Kok bisa antum tau Ustaz Aris ingin menikahi Manda?” tanya Salsa dengan penasaran.


Dan lagi-lagi Salsa terus yang bertanya kepada Ustazah Erin.


“Iya, Zah. Kenapa bisa antum tau semuanya?” tanyaku lagi melihat lekat mata Ustazah Erin.


“Karena Ustazah dekat sama Ustaz Aris, suaminya Ustazah 'kan pamannya Ustaz Aris. Dari dulu, Ustaz Aris sudah dekat dengan Ustazah. Jadi apapun yang ingin dia ceritakan, pasti curhatnya ke Ustazah.” Ustazah Erin menjelaskanku dan Salsa.


Aku baru tau jika Ustazah Erin ternyata dekat dengan Ustaz Aris. Kenapa Ustaz Aris tidak pernah menceritakanku?


“Jadi, termasuk Manda juga sering di ceritakan sama Ustaz Aris, Zah?” tanya Salsa lagi.


Tidak terasa setelah mengobrol lama dengan Ustazah Erin, para santri pulang bersama Ustazah dan Ustaz lainnya. Begitu juga dengan teman-temanku yang masuk ke dalam kamar. Santriwati yang baru pulang melihatku dan Salsa yang duduk bersama di dalam kamar.


“Kenapa antum nggak ikut tadi, Manda wa Salsa?” tanya Meti yang ikut duduk bersama Ustazah, aku, dan Salsa.


“Mereka berdua habis bantu Ustazah,” jawab Ustazah Erin.


“Bantu apa, Zah?” tanya Meti lagi.


“Ada sudah, anti mau tau saja. Bagaimana pengajiannya tadi, rame tidak?” tanya Ustazah Erin kepada Meti.


“Waahh, kasir jiddan, Zah. Kalau Ustazah ikut, Ustazah pasti menganga lihat orang yang rame hadirin pengajiannya.” Meti menjawab Ustazah Erin sambil memeluk boneka yang ada di tangannya. "Coba saja antum ikut, Da. Tadi seru loh."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum menjawab perkataan Meti. Tanpa ingin memberitahu alasan kenapa aku dan Salsa tidak mengikuti pengajian. Ustazah Erin saja tidak memberikan alasan. Bagaimana denganku dan Salsa. Dari pada berbohong. Aku lebih memilih diam bersama Salsa.


__ADS_2